Tuesday, 21 November 2017

WELCOME 25 YEARS OLD!


The twenty first of November of 2017. 09.30 (PM)

Hello and welcome to my really fresh content here. Yeah, saya hiatus sekitar beberapa bulan dari blog ini dikarenakan karena beberapa kesibukan saya di kampus yang tak lain dan tak bukan karena urusan thesis yang tak berujung tapi Alhamdulillah akhirnya punya ujung juga. Tepat tanggal 21 November 2017, tadi pagi menjelang siang saya berhasil mengakhiri keresahan saya yang tak berujung selama berbulan-bulan itu. Yeah, I did it, I caught my second title. I was officially Rostina, S.Pd, M.Pd  tepat di usia saya yang ke dua puluh lima tahun (Nda' usah tanya IPK).

Well, beberapa bulan vakum di blog membuat saya trauma dengan kejadian blog lama saya. Saya tidak mau kejadian yang sama terulang kembali. I have promised to my self to keep blogging. Kalau kalian membaca tulisan pertama saya mungkin kalian tahu maksud dari kata trauma di sini. Kalau belum baca ya sudah silahkan cek postingan perdana saya di sini Regard me.  

Usia dua puluh lima tahun adalah usia di mana saya harusnya sudah mendapatkan apa yang saya cita-citakan. Pekerjaan, travelling keliling dunia, menyelesaikan kuliah di luar negeri, dan juga menikah (Saya gak yakin masukin yang ini kkwkwk). Sayangnya tak satupun yang kesampaian. Pekerjaan? yah dulu saya sempat berfikir untuk kuliah sambil kerja tapi ujung-ujungnya gagal juga. Ada tawaran tapi disia-siakan, sometime I want to regret it but sometime I also want to be grateful to reject it. Saya kebanyakan dilema sama plin-plan memang waktu itu but yeah show must go on. Apapun yang sudah saya putuskan tak harus saya sesali. Saya hanya perlu belajar untuk lebih bijak lagi dalam mengambil tindakan ke depannya. Saya memang ditakdirkan untuk menjadi jobless dulu di usia yang kedua puluh lima. Travelling keliling dunia juga selalu menjadi perbincangan hangat di otak saya. Entah kenapa saya selalu tertarik dengan yang namanya jalan-jalan. Bukan tentang tempatnya tapi tentang orang-orang baru dan pengalaman baru yang selalu membuat saya bersemangat untuk keliling dunia. Sayangnya, itu masih menjadi rencana dan wacana hingga hari ini. Kuliah di luar negeri untuk mendapatkan gelar master memang sudah saya persiapkan dengan matang jauh-jauh hari sebelum saya diterima di kampus yang baru saja memberikan saya gelar M.Pd sayangnya saya tak berhasil melawan takdir. Saya memang ditakdirkan untuk meraih gelar master dalam negeri bukan luar negeri seperti yang saya cita-citakan. Menikah, well, I think this is a crucial part to be discussed for a twenty five year old girl. Usia di mana kebanyakan orang-orang terjerat dalam zona bapper. I admit it, kadang saya terkena bapper tapi pada kenyataannya saya hanya terkena percikan-percikan euforia dari rekan-rekan yang baru saja menikah. I cannot deny if I want to be a wife soon. Menjalankan sunnah nabi yang satu ini adalah cita-cita tersakral bagi setiap kaum hawa di dunia ini. Nah terus kenapa gak nikah-nikah? kalau ada yang bilang jangan jadikan kata tidak siap sebagai alasan, saya sebenarnya mau tanya balik memangnya yakin kalau tiba-tiba ada orang yang tidak kamu kenal sebelumnya datang ke rumah kamu terus melamar, memangnya langsung say yes aja begitu? honestly I will say no. Kalau sudah kenal terus kenapa gak siap? Memangnya kalau kenal yakin langsung say yes? Tak tahu gunanya ta'aruf kah? You have to know closer and deeper each other not only as 'saya kenal dia'. Tidak ada yang serba instan di dunia ini apalagi urusan nikah yang jelas-jelas sebuah level tertinggi dalam menjalin sebuah hubungan. Kalau ditanya alasannya kenapa menolak ya karena memang saya belum siap. Siap di sini bukan alasan klise yang dijadikan senjata penolakan. Saya belum pantas juga bukan alasan andalan untuk menolak sebuah pernikahan. Kata tidak siap dan konco-konconya itu sebenarnya hanyalah sampul dari beberapa alasan yang tidak mungkin diutarakan secara langsung (Ini hasil pengamatan saya sih). Terus kapan siap dan pantasnya? makanya ta'aruf. Kalau cocok berarti sudah siap dan pantas then road to pelaminanHowever, tidak selamanya melakukan ta'aruf akan berakhir pada pernikahan. Kenapa? karena adanya hal lain yang membuat pasangan tersebut tidak siap.  Ya tinggal lihat sitkon sajalah nanti, semoga kita diberikan kelancaran oleh Allah SWT dalam menunaikan sunah Rasul. Intinya kalian belum menikah bukan karena sial, bergelar S2, S3, Prof, tua, jelek, miskin, penyakitan ataupun faktor lainnya. Kalian belum menikah yah karena kalian belum ketemu jodoh saja, just it. 

Anyway, pembahasan di atas memang terlalu berat but willy nilly all of us will face it. Berbicara tentang  usia dua puluh lima tahun juga membuat saya terus menerka-nerka masa depan. Akan jadi apa saya di tahun sekian, di mana saya menghabiskan hidup saya dan yang paling membuat saya penasaran adalah apakah diri saya di masa depan adalah diri yang saya selalu dambakan sejak dulu. Akankah saya bahagia? 

Tepat di usia yang seperempat abad ini, akhirnya saya mengakhiri sesuatu yang saya sudah niatkan sejak memulainya jauh-jauh hari untuk cepat berakhir. Pada tahu 2014 saya menyandang gelar S.Pd saya dan ketika Tuhan memberikan saya rezki untuk kuliah lagi pada tahun 2015, saya pun sudah berniat untuk mengakhirinya di tahun 2017. Alhamdulillah I did it. Pertanyaannya, setelah ini apa lagi? tujuh tahun di tanah rantau bukanlah waktu yang singkat. Memulai hal baru di tempat lain membuat saya belajar tentang yang namanya beradaptasi dan bertahan. Sebenarnya saya punya mimpi untuk melanjutkan jalan hidup saya di tanah perantauan namun saya menyadari bahwasannya saya harus kembali ke tanah kelahiran saya. Keluarga, orang tua dan kampung halaman saya membutuhkan saya. Saya bukannya kepedean yah tapi seharusnya itulah yang memang saya lakukan. Sebut saja rasa terima kasih saya yang telah diberikan kesempatan mencicipi bangku kuliah hingga ke jenjang master. Banyak anak-anak yang sangat ingin bersekolah setinggi mungkin tapi tak memiliki kesempatan seperti saya. Special thanks lah buat Ibu yang sekarang merangkap sebagai ayah sekaligus. Terima kasih telah berjuang hingga sejauh ini. I know you are not okay to leave me again for two years. Stay healthy as always Mom.

Pekerjaan, travelling around the world, kuliah di luar negeri, hingga menikah adalah deretan mimpi-mimpi saya yang tak kesampaian. Saya percaya selama kita meyakini mimpi-mimpi kita itu maka secara perlahan tapi pasti mereka akan menjemput kita dengan sendirinya. Saya tidak pernah tahu di mana rezeki saya tapi rezeki tahu di mana keberdaan saya. Niat yang baik akan menyegerakan kebaikan, saya mempercayai itu. It is happened to me right now! Sejak dulu saya hanya selalu berandai memiliki  sebuah passport dan kemudian saya meniatkan untuk memakainya keliling dunia.  Setelah beberapa lama passport saya ini benar-benar nganggur di lemari saya. Saya berjodoh oleh kegagalan keliling dunia berkali-kali tapi saya selalu percaya akan ada hari di mana Tuhan menunjukkan kekuatan keyakinan diri kita. Niat yang baik akan menyegerakan kebaikan itu benar-benar terwujud. It was like I got unpredictable surprise from God. Last month my cousin suddenly told me to prepare my self to visit Baitullah in December. Yah, semacam kejutan dadakan yang tiba-tiba but so meaningful. 

November tak lama lagi akan berakhir, ekor 2017 juga sudah tampak jelas. Saya masih mempercayai tentang kekuatan niat itu. I will lie at the plot of my life. Let my self works then Allah decides where my life should flow. Berjuang meraih mimpi bukan saja tentang berusaha dan berdoa tapi juga bersabar. 

2 comments: