Friday, 24 May 2019

Drama Mudik


Hai readers! Berjumpa lagi dengan tausyiah Ramadan di blog saya. Jika kemarin saya mengajak kalian untuk membuang-buang waktu untuk membaca kisah nostalgia saya di masa kecil maka kali ini ijinkanlah saya membuang-buang waktu kalian lagi untuk membaca cerita mudik saya selama menjadi seorang mahasiswa yang tidak maha-maha amat.

So, saya merupakan anak rantau dari sebuah kabupaten kecil di Sulawesi Selatan yang mengadu otak, mental dan fisik di kota Makassar demi mengenakan dua buah toga di kepala saya. Ya, kurang lebih sekitar 8 tahun saya mengenyam pendidikan di kota besar untuk mendapatkan gelar S1 dan S2 saya jadi yah sudah terbiasa dengan drama-drama mudik ala anak rantau setiap tahunnya. Setiap tahun bagi saya selaku anak rantau adalah momen yang selalu membuat resah dan gelisah. Bagaimana tidak kami yang jauh dari kampung halaman selalu harap-harap cemas jika ada pemberitahuan kuliah dadakan di jadwal kritis menuju H-1 lebaran. Belum lagi kalau dosennya super perfect yang sukaaaa sekaliii masuk mengajar. Kalau sudah dapat kejadian yang seperti ini nih, anak-anak asli Makassar di kelas langsung tertawa bahagia melihat penderitaan kami. Maka terpujilah para dosen yang hanya memberikan tugas dibandingkan masuk kelas demi melihat kami segera pulang kampung kala itu. God blesses you Pak, Buk.

Selain drama bersama Bapak dan Ibu dosen yang seperti itu, saya juga sering dapat drama transportasi untuk pulang kampung. Kalian tahu kan anak kampung yang sekolah di kota besar bukan hanya saya saja. Otomatis kendaraan pulang kampung juga terbatas apalagi kalau benar-benar sudah mepet sama hari lebaran soalnya beberapa bapak supir lebih pilih stay di rumah daripada nyupir. Mungkin bapak-bapak supir ini adalah suami sholeh sayang istri yang mungkin sedang bantu-bantu istri di rumah buat masak ketupat sama opor. Beruntungnya, tidak semua supir demikian pemirsahh! Ada juga yang setia mencari nafkah menjelang hari lebaran bahkan di saat hari lebaran tapi ya itu cuma be-be-ra-pa saja. Singkat cerita ketika kami para anak rantau kalang kabut cari kendaraan buat pulang maka pada akhirnya kami pun rela disusun kayak ikan di pasar di dalam satu mobil. Tidak apa-apa main sempit-sempitan yang jelas bisa pulang ngumpul sama krluarga. Itu salah satu motto saya pada zaman dahulu kala. Beruntungnya anak-anak kuliah di kampung saya sekarang sudah lebih enak menikmati momen mudiknya. Jalan sudah bagus. Mereka kebanyakan sudah punya motor, sekarang kendaraan untuk pulang kampung pun sudah ada jadwal malamnya. It’s really really different with my era.    

Ngomong-ngomong kalau lihat anak-anak mudik di bulan Ramadan ini saya tiba-tiba rindu dengan drama mudik saya beberapa tahun silam. I know it was annoying but that’s why drama mudik era saya so memorable.  


0 comments:

Post a Comment