Showing posts with label Daily Story. Show all posts
Showing posts with label Daily Story. Show all posts

Friday, 28 August 2020

Review Skincare: Pixy White-Aqua Hydra Moist Essence




Hai hai, welcome back to my review board again para readers sekalian! Well, pada kesempatan ini saya tidak akan bahas soal buku, drama ataupun film lagi melainkan sebuah produk skincare dari Pixy yaitu Pixy White-Aqua Hydra Moist Essence. Berhubung essence yang saya gunakan ini sudah menuju titik darah essence penghabisan maka alangkah eloknya jikalau saya memberikan review tentang produk ini kepada kalian. So, here we go!

Packaging

Kalau bahas kemasan atau packaging, Pixy White-Aqua Hydra Moist Essence ini memiliki desain yang cukup sederhana. Produk ini sendiri dikemas dengan menggunakan botol plastik bening berwarna biru dan tutup botol ulir berwarna silver. Jadi, karena botolnya transparant kalian bisa lihat langsung isi essence di dalam botolnya. Karena bahannya juga terbuat dari plastik jadi cukup ringan untuk dibawa kemana-mana. Di bagian depan botolnya sendiri kalian akan lihat informasi singkat tentang produk ini seperti kandungannya, manfaatnya dan keterangan 0% alcohol clinically tested. Kemudian, di bagian belakang produk kalian juga akan melihat informasi yang lebih lengkap lagi mulai dari kandungan, manfaat, cara pakai, berat produk dan juga logo halal. Overall, tampilan botol biru bening dari Pixy ini kelihatan seger banget sih buat mata.       




Claim

Pixy White-Aqua Hydra Moist Essence dengan berat 125 ml ini mengandung Moisture Lock Agent yang diklaim mampu menjaga kelembapan kulit. Kandungan Intensive Hydra Activenya juga diklaim mampu menghidrasi dan melembapkan kulit secara intensif. Kandungan vitamin C dan Mulberry Extract di dalam essence ini juga akan membantu kalian untuk mendapatkan kulit yang lebih cerah dan sehat. Sesuai namanya, Pixy White-Aqua Hydra Moist, essence ini memang memiliki fomula berbahan dasar air sehingga teksturnya sangat ringan dan cepat meresap masuk ke dalam kulit. Produk ini juga sama sekali tidak mengandung alkohol sehingga cocok buat kulit yang sensitive terhadap alkohol.

Tekstur, Warna dan Bau

Karena memiliki formula berbahan dasar air jadi tekstur dari Pixy White-Aqua Hydra Moist Essence ini sangat cair dan ringan. Tidak mengandung warna apapun dan memiliki aroma yang sangat wangi seperti peppermint.

Cara Pakai

  • Tuangkan essence secukupnya pada telapak tangan kemudian tepukkan secara merata    pada wajah dan leher yang sudah dibersihkan sebelumnya
  • Bisa digunakan pada pagi dan malam hari

My Impression

Pertama kali menggunakan produk ini itu sekitar akhir Desember tahun lalu atau Awal Januari tahun ini kalau saya tidak salah ingat. Awalnya, saya kira kalau essence ini tidak memiliki bau sama sekali, pas saya coba tap tap di wajah ternyata barulah aroma wangi nan semerbak itu muncul. Untuk wanginya sendiri cukup tajam tapi bikin seger gitu. Ya pokoknya bau essencenya itu agak nyengat tapi punya efek yang menyegarkan. Kayak ada sensasi dinginnya gitu pas kena muka. Terus, dari segi teksturnya yang cair, essence ini memang sangat cepat meresap ke kulit. Kalau dibilang mencerahkan wajah sih iya memang cukup mencerahkan tapi untuk mendapatkan efek mencerahkannya ini sendiri baru saya dapatkan sekitar pemakaian 2 bulanan. Selama kurang lebih 8 bulan bersama saya, essence ini memang menjadikan wajah saya lebih lembab dari sebelumnya. Sejauh ini essencenya juga tidak menimbulkan efek samping sama sekali di wajah saya.    

Overall, produk Pixy White-Aqua Hydra Moist Essence ini cukup membantu kulit saya yang punya tipe kulit kombinasi alias kadang minyakan, kadang juga kering kerontang kayak kanebo. Efek mencerahkannya memang tidak terlalu significant sih di wajah saya, kayaknya karena sering skip essence juga kali yah di skincare routine saya makanya produk ini betah 8 bulan tidak habis-habis. Mungkin kalau saya rutin memakainya tiap hari hasilnya akan lebih cerah dan lembab lagi di wajah saya  tapi lumayanlah, sering diskip juga sudah bisa menutupi sebagian dosa di wajah saya wkwkw.

Nah, untuk masalah harga sendiri, produk Pixy White-Aqua Hydra Moist Essence ini dibandrol dengan harga sekitar Rp. 80.000. Lumayan murah lah yah untuk pemakaian berbulan-bulan dan dengan hasil yang cukup memuaskan di kulit saya. Kalau kalian mau beli silahkan kunjungi official online maupun offline dari Pixy atau bisa juga di website Sociolla dan skincare online store yang menjual produk Pixy lainnya.  


Thursday, 27 August 2020

Review buku: Gadis Minimarket (Convenience Store Woman)





Penulis: Sayaka Murata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Cetakan Pertama di Jepang, 2016. Cetakan Terjemahan di Indonesia, 2020.
Bahasa: Indonesia
ISBN:  9786020644394
Jumlah halaman: 160 halaman

Hello! Selamat datang kembali di review board saya para readers sekalian. Berbeda dengan postingan saya sebelum-sebelumnya yang bahas soal review drama maupun film, kali ini saya mencoba untuk mereview sebuah novel terjemahan Jepang yang berjudul Convenience Store Woman atau Gadis Minimarket. Novel karya Sayaka Murata ini sebenarnya baru rilis sekitar awal Agustus ini makanya masih hangat-hangatnya untuk dibahas sama banyak orang terutama netizen di Twitter. Berkat racun yang mereka tebar di timeline Twitter, pada akhirnya saya pun teracuni untuk segera memiliki novel dengan cover yang sangat eye catching ini. Bisa dibilang desain sampul dari novel Gadis Minimarket (Convenience Store Woman) adalah salah satu alasan kenapa saya merasa wajib punya buku ini. Alasan yang kedua tentu karena isinya yang sangat meaningful dan thoughtful bagi saya.  

Dan berhubung saya tidak mau teracuni sendirian maka saya akan mencoba meracuni kalian juga lewat ulasan saya tentang novel ini.

Blurb

Dunia menuntut Keiko untuk menjadi normal, Walau ia tidak tahu “normal” itu seperti apa. Namun di minimarket, Keiko dilahirkan dengan identitas baru sebagai “pegawai minimarket”. Kini Keiko terancam dipisahkan dari dunia minimarket yang dicintainya selama ini.

Review

Novel yang berjudul Gadis Minimarket (Convenience Store) Woman ini merupakan karya ke-10 dari Sayaka Murata sekaligus karya pertamanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Di dalamnya bercerita tentang sosok perempuan bernama Keiko Furukura yang sejak kecil memiliki pribadi yang dianggap tidak normal oleh orang-orang sekitarnya termasuk keluarganya sendiri. Orang-orang di lingkungannya menganggap Keiko butuh untuk disembuhkan lewat konseling. Di tengah kondisi itu, Keiko terus berusaha meyakinkan orang-orang di sekelilingnya jika mereka telah salah menilai Keiko. Sayangnya, sekeras apapun usaha Keiko, ia tetap menjadi anak yang tidak normal bagi orang tuanya.  Karena sudah lelah, Keiko pun memutuskan untuk menutup diri dan terus berusaha menjauh dari orang-orang di sekitarnya.  

Setelah itu, orang-orang dewasa sepertinya lega melihatku tidak berbicara lebih daripada   yang diperlukan dan berhenti mengambil tindakan sendiri. Namun selama SMA, hal itu menjadi masalah karena aku terlalu pendiam. Bagiku diam adalah cara terbaik, seni hidup yang paling rasional untuk menjalani hidup. Meski di buku laporanku tertulis ”Bertemanlah dan perbanyak main di luar”, aku bersikukuh dan tidak pernah berbicara lebih daripada yang diperlukan.
Selepas SMA dan kuliah, Keiko berhasil melalui masa-masa itu. Dia tidak berubah sama sekali dan masih tetap setia dengan prinsipnya untuk menjadi seorang perempuan yang akan berbicara seperlunya serta berteman dengan diri sendiri. Hingga pada suatu hari, Keiko menemukan dunia lain dari sebuah minimarket yang merupakan tempatnya bekerja sebagai pekerja paruh waktu. Minimarket secara perlahan mengajaknya masuk pada kehidupan yang dianggap normal bagi kebanyakan orang.  

Rasanya menarik melihat bermacam-macam orang, mulai dari mahasiswa, laki-laki pemain band, pegawai paruh waktu permanen, ibu rumah tangga, sampai pelajar yang ikut kelas malam untuk mengejar ijazah SMA menggunakan seragam yang sama dan dibentuk menjadi mahluk hidup homogeny bernama “pegawai toko”.
Seiring berjalannya waktu, Keiko tetap betah menjadi seorang pegawai toko meskipun dengan status pekerja paruh waktu. Keiko sudah menganggap minimarket sebagai tempat berteduhnya untuk hidup sebagai manusia. Hingga di usianya yang menginjak 36 tahun, Keiko tetap memilih untuk bekerja sebagai pegawai toko. Ia sudah seakan-akan memberikan sisa hidupnya hanya untuk minimarket itu. Warna-warni makanan pada rak cemilan, suara kantong kresek, bunyi mesin kasir hingga suara sepatu orang yang berlalu lalang di dalam minimarket adalah sumber kebahagiaan dan kepuasan tersendiri bagi Keiko.
Mungkin karena bekerja setiap hari, terkadang aku bermimpi sedang mengoperasikan mesin kasir. Pikiran awal yang terlintas di otakku sesaat setelah bangun adalah: Oh! Keripik kentang merek baru itu belum diberi label harga, atau stok teh hangat harus ditambah karena banyak terjual. Pernah juga aku terbangun tengah malam karena mendengar suaraku sendiri mengucapkan irrsshaimase! Dan saat tak bisa tidur, pikiranku melayang pada kotak kaca transparan yang terus menggeliat itu. Toko di dalam kotak akuarium bening yang terus beroperasi seperti mesin jam. Ketika membayangkan pemandangan itu, suara toko menggema di gendang telingaku, menenangkanku hingga akhirnya aku tertidur. Ketika pagi datang, aku kembali menjadi pegawai minimarket, bagian dari masyarakat. Inilah satu-satunya cara agar aku bisa menjadi manusia normal.
Minimarket seakan menjadi tempat ternyaman bagi Keiko. Ia menikmati semua rutinitas itu setiap harinya. Sayangnya, teman-teman sekolahnya dan keluarganya kembali menganggapnya tidak normal lantaran masih melajang di usianya yang telah menginjak 36 tahun. Keiko sebenarnya baik-baik saja dengan kehidupannya itu. Ia tidak pernah gusar perihal usia maupun status pekerjaannya yang masih tetap sebagai pekerja paruh waktu meski telah berusia 36 tahun. Dunia seakan menghakiminya lagi untuk mengikuti aturan yang ada.

Aku belum punya pengalaman seksual dan aku tak punya kesadaran soal seksualitasku. Aku hanya tak peduli dan tak pernah merisaukannya. Tapi, mereka membicarakan semua itu dengan asumsi aku menderita. Kalaupun yang mereka katakan benar, belum tentu penderitaan itu seperti yang mereka duga.
Ketika dunia menganggapnya tidak normal, yang terbesit di pikiran Keiko saat itu juga hanyalah untuk kembali ke minimarket sesegara mungkin. Di situlah tempatnya ia harus berada. Namun, secara perlahan sosok minimarket yang menenangkan di kepala Keiko pun mulai berubah semenjak ia menyembunyikan seorang laki-laki bernama Shiraha di rumahnya. Ketika Keiko tetap berusaha menjadi manusia normal dengan bekerja di minimarket maka Shiraha adalah kebalikannya.  Shiraha lebih memilih berhenti bekerja dan menjadi pengangguran yang sangat idealis dan kritis terhadap isu sosial di sekitarnya.

Dengar, manusia yang tak punya manfaat bagi desa tak akan punya privasi. Bagaimanapun semua orang akan ikut campur. Pilihannya melahirkan anak, atau pergi berburu dan menghasilkan uang. Dan kalau kalau kau tak bisa berkontribusi pada desa maka akan dianggap sesat.
Kalau aku keluar, hidupku akan diperkosa lagi. Sebagai laki-laki, semua orang akan mendesak ‘bekerjalah!’, ‘menikahlah!’ dan kalau sudah menikah: ‘cari uang lebih banyak!’ atau ‘bikin keturunan!’ Aku akan jadi budak desa dan masyarakat akan memaksaku bekerja seumur hidup.
Hadirnya Shiraha di dalam kehidupan Keiko benar-benar membuatnya terus berpikir tentang kondisi hidupnya yang kembali diobrak-abrik oleh orang-orang di sekitarnya. Ia semakin terusik oleh semua ucapan Shiraha yang memang ada benarnya. Keiko menjadi dilema apakah ia harus mengikuti suara hatinya untuk tetap bertahan di minimarket atau mencoba lepas dari tempatnya berteduh itu selama ini.

My Impression

Membaca  novel Gadis Minimarket (Convenience Store Woman) ini membuat saya berpikir tentang apa defenisi menjadi manusia normal itu sebenarnya dan bagaimana menjadi manusia waras di tengah masyarakat yang selalu bebas berpendapat tanpa mengingat batasan-batasannya. Ada sangat banyak kritik sosial yang dihadirkan oleh Sayaka Murata di dalam novel ini. Bagaimana realita yang memang menghadapkan kita untuk harus selalu siap dikomentari dan dikritik terhadap jalan hidup yang kita pilih. Meskipun pilihan yang kita pilih itu benar, tapi tetap saja akan ada banyak orang yang tidak mau menerima perbedaan pilihan itu. Selain berisi muatan kritik sosial dan pesan moral, rangkaian kata yang dipilih di dalam novel ini juga terasa sangat pas. Penulis mampu memberikan gambaran yang sangat detail tentang kehidupan minimarket. Saat membaca novel ini saya seolah-olah berada di dalam minimarket sambil menyaksikan langsung rutinitas yang dijalani oleh Keiko setiap harinya. Mungkin karena pengaruh dari pengalaman Sayaka Murata sendiri yang pernah bekerja di minimarket sehingga alur di dalam novel ini terasa benar-benar hidup lewat rangkaian tulisannya. Saya pribadi merasakan makna yang sangat mendalam dari setiap perkataan Keiko maupun Shiraha dalam novel ini. Seakan-akan, Sayaka Murata memang ingin mengeluarkan semua uneg-unegnya tentang ketimpangan sosial yang dilihatnya selama ini lewat novel.

Jika kalian sedang berencana membeli buku tapi bingung mau beli buku apa, mungkin novel Gadis Minimarket (Convenience Store Woman) ini bisa menjadi pilihan yang tepat untuk kalian. Silahkan mengunjungi toko buku online Gramedia ataupun toko buku online maupun offline langganan kalian untuk segera mendapatkannya.

Wednesday, 12 August 2020

It's Okay to Not Be Okay (Review)




Hellooo! selamat datang kembali di review board saya para readers sekalian! Berhubung minggu ini salah satu drama langganan on going saya yaitu It’s Okay to Not Be Okay sudah tamat maka tibalah waktunya saya untuk mereviewnya. Teruntuk bala fans mas Kim So Hyun dan mbak Seo Ye Ji, yukkk mari nongkrong di blog saya.

Well, sejujurnya, drama yang diperankan oleh Kim So Hyun dan Seo Ye Ji ini tidak masuk dalam list tontonan on going saya. Awalnya sih cuma coba-coba (Biar kayak iklan wkwkw) tapi karena episode awalnya memang sudah seru jadinya saya keterusan deh sampai It’s Okay to Not Be Okay akhirnya tamat. Ternyata drama ini memang worthy to be watched. Selain banyak lawaknya, drama ini juga penuh dengan pesan moral dan juga kisah tentang perjalanan hidup seorang pasien pengidap autis bersama seorang kakaknya yang selalu merawatnya. Nah, untuk kalian yang masih belum nonton dan penasaran sama ceritanya kayak gimana, mungkin review saya berikut ini bisa sedikit membantu kalian dalam menggambarkan keselurahan drama ini.

Banyak scene yang skrinsutable dan storyable


Scene yang skrinsutable dan storyable pada awal-awal episode drama ini memang sangat menghipnotis untuk terus ditonton. Pokoknya tiap adegan itu kayak pengen saya skrinsut terus. Pengambilan gambarnya juga keren sekali yereobun! It’s like movie in a drama. Adegan perpindahan antara scene satu sama yang lainnya itu juga epic sih, terutama di episode 4 di mana pada episode tersebut diceritakan tentang seorang pasien bernama Kwon yang mengidap sindrom maniak dan sering berhalusinasi. Nah, halusinasi dari Kwon ini itu digambarkan sangat-sangat detail dan benar-benar dihidupkan lewat setiap adegan di drama ini. Pokoknya kayak adegan-adegan film begitu lah. Adegan saat melakukan perjalanan jauh menggunakan mobil kemah pada Ending It’s Okay to Not  Be Okay semalam menjadi scene favorit saya sih di antara semua episode di dalam drama ini. Cinematographynya keren sekali, saya serasa nonton MV ala-ala vintage gitu. Pas liat Ko Moon Young, Gang Tae, sama Sang Tae menikmati liburan impian mereka pake mobil kemah rasanya pengen cepet-cepet corona ini berakhir. I do miss travelling and talking with my friends from dusk till dawn.   

Konsep cerita yang menarik


Alasan lain mengapa saya sampai lanjut terus nonton drama ini itu ya karena konsep cerita dari awal episodenya memang sudah menarik menurut saya. Rasanya saya jarang atau kayaknya memang belum pernah ketemu drama yang menggabungkan unsur animasi di dalam drama. Menariknya lagi, kesan dunia dongeng dan dunia penyihir kayak di film-film Barbie sama Harry Potter itu benar-benar dihidupkan di dalam drama ini. Mulai dari wardrobe, musik, rumah tempat syuting sampai lightingnya itu benar-benar mendukung untuk menunjukkan kesan vintage sekaligus misteri. Saya yang suka sama hal-hal yang berbau wizarding world dan dongeng klasik-klasik gitu jadi tambah greget dong sama cerita dalam drama It’s Okay to Not Be Okay. Bukan cuma itu, kesan creepy dan horror dari castel tempat tinggal Ko Moon Young juga bikin cerita di drama ini makin dapat feelnya. Belum lagi tentang adanya sosok penyihir jahat yang sejak episode pertama sudah bikin saya penasaran. Nonton drama ini itu sudah kayak nonton dongeng versi drama. Rasanya dunia masa kanak-kanak saya muncul lagi pas nonton drama ini. I need more fairy tales in my age right now by the way.  

Karakter setiap pemainnya kuat dan unik


Para pemain di dalam drama ini memang punya karakter yang unik dan kuat. Mulai dari ektingnya Lee Sang In dan para penghuni Rumah Sakit Jiwa OK lainnya yang saling melengkapi sampai Kim So Hyun yang kualitas ektingnya memang sebanding sama bayarannya. Satu kali main drama, mas Kim So Hyun kayaknya sudah bisa lah yah beli rumah impian secara cash tanpa perlu repot-repot lagi merasakan yang namanya urus berkas KPR rumah.

Tetapi, kalau bahas karakter yang keren, saya jelas mau sungkem sama ektingnya Oh Jung Se yang memerankan Sang Tae di drama ini.  Wajar sih kalau Oh Jung Se menang sebagai aktor pendukung terbaik di Baeksang Awards kemarin. Ektingnya di When The Camellia Blooms sebagai ahjussi nyeleneh dan sok ganteng dan kaya memang keren. Anyway, sebelum It’s Okay to Not Be Okay tayang, saya juga sempat baca artikel kalau Oh Jung Se akan bermain di drama ini. Awalnya sih saya B aja, ekting beliau memang sudah tidak usah diragukan lagi lah yah tapi pas saya tahu kalau Oh Jung Se akan memerankan karakter seorang penderita autis saya malah kaget soalnya saya belum mempunyai gambaran bagaimana dia akan memainkan peran itu. Cara ngomongnya gimana, cara jalannya, ekspresinya pokoknya saya penasaran berat dengan terobosan ektingnya yang jauh berbeda dari sebelumnya. Bisa dibilang karakter Sang Tae di drama It’s Okay to Not Be Okay ini sangat kuat dan tentu saja karakternya tersebut akan terus membekas di ingatan para penonton setia drama ini sampai kapan pun.

Bukan cuma Oh Jung Se, ektingnya Seo Yo Ji sebagai Ko Moon Young yang memerankan sosok misterius dan berjiwa bar-bar memang layak dapat pujian netizen. Kesan putri cantik yang terkurung di dalam istana bak cerita di dongeng-dongeng memang pas sama karakter mbak Seo Yo Ji di drama ini. Belum lagi karakter elegantnya itu didukung sama pakaian-pakaiannya yang ala-ala Disney Princess. Pas mau cari di Shopee ternyata semua produk yang dipakai doi aslinya dari merek internesyenel yang harganya bisa seharga sama ginjal itu cuy. Kayaknya saya mesti serius jadi penulis dongeng dulu deh biar bisa semakmur hidupnya Ko Moon Young.

Sekian dulu review drama saya kali ini. Buat kalian yang punya uneg-uneg tentang drama It’s Okay to  Not Be Okay ini silahkan share di kolom komentar.  


Sunday, 9 August 2020

Backstreet Rookie (Review)






Hello para readers sekalian! Selamat datang kembali di review board saya. Kali ini saya akan membagikan beberapa ulasan mengenai drama Backstreet Rookie yang baru saja tamat semalam. Jadi teruntuk para bucin mas Ji Chang Wook dan juga mbak Kim Yoo Jung mari silahkan merapat di blog saya ini. Anyway, saya sebenarnya tidak terlalu menaruh ekspektasi yang tinggi dengan drama ini ketika melihat promosi poster dan trailernya di mana-mana. Saat melihat episode pertama pun rasanya juga biasa saja menurut mata perdrakoran saya. Tapi yang namanya drama Korea itu memang susah ditebak dan tidak bisa langsung disimpulkan apakah drama ini bagus atau tidak apalagi kalau cuma ngikutin episode awal-awalnya saja. Ini bukan sinetron yang dari judulnya saja sudah ketebak isi sama endingnya yereobun! Dan memang benar sih, saya sudah suudzon sama drama ini. Ternyata ada banyak hal tak tertebak dan plot yang seru di dalam drama ini pemirsahh. Ya sudah, tanpa perlu intro yang panjang kali lebar, yuk langsung saja kita review drama Backstreet Rookie ini.  

Penuh Komedi dan Parodi


Pada episode-episode awal dari drama Backstreet Rookie ini memang mengundang kontroversi dari para k-netz. Sampai-sampai mereka ngirim petisi ke komisi Penyiaran Korea untuk segera menghentikan penayangan drama karena adanya adegan vulgar di dalamnya. Menurut netizen negara sana, usianya Ji Chang Wook sama Kim Yoo Jung juga terpaut cukup jauh makanya gak pantas untuk berpasangan di drama ini. Tapi itu dari netizen Koreanya, kalau netizen di negeri berflower ini mah kayaknya enjoy-enjoy saja dengan drama ini. Kalau menurut saya pribadi sih adegan yang dimainkan oleh para artis dan aktor di drama ini cukup aman. Not too much I think. Namun, dibalik kontroversi tersebut, saya sih cukup terhibur dengan adanya komedi dan parodi di dalam drama ini. Ini penulisnya kocak juga sampe pikirin scene parodi drama sama film-film hits yah. Episode perdana dari drama ini saja langsung dibuka dengan parodi dari film Sunny yang popular itu. Menariknya, scene berantem anak sekolahan itu juga diperankan langsung oleh Park Jin Joo yang merupakan tokoh dalam film Sunny.  Kemudian ada lagi scene waktu Yeon Joo dan Saet Byul melakukan parodi dalam drama The World of The Married. Mereka itu ceritanya lagi main adu mulut gara-gara memperebutkan Dae Hyun. Nah terus Yeon Joo marah tuh sama Saet Byul dan langsung membanting sebuah guci di depan Saet Byul. Wah adegan ini pasti iconic sekalee bagi yang ngikutin dramanya TWOTM wkwkwk. Parodinya gak sampe di situ,  ada lagi nih parodi dari film Parasite yang dilakukan oleh ayahnya si Dae Hyun. Saat itu ayahnya Dae Hyun ceritanya lagi ngelamar jadi supir. Adegan pas menghafal identitas palsunya itu persis sama dengan scenenya Ki Jung di Parasite. Pokoknya kumpulan parodi di dalam drama Backstreet Rookie emang bener-bener ngakak sih. Saya bahkan sampe ngulang-ngulang adegannya pas nonton.

Bukan Sekedar Drama Komedi Tetapi Juga Drama Keluarga


Backstreet Rookie memang memiliki unsur komedi romantis yang cukup kental. Karakter para pemainnya yang lucu sampai alur cerita yang absurd memang sangat mendukung untuk membuat kita ngakak berjamaah saat nonton. Namun, drama ini tidak berkutat pada genre drama komedi romantis saja tetapi pada slice of life juga loh. Pada awal-awal episode para penonton memang disuguhkan dengan adegan konyol dan lucu dari para pemainnya yang bikin kita ngakak akan tetapi ketika menuju pertengahan episode nuansa drama keluarga mulai cukup kental. Saya sampai mau nangis pas lihat episode di mana ibu sama bapaknya Dae Hyun direndahkan sama keluarganya Yeon Joo. Kisah Saet Byul di drama ini juga gak melulu soal kebucinannya sama mas Dae Hyun. Peran Saet Byul sebagai seorang kakak sekaligus tulang punggung keluarga juga benar-benar diceritakan cukup kental untuk menggambarkan kehidupan penuh perjuangan yang sering dihadapi oleh seorang kakak dalam membesarkan adiknya. So, untuk para netizen yang kemarin-kemarin kritik drama ini karena gak family friendly silahkan dilanjutkan dulu nontonnya. Maybe it can change your perspective.

Kisah Cinta Aphrodite dan Fire Volcano yang Menggemaskan


Sejujurnya, saya sebenarnya lebih tertarik sama kisah cintanya si mbak Aphrodite sama mas Fire Volcano dibandingkan kisah bucinnya Saet Byul dengan Dae Hyun. Kisah Geumbi yang merupakan fans garis keras dari Dalshik sang pembuat webtoon di drama ini tuh memang terngakak sih. Apalagi pas adegan mereka mau meet up pas pertama kalinya. Saya malah lebih deg-degan nungguin mereka jadian dibandingkan Dae Hyun sama Saet Byul wkwkwk. Pas nonton episode terakhir semalam ternyata penonton dikasih surprise sama Dalshik. Dalshik yang punya muka sama gaya berantakan begitu ternyata aslinya anak sultan woy, kebun sama tanahnya berhektar-hektar ternyata. Ayahnya Geumbi pasti ikhlas lah yah anaknya berjodoh sama Dalshik wkwkwk.

Well, untuk kalian yang sudah nonton drama atau masih on going nontonnya silahkan share review drama Backstreet Rookie versi kalian di sini yah :) 

Friday, 12 June 2020

Born Again (Review)





Hai hai welcome back to my review board again para readers sekalian! Well, di review board kali ini saya akan kembali mereview salah satu drama dari KBS yang berjudul Born Again. Sebenarnya drama ini sudah tamat pas hari rabu kemarin tapi baru sempat saya review hari ini. So, I do apologize buat yang sudah request review tapi publishnya tidak tepat waktu kwkwkw.  Ok, mari kita mulai saja membagikan uneg-uneg tentang drama yang bertema cinta segitiga ini yereoubun!

Hal yang pertama yang akan saya bahas dulu ialah tentang para cast di dalam drama Born Again. Sejujurnya saya kurang srek sama pemain ceweknya, agak kurang pas menurut mata perdrakoran saya (ceilehhh). Tapi mbak Jin Se Yeon yang memerankan karakter Jung Sa Bin memang spesialisasi drama-drama saeguk sih jadi wajar kalau banyak yang komen soal ektingnya yang sorry to say terlalu kaku. Kalau karakternya di masa lalu sebagai Ha Eun masih pas menurut saya. Karena sosok Ha Eun memang digambarkan sebagai perempuan yang sangat feminim dan suka sastra plus punya toko buku. Pokoknya tipe kembang desa idaman para pria jaman old lah. Jadi wajar kalau suaranya juga lemah lembut dan puitis gitu kalau ngomong sama lawan bicaranya. Tapi, setelah bereinkarnasi jadi mbak Jung Sa Bin yang merupakan seorang peneliti dan dosen, karakter lemah dan lembut itu rasanya agak kurang pas. Ya mungkin karena sudah bereinkarnasi juga kali yah jadi pembawaanya tetap sama kayak di masa lalu. Tapi gimana yah, perpaduan ekting dari Jan Ki Yong sama Lee Seo Hyuk jadi kurang greget gitu.

Untuk bagian plotnya, I really love kisah masa lalu antara Ha Eun, Hyun Bin sama Gong Ji Chul. Coba kalian bayangkan, seseorang (Gong Ji Chul) yang lahir dari keluarga psikopat dan hidupnya kacau balau terus jatuh hati sama cewek (Ha Eun) yang sudah punya tunangan seorang detektif (Hyun Bin). Sungguh kisah cinta segitiga yang tragis sekali bukan? Yang bikin saya nyesek nonton itu ya karena karakternya Jan Ki Yong yang memang menyedihkan sekali. Sudah keluarganya berantakan, hidupnya gak jelas karena jadi homeless, jadi tersangka pembunuhan, terus bucin sama tunangan orang lain pula. Pas reinkarnasi ternyata sama aja. Gak Gong Ji Chul gak Jong Bum semuanya sadboy di tiap eranya masing-masing. Haddehh, kalau saya jadi Jong Bum, kayaknya mending cari yang lain saja. Capek woi liat Jung Sa Bin kencan di depan mata sendiri. Kisah sadboy dari Jong Bum juga didukung sama soundtrack drama Born Again yang nyesek abis. Semua lagunya itu menyayat hati sekali woiii. Ini drama memang gak punya stok lagu ceria kayaknya, sungguh sangat cocok didengarkan oleh para pasukan ambyar.

Nah, terus yang jadi plot twist dari kisah cinta segitiga ini ialah ternyata si mbak Sa Bin ujung-ujungnya naksir juga sama mas Jong Bum.  Bagaimana para netizen di sosial media gak jengkel sama mbak Sa Bin kalau dua-duanya mau dibungkus. Mbak Sa Bin ini terlalu plin plan jadi cewek. Satu ya tetap satu aja mbak, jangan rakus kwkwkw. Tapi ya kalau saya jadi mbak Sa Bin, kayaknya saya juga bakal dilemma mau pilih siapa. Jaksa Kim yang pintar dan berkarisma atau sama Jong Bum yang manis itu.  Selain mbak Sa Bin, writer nim drama ini juga kena sambat sama netizen. Tim kapal jaksa Kim dan Jung Sa Bin gak terima kalau Jung Sa Bin harus happy ending sama Jong Bum. Tapi benar juga sih, jaksa Kim punya banyak effort di drama ini. Di masa lalu sampai masa sekarang doi tetap setia sama Jung Sa Bin. Masa endingnya Jung Sa Bin lebih milih Jong Bum hanya gara-gara rasa simpati akan kehidupan suramnya Jong Bum. Terus kamu anggap apa jaksa Kim selama ini mbak? 

Sejujurnya, drama ini adalah salah satu drama yang bikin saya mau stop nonton pas pertengahan episodenya tapi bikin nagih buat dilanjutin terus gara-gara penasaran. Ada banyak scene yang menurut saya harusnya gak usah ada. Beda saat di awal-awal episode yang ceritanya benar-benar lambat jadi kita juga benar-benar menikmati tiap detail ceritanya. Tapi makin lama, makin banyak pula scene dadakannya. Contohnya kayak Jong Bum yang ke Amerika terus tiba-tiba balik tanpa ada scene yang menjelaskan kejadian itu. Terus ada lagi scene jaksa Kim yang kena skorsing setahun tapi juga gak terlalu dijelaskan detail ceritanya. Ya paling tidak kasih beberapa adegan lah ya soal kejadian itu biar penonton gak kaget-kaget banget sama alur yang tiba-tiba langsung main satu tahun kemudian. Adegan persidangannya Sang Ah sama Jang Hye Mi itu harusnya seru  tapi alur sidangnya malah flat aja gitu. Padahal saya sudah nunggu mereka saling serang pakai bukti.  A lot of adegan maksa memang muncul menjelang episode terakhir drama ini.    
  
Overall, cerita drama Born Again ini tuh menarik buat ditonton. Apalagi buat kalian yang suka sama genre detektif thriller misteri. Sejak awal episode kita sudah diajak mikir tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan siapa pelaku sebenarnya. Yang bikin serunya lagi karena drama ini itu punya plot maju mundur karena ceritanya memang tentang reinkarnasi dari para pemainnya. Jadi kalian akan disuguhi cerita dari dua masa yaitu masa lalu sama masa sekarang. Pas masa reinkarnasi, penonton jadi dibikin bingung lagi sama pemain-pemain baru yang bermunculan. Kita diajak main tebak-tebakkan lagi. Pokoknya ini adalah tipe drama yang akan mengasah otak Anda kembali. 

Nah, kalau menurut kalian bagaimana? Apakah kalian puas dengan ending Born Again? Kalau saya sih tidak, endingnya gak jelas dan terkesan maksa sekali.  Alurnya kurang rapi menurut saya, padahal ceritanya menarik.



Friday, 29 May 2020

Hospital Playlist (Review)


Hai Hai selamat datang kembali di review board saya para readers sekalian!

Well, berhubung salah satu drama slice of life garapan sutradara dan penulis andalan kita yaitu Shin Won Ho dan Lee Woo Jung yang berjudul Hospital Playlist telah tamat dengan ending yang penuh nano-nano itu, maka tibalah saatnya bagi saya untuk mereview drama ini. Anyway, bagi yang sudah nonton ending Hospital Playlist, bagaimana perasaan kalian saat ini? Apakah semua kapal kalian berlayar, atau kalian malah salah kapal sejak dari episode pertama wkwkw? Bagi yang menumpangi kapal winter garden saya mengucapkan selamat doa kalian terkabul tadi malam. Tentu, hal ini tidak lepas dari kekuatan doa nyonya Rosa beserta sanak saudara Andrea lainnya yang sudah pasti terbukti ampuh menembus lapisan langit ketujuh. Tuhan mungkin merasa malu ketika orang-orang beriman memohon kepada-Nya lantas tidak mengabulkannya. 



Bisa dibilang tahun 2020 adalah tahun yang penuh dengan kumpulan drama-drama keren di setiap stasiun televisi. Pokoknya, tiap stasiun TV Korea tahun ini benar-benar berlomba memberikan drama dengan genre yang unik dan berbeda. Anyway, kepada bala pasukan The Word of The Married, CLOY, Itaweon Class, dan The King Eternal Monarchy, saya harapkan minggir dulu. Sorry to say but for me, Favorite Drama of The Year masih dipegang sama Hospital Playlist. Yah, Hospital Playlist deserves to be the greatest drama in 2020. Kenapa, why and wae? Ya sudah, silahkan disimak saja review saya berikut ini.

A.   Drama Medis Yang Beda Dari Drama Medis Biasanya

Sebelumnya saya mau sungkem dulu sama penulis Hospital Playlist yang memberikan warna baru dalam drama medis. Saya tidak pernah mengira kalau bakal ada drama medis macam beginian. Kalau sebelum-sebelumnya kalian nonton drama medis yang kebanyakan scene darah, peralatan medis yang seram-seram, ruang operasi dengan suasana menegangkan serta para dokter dan tenaga medis yang lebih menonjolkan skill mereka masing-masing, maka di Hospital Playlist kalian tidak akan disuguhi adegan-adegan macam begituan lagi. Hospital Playlist adalah jenis drama medis yang sangat ringan untuk kalian nikmati. Pokoknya gak ada tuh konflik sama plot yang bikin pusing kayak TWOFTM atau 365: Repeat The Year. Sebenarnya ada kasus pelakor juga sih tapi gak seribet drama sebelah lah.

Hospital Playlist menjadi drama slice of life karena isinya memang lebih menggambarkan rutinitas sama kehidupan para tenaga medis dan dokter pada umumnya di setiap rumah sakit. Bagaimana kehidupan dokter dan perawat lainnya kalau pas jam istirahat, bagaimana kehidupan mereka kalau lagi di luar rumah sakit, bagaimana kelakuan mereka di kantin pas ngumpul, apakah mereka makan dengan santuy atau buru-buru, belum lagi cara mereka menghadapi pasien yang beda-beda karakter. Hubungan antara pasien dan setiap dokter di drama ini juga benar-benar sangat-sangat intens. Selain banyak scene lawak dan absurd dari penghuni RS Yulje, drama ini juga banyak yang mengandung bawang. Beberapa di antaranya kayak kisah seorang pasien yang harus rela menggugurkan kandungannya, kisah Ayah yang rela diet demi menyumbangkan levernya kepada anaknya, dan masih banyak lagi.  Pokoknya, drama ini tuh kayak dibalik layarnya kehidupan rumah sakit di sekitar kita. Dibalik baju yang mereka kenakan dokter pun hanyalah manusia biasa yang punya kisah tersendiri di luar rumah sakit tempat mereka bekerja.

B.    Kisah Persahabatan geng 99

Kalau bahas persahabatan Song Hwa, Joon Woon, Ik Jun, Jung Won, sama Seok Hyung itu rasanya bikin iri deh. Meskipun fiktif tapi rasanya pengen gitu punya circle kayak mereka. Kalau kalian masih sekolah dan sudah nonton drama ini pasti punya cita-cita pengen punya teman-teman dan kehidupan kayak mereka berlima. Mau jadi pintar terus bisa dihormati juga sama orang-orang sekitar. Mau jadi kaya juga biar bisa belanja online sepuasnya kayak Song Hwa, bisa sering traktir teman-teman juga kaya Seok Hyung. Pengen kayak Ik Jun juga yang punya cemilan banyak, kalau Joon Won? Kayaknya doi cuma punya banyak pulsa buat nelpon Ik Sun kwwkwkwk. Bukan cuma kaya ilmu, dan harta tetapi juga kaya hati kayak Andrea a.k.a Jung Won yang suka bantu pasien yang kekurangan biaya pengobatan. Kalau cewek-cewek pasti banyak yang mau jadi Song Hwa, selain pintar, baik, suka belanja barang-barang aneh doi juga punya empat teman cowok yang peduli dan sayang sama dia. Oh indahnya hidup kalau realita seperti di dalam drama kwkwkkw. Kisah lima sekawan ini itu hangat sekali di drama ini, kadang bikin senyum-senyum sendiri sampai ngakak yang tak terkontrol. Apalagi pas scene mundurnya ke masa-masa mereka kuliah. Belum lagi kalau adegan berantem rebutan makanan di tempat makan wkkwkw.

Adegan paling ditunggu kalau mereka berlima ngumpul adalah saat makan bareng di luar atau ngemil di ruangannya Song Hwa, Joon Woon sama Jung Won. Kalau Seok Hyung ruangannya memang gak pantas buat jadi tempat ngumpul. Ruangannya terlalu ramai sama dokumen yang antah berantah itu. Kalau Ik Jun sudah jelas, doi lebih suka berpetualang di setiap ruangan di rumah sakit wkwkwk. Ik Jun memang lebih cocok jadi Duta Persahabatan Rumah Sakit Yulje. Jangankan duta persahabatan, jadi duta asmara antar dokter juga bisa. Selain adegan makan-makan, di tiap episodenya kalian juga akan melihat para dokter ini ngeband bareng. Lagu-lagunya juga enak-enak dan bikin baper tiap episodenya. They are really talented doctors who can sing and play instrumental musics. 



C.    Drama Yang Mengajarkan Penonton Untuk Lebih Banyak Bersabar

Harus saya akui kalau drama Hospital Playlist memang banyak mengajarkan kesabaran kepada penonton setianya. Durasi dramanya saja satu jam lebih tapi tau-tau abis kayak nonton MV doang. Habis itu, kita harus nunggu lagi seminggu lamanya buat nonton. Pas nonton eh gak berasa udah selesai, pokoknya begitu terus tiap minggunya sampai Hospital Playlist season 1 tamat di episode 12. Episode Hospital Playlist juga cuma 12 beda sama drama lainnya yang kebanyakan 16 episode. Past tamat semalam, kita malah disuruh nunggu lagi selama setahun untuk season 2. Seminggu aja sudah gregetan nungguin lanjutannya, gimana nunggu setahun T_T. Ini tuh memang jenis drama yang bikin penontonnya keseret arus cerita kayak lagi main di pantai. Tanpa sadar tau-tau sudah main di tengah laut aja. Tapi ya sudahlah, paling tidak satu kapal telah berlayar di Hospital Playlist season 1. Biarkan writer nim berkarya untuk Hospital Playlist season 2 dan 3.


Friday, 15 May 2020

Find Me in Your Memory (Review)


Hello para readers sekalian! Welcome back to my review board again. Kali ini saya akan mereview sebuah drama dari MBC lagi tetapi dengan genre yang berbeda dari review saya sebelumnya. Kalau sebelumnya kalian pusing tujuh keliling akibat plot dari 365: Repeat The Year yang sangat menguras mental dan emosi itu, maka kali ini MBC memberikan sebuah penawar untuk otak kalian yang sangat butuh keuwu-uwuan yang tak kalian dapatkan di drama-drama sebelumnya. So, adapun drama yang akan saya bahas kali ini adalah drama yang berjudul Find Me In Your Memory.

Ok, tanpa perlu berlama-lama lagi langsung saja kita review drama bergenre fantasi, misteri dengan taburan bumbu romancenya yang kental ini. Untuk kalian yang butuh drama ringan serta romantis dengan konfik yang gak berat-berat amat kayak jenis drama yang lagi ramai saat ini maka saya sangat merekomendasikan drama Find Me In Your Memory Ini. Daripada kalian tersiksa batin terus tiap minggu liat kisah hidupnya Ibu Dok di The World of The Married, mending nonton drama ini deh untuk menstabilkan mood kalian. Atau mungkin kalian capek nangis sesegukan gara-gara ngikutin drama Hi, Bye Mama, maka drama ini bisa jadi obat penenang untuk menceriakan kembali hati kalian. Lebih-lebih kalau kalian puyeng ikutin alur dramanya 365: Repeat The Year sama Memorist, mending nonton drama ini saja lah guys.  

Ada beberapa alasan mengapa drama ini menjadi salah satu drama yang seharusnya tidak Anda lewatkan tahun ini. Pertama,  karena jalan ceritanya itu kayak vibe drama-drama tahun 2010an 2011an, jadi kalian bisa nostalgia ke eranya drama-drama bucin yang ceritanya benci jadi cinta gitu lewat nonton drama ini. 

Kemudian, inti dari drama ini itu menceritakan tentang sosok Lee Jung Hoon yang merupakan seorang pembawa acara atau berita pada stasiun TV nomor satu di Korea bersama Yeo Ha Jin yang merupakan artis popular di Korea. Yang menarik ialah, karakter Lee Jung Hon atau yang sering disebut Anchor Nim ini sangatlah dingin. Karakter Anchor nim ini sudah kayak perwakilan sosok cowok drama Korea pada umumnya lah yang ala-ala cool, tamvan, smart dan karismatik begitu. Pokoknya karakter cowok macam begini itu udah mulai langkah lah di drama Korea jaman jigeum. Anchor Nim ini itu macam cowok dalam drama-drama angkatan BBF gitu lah. Bisa dibilang sosok dari Anchor Nim ini tuh ibarat Mbak Najwa Shihab versi cowok kalau lagi wawancara sama tamunya di Mata Najwa. Kalau ada tamu di program TV-nya Anchor Nim pasti langsung kena K.O gara-gara pertanyaan dan pernyataannya yang jinja pedas kayak Siwon makan Mie Sedaap.

Dannn, karakter Anchor Nim ini sangatlah jauhhh berbeda dengan sosok Yeo Ha Jin yang asli pecicilan dan super cerewet. Kalian pasti sudah ngebayangin kan kayak gimana lucu dan mengemaskannya couple ini lewat perbedaan karakternya itu.  Saya memastikan jika kalian akan senyum-senyum sendiri kalau nonton drama ini. Ada banyak scene uwu-uwu yang membuat kalian tambah bucin sama Anchor Nim dan mbak Ha Jin ini. Sosok super cuek dan dinginnya Anchor nim yang tiba-tiba jadi bucin sejatinya mbak Ha Jin bakal bikin kalian makin gemas sendiri selama nonton tiap episodenya. Sampai-sampai netizen di twitter sudah pada halu pengen cowok idaman kayak Anchor Nim wkkwkw. Ya, bagaimana penonton gak bucin juga sama Anchor Nim kalau doi sudah diputusin berulang kali pun masih tetap setia sama mbak Ha Jin. Bahkan ditinggal pergi dua kali puasa dua kali lebaran sama Mbak Ha Jin di Amerika saja, Anchor Nim tetap setia nunggu loh. Kalau di drama The Guest Anchor Nim sibuk ngejar-ngejar Park Il Do, di drama Find Me in Your Memory ini doi malah sibuk ngejar-ngejar mbak Ha Jin. Jadi, pacar kamu Ganteng? Kaya? Tapi bisa kayak Anchor nim gak? Wkkwkw

Oh iya, selain bucin sama drama ini, kalian juga akan bucin sama soundtracknya. Ost-nya Find Me In Your Memory memang bagus-bagus. Pokoknya cocok buat kalian yang lagi bucin atau dilanda asmara macam Anchor Nim.  Nahhhh, tidak lupa juga saya menambahkan sebuah saran untuk kalian. Bagi anda-anda yang sedang rindu sama ektingnya mas Park Yoochun bisa liat mukanya Anchor Nim di drama ini. Hitung-hitung sebagai obat rindu sama Park Yoochun. Mukanya Anchor Nim mirip banget woii sama Park Yoochun.    


Wednesday, 29 April 2020

365: Repeat the year (Review)




Halo, halo! Welcome back to my review board again para readers sekalian! Well, pada kesempatan kali ini izinkanlah saya untuk membahas sebuah drama dari MBC yang bikin pusing tujuh keliling para penontonnya. Kalau kalian mengikuti drama ini pasti juga merasakan hal yang sama dengan saya. Yup, drama tersebut tak lain dan tak bukan adalah drama Korea yang berjudul 356: Repeat the year. 


Dannnn pada akhirnya, drama yang bergenre misteri, fantasi, thriller, kriminal yang bikin pusing tiap episodenya ini telah menemukan endingnya dengan total 24 episode. Nah, karena dramanya sudah tamat maka tibalah saatnya saya untuk memberikan ulasan mengenai drama yang katanya underrated ini but actually really worthy for me.  

A.   Drama Kriminal yang Kurang Menegangkan tapi Malah Bikin Pusing

Sekedar saran untuk kalian yang sedang berencana untuk menonton drama ini. Jangan pernah mengharapkan banyak adegan sadis dan plot yang bikin dag dig dug macam drama misteri thriller lainnya. Saya sendiri memiliki ekspektasi yang sangat tinggi dengan akan banyaknya adegan-adegan yang menegangkan dan penuh pertumpahan darah di episode satu drama 356: Repeat the year ini. Sayang seribu sayang, tegang kagak, pusing iya kwkwkw. Bagaimana saya tidak pusing kalau setiap episode saya harus mikir keras tentang siapa dalang dari semua kasus pembunuhan di dalam drama ini. Intinya drama ini bikin otak saya bekerja keras untuk menebak apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang akan terjadi selanjutnya. Trust me, it's really unpredictable drama.  

B.    Drama Misteri yang Bikin Suudzon Sama Semua Pemainnya

Setiap episode memang benar-benar menguras pikiran tentang siapa dan apa tujuan sebenarnya dari kesepuluh orang yang ikut melakukan “reset” atau perjalanan waktu ke masa lalu tersebut. Semuanya gak ada yang bisa dipercaya. Drama Korea 365: Repeat The Year sudah macam game Among Us yang imposturnya memang gak ada akhlak. Di awal-awal episode, saya mencurigai kalau nyonya Lee Shin lah yang menjadi dalang utama dari semua kasus pembunuhan. Di antara mereka bersepuluh ya memang beliau yang paling mencurigakan di mata saya. Salah satu alasannya ya karena beliau adalah satu-satunya orang yang memimpin sekaligus mengatur semua proses reset tersebut di rumah sekaligus tempat prakteknya itu. Ya wajar juga doi difitnah jadi pelaku, klinik tempat prakteknya saja sudah bikin suudzon, soalnya besar dan luasss sekaleeee. Kalau saya masuk buat konsultasi ke klinik Zian, kayaknya saya butuh guide deh. Takut kesasar soalnya, banyak labirinnya dan terlalu misterius. Baru kali ini juga saya liat tempat praktek model istana kepresidenan begitu. Namun,  dibalik pribadi nyonya Lee Shin yang mencurigakan dan misterius itu, ternyata beliau bukanlah pelaku utama di drama ini.  Gara-gara main tunjuk-tunjuk pelaku dan saling mencurigai di antara kesepuluh orang ini, penonton pun jadi ikut-ikuttan main tuduh-tuduh juga. Lalu, pada akhirnya, acara tebak-tebakkan pembunuh pun berlanjut terus di setiap episodenya. Bukannya malah menebak siapa pelaku sebenarnya, saya malah curiga kalau cerita di drama ini hanyalah kisah yang ditulis oleh Shin Ga Hyun di webtoonnya. Netizen di twitter juga banyak yang beranggapan kalau Detektif Hyung Joo adalah pelaku dari semua kasus pembunuhan yang terjadi karena terinspirasi dari webtoonnya Shin Ga Hyun. Tapi, ternyata asumsi tersebut salah lagi. Ya gimana drama kriminal ini mau menegangkan kalau setiap episode saya malah kebanyakan emosi plus garuk-garuk kepala. Tiap episode saya cuma malah tambah dosa karena suudzon dan memfitnah semua pemeran dan pemain drama 365: Repeat the year. Kayaknya saya lebih banyak dosa nonton drama ini deh dibandingkan nonton drama The World of The Married wkwkwk.  

C.    Jangan Pernah Mengharapkan Romance di Dalam Drama ini

Pas nonton episode terakhir, saya kira saya akan menemukan sedikit scene romance antara Hyung Joo dengan Ga Hyun. Kenyataannya, secuil pun tak ada harapan akan terwujudnya pasangan kekasih dalam drama ini. Kalau tidak ada scene romance antara mereka berdua, paling tidak adalah yah dialog dari mereka yang menjurus ke persoalan hubungan asmara. Sayangnya, sampai episode terakhir pun writer nim tak memberikan tanda-tanda akan kemunculan api asmara itu. Sepertinya, mereka memang hanya ditakdirkan untuk menjadi sepasang sahabat di dalam drama ini, bukan sebagai sepasang kekasih. Meskipun happy ending tapi entah kenapa saya malah nyessek liat ending drama 365: Repeat the year ini. Ternyata, Hyung Joo lebih memilih untuk memutar waktu demi menyelamatkan Ga Hyun tetapi dengan resiko mbak Ga Hyun tidak akan mengingat semua kenangan yang mereka pernah lewati sebelumnya. Lihat ending scene yang satu ini kok bikin saya bapper dan sedih yah. Sudah macam scene-nya Kimi No Nawa T_T


It will be great if 365: Repeat the year will have season two or special episodes for Hyung Joo and Ga Hyun.
 The fact that they ended without being a couple is make me sad but the lovely thing from Hyung Joo and Ga Hyun relationship is about their friendship, yah the eternal friend even they have to reset the time again. I also will be glad if in another reset they can be more than friends again.  

Something that you should make a bold is this drama also proved that having one friend is better than having many friends around you. Don’t trust too much to anyone!    


Thursday, 9 April 2020

Itaewon Class (Review)




 Itaewon Class


Hello readers and welcome back to my review board again. Kali ini saya akan membahas salah satu drama yang sudah tamat pada tanggal 21 Maret lalu tapi masih saja hangat untuk dibahas hingga hari ini. Ya, drama tersebut tak lain dan tak bukan adalah drama Itaweon Class yang merupakan drama yang diangkat dari webtoon dengan judul yang sama.

Kebetulan saya nontonnya telat jadi saya juga baru bisa ikut nimbrung sama euphoria Park Seo Ri baru-baru ini. Kehebohan dan keseruan dari drama ini ternyata tidak hanya dirasakan oleh rakyat jelata kayak saya dan kalian-kalian yang lagi baca blog saya ini. Ternyata demam Park Seo Ri juga sudah melanda beberapa artis dan influencer di tanah air sebut saja Jerome Polin, Vidi Aldiano, Prilly Latuconsina hingga Pangeran Siahaan. Karena timeline di berbagai sosial media saya sudah heboh membahas drama baru dari Park Seo Joon ini, akhirnya saya pun memutuskan untuk marathon 2 malam menghabiskan drama ini. Pokoknya saya tidak mau ketinggalan sama demam Itaewon Class.

Well, dalam drama ini ada beberapa hal yang sangat menarik sehingga saya betah marathon ngehabisin drama ini cuma 2 malam. Yang pertama ialah karena style rambut kastanye dari Park Seo Joon yang menurut saya aneh tapi entah kenapa doi tetap tamvan dan karismatik di dalam drama ini.  Dan yang paling membuat saya betah nonton drama ini adalah karakter Jo Yi Seo yang diperankan oleh Kim Da Mi. Sejujurnya, saya kurang greget sama 2 episode awal dari drama ini. Terlalu membosankan menurut saya. I mean the plot is too classic. Kisah bullying anak SMA, cinta pertama anak SMA, terus konfliknya juga sudah bisa ditebak tentang kisah balas dendam si Park Seo Ri ini. Namun, setelah melihat ekting Kim Da Mi sebagai sosok Jo Yi Seo saya langsung ngefans sama doi. 

Karakter sebagai anak cerdas tapi berpenampilan suweg dengan gaya rambutnya yang super stylish itu membuat sosok Jo Yi Seo ini menjadi topik pembicaraan di kalangan pecinta drakor. Tak hanya itu, hal menarik lainnya dari Jo Yi Seo di dalam drama ini adalah karena sosoknya yang merupakan bucin sejati dari Park Seo Ri. Wah, kira-kira ada ndak yah model cewek kayak si Jo Yi Seo di dunia nyata yang rela mati-matian melakukan apapun demi menunjukkan dan membuktikan cintanya. Sudah ndak lanjut kuliah, berantem sama Ibunya, kerja mati-matian dari pagi sampai malam di kedai DanBam eh masih belum dinotice pula cintanya sama si Park Seo Ri. Parahnya lagi, Jo Yi Seo pernah ditolak secara langsung di hadapan teman-temannya sama di depan cinta pertamanya Park Seo Ri. Asliiii, si Park Seo Ri ini memang cowok ndak peka. Terlalu sibuk ngejar si Soo-ah dengan berusaha menjadi pebisnis kaya raya  sampai lupa kalau yang bantuin doi sampai bisa kaya itu yah si Jo Yie Seo. Saya hampir mau stop nonton gara-gara gemmes sendiri sama kelakuan Park Seo Ri. Untung cintanya Jo Yie Seo tidak bertepuk sebelah tangan meskipun sudah ditolak berkali-kali. Bayangkan pemirsahh, dari 16 episode, cintamu baru dinotice di episode terakhir. Writernya memang kebangetttan, untung Itaewon Class happy ending.  

Bukan cuma soal karakter sama style para cast Itaweon Class yang membuat drama ini digemari oleh banyak orang, tetapi juga  tentang kisah perjuangan mereka dalam membangun sebuah usaha dan bisnis.  Drama ini benar-benar menggambarkan bagaimana kesuksesan sebuah usaha itu memang memiliki proses yang panjang dan tidak instant. Mesti berdarah-darah dulu, harus punya konflik antar rekan kerja dulu, dan juga mesti merasakan yang namanya gagal dan kecewa dulu. Namun, pada akhirnya usaha dan tujuan yang jelas tidak akan pernah mengkhianati hasil. Bagi kalian anak-anak start up atau yang lagi niat buat buka usaha, coba deh nonton Itaewon Class. Anggap saja ambil kelas bisnis 16 SKS lewat jalur drakor.      


Well, saya rasa cukup sekian keluh kesah saya setelah marathon Itaewon Class. Kalau kalian punya kesan apa setelah nonton drama ini?  


Saturday, 4 April 2020

Onward (Review)




Hei Readers welcome back to my blog again. Sudah lama rasanya tidak menyapa kalian lewat tulisan saya di blog. Hmmmm anyway how are you guys?  I know it is hard to say that I am okay but yeah we have to face the hard life right now. Saya sangat tahu jika kalian memang sedang tidak baik-baik saja but I do hope you are getting better than yesterday.

Well Readers, di tengah riwehnya kehidupan dunia beserta penghuninya ini karena wabah covid-19, saya berharap kalian masih tetap semangat menjalani dunia ini. Jika kalian adalah bagian dari #Stayathome and #Workfromhome club, I really really respect you guys. Bekerja dan tetap menetap di dalam rumah untuk batas waktu yang belum ditentukan bukanlah hal yang mudah. Bosan, jenuh dan malah tambah stress karena terbiasa dengan rutinitas di kantor mungkin akan menghantui hari-hari kalian para pejuang stay at home. Dan untuk kalian yang tetap harus bekerja di luar sana untuk mencari nafkah, tetap semangat, jaga diri dan tetaplah dalam keadaan sehat. Semoga keadaan ini dapat berlalu sesegera mungkin. Anggap saja ini adalah giliran bumi untuk menyembuhkan dirinya yang sudah lama sakit karena ulah kita sendiri.

Dannnn karena saat ini kita masih berada dalam tema stay at home, maka ada baiknya bagi kalian yang tinggal di rumah untuk memanfaatkan moment yang jarang terjadi ini. Kalian bisa baca buku yang sudah lama numpuk di rak, bantu-bantu orang tua di rumah, atau mungkin menghabiskan drama Korea yang episodenya berlapis-lapis itu.

Dannnn jika kalian memang pecinta nonton, maka izinkanlah saya merekomendasikan sebuah film animasi  terbaru dari Pixar-Disney di tahun 2020 ini yang berjudul Onward.  Kalau nyebut-nyebut film animasi besutan Pixar, saya sendiri sudah percaya kalau hasilnya pasti akan mind blowing. Karya-karya Pixar ini memang selalu bikin hangat kalau ditonton.

Bisa dibilang film dari Pixar yang terakhir saya nonton itu cuma Inside Out, kalau Finding Nemo sama Cars kan sudah sering sliweran di TV. Kalau Coco, Brave dan kawan-kawannya itu belum sempat saya nonton. Karena kebetulan Onward ini adalah film baru dari Pixar di tahun ini dan temanya juga tentang wizarding world maka saya pun penasaran untuk segera menontonnya. Yeah, I am definitely a devotee of a wizarding world story.

Film ini berkisah tentang dunia sihir yang sudah mulai punah karena kemajuan zaman yang tidak lagi membutuhkan keajaiban sihir. Tokoh-tokoh di dalam film ini juga cukup unik seperti elf, naga, unicorn, dan karakter dunia khayalan anak-anak lah pokoknya. Singkat cerita, dunia yang penuh keajaiban itu pun berubah ketika dua saudara laki-laki yang bernama Ian dan Barley telah menginjak usia 16 tahun dan mendapatkan hadiah tak terduga dari ayahnya yang telah lama meninggal. Mereka diwariskan sebuah tongkat sihir dengan sebuah permata phoenix. Demi menghidupkan ayahnya kembali, kedua saudara ini rela berpetualang mencari permata phoenix. Dannn kemudian, petualangan pun dimulai. Berbagai halangan dan konflik harus mereka lalui demi menemukan sang permata phoenix. Karakter-karakter yang ada di dalam film ini juga lucu-lucu dan absurd, hal ini yang menjadikan plotnya juga tambah seru.

Overall, I just want to tell you guys that cerita petualangannya memang sangattt seruuuuu! Sudah lama rasanya tidak nonton animasi yang penuh petualangan. Pas nonton ini saya jadi ingat jaman-jaman SD dulu yang selalu setia nungguin serial Barbie sama pangerannya yang juga suka berpetualang sama mahluk-mahluk ajaib. Onward yang keluar di tahun 2020 ini jadi kayak semacam obat nostalgia bagi saya yang rindu film animasi jaman SD kayak Disney dan juga animasi Nickelodeon lainnya. Jadi, buat kalian yang suka film animasi silahkan segera meluangkan waktunya untuk nonton Onward, apalagi di keadaan stay at home kayak begini, atmosfirnya benar-benar sudah berasa kayak hari libur jaman SD. Holiday vibenya kayak natal atau tahun barulah rasanya, apalagi kalau kalian nonton bareng keluarga. I am not lebay but it’s true, cerita di dalam film Onward really really emotional. Yeah you know lah Pixar, animasinya selalu menguras emosi dan bikin mata berkaca-kaca. Pokoknya Onward ini film keluarga yang layak untuk ditonton deh di saat-saat seperti ini. Kisah dari Ian dan Barley ini benar-benar menyentuh lah istilahnya. I mean they have a good connection one another in this movie. 

Anyway, di film ini Ian memang terlihat sebagai the main character of Onward karena memang Ian yang memegang kendali kekuatan dari tongkat sihir tersebut but for me Barley is still the main character in Onward (For me yah, dunno about you). Barley benar-benar menggambarkan “Onward” itu sendiri lewat perannya sebagai kakak yang ugal-ugalan tetapi tetap selalu berani, yakin dan bertanggung jawab dalam setiap hal yang ia lakukan. By the way I also have favorite quotes in this movie, bunyinya kira-kira kayak begini,

“Long ago, the world was full of wonder. It was adventurous. There was magic. But it wasn’t easy to master. So the world found a simpler way to get by. But I hope there’s a little magic left in you."

“Dahulu kala, dunia penuh dengan keajaiban. Itu penuh dengan petualangan. Ada keajaiban. Tapi itu tidak mudah untuk dikuasai. Sehingga dunia menemukan cara yang lebih sederhana untuk bertahan. Namun, saya berharap masih ada sedikit keajaiban yang tersisa pada dirimu.”

Like the last sentence of the quotes I also want to say to you Readers. Di tengah keadaan dunia yang seperti ini saya juga berharap masih ada keajaiban yang tersisa di dalam diri kalian. Actually, saya kadang tidak mempercayai sebuah keajaiban, akan tetapi keajaiban kadang datang meyakinkan diri saya sendiri lewat orang-orang di sekitar saya. So, if you are sick please get well very very soon karena banyak orang yang menantikan kepulihanmu. If you are disappointed with something please be patient karena tidak semua hal terjadi harus sesuai dengan apa yang kamu inginkan, you just need to face it. Then, if you are sad please stay stronger cause I know you can.   


Well, I think cukup sekian bacotan saya yang sangat random ini. Do hope I can post another review again soon. Thank you and stay safe guys!