Monday, 27 March 2017

Happy Earth Hour From Makassar


The Twenty sixth of March of 2017. 10. 11 (WITA)


Long time no see para reader sekalian!!! Well, di kesempatan kali ini saya akan berbagi cerita tentang kegiatan Earth Hour yang diadakan setiap setahun sekali di seluruh dunia ini. Tepatnya malam minggu kemarin tanggal 25 Maret 2017, seluruh dunia menyemarakkan aksi Earth Hour 2017. Earth Hour sendiri merupakan kegiatan  yang rutin diadakan oleh World Wide Fund for Nature dimana seluruh dunia serentak melakukan pemadaman lampu selama satu jam. Tujuan dari kegiatan Earth Hour adalah sebagai bentuk kesadaran kita terhadap perubahan iklim yang terjadi saat ini. Dengan ikut serta berpartisipasi dalam kegiatan ini berarti kita juga telah menjadi bagian penting dalam mencegah perubahan iklim yang semakin ekstrim akhir-akhir ini. Memadamkan lampu, mematikan gadget dan barang elektronik lainnya yang tidak diperlukan selama satu jam merupakan langkah sederhana namun memberi dampak yang besar terhadap lingkungan kita. 

Malam minggu kemarin tepatnya pukul 20.30 WITA, kota Makassar juga turut meramaikan aksi ini. Beberapa kali Earth Hour Makassar menyelenggarakan kegiatan setahun sekali ini di Benteng Fort Roterdam Makassar namun berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya kali ini Earth Hour Makassar menempatkan event ini di anjungan pantai Losari Makassar.  Mungkin disesuaikan dengan temanya juga kali yah yaitu #SEJUTAAKSI #SEATOSEE makanya tempatnya diadakan di anjungan pantai Losari. Berikut adalah beberapa foto yang saya ambil sebelum dan sesudah aksi Earth Hour dimulai. 








Dibalik kerennya dan serunya acara Earth Hour semalam tiba-tiba saja hujan deras plus petir juga ikut meramaikan acara tersebut. Sesaat setelah Bapak Danny Pomanto selaku walikota Makassar membuka acara ini secara resmi, awan mendung yang dari tadi sudah tidak tahan untuk bersua dengan bumi akhirnya   tumpah juga. Walhasil sekitaran area pantai losari tumpah ruah dengan genangan air. Well, I can say that it was Earth Hour for Flood Edision. 



Genangan air di atas merupakan salah satu penampakan ekstrimnya malam minggu yang saya alami semalam. Sedikit cerita tentang kejadian semalam, jadi sebenarnya saya berencana untuk meet up di titik Earth Hour bersama teman-teman saya tadi malam. Rencana yang sudah matang untuk bercengkrama sembari menikmati acara pada akhirnya kalah telak dengan guyuran hujan yang membuat semua pengunjung pantai jadi basah kuyup di tambah lagi kilatan petir yang menyambar gelapnya pantai Losari malam itu. Last night was not a gathering because I was the one and only who was alone in the pouring rain, hikzzz sekali ternyata kehidupan saya malam itu. Rencana ngumpul hanya sebatas ngumpul di group WA. Karena posisi yang masing-masing berjauhan, pada akhirnya kami memutuskan untuk tidak bersua, what a poor night dudes. Malam itu ada yang tertahan di bawah tenda pengungsian upss maaf maksud saya di bawah tenda para pedagang di pinggir pantai Losari yang saling berdesak-desakkan bersama pengunjung lainnya, ada yang  pasrah hujan-hujanan karena sudah terlanjur basah kuyup, ada pula dengan posisi PW nya bersama sang kekasih di bawah atap KFC menikmati balasan-balasan BBM saya yang penuh keluhan dan rengekkan  gara-gara tidak bisa bergeser dari tempat semula. Yah malam itu saya jadi penghuni tetap sebuah pohon ukuran mini di pantai Losari bersama tiga lelaki yang sibuk cari view untuk mengabadikan peristiwa semalam. Special for the guy yang merasa saya PHP karena batal ketemu, I do apologize for the night brother! Saya benar-benar merasa bersalah karena tidak sempat bertemu padahal semalam adalah waktu yang tepat untuk bisa bersua setelah sekian lama tak bertemu lagi. Luckily, your girlfriend accompanied your night. Paling tidak saya tidak merasa bersalah-bersalah amat wkkwkwkw. 

Mendekati jam sembilan malam hujan nampaknya makin menikmati pertemuannya dengan bumi. Tak ada kode untuk redah dan pada akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Perjalanan pulang saya ternyata tak sesederhana itu pula. Saya harus menjamu macetnya daerah sekitaran pantai Losari malam itu. Untung saya pluviophile (penikmat hujan) jadi saya ikut menikmati saja alur guyuran hujan sepanjang jalan. Barisan para penjual pisang epe menjadi aksesoris yang berbeda malam itu. Lampu-lampu yang berasal dari gerobak-gerobak mereka menjadi hiasan tersendiri di mata saya selama perjalanan pulang. Dan ternyata saya terhipnotis juga sama aroma arang dan bau gula merah yang menyengat dari sebuah gerobak pisang epe paling ujung tempat saya tertahan oleh macet. Then, I stopped to buy Pisang Epe without any consideration to the rain, traffic even to the flood. Dua bungkus pisang Epe bisalah menutup keseruan dan kelelahan saya menikmati kegiatan Earth Hour ini.  Then anyway, Happy Earth Hour Readers. Jangan lupa untuk tetap turut serta menjaga kelestarian bumi kita. Habis ngecharge HP atau laptop jangan lupa chargenya ikutan dicabut #IniAksiku #ManaAksimu #ChangeClimateChange :) 

0 comments:

Post a Comment