pages

Thursday, 27 August 2020

Review buku: Gadis Minimarket (Convenience Store Woman)





Penulis: Sayaka Murata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Cetakan Pertama di Jepang, 2016. Cetakan Terjemahan di Indonesia, 2020.
Bahasa: Indonesia
ISBN:  9786020644394
Jumlah halaman: 160 halaman

Hello! Selamat datang kembali di review board saya para readers sekalian. Berbeda dengan postingan saya sebelum-sebelumnya yang bahas soal review drama maupun film, kali ini saya mencoba untuk mereview sebuah novel terjemahan Jepang yang berjudul Convenience Store Woman atau Gadis Minimarket. Novel karya Sayaka Murata ini sebenarnya baru rilis sekitar awal Agustus ini makanya masih hangat-hangatnya untuk dibahas sama banyak orang terutama netizen di Twitter. Berkat racun yang mereka tebar di timeline Twitter, pada akhirnya saya pun teracuni untuk segera memiliki novel dengan cover yang sangat eye catching ini. Bisa dibilang desain sampul dari novel Gadis Minimarket (Convenience Store Woman) adalah salah satu alasan kenapa saya merasa wajib punya buku ini. Alasan yang kedua tentu karena isinya yang sangat meaningful dan thoughtful bagi saya.  

Dan berhubung saya tidak mau teracuni sendirian maka saya akan mencoba meracuni kalian juga lewat ulasan saya tentang novel ini.

Blurb

Dunia menuntut Keiko untuk menjadi normal, Walau ia tidak tahu “normal” itu seperti apa. Namun di minimarket, Keiko dilahirkan dengan identitas baru sebagai “pegawai minimarket”. Kini Keiko terancam dipisahkan dari dunia minimarket yang dicintainya selama ini.

Review

Novel yang berjudul Gadis Minimarket (Convenience Store) Woman ini merupakan karya ke-10 dari Sayaka Murata sekaligus karya pertamanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Di dalamnya bercerita tentang sosok perempuan bernama Keiko Furukura yang sejak kecil memiliki pribadi yang dianggap tidak normal oleh orang-orang sekitarnya termasuk keluarganya sendiri. Orang-orang di lingkungannya menganggap Keiko butuh untuk disembuhkan lewat konseling. Di tengah kondisi itu, Keiko terus berusaha meyakinkan orang-orang di sekelilingnya jika mereka telah salah menilai Keiko. Sayangnya, sekeras apapun usaha Keiko, ia tetap menjadi anak yang tidak normal bagi orang tuanya.  Karena sudah lelah, Keiko pun memutuskan untuk menutup diri dan terus berusaha menjauh dari orang-orang di sekitarnya.  

Setelah itu, orang-orang dewasa sepertinya lega melihatku tidak berbicara lebih daripada   yang diperlukan dan berhenti mengambil tindakan sendiri. Namun selama SMA, hal itu menjadi masalah karena aku terlalu pendiam. Bagiku diam adalah cara terbaik, seni hidup yang paling rasional untuk menjalani hidup. Meski di buku laporanku tertulis ”Bertemanlah dan perbanyak main di luar”, aku bersikukuh dan tidak pernah berbicara lebih daripada yang diperlukan.
Selepas SMA dan kuliah, Keiko berhasil melalui masa-masa itu. Dia tidak berubah sama sekali dan masih tetap setia dengan prinsipnya untuk menjadi seorang perempuan yang akan berbicara seperlunya serta berteman dengan diri sendiri. Hingga pada suatu hari, Keiko menemukan dunia lain dari sebuah minimarket yang merupakan tempatnya bekerja sebagai pekerja paruh waktu. Minimarket secara perlahan mengajaknya masuk pada kehidupan yang dianggap normal bagi kebanyakan orang.  

Rasanya menarik melihat bermacam-macam orang, mulai dari mahasiswa, laki-laki pemain band, pegawai paruh waktu permanen, ibu rumah tangga, sampai pelajar yang ikut kelas malam untuk mengejar ijazah SMA menggunakan seragam yang sama dan dibentuk menjadi mahluk hidup homogeny bernama “pegawai toko”.
Seiring berjalannya waktu, Keiko tetap betah menjadi seorang pegawai toko meskipun dengan status pekerja paruh waktu. Keiko sudah menganggap minimarket sebagai tempat berteduhnya untuk hidup sebagai manusia. Hingga di usianya yang menginjak 36 tahun, Keiko tetap memilih untuk bekerja sebagai pegawai toko. Ia sudah seakan-akan memberikan sisa hidupnya hanya untuk minimarket itu. Warna-warni makanan pada rak cemilan, suara kantong kresek, bunyi mesin kasir hingga suara sepatu orang yang berlalu lalang di dalam minimarket adalah sumber kebahagiaan dan kepuasan tersendiri bagi Keiko.
Mungkin karena bekerja setiap hari, terkadang aku bermimpi sedang mengoperasikan mesin kasir. Pikiran awal yang terlintas di otakku sesaat setelah bangun adalah: Oh! Keripik kentang merek baru itu belum diberi label harga, atau stok teh hangat harus ditambah karena banyak terjual. Pernah juga aku terbangun tengah malam karena mendengar suaraku sendiri mengucapkan irrsshaimase! Dan saat tak bisa tidur, pikiranku melayang pada kotak kaca transparan yang terus menggeliat itu. Toko di dalam kotak akuarium bening yang terus beroperasi seperti mesin jam. Ketika membayangkan pemandangan itu, suara toko menggema di gendang telingaku, menenangkanku hingga akhirnya aku tertidur. Ketika pagi datang, aku kembali menjadi pegawai minimarket, bagian dari masyarakat. Inilah satu-satunya cara agar aku bisa menjadi manusia normal.
Minimarket seakan menjadi tempat ternyaman bagi Keiko. Ia menikmati semua rutinitas itu setiap harinya. Sayangnya, teman-teman sekolahnya dan keluarganya kembali menganggapnya tidak normal lantaran masih melajang di usianya yang telah menginjak 36 tahun. Keiko sebenarnya baik-baik saja dengan kehidupannya itu. Ia tidak pernah gusar perihal usia maupun status pekerjaannya yang masih tetap sebagai pekerja paruh waktu meski telah berusia 36 tahun. Dunia seakan menghakiminya lagi untuk mengikuti aturan yang ada.

Aku belum punya pengalaman seksual dan aku tak punya kesadaran soal seksualitasku. Aku hanya tak peduli dan tak pernah merisaukannya. Tapi, mereka membicarakan semua itu dengan asumsi aku menderita. Kalaupun yang mereka katakan benar, belum tentu penderitaan itu seperti yang mereka duga.
Ketika dunia menganggapnya tidak normal, yang terbesit di pikiran Keiko saat itu juga hanyalah untuk kembali ke minimarket sesegara mungkin. Di situlah tempatnya ia harus berada. Namun, secara perlahan sosok minimarket yang menenangkan di kepala Keiko pun mulai berubah semenjak ia menyembunyikan seorang laki-laki bernama Shiraha di rumahnya. Ketika Keiko tetap berusaha menjadi manusia normal dengan bekerja di minimarket maka Shiraha adalah kebalikannya.  Shiraha lebih memilih berhenti bekerja dan menjadi pengangguran yang sangat idealis dan kritis terhadap isu sosial di sekitarnya.

Dengar, manusia yang tak punya manfaat bagi desa tak akan punya privasi. Bagaimanapun semua orang akan ikut campur. Pilihannya melahirkan anak, atau pergi berburu dan menghasilkan uang. Dan kalau kalau kau tak bisa berkontribusi pada desa maka akan dianggap sesat.
Kalau aku keluar, hidupku akan diperkosa lagi. Sebagai laki-laki, semua orang akan mendesak ‘bekerjalah!’, ‘menikahlah!’ dan kalau sudah menikah: ‘cari uang lebih banyak!’ atau ‘bikin keturunan!’ Aku akan jadi budak desa dan masyarakat akan memaksaku bekerja seumur hidup.
Hadirnya Shiraha di dalam kehidupan Keiko benar-benar membuatnya terus berpikir tentang kondisi hidupnya yang kembali diobrak-abrik oleh orang-orang di sekitarnya. Ia semakin terusik oleh semua ucapan Shiraha yang memang ada benarnya. Keiko menjadi dilema apakah ia harus mengikuti suara hatinya untuk tetap bertahan di minimarket atau mencoba lepas dari tempatnya berteduh itu selama ini.

My Impression

Membaca  novel Gadis Minimarket (Convenience Store Woman) ini membuat saya berpikir tentang apa defenisi menjadi manusia normal itu sebenarnya dan bagaimana menjadi manusia waras di tengah masyarakat yang selalu bebas berpendapat tanpa mengingat batasan-batasannya. Ada sangat banyak kritik sosial yang dihadirkan oleh Sayaka Murata di dalam novel ini. Bagaimana realita yang memang menghadapkan kita untuk harus selalu siap dikomentari dan dikritik terhadap jalan hidup yang kita pilih. Meskipun pilihan yang kita pilih itu benar, tapi tetap saja akan ada banyak orang yang tidak mau menerima perbedaan pilihan itu. Selain berisi muatan kritik sosial dan pesan moral, rangkaian kata yang dipilih di dalam novel ini juga terasa sangat pas. Penulis mampu memberikan gambaran yang sangat detail tentang kehidupan minimarket. Saat membaca novel ini saya seolah-olah berada di dalam minimarket sambil menyaksikan langsung rutinitas yang dijalani oleh Keiko setiap harinya. Mungkin karena pengaruh dari pengalaman Sayaka Murata sendiri yang pernah bekerja di minimarket sehingga alur di dalam novel ini terasa benar-benar hidup lewat rangkaian tulisannya. Saya pribadi merasakan makna yang sangat mendalam dari setiap perkataan Keiko maupun Shiraha dalam novel ini. Seakan-akan, Sayaka Murata memang ingin mengeluarkan semua uneg-unegnya tentang ketimpangan sosial yang dilihatnya selama ini lewat novel.

Jika kalian sedang berencana membeli buku tapi bingung mau beli buku apa, mungkin novel Gadis Minimarket (Convenience Store Woman) ini bisa menjadi pilihan yang tepat untuk kalian. Silahkan mengunjungi toko buku online Gramedia ataupun toko buku online maupun offline langganan kalian untuk segera mendapatkannya.

6 comments:

  1. Yap bener banget Mba, gara-gara buku ini jadi bertanya "manusia normal itu seperti apa sih?". Apakah kalau kita berbeda dengan yang lain maka kita disebut gak normal? Padahal prinsip dan tujuan hidup manusia itu kan beda-beda ya Mba.

    Buku ini singkat tapi mengena banget buat aku. Jujur ini bukan tipe buku yang membuat penasaran atau apa tapi simple dan mengena ke kehidupan sehari-hari yang menurutku sih bagus untuk dibaca siapa pun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mbak, halamannya gak sampe 200 tapi udah kayak padat banget dengan kritik sosial yg terjadi sekarang. Baca novel jadi berasa baca diari. Enak banget alurnya

      Delete
  2. Duh saya mirip keiko ne. Malam suka mikirin apa yg harus dikerjakan besok dan kadang di mimpipun sdh seolah sedang mengerjakan tugas ut besoknya.

    Apakah saya normal versi Keiko ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah Keiko versi cowok ini, tapi Keikonya suka sama pekerjaan dia mas, jadi dia enjoy2 aja gitu kerjanya.

      Delete
  3. Saya baca novel ini, awalnya merasa bosan, saat hari kedua tanpa sadar setengah buku terbaca. Saat hari ketiga novel ini habis terbaca. Saya memahami gejolak dan intrik yang dialami oleh Keiko. Mungkin kita juga mengalami hal yang sama. Di goodreads novel ini saya kasih bintang 5 ⭐⭐⭐⭐⭐

    ReplyDelete
    Replies
    1. singkat, padat, dan memang sangat berisi karya Sayaka Murata ini

      Delete