Wednesday, 16 May 2018

Welcoming Ramadhan 1439 H




H-1 menuju Ramadhan seharusnya saya isi dengan tulisan suka cita menyambut Ramadhan. Jauh-jauh hari sebelumnya tangan saya sudah gatal menuliskan banyak hal mengenai euphoria menjemput bulan puasa. Kepala saya juga sudah sangat ingin menumpahkan berbagai macam list menu buka puasa sampai ke schedule yang harus saya lakukan selama puasa biar bisa lebih produktif jadi orang. Namun wacana hanyalah sekedar wacana. Ujung-ujungnya tulisan saya itu hanya berupa rencana. Ternyata tangan dan kepala saya lebih greget menuliskan fenomena belakangan ini. Mulai dari kasus bom sampai hawa panas politik yang terus melilit di sekitar saya. Trending topics nowadays!


Bulan puasa yang harusnya menjadi momentum untuk saling memperbaiki diri dan mempererat silaturahmi antar sesama mendadak berubah haluan menjadi peristiwa untuk saling menuduh dan memfitnah. Di mana-mana selalu saja berita tentang terorisme yang kemudian dikaitkan dengan umat islam. Sampai-sampai muslim yang berpeci, pakai baju kokoh, celana cingkrang dan berjanggut menjadi sasaran masyarakat dan aparat untuk dicurigai. Para muslimah pun tak luput dari incaran kecurigaan ini. Beberapa kasus muslimah yang dipaksa buka cadar dan jilbab sudah beredar di sosial media.  Lagi-lagi gara-gara sih teroris umat Islam jadi sasaran. Mau lu apa sih ris? Jihad ko nanggung amat. Suriah sama jalur Gaza lebih butuh geng kalian tuh!

Mencurigai demi keamanan bersama tentu boleh, asal jangan semena-mena memperlakukan umat Islam dengan tindakan yang tidak sepantasnya. Terlepas dari berita-berita yang kebanyakan dipelintir sana sini guna memecah belah bangsa, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para aparat kepolisian terhadap perannya membasmi teroris di tanah air. I do appreciate your works so far Sir.  It is not an easy job to be faced although some people out there assume if this is acara settingan only. Well, terserah beberapa pihak yang menganggap ini semua hanyalah sebagai pengalihan isu. I know there is an actor or perhaps many actors behind of this dark, grey, or pink agenda but in the deepest of my heart acara mempertaruhkan nyawa demi menjalankan tugas bukanlah hal yang harus dianggap rekayasa belaka.

Belum usai acara perang tagar kemarin muncul lagi perang asumsi dari banyak kalangan tentang kasus bom ini. Tak jarang saya melihat banyak yang mengaitkan kasus bom ini dengan politik belakangan ini. Hmmm,,, I am not trying to judge you as a clan of  sumbu pendek, cebong or whatever but menghubung-hubungkan peristiwa bom dan kemudian menyalahkan sepenuhnya kasus ini kepada pemerintah dan pihak kepolisian yang sekarang adalah hal yang sangat tidak beretika menurut saya. Ketika beberapa pihak pemerintah bersusah payah mencari fakta, penyebab hingga pelaku terorisme di tanah air, beberapa pihak malah menyudutkan pemerintah yang dianggap tidak becuslah, ngarang, settingan dan lain sebagainya. Adu mulut di dunia maya sampai dunia nyata pun tak terbendung. Yang awalnya hanya heboh ngeshare info bom bunuh diri dan perlawanan umat Islam terhadap teroris berujung pada politik jaman now. Nyinyir sana sini plus ditambah bumbu hoax biar lebih gurih. Meme mulai berterbaran. Again!

Sebagai muslim saya miris dengan banyaknya pemberitaan hoax di mana-mana. Terlebih dengan ujaran kebencian yang sliweran di berbagai sosmed yang pelakunya sendiri itu yah umat Islam. Beda pendapat sedikit saja dianggap membela kafir. Beda pandangan  dianggap mendukung tokoh politik tertentu. What? To be honest, para calon bupati di kota saya saja, saya tidak tahu sama sekali. Nama mereka saja saya nggak ingat lebih-lebih asal partai politik mereka. Indeed! Saya lebih pilih diskusi drama korea daripada bahas politik jaman jigeum.

Semenjak pemilihan gubernur Jakarta kemarin memang hawa politik di Indonesia makin naik. Pemilihan gubernur rasa pemilihan president. Jakarta yang pemilu, se Indonesia yang kampanye. Timeline saya sampai penuh ujaran kebencian atas pasangan-pasangan tertentu. Seiring berjalannya waktu saya kira semuanya akan berakhir usai pemilihan gubernur di Jakarta ternyata lanjut di season selanjutnya. Kayak sinetron aja. Then boom! Peran tagar pun dimulai. Sosmed saya kebanyakan berisi postingan yang nyinyir sana-sini. Beruntung saya follow beberapa akun artis korea, fanpage anime sama group yang yang isinya hanya kebanyakan nyinyir masalah jomblo. Mereka membuat timeline saya lebih adem.

Dari beberapa fenomena yang terjadi, ternyata saya belajar banyak tentang kebencian yang HQQ bagi para penganutnya. Resentment is the point in my post this time. I am not just talking about the hate in this politic atmosphere tetapi juga kepada human relationship. Aura kebencian di panggung politik hari ini tak jauh berbeda dengan aura kebencian di panggung kehidupan sehari-hari kita. Kalau di dunia politik, saat tokoh yang tak disukainya membuat sebuah kesalahan kecil saja maka itu bisa dijadikan senjata untuk disebar di dunia maya dan dunia nyata. Maka benarlah motto andalan beberapa haters ini “Bad news is a good news”. Bagaimana dengan kasus kebencian yang HQQ di sekitar kita? Yeah, “Bad news is still a good news”.  Walaupun untuk kaum yang satu ini kebanyakan lebih memilih untuk menebar “kebencian” di dunia nyata lewat mulut ke mulut sambil cari kesalahan dan aib dibandingkan lewat sosmed.

Well, ini sudah 2018. Berhubung Ramadhan apa nggak minat introspeksi diri? Hidupmu terlalu singkat kalau hanya untuk menebar kebencian. Hidupmu terlalu sia-sia jika hanya untuk mencari kesalahan orang lain.  Duniamu terlalu hambar jika pikiranmu tak mau bersahabat dengan kebenaran yang kemudian kau abaikan karena tak sejalan dengan keinginanmu. Rugi sekali kau menjadi pengabdi kebencian kawan!  

Accept the life so you do not need to live in a lie. Love yourself kata Justin Bieber.


0 comments:

Post a Comment