Friday, 8 February 2019

Kenapa kita harus punya hobi?



Hobby


        Apakah judul di atas terlalu mengandung clickbait? Atau mungkin terdengar cukup familiar? Hmmm nampaknya tidak juga Ferguso. Baiklah, berbicara soal kenapa kita harus punya hobi sebenarnya, saya sudah pernah diberikan pertanyaan semacam judul di atas. Tepatnya tahun lalu saat saya masih on fire on fire-nya belajar IELTS demi mengejar target band score kampus impian di negeri nan jauh di sana. Kalau sekarang? Ehm, sepertinya kampusnya tidak pindah kemana-mana Ferguso hanya saja saya yang memang selalu kemana-mana sehingga tidak consistent lagi untuk belajar. Terus, mau sampai kapan? Ehm, coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang saja para readers sekalian.  Ok lanjut, jadi pertanyaan tentang kenapa kita harus punya hobi  tersebut saya dapatkan saat berada pada sesi speaking dalam IELTS. FYI, dalam speaking IELTS kita diberikan beberapa pertanyaan yang sebenarnya cukup sederhana tapi sangat sulit untuk menjawabnya. Yah pertanyaan-pertanyaan di speaking IELTS itu telah membuat saya menjadi orang yang sangat mudah bapper dan cukup sensitif. Bayangkan saja saya pernah mendapatkan pertanyaan tentang bagaimana hubungan yang seharusnya dijalani oleh pasangan. Yang punya pacar atau yang sudah menikah mungkin fine, nah yang jomblo bagaimana? Terus ada lagi nih pertanyaan kayak begini, saat kamu merindukan seseorang apa yang kamu lakukan? Sudah jomblo dikasih pertanyaan galau pula, double kill kan namanya.

Ehhh sebelum curhatan saya makin mendalam, sedalam palung Mariana. It’s be better to move. Baiklah kita kembali ke persoalan kenapa kita harus punya hobi ini lagi. Jujur, di antara banyaknya pertanyaan yang sering diajukan di IELTS entah mengapa pertanyaan soal hobi ini menjadi hal yang paling berkesan menurut saya. Saya terus-menerus memikirkannya, entah itu saat mandi, naik motor, sampai mengetik tulisan ini pertanyaan itu pun masih meneror saya. Buat apa sih hobi itu?

          Sampai suatu ketika secara tidak sengaja saya menemukan jawabannya. Tepatnya di awal bulan Februari ini ketika kontrak mengajar saya pada sebuah lembaga pendidikan telah selesai saya laksanakan.  Yeah I am definitely a jobless again. Saya tidak punya pekerjaan lagi. Sudah beberapa hari ini saya bosan di kasur terus. Ya makanya keluar rumah! Anyway saya malas keluar rumah kecuali ada hal yang memang penting dan perlu. Kamar membuat saya lebih betah bersama laptop dan telpon pintar saya. So, are you an introvert? Sebenarnya saya juga tidak tahu pasti apakah jiwa saya ini mengandung kadar introvert, ekstrovert, ambivert, atau mungkin psikopat. Setelah melihat dan mengamati kehidupan saya selama kurang lebih 26 tahun hidup di planet yang bernama bumi ini saya memastikan bila saya bukanlah psikopat. Lihat wajah kucing saja saya sudah iba. Saya tidak mungkin tega untuk melukai sesama jenis mahluk hidup. Lalu apa dong? Hmmm, for some people maybe I am an introvert but I can be a super ultra extrovert for specific people. Ok, you are an ambivert. Hmmm perhaps. Are you doubt? Jangan-jangan kamu psikopat. Ok just call me an alien jika kalian masih pusing dengan kepribadian saya.  Saya memang agak aneh di mata beberapa kalangan mahluk hidup. I my self admit it dude.    

        Karena sifat saya yang kebanyakan ingin menyendiri terlebih setelah menyandang status baru sebagai pengangguran yang masih segar akhirnya saya pun melakukan rutinitas untuk mengusir segala kejenuhan, kepenatan, kebosanan, Kesempurnaan cintaUsut punya usut saya baru sadar kalau rutinitas ini adalah kegiatan permanen yang selalu saya lakukan saat saya lagi galau-galaunya di masa lalu ketika sedang malas mengerjakan tugas kampus, capek mengejar band score IELTS, dan pusing dengan pekerjaan yang tak menentu jua. Yeah, I find the answer now! Ternyata saya juga baru sadar kalau menulis dan bercerita adalah jawaban dari kenapa saya  harus punya hobi. Ok, Maybe I can sleep well now.

       Lalu kenapa harus menulis? Saya sendiri juga tidak tahu persis kenapa menulis menjadi semacam morphim tersendiri bagi saya saat melalui masa-masa tersulit saya dibandingkan bermain games atau curhat kepada orang lain. yang pastinya lewat menulis saya merasa lebih sembuh dan pulih dari keadaan yang memojokkan saya. menulis menjadi semacam sudut favorit saya bila diibaratkan sebuah ruangan di dalam sebuah rumah. Ya, menulis membuat saya merdeka untuk mengungkapkan semua rasa yang berkecamuk itu. Suka, duka, luka semua berbaur menjadi satu dalam aksara. Saya selalu menikmati setiap tulisan yang saya buat. Membacanya berulang-ulang membuat saya menjadi semacam pendengar setia untuk diri saya sendiri lewat tulisan. saya menyukai hal itu. And I do love it. Di mata saya, orang yang bekerja dari hobinya itu adalah orang-orang yang sangat beruntung di dunia ini. Sangat banyak orang yang memiliki hobi dan sangat banyak pula orang-orang yang ingin menjadikan hobinya sebagai pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan, including I my self absolutely. Sayangnya, tidak semua orang beruntung dan ditakdirkan untuk seperti itu. So, is my hobby useless? Selama kamu menikmati hobimu there is no useless thing in it. Useless belongs to the negative hobby yang tidak hanya merugikan orang lain tetapi diri kamu juga. So, let’s look for something that you really love to do right now. Mulailah menemukan passion yang membuatmu punya alasan untuk tidak terus jenuh menghadapi hidup yang masih gini-gini aja wkwkwkw.  

         Well, I think that is a bunch of bacotans dari saya hari ini. Sekedar mengingatkan, jikalau  pertanyaan kenapa kita harus punya hobi di IELTS ini tak akan mungkin saya jawab seperti panjang ceramah saya di dalam blog ini. Selain melewati batas waktu dan bikin ngantuk sang interviewer, mungkin interviewer-nya juga akan lebih menyarankan saya untuk ngevlog saja.    

Monday, 21 January 2019

NOTE, BLOG, AND BOOK


https://rostinaalimuddin.blogspot.com/2019/01/note-blog-and-book.html



Note.

            Sejak kecil saya sangat suka menulis, baik itu puisi, cerpen, atau pun novel. Saat masih SD, saya sudah mulai mengoleksi buku catatan-catatan kecil seperti note, diary dan sejenisnya. Pada zaman itu laptop dan handphone masih menjadi barang langka maka jadilah semua celotehan di kepala saya itu saya tuangkan ke dalam buku diary, binder, bahkan pada beberapa halaman terakhir buku tulis jaman saya sekolah dulu. Bisa dibilang tangan saya memang selalu gatal untuk mencatat setiap hal yang muncul di kepala saya. Tak jarang buku LKS dan buku paket saya juga turut menjadi pelampiasan coretan-coretan saya waktu itu.



Blogger


Saya masih ingat betul, seorang teman di masa SMP saya pernah mengatakan jika di masa depan saya akan menjadi seorang penulis hebat. Entah mengapa ucapan teman saya itu terus membekas di pikiran saya. Semenjak hari itu saya pun terus-menerus menulis sambil mengaminkan doa teman saya. Hingga pada suatu hari di tahun 2010, saat saya resmi menyandang status sebagai seorang mahasiswa, rutinitas kampus secara perlahan tapi pasti mulai menyerang hobi saya ini. Saya nyaris tidak punya waktu lagi untuk mengembangkan skill menulis saya. Otak saya sudah kehilangan nafsu untuk merangkai kata, tangan saya pun sudah tak segatal dulu lagi untuk bermain corat-coret. Tugas kampus dan lingkungan organisasi mulai menyita banyak waktu saya. Namun, pada sebuah kebetulan yang mungkin sudah ditakdirkan, saya dipertemukan oleh beberapa orang teman yang memiliki hobi yang sama dengan saya di kampus. Mereka membuat saya bersemangat lagi untuk menulis meskipun tugas kuliah sedang padat merayapnya saat itu. Teman-teman saya ini jugalah yang pada akhirnya mempertemukan saya kembali dengan dunia blog. Ya, saya pernah mempunyai sebuah blog sebelumnya tapi itu pun hanya karena tugas mata pelajaran komputer waktu saya SMA kemudian, setelah lulus blog itu pun saya lupakan.


Blog.

Berkat bertemu para blogger kampus pada tahun 2011 silam, saya akhirnya kembali aktif menjadi seorang blogger. Saat itu, blog benar-benar telah menjadi tempat baru untuk menyalurkan isi kepala saya sekaligus menemukan teman-teman baru untuk saling berbagi cerita tentang dunia blog dan website lainnya seperti Bubblews dan Postanyarticle. Tak seperti Blogspot dan Wordpress yang masih tetap eksis digunakan oleh banyak orang saat ini, Bubblews dan Postanyarticle ternyata hanya mampu bertahan beberapa tahun saja dan kemudian menghilang dari dunia maya. Blog pada akhirnya menjadi rumah terakhir dan satu-satunya bagi saya untuk aktif dalam menulis. Waktu luang selalu saya habiskan untuk berkutat dengan blog, baik itu di kost atau saat jam istirahat di kampus. Blog ternyata mampu melepaskan saya dari kejenuhan menghadapi rutinitas perkuliahan yang kian membandel setiap harinya waktu itu.

Singkat cerita, pada bulan Januari tahun 2017, saya kembali membuat sebuat akun blog baru. Bisa dibilang ini kali ketiga saya membuat blog dengan tiga akun yang berbeda. Blog kedua saya hampir memiliki riwayat yang sama dengan blog pertama saya. Ya, saya sama-sama lupa sandi dan alamat email-nya tapi sejujurnya saya tidak memiliki niat sama sekali untuk berhenti menulis seperti kasus blog pertama saya. Awalnya saya hanya ingin vakum sementara agar bisa lebih fokus menyelesaikan tugas akhir yang maha sakral di kampus waktu itu. Namun, semakin lama ternyata saya memang semakin tidak mempunyai waktu untuk sekedar menulis satu atau dua tulisan saja di blog. Pada akhirnya blog kedua saya ini pun terbengkalai seperti blog sebelumnya. Karena hal inilah maka saya memutuskan untuk membuat blog baru yang saat ini masih terus saya gunakan. 

Seiring berjalannya waktu saya mencoba untuk tidak menulis hanya untuk keperluan blog saja tetapi juga menulis untuk meningkatkan kemampuan menulis saya lewat beberapa kompetisi menulis. Saya berkali-kali ikut lomba menulis baik itu puisi, cerpen, ataupun esai. Namun, sayangnya semua berujung pada kegagalan, kegagalan dan lagi-lagi kegagalan. Daripada hanya tersimpan di dalam laptop, saya pun berinisiatif untuk menaruh tulisan-tulisan gagal tersebut ke dalam blog pribadi saya dan kemudian membagikannya ke sosial media. Beberapa tulisan yang saya posting tersebut ternyata dibaca oleh beberapa teman saya. Saya sebenarnya tidak menyangka jika saya akan menerima banyak respon positif dari mereka. Seru, keren, bagus, mengharukan dan berbagai komentar dan pesan pribadi yang menguggah lainnya dari para pembaca saya ternyata semakin membuat saya bersemangat untuk terus menulis di blog.  

Sebenarnya, ini bukan hanya tentang sebuah tulisan di dunia maya. Menjadi seorang narablog juga telah mengubah banyak hal dalam kehidupan nyata saya. Membaca tulisan-tulisan dari para narablog lainnya juga membuat saya belajar untuk memandang hidup yang tak sekedar itu-itu saja. Tak melulu soal asmara, pekerjaan, atau bahkan politik. Ada banyak hal yang terlihat sederhana tapi sebenarnya begitu penting untuk kita perhatikan. Tulisan para narablog inilah yang pada akhirnya menyadarkan saya tentang berbagai sudut pandang yang tak biasa tersebut. Menemukan passion yang mungkin remeh bagi sebagian orang tapi sangat berharga bagi kita  adalah hal yang layak untuk menjadi bagian dari rutinitas hidup kita juga. Tak hanya itu, saya pun banyak mendapatkan pengetahuan dan ilmu baru tentang dunia tulis-menulis karena tulisan para narablog yang terus berkeliaran di internet hingga hari ini. Membaca tulisan-tulisan mereka membuat sudut pandang saya tentang dunia tulis menulis pun ikut berubah.  Saya tidak takut dan tidak kaku lagi untuk menuliskan semua hal yang ingin saya sampaikan lewat gaya bahasa saya sendiri.  Hal-hal inilah yang membuat saya juga semakin berani untuk menulis apapun dan kapanpun itu. Beberapa hadiah dan juga buku yang saya dapatkan melalui giveaway menjadi semacam reward tersendiri bagi saya untuk semakin menggemari dan mencintai dunia menulis.


Gagas mediaRaditya Dika


Book.



Nulisbuku
Setelah bertahun-tahun menulis di blog dan juga ikut serta dalam beberapa kompetisi menulis akhirnya saya pun mencoba untuk mengumpulkan tulisan-tulisan saya yang lainnya ke dalam sebuah buku. Sebut saja buku kumpulan cerpen saya sebagai resolusi 2019 yang akhirnya terwujud di awal tahun ini. Saya berharap novel pertama yang sedang saya garap juga bisa saya terbitkan di tahun ini. Resolusi 2019 saya memang tidak jauh-jauh dari dunia menulis, salah satu mimpi yang sudah sejak dulu saya perjuangkan tapi selalu tidak kesampaian adalah ikut serta dalam Ubud Writers & Readers Festival (UWRF). Kenapa bukan Makassar International Writers Festival (MIWF) saja? Berhubung saya orang Makassar, jadi saya sudah lumayan sering ikut MIWF sedangkan UWRF masih terus menjadi wacana tiap tahun saya yang selalu gagal terwujud.  Semoga di bulan Oktober tahun 2019 ini cita-cita saya untuk ikut dan bertemu langsung dengan banyak penulis-penulis nasional dan internasional di UWRF tak sekedar menjadi wacana lagi. Semoga program menabung untuk ikut di UWRF juga tidak menjadi mitos belaka tahun ini. Saya akan sangat-sangat bersyukur lagi jika saya juga bisa masuk dalam daftar penulis yang terpilih untuk ikut serta di acara tersebut. Wish me luck!    

Hari ini blog sudah seperti rumah untuk mencurahkan segala isi pikiran saya. Terlebih di era digital sekarang ini, blog telah menjadi sudut favorit saya dalam bercerita, entah itu suka, duka dan juga luka. Karena telah menjadi rumah, secara perlahan blog saya pun mulai sering kedatangan tamunya alias pembacanya. Baik itu tamu baru atau pun tamu langganan. Harus saya akui juga bila sumber viewers saya memang kebanyakan berasal dari teman-teman terdekat saya. Jumlahnya pun masih jauh dari kata ratusan atau bahkan ribuan.  Meskipun begitu, saya tetap bangga untuk menjadi seorang narablog.  Saya senang berteman, berbagi, dan membaca tulisan-tulisan dari para blogger lainnya. Adalah kebahagiaan tersendiri juga bagi saya saat menemukan pesan dan komentar dari orang-orang yang merasa bahagia bahkan terinspirasi dari setiap tulisan yang saya buat. Mereka adalah kekuatan tersendiri bagi saya untuk terus berkarya dan menulis di blog. Saya masih akan terus mempercayai dan mengaminkan ucapan teman SMP saya di masa lalu, untuk itu saya harus terus menulis, apapun dan kapanpun itu.


Blog



Saturday, 17 November 2018

TIME


https://rostinaalimuddin.blogspot.com/

If I have chance to create a change, I really want to juggle this world with a life without a fear of time where people including I myself can enjoy every single day that we face without worrying about tomorrow.

People claim that time is money. Maybe it is the reason why my friends, family and neighbors are busy with their works everyday. Basically, I see time in this phenomenon as a bomb not money again inasmuch as a lot of people are stuck on fixed schedules which force them to be rush. Everything is in hurry like their daily activity is only to serve the given hours from their bosses. At the end, sooner or later the bomb will blow up and hurt them physically and mentally. Yes, deadline is like a terror today. It can explode anytime.    

Actually people are competing also to meet their goals based on their time targets. It is undeniable that age has become a measure of success in this present day. Most of them want to graduate in a college when their age has been 22 years old then have a job before 25 years old. The others also say that they should marry at the age of 25 years. Everyone has set their epoch to be realized on schedule that they have created. Unluckily, not all of the human in this universe can actualize their willing based on their timetables.

A group of people view the time as something that to be worried about therefore, they tend to control some moments in their lives. They assume that time is wild so, it should be tamed whereas, the time is still the time. It is not an enemy that should be defeated. It is also not about a competition where human should be a winner. Time is just series of event in a life. It will remain with everyone’s life even though people always say no more time again.  Yes, time will always be there for us.

Time actually never changes but people do it. I tend to argue that it is the people who have modified the era so they are trapped in time worries. They rely on technology so, they can make everything instant. Today, each person uses smartphone to connect quickly to the others. Different from  past time where they still entrust to postman for taking care of various purposes such as office affairs, school, business or just a letter to communicate each other. Everything has changed today. Most people choose to use social media or packet delivery service for instance, Gmail, Telegram or Feedex to send express documents. Absolutely, the fastest is the best. Nowadays, everything is about a speed. Shorten the time has become an important need for every individual.

As aforementioned, completing college, having a job, and getting married are important things that are always be the main purposes in everyone’s life. However, I think those matters are not ambitions anymore, people’s goals have transformed into a terror that continues to haunt them now.  At the end, excessive expectation pushes people to fall on disappointment and frustration since they fail to meet their targets. Actually, what is wrong with the goal that does not come on time. I think it is still good to graduate in 25 years old. It is ok to find a job in 30 years old. It is also fine for getting married in 35 years old. In fact, nothing wrong with those periods. The one that should be blamed is our perspective about the time. Indeed, time never makes a mistake however, many people always blame it. I do believe time will never be angry to always be criticized because time does not have time to do it. Time only cares about his duty to keep moving forward.

Time will always be on our side if we treat time as a friend. Vice versa, you can kill time if you commit time as a terror.


Monday, 3 September 2018

Hanya Ginseng dan Park Ji Sung yang Bernilai di Matamu...

https://rostinaalimuddin.blogspot.com/2018/09/hanya-ginseng-dan-park-ji-sung-yang.html


            Acara pembukaan dan penutupan Asian Games yang berlangsung spektakuler itu ternyata meninggalkan kesan yang mendalam bagi para warga di tanah air. Para pengabdi sosial media sejak detik-detik pembukaan hingga berakhirnya Asian Games tadi malam terus berlomba-lomba mengabadikan moment bersejarah bagi Indonesia yang terpilih sebagai tuan rumah Asian Games untuk kedua kalinya itu lewat beragam ciutan yang takjub akan pertunjukan megah tersebut. Tak hanya di Indonesia, para netizen Korea Selatan juga turut mengekspresikan kekagumannya kepada panitia dan seluruh pengisi acara rangkaian pembukaan dan penutupan Asian Games 2018 yang berlangsung di GBK tersebut. Aksi para penari, penyanyi hingga adegan presiden Jokowi Widodo naik motor moge bak aktor kece drama Korea itu pun menjadi perbincangan para warga net di Korea Selatan. Sungguh saya sangat mengapresiasi kepada siapapun sang pemilik ide ajaib ini, sampai-sampai membuat baper para kaum millennial di negeri ginseng yang pada dasarnya memang sudah terbiasa disuguhi adegan-adegan romantis lewat drama-drama berkualitas tanpa zoom dan slowmotion berlebihan seperti di negeri antah berantah itu. 
            Tak hanya itu, nama Indonesia juga menjadi trending topic di berbagai koran dan situs di Korea Selatan seperti Naver dan Twitter. Para fangirls garis keras sampai garis normal di tanah air pun turut heboh dengan ramainya pembahasan Asian Games di negara yang mereka percayai sebagai tempat lahirnya calon suami mereka itu (Saya aminkan). Ramainya perbincangan acara perhelatan akbar empat tahun sekali ini ternyata juga didukung oleh stasiun-stasiun TV di Korea Selatan yang berlomba-lomba  menayangkan setiap pertandingan Asian Games untuk mendukung para atlet-atletnya yang sedang berlaga. Tak tanggung-tanggung beberapa drama dan variety show yang bisa meraup rating tinggi tersebut justru digusur demi menayangkan pertandingan-pertandingan tersebut. Drama Korea “Your House Helper” yang ditayangkan oleh KBS beberapa waktu yang lalu juga terpaksa ditunda selama 30 menit demi menayangkan pertandingan basket antara Korea dan Indonesia. Yang pastinya stasiun-stasiun TV di Korea sana menyiarkan pertandingan-pertandingan tersebut tanpa mesti menunggu ditegur dulu sama Kemenporanya gara-gara doyang ngacak saluran.

            Di sisi lain, ketika warga Korea menyanjung Indonesia dengan penuh kekaguman terhadap presiden maupun rakyatnya maka lain pula dengan beberapa netizen Indonesia yang amunisi nyinyirnya tidak pernah habis setiap membahas Korea. Terlebih pas acara closing ceremony semalam. Kenapa ngundang artis Korea, India, dan China katanya. Mungkin mereka lupa kalau ini Asian Games bukan PON apalagi PORSENI. Di antara pertunjukan semalam maka sudah jelas siapa penampilan yang paling banyak dikomentari oleh para haters. Yah, tak lain dan tak bukan adalah para oppa Suju dan iKon. Betewe, sebenarnya apa sih salah oppa dan onnie kami? Mulai dari mengejek para artis Korea yang plastik semua katanya padahal dia sendiri tidak sadar kalau banyak artis-artis Indonesia yang juga suka operasi plastik. Bahkan sampai ada juga yang nyinyir level maksimal pakai kata “cowok cantik” kepada oppa-oppa kesayangan K-popers tanah air itu. Mereka tidak tahu saja kalau cowok cantik yang mereka ejek itu lebih maskulin dari mereka. Hah? Masaaa??? Ya iyalah wong mereka semua ikut wajib militer bahkan beberapa aktor Korea memilih untuk ikut wajib militer di usia yang masih sangat muda. Nah kamu di usia dua puluhan tahun disuruh angkat galon saja mengeluhnya setengah mati. 

            Motto andalan haters K-pop tanah air yang paling fenomenal di telinga saya tak lain dan tak bukan adalah kata lipsink alias pura-pura nyanyi. Saya tahu perasaan K-popers berkecamuk setelah mendengar perkataan pedas mereka yang sebenarnya mereka sendiri tidak tahu sama sekali persoalan musik di Korea. Mereka tidak tahu kalau proses menjadi penyanyi di Korea tak seinstan jadi penyanyi di Indonesia yang kebanyakan cuma mengandalkan satu sensasi dan satu lagu saja plus bonus suara ala kadarnya itu. Masa training untuk lolos debut menjadi artis ataupun penyanyi di Korea juga tak semulus wajahnya langkahnya Lucinta Luna jadi penyanyi dangdut yang selalu bangga dengan jumlah followers di instagramnya itu.      

       Tapi kalau boleh jujur saat saya dan teman-teman saya selaku penganut aliran Oppanisme diejek dengan kalimat Hidupmu kebanyakan drama kayak drama Korea, justru kami senang saking senangnya sampai-sampai mau sujud syukur. Hah? Masaaaa??? Ya iyalah daripada dikatain hidupmu kebanyakan slow motion sama zoom kayak di sinetron yang judulnya Istriku Ternyata Suamiku atau yang di serial Anak Perempuanku Menikah dengan Suaminya (kalau garing diskip saja) ya mending saya dikatain kebanyakan drama kayak drama Korea.   

            Tapi maha benar netizen dengan segala bacotnya itu memang susah untuk dihindari. Mereka akan tetap menutup mata dengan hal-hal positif yang dilakukan oleh para artis Korea dan fansnya. Sebut saja kejadian saat Kim Jonghyun salah satu personel boyband SHINee ditemukan meninggal karena bunuh diri pada bulan Desember tahun lalu. Tentu saja radar kebencian dari para haters K-Pop tanah air langsung jadi auto on. Berita ini pun jadi sasaran empuk mereka untuk ditertawakan dan pastinya sambil membawa kantong kata plastik yang menjadi langganan mereka tiap nyinyir. Walhasil para Shawol sebutan fans dari SHINee pun tidak tinggal diam. Daripada buang-buang energi dan kuota meladeni ciutan para haters di dunia daring, mereka lebih memilih membuat aksi kemanusiaan dengan tajuk From Jonghyun to Indonesia and Palestine. Tak tanggung-tanggung donasi yang mereka kumpulkan pun mencapai 466 juta lebih dan melebihi target awal mereka yang hanya berjumlah 100 juta.  

            Lagi dan lagi yang namanya haters tentu tidak akan mau tahu persoalan macam kemanusiaan begitu. Padahal kalau mereka mau menggunakan Hp dan kuota mereka untuk mencari aksi-aksi kemanusiaan dari para fans maupun artis Korea itu sendiri tentu mereka akan lebih mudah menemukannya dibandingkan ubek-ubek internet cuma buat cari gossip dan skandal mereka. Bagi tukang nyinyir, informasi-informasi tersebut tentulah lebih gurih dari isu politik tanah air apalagi kalau digoreng di sosmed. Tapi ya sudahlah, mungkin hanya ginseng dan Park Ji Sung yang bernilai di mata mereka kalau lagi bahas Korea. Masoook oppa….

Source picture di sini


Thursday, 2 August 2018

Apakah Kita Memanfaatkan Teknologi atau Dimanfaatkan Teknologi?

Pendidikan


Banyak yang menganggap bila wajah pendidikan Indonesia saat ini adalah hasil dari perkembangan zaman. Teknologi, lingkungan serta pola pikir cenderung ikut berubah mengikuti laju era globalisasi. Tidak bisa dipungkiri bila kecanggihan teknologi memegang peranan yang cukup besar dalam mengubah tatanan dunia pendidikan di zaman ini. Perubahan itu pun bisa dilihat dan dirasakan di beberapa sekolah di Indonesia. Sebut saja pemanfaatan teknologi digital yang dirasa lebih memudahkan siswa dalam proses belajar dan mengajar. Teknologi dianggap mampu menjawab beragam permasalahan yang terjadi di sekitar lingkungan pendidikan. Salah satu contohnya adalah kehadiran internet yang telah membuka jalan bagi jutaan anak untuk mengakses beragam informasi. Namun, terlepas dari pandangan-pandangan tersebut, yang menjadi persoalan adalah tentang seberapa efektif peran teknologi terhadap pendidikan anak-anak di Indonesia saat ini.

Mendapatkan informasi secara cepat dan up to date adalah salah satu alasan mengapa para guru, siswa hingga orang tua percaya pada keberadaan teknologi dalam membantu memenuhi kebutuhan anak-anak mereka di dunia pendidikan. Teknologi pun sudah dianggap menjadi kebutuhan primer bagi anak sekolah zaman sekarang. Saat ini anak-anak lebih panik saat lupa membawa smartphone daripada membawa buku ke sekolah. Bahkan, para siswa lebih memilih untuk bertanya pada google dibandingkan dengan guru atau orang tua mereka di rumah. Satu pertanyaan yang akan melahirkan puluhan hingga ratusan jawaban dari berbagai situs penyedia informasi di dunia daring. Tentu para siswa mendapatkannya tanpa harus menunggu dan mendengar penjelasan panjang kali lebar lagi dari guru di kelas atau dari orang tua mereka di rumah. Teknologi hari ini memang telah menawarkan banyak kemudahan bagi para penggunanya. Saking mudahnya para siswa tidak perlu repot-repot lagi untuk mencatat seluruh isi papan tulis di kelas. Keberadaan kamera di setiap telepon genggam anak-anak saat ini telah membantu mereka untuk menghemat kertas di buku mereka. Tak ada lagi sistem meminjam buku catatan. Cukup mengaktifkan bluetooth atau berbagi lewat akun sosial media masing-masing maka catatan pun akan terkirim.  

Namun, di balik kemudahan-kemudahan tersebut tanpa kita sadari teknologi secara perlahan mengubah anak-anak di negeri ini menjadi mahluk yang pasif.  Fenomena-fenomena hari ini lebih banyak bercerita tentang anak-anak yang hobi berselancar di dunia maya mencari tugas sekolah dibandingkan membaca referensi-referensi di perpustakaan. Lebih hemat waktu dan tenaga katanya. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu bersama komputer lipat dan telepon pintar mereka di kamar untuk menyelesaikan tugas-tugasnya tanpa perlu ke luar rumah lagi mencari buku di toko buku atau sekedar ke perpustakaan. Tentu tak ada yang salah dengan dengan hal tersebut. Akan lebih baik bila anak-anak memang memanfaatkan kemajuan teknologi daripada menyalahgunakannya. Namun, tidak bisa dipungkiri bila para mesin seakan telah menggantikan posisi utama manusia untuk saling bersosialisasi di mana orang tua hingga teman belajar kelompok bukan lagi sumber utama untuk menemukan jawaban dari permasalahan yang mereka temukan di bangku sekolah.  Saat ini, anak-anak lebih memilih fitur grup dalam setiap aplikasi untuk berkumpul dan berdiskusi walaupun kebanyakan ujung-ujungnya hanya saling lempar sticker atau emoticon dan berakhir pada kiriman lampiran tugas yang diselesaikan oleh separuh jumlah penghuni grup. Selebihnya adalah orang-orang yang masih tetap mengandalkan teknologi dengan fitur download, copy dan paste-nya. 

Saya membayangkan bila di masa mendatang perpustakaan akan beralih fungsi menjadi museum. Para generasi di masa depan hanya mengenal perpustakaan sebagai tempat bersejarah untuk mencari ilmu sebelum datangnya ebook dan situs-situs mengunduh buku lainnya. Menulis hanya akan menjadi kegiatan yang dianggap kuno dan belajar kelompok sudah dipandang ketinggalan zaman bagi anak-anak. Tak ada lagi mahluk sosial yang gemar berinteraksi dengan keadaan sekitarnya sehingga pada akhirnya rasa saling berempati terhadap guru, siswa dan orang tua akan menghilang ditelan oleh kemajuan zaman. 

Sebagai seseorang yang beruntung merasakan dua masa yaitu era kejayaan teknologi dan zaman minimnya teknologi, saya sama sekali tidak menyalahkan keberadaan teknologi hari ini. Bagaimanapun teknologi adalah bagian dari perkembangan zaman yang juga memiliki andil besar terhadap pendidikan di tanah air. Melarang anak untuk tidak menggunakan teknologi bukanlah pilihan yang tepat di di era serba canggih ini. Menanamkan kebijakan anti gawai pada anak-anak hanya akan melahirkan anak-anak yang gagap akan teknologi. Sudah seharusnya orang tua mengambil langkah yang lebih bijaksana agar anak tidak terjebak dalam pilihan antara buku atau gawai. Untuk itulah orang tua memegang peranan penting dalam menanamkan budaya literasi sejak dini kepada anak-anaknya. 

Ada banyak cara untuk membuat anak tetap mencintai buku di tengah menjamurnya pengguna gawai hari ini seperti memperkenalkan buku kepada anak sejak kecil lewat bercerita. Mengajak anak-anak ke toko buku atau menjadikan buku sebagai hadiah untuk anak-anak. Membacakan dongeng sebelum tidur atau sekedar menceritakan kisah-kisah inspiratif kepada anak mungkin sudah terkesan kuno untuk orang tua zaman sekarang. Banyak orang tua yang tidak memiliki waktu hingga ada pula yang memang tak ingin meluangkan waktu sama sekali untuk sekedar berbagi cerita kepada anak-anaknya karena menganggap teknologi hari ini sudah menggantikan kegiatan berdongeng tersebut. Kebanyakan orang tua bahkan lebih memilih mainan hingga ponsel pintar sebagai hadiah untuk anak-anak mereka dibandingkan sebuah buku bacaan. Begitu pun saat bepergian bersama anak-anak mereka. Para orang tua lebih mengingat untuk berbelanja bersama anak-anak mereka di sebuah toko baju dibandingkan toko buku. Hal-hal yang terlihat sederhana tapi sering kali luput dari perhatian orang tua di zaman serba modern ini. 

Untuk mencegah anak-anak agar tidak kecanduan bermain gawai seharusnya orang tua juga tak boleh ragu dalam menerapkan peraturan menggunakan gawai selama di rumah. Orang tua harus konsisten terhadap aturan waktu yang diberikan kepada anak mereka di rumah. Misalnya memberikan kesempatan kepada anak untuk bermain gawai di jam-jam yang telah disepakati bersama anak dan orang tua bukan atas kesepakatan pribadi orang tua itu sendiri. Menuntut anak untuk mengikuti kemauan orang tua sama saja memberikan tekanan emosi berlebihan kepada anak yang pada akhirnya bisa menyebabkan anak stress dan takut kepada orang tuanya sendiri. Ada baiknya orang tua juga harus rajin memeriksa isi gallery maupun history ponsel anak-anak mereka. Terus menjalin komunikasi dan menggali informasi secara tegas tapi santun dengan anak juga merupakan cara jitu menghindarkan anak dari konten negatif gawai. 

Budaya adalah tentang sebuah kebiasaan termasuk budaya membaca pada anak yang tumbuh karena kebiasaan orang tua memperkenalkan buku sejak dini kepada anak-anaknya.  Wajah pendidikan Indonesia di masa depan adalah hasil dari pendidikan Indonesia hari ini. Kita adalah cerminan dari wajah pendidikan di masa yang akan datang. Sudah saatnya orang tua sebagai madrasah pertama bagi anak-anak harus sadar akan arus teknologi yang mampu menyeret dunia pendidikan kita ke pusaran dunia digital yang makin tidak terkendali.  #Sahabatkeluarga