Wednesday, 29 April 2020

365: Repeat the year (Review)




Halo, halo! Welcome back to my review board again para readers sekalian! Well, pada kesempatan kali ini izinkanlah saya untuk membahas sebuah drama dari MBC yang bikin pusing tujuh keliling para penontonnya. Kalau kalian mengikuti drama ini pasti juga merasakan hal yang sama dengan saya. Yup, drama tersebut tak lain dan tak bukan adalah drama Korea yang berjudul 356: Repeat the year. 


Dannnn pada akhirnya, drama yang bergenre misteri, fantasi, thriller, kriminal yang bikin pusing tiap episodenya ini telah menemukan endingnya dengan total 24 episode. Nah, karena dramanya sudah tamat maka tibalah saatnya saya untuk memberikan ulasan mengenai drama yang katanya underrated ini but actually really worthy for me.  

A.   Drama Kriminal yang Kurang Menegangkan tapi Malah Bikin Pusing

Sekedar saran untuk kalian yang sedang berencana untuk menonton drama ini. Jangan pernah mengharapkan banyak adegan sadis dan plot yang bikin dag dig dug macam drama misteri thriller lainnya. Saya sendiri memiliki ekspektasi yang sangat tinggi dengan akan banyaknya adegan-adegan yang menegangkan dan penuh pertumpahan darah di episode satu drama 356: Repeat the year ini. Sayang seribu sayang, tegang kagak, pusing iya kwkwkw. Bagaimana saya tidak pusing kalau setiap episode saya harus mikir keras tentang siapa dalang dari semua kasus pembunuhan di dalam drama ini. Intinya drama ini bikin otak saya bekerja keras untuk menebak apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang akan terjadi selanjutnya. Trust me, it's really unpredictable drama.  

B.    Drama Misteri yang Bikin Suudzon Sama Semua Pemainnya

Setiap episode memang benar-benar menguras pikiran tentang siapa dan apa tujuan sebenarnya dari kesepuluh orang yang ikut melakukan “reset” atau perjalanan waktu ke masa lalu tersebut. Semuanya gak ada yang bisa dipercaya. Drama Korea 365: Repeat The Year sudah macam game Among Us yang imposturnya memang gak ada akhlak. Di awal-awal episode, saya mencurigai kalau nyonya Lee Shin lah yang menjadi dalang utama dari semua kasus pembunuhan. Di antara mereka bersepuluh ya memang beliau yang paling mencurigakan di mata saya. Salah satu alasannya ya karena beliau adalah satu-satunya orang yang memimpin sekaligus mengatur semua proses reset tersebut di rumah sekaligus tempat prakteknya itu. Ya wajar juga doi difitnah jadi pelaku, klinik tempat prakteknya saja sudah bikin suudzon, soalnya besar dan luasss sekaleeee. Kalau saya masuk buat konsultasi ke klinik Zian, kayaknya saya butuh guide deh. Takut kesasar soalnya, banyak labirinnya dan terlalu misterius. Baru kali ini juga saya liat tempat praktek model istana kepresidenan begitu. Namun,  dibalik pribadi nyonya Lee Shin yang mencurigakan dan misterius itu, ternyata beliau bukanlah pelaku utama di drama ini.  Gara-gara main tunjuk-tunjuk pelaku dan saling mencurigai di antara kesepuluh orang ini, penonton pun jadi ikut-ikuttan main tuduh-tuduh juga. Lalu, pada akhirnya, acara tebak-tebakkan pembunuh pun berlanjut terus di setiap episodenya. Bukannya malah menebak siapa pelaku sebenarnya, saya malah curiga kalau cerita di drama ini hanyalah kisah yang ditulis oleh Shin Ga Hyun di webtoonnya. Netizen di twitter juga banyak yang beranggapan kalau Detektif Hyung Joo adalah pelaku dari semua kasus pembunuhan yang terjadi karena terinspirasi dari webtoonnya Shin Ga Hyun. Tapi, ternyata asumsi tersebut salah lagi. Ya gimana drama kriminal ini mau menegangkan kalau setiap episode saya malah kebanyakan emosi plus garuk-garuk kepala. Tiap episode saya cuma malah tambah dosa karena suudzon dan memfitnah semua pemeran dan pemain drama 365: Repeat the year. Kayaknya saya lebih banyak dosa nonton drama ini deh dibandingkan nonton drama The World of The Married wkwkwk.  

C.    Jangan Pernah Mengharapkan Romance di Dalam Drama ini

Pas nonton episode terakhir, saya kira saya akan menemukan sedikit scene romance antara Hyung Joo dengan Ga Hyun. Kenyataannya, secuil pun tak ada harapan akan terwujudnya pasangan kekasih dalam drama ini. Kalau tidak ada scene romance antara mereka berdua, paling tidak adalah yah dialog dari mereka yang menjurus ke persoalan hubungan asmara. Sayangnya, sampai episode terakhir pun writer nim tak memberikan tanda-tanda akan kemunculan api asmara itu. Sepertinya, mereka memang hanya ditakdirkan untuk menjadi sepasang sahabat di dalam drama ini, bukan sebagai sepasang kekasih. Meskipun happy ending tapi entah kenapa saya malah nyessek liat ending drama 365: Repeat the year ini. Ternyata, Hyung Joo lebih memilih untuk memutar waktu demi menyelamatkan Ga Hyun tetapi dengan resiko mbak Ga Hyun tidak akan mengingat semua kenangan yang mereka pernah lewati sebelumnya. Lihat ending scene yang satu ini kok bikin saya bapper dan sedih yah. Sudah macam scene-nya Kimi No Nawa T_T


It will be great if 365: Repeat the year will have season two or special episodes for Hyung Joo and Ga Hyun.
 The fact that they ended without being a couple is make me sad but the lovely thing from Hyung Joo and Ga Hyun relationship is about their friendship, yah the eternal friend even they have to reset the time again. I also will be glad if in another reset they can be more than friends again.  

Something that you should make a bold is this drama also proved that having one friend is better than having many friends around you. Don’t trust too much to anyone!    


Thursday, 9 April 2020

Itaewon Class (Review)




 Itaewon Class


Hello readers and welcome back to my review board again. Kali ini saya akan membahas salah satu drama yang sudah tamat pada tanggal 21 Maret lalu tapi masih saja hangat untuk dibahas hingga hari ini. Ya, drama tersebut tak lain dan tak bukan adalah drama Itaweon Class yang merupakan drama yang diangkat dari webtoon dengan judul yang sama.

Kebetulan saya nontonnya telat jadi saya juga baru bisa ikut nimbrung sama euphoria Park Seo Ri baru-baru ini. Kehebohan dan keseruan dari drama ini ternyata tidak hanya dirasakan oleh rakyat jelata kayak saya dan kalian-kalian yang lagi baca blog saya ini. Ternyata demam Park Seo Ri juga sudah melanda beberapa artis dan influencer di tanah air sebut saja Jerome Polin, Vidi Aldiano, Prilly Latuconsina hingga Pangeran Siahaan. Karena timeline di berbagai sosial media saya sudah heboh membahas drama baru dari Park Seo Joon ini, akhirnya saya pun memutuskan untuk marathon 2 malam menghabiskan drama ini. Pokoknya saya tidak mau ketinggalan sama demam Itaewon Class.

Well, dalam drama ini ada beberapa hal yang sangat menarik sehingga saya betah marathon ngehabisin drama ini cuma 2 malam. Yang pertama ialah karena style rambut kastanye dari Park Seo Joon yang menurut saya aneh tapi entah kenapa doi tetap tamvan dan karismatik di dalam drama ini.  Dan yang paling membuat saya betah nonton drama ini adalah karakter Jo Yi Seo yang diperankan oleh Kim Da Mi. Sejujurnya, saya kurang greget sama 2 episode awal dari drama ini. Terlalu membosankan menurut saya. I mean the plot is too classic. Kisah bullying anak SMA, cinta pertama anak SMA, terus konfliknya juga sudah bisa ditebak tentang kisah balas dendam si Park Seo Ri ini. Namun, setelah melihat ekting Kim Da Mi sebagai sosok Jo Yi Seo saya langsung ngefans sama doi. 

Karakter sebagai anak cerdas tapi berpenampilan suweg dengan gaya rambutnya yang super stylish itu membuat sosok Jo Yi Seo ini menjadi topik pembicaraan di kalangan pecinta drakor. Tak hanya itu, hal menarik lainnya dari Jo Yi Seo di dalam drama ini adalah karena sosoknya yang merupakan bucin sejati dari Park Seo Ri. Wah, kira-kira ada ndak yah model cewek kayak si Jo Yi Seo di dunia nyata yang rela mati-matian melakukan apapun demi menunjukkan dan membuktikan cintanya. Sudah ndak lanjut kuliah, berantem sama Ibunya, kerja mati-matian dari pagi sampai malam di kedai DanBam eh masih belum dinotice pula cintanya sama si Park Seo Ri. Parahnya lagi, Jo Yi Seo pernah ditolak secara langsung di hadapan teman-temannya sama di depan cinta pertamanya Park Seo Ri. Asliiii, si Park Seo Ri ini memang cowok ndak peka. Terlalu sibuk ngejar si Soo-ah dengan berusaha menjadi pebisnis kaya raya  sampai lupa kalau yang bantuin doi sampai bisa kaya itu yah si Jo Yie Seo. Saya hampir mau stop nonton gara-gara gemmes sendiri sama kelakuan Park Seo Ri. Untung cintanya Jo Yie Seo tidak bertepuk sebelah tangan meskipun sudah ditolak berkali-kali. Bayangkan pemirsahh, dari 16 episode, cintamu baru dinotice di episode terakhir. Writernya memang kebangetttan, untung Itaewon Class happy ending.  

Bukan cuma soal karakter sama style para cast Itaweon Class yang membuat drama ini digemari oleh banyak orang, tetapi juga  tentang kisah perjuangan mereka dalam membangun sebuah usaha dan bisnis.  Drama ini benar-benar menggambarkan bagaimana kesuksesan sebuah usaha itu memang memiliki proses yang panjang dan tidak instant. Mesti berdarah-darah dulu, harus punya konflik antar rekan kerja dulu, dan juga mesti merasakan yang namanya gagal dan kecewa dulu. Namun, pada akhirnya usaha dan tujuan yang jelas tidak akan pernah mengkhianati hasil. Bagi kalian anak-anak start up atau yang lagi niat buat buka usaha, coba deh nonton Itaewon Class. Anggap saja ambil kelas bisnis 16 SKS lewat jalur drakor.      


Well, saya rasa cukup sekian keluh kesah saya setelah marathon Itaewon Class. Kalau kalian punya kesan apa setelah nonton drama ini?  


Saturday, 4 April 2020

Onward (Review)




Hei Readers welcome back to my blog again. Sudah lama rasanya tidak menyapa kalian lewat tulisan saya di blog. Hmmmm anyway how are you guys?  I know it is hard to say that I am okay but yeah we have to face the hard life right now. Saya sangat tahu jika kalian memang sedang tidak baik-baik saja but I do hope you are getting better than yesterday.

Well Readers, di tengah riwehnya kehidupan dunia beserta penghuninya ini karena wabah covid-19, saya berharap kalian masih tetap semangat menjalani dunia ini. Jika kalian adalah bagian dari #Stayathome and #Workfromhome club, I really really respect you guys. Bekerja dan tetap menetap di dalam rumah untuk batas waktu yang belum ditentukan bukanlah hal yang mudah. Bosan, jenuh dan malah tambah stress karena terbiasa dengan rutinitas di kantor mungkin akan menghantui hari-hari kalian para pejuang stay at home. Dan untuk kalian yang tetap harus bekerja di luar sana untuk mencari nafkah, tetap semangat, jaga diri dan tetaplah dalam keadaan sehat. Semoga keadaan ini dapat berlalu sesegera mungkin. Anggap saja ini adalah giliran bumi untuk menyembuhkan dirinya yang sudah lama sakit karena ulah kita sendiri.

Dannnn karena saat ini kita masih berada dalam tema stay at home, maka ada baiknya bagi kalian yang tinggal di rumah untuk memanfaatkan moment yang jarang terjadi ini. Kalian bisa baca buku yang sudah lama numpuk di rak, bantu-bantu orang tua di rumah, atau mungkin menghabiskan drama Korea yang episodenya berlapis-lapis itu.

Dannnn jika kalian memang pecinta nonton, maka izinkanlah saya merekomendasikan sebuah film animasi  terbaru dari Pixar-Disney di tahun 2020 ini yang berjudul Onward.  Kalau nyebut-nyebut film animasi besutan Pixar, saya sendiri sudah percaya kalau hasilnya pasti akan mind blowing. Karya-karya Pixar ini memang selalu bikin hangat kalau ditonton.

Bisa dibilang film dari Pixar yang terakhir saya nonton itu cuma Inside Out, kalau Finding Nemo sama Cars kan sudah sering sliweran di TV. Kalau Coco, Brave dan kawan-kawannya itu belum sempat saya nonton. Karena kebetulan Onward ini adalah film baru dari Pixar di tahun ini dan temanya juga tentang wizarding world maka saya pun penasaran untuk segera menontonnya. Yeah, I am definitely a devotee of a wizarding world story.

Film ini berkisah tentang dunia sihir yang sudah mulai punah karena kemajuan zaman yang tidak lagi membutuhkan keajaiban sihir. Tokoh-tokoh di dalam film ini juga cukup unik seperti elf, naga, unicorn, dan karakter dunia khayalan anak-anak lah pokoknya. Singkat cerita, dunia yang penuh keajaiban itu pun berubah ketika dua saudara laki-laki yang bernama Ian dan Barley telah menginjak usia 16 tahun dan mendapatkan hadiah tak terduga dari ayahnya yang telah lama meninggal. Mereka diwariskan sebuah tongkat sihir dengan sebuah permata phoenix. Demi menghidupkan ayahnya kembali, kedua saudara ini rela berpetualang mencari permata phoenix. Dannn kemudian, petualangan pun dimulai. Berbagai halangan dan konflik harus mereka lalui demi menemukan sang permata phoenix. Karakter-karakter yang ada di dalam film ini juga lucu-lucu dan absurd, hal ini yang menjadikan plotnya juga tambah seru.

Overall, I just want to tell you guys that cerita petualangannya memang sangattt seruuuuu! Sudah lama rasanya tidak nonton animasi yang penuh petualangan. Pas nonton ini saya jadi ingat jaman-jaman SD dulu yang selalu setia nungguin serial Barbie sama pangerannya yang juga suka berpetualang sama mahluk-mahluk ajaib. Onward yang keluar di tahun 2020 ini jadi kayak semacam obat nostalgia bagi saya yang rindu film animasi jaman SD kayak Disney dan juga animasi Nickelodeon lainnya. Jadi, buat kalian yang suka film animasi silahkan segera meluangkan waktunya untuk nonton Onward, apalagi di keadaan stay at home kayak begini, atmosfirnya benar-benar sudah berasa kayak hari libur jaman SD. Holiday vibenya kayak natal atau tahun barulah rasanya, apalagi kalau kalian nonton bareng keluarga. I am not lebay but it’s true, cerita di dalam film Onward really really emotional. Yeah you know lah Pixar, animasinya selalu menguras emosi dan bikin mata berkaca-kaca. Pokoknya Onward ini film keluarga yang layak untuk ditonton deh di saat-saat seperti ini. Kisah dari Ian dan Barley ini benar-benar menyentuh lah istilahnya. I mean they have a good connection one another in this movie. 

Anyway, di film ini Ian memang terlihat sebagai the main character of Onward karena memang Ian yang memegang kendali kekuatan dari tongkat sihir tersebut but for me Barley is still the main character in Onward (For me yah, dunno about you). Barley benar-benar menggambarkan “Onward” itu sendiri lewat perannya sebagai kakak yang ugal-ugalan tetapi tetap selalu berani, yakin dan bertanggung jawab dalam setiap hal yang ia lakukan. By the way I also have favorite quotes in this movie, bunyinya kira-kira kayak begini,

“Long ago, the world was full of wonder. It was adventurous. There was magic. But it wasn’t easy to master. So the world found a simpler way to get by. But I hope there’s a little magic left in you."

“Dahulu kala, dunia penuh dengan keajaiban. Itu penuh dengan petualangan. Ada keajaiban. Tapi itu tidak mudah untuk dikuasai. Sehingga dunia menemukan cara yang lebih sederhana untuk bertahan. Namun, saya berharap masih ada sedikit keajaiban yang tersisa pada dirimu.”

Like the last sentence of the quotes I also want to say to you Readers. Di tengah keadaan dunia yang seperti ini saya juga berharap masih ada keajaiban yang tersisa di dalam diri kalian. Actually, saya kadang tidak mempercayai sebuah keajaiban, akan tetapi keajaiban kadang datang meyakinkan diri saya sendiri lewat orang-orang di sekitar saya. So, if you are sick please get well very very soon karena banyak orang yang menantikan kepulihanmu. If you are disappointed with something please be patient karena tidak semua hal terjadi harus sesuai dengan apa yang kamu inginkan, you just need to face it. Then, if you are sad please stay stronger cause I know you can.   


Well, I think cukup sekian bacotan saya yang sangat random ini. Do hope I can post another review again soon. Thank you and stay safe guys!