Marwan Hakim, Penopang Asa Anak-Anak Aikperapa


Apresiasi Satu Indonesia Awards


Membahas isu pendidikan di tanah air memang tak pernah ada habisnya. Tak hanya hiruk-pikuk soal sistem kurikulum yang tak pernah beres, kualitas tenaga pendidik yang masih rendah, gaji guru yang sangat tidak layak, ataupun sarana dan prasarana sekolah yang kurang memadai. Lebih dari itu, hak setiap anak bangsa untuk mendapatkan pendidikan layak juga masih jauh dari kata tuntas hingga hari ini. 

 

Padahal, isi Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 ayat 1 dan 2 secara jelas mengamanatkan para pemangku kebijakan untuk menjembatani anak-anak Indonesia dalam mengenyam pendidikan dasar. 


Pasal 31 ayat 1 dan 2 UUD 1945:

1. Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.

2. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. 

 

Angka Anak Putus Sekolah di Indonesia


Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa tingkat anak putus sekolah di tanah air cenderung meningkat di tahun 2022. Kondisi ini tak hanya terjadi pada satu jenjang pendidikan saja, melainkan pada seluruh jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). 

 

Selain di pedesaan, jumlah anak yang memilih untuk tidak melanjutkan sekolah di wilayah perkotaan pun meningkat di tahun 2022. Padahal, di tahun 2021 pemerintah cukup mampu menekan angka putus sekolah di tingkat SMP/Sederajat dan SMA/Sederajat. 

 

Persentase angka anak tidak sekolah pada jenjang SMP di tahun 2020 adalah sebesar 7,29%. Kemudian, di tahun 2021 berhasil turun menjadi 6,77%. Namun, di tahun 2022 angka ini kembali naik sebesar 6,94%. Adapun jumlah anak putus sekolah pada tingkat SMA di tahun 2020 mencapai 22,31%. Persentase ini sempat menyusut ke angka 21,47% di tahun 2021. Sayangnya, jumlah anak SMA yang putus sekolah di tahun 2022 tidak berhasil ditekan, sehingga naik menjadi 22,52%. 

 

Berbeda dengan persentase angka putus sekolah pada jenjang SMP dan SMA yang cenderung mengalami fluktuatif pada rentang tahun 2020-2022, angka anak yang tidak melanjutkan sekolah pada jenjang SD ternyata menunjukkan persentase yang terus meningkat selama tiga tahun berturut-turut.

 

Secara keseluruhan, angka anak putus sekolah yang disajikan oleh Badan Pusat Statistik ternyata semakin naik seiring semakin tingginya jenjang pendidikan yang ditempuh. Bertambahnya jumlah anak putus sekolah di setiap tingkat pendidikan tentu berpengaruh besar dengan meningkatnya masalah klasik yang tak pernah tuntas pada generasi di tanah air. Pengangguran, kenakalan remaja, kriminalitas, hingga kemiskinan akan terus menjadi warisan turun-temurun jika tak ada penanganan yang signifikan dari para penyokong pendidikan di Indonesia.



Faktor Penyebab Anak Putus Sekolah di Indonesia


Pemerintah sepertinya memang harus bekerja lebih keras untuk mewujudkan generasi “Indonesia Emas 2045”. Angka anak putus sekolah menjadi salah satu tugas berat di antara isu pendidikan lainnya yang harus segera diselesaikan. 

 

Beberapa penelitian menyebutkan jika faktor utama penyebab tingginya angka putus sekolah di tanah air dipengaruhi oleh masalah ekonomi, latar belakang orangtua, serta kondisi lingkungan anak. Hal ini senada dengan studi yang dilakukan oleh  Destiar A. Maghfirah dan Al’Kholifatus Sholekhah.

 


Masalah Ekonomi


Tidak semua anak di tanah air berasal dari keluarga yang serba berkecukupan. Jangankan untuk memenuhi kebutuhan sekolah, untuk memenuhi keperluan makan sehari-hari pun mereka masih jauh dari kata cukup. 

 

Jika kebutuhan dasar saja sulit untuk dipenuhi, maka tentu akan lebih susah lagi untuk mencukupi biaya pendidikan lainnya. Sekalipun pemerintah memiliki program belajar sembilan tahun, akan tetapi hal tersebut dirasa belum cukup. Orangtua dengan latar belakang ekonomi lemah masih perlu bekerja keras untuk membeli seragam, buku, sepatu, hingga biaya transportasi anak. 

 

Pada akhirnya, banyak anak yang lebih memilih untuk bekerja dibandingkan harus bersekolah. Menurut mereka, belajar di sekolah hanya akan menambah beban hidup, sedangkan yang lebih penting daripada belajar adalah bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. 

 

Latar Belakang Orangtua


Cara pandang orangtua terhadap pendidikan berbanding lurus dengan tingkat pendidikan yang mereka tempuh. Beberapa anak yang putus sekolah umumnya juga berasal dari orangtua yang putus sekolah. Latar belakang pendidikan orang tua tentu sangat berperan besar terhadap minat dan motivasi anak untuk mengejar pendidikan.

 

Faktor ekonomi juga turut berpengaruh pada kondisi ini. Sekalipun anak memiliki keinginan untuk sekolah jika pola pikir orangtua tentang pendidikan masih cenderung negatif karena dianggap membuang-buang waktu dan uang, maka jelas akan terasa sangat sulit bagi anak untuk tetap melanjutkan sekolah.

 

Kondisi Lingkungan Anak 


Dalam sebuah lingkungan, terdiri atas beragam jenis masyarakat, agama, budaya, status sosial ekonomi, hingga tingkat pendidikan. Elemen-elemen ini memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan pribadi seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan tersebut.

 

Anak yang hidup di tengah lingkungan yang mendukung pendidikan adalah sebuah privilege. Sebaliknya, anak yang tinggal dengan lingkungan yang kurang peduli terhadap pendidikan cenderung memiliki minat belajar yang rendah. 

 

Semakin baik circle yang dimiliki oleh anak, maka akan semakin baik pula  pandangan dan pola pikir anak tentang sekolah dan belajar. 



Marwan Hakim, Penopang Asa Anak-Anak Aikperapa


Aikperapa hanyalah satu di antara banyak desa lainnya di Indonesia yang memiliki angka anak putus sekolah cukup tinggi. Faktor ekonomi, latar belakang pendidikan orangtua, dan kondisi lingkungan menjadi pemicu banyaknya anak Aikperapa yang tidak melanjutkan sekolah. 

 

Ironi yang terjadi di desa yang terletak di kaki Gunung Rinjani ini serasa menampar diri Marwanseorang ustasekaligus pelopor pendidikan di desa Aikperapa. Marwan tidak ingin jejak putus sekolah yang melekat pada dirinya juga diikuti oleh anak-anak Aikperapa lainnya. Demi memotong rantai putus sekolah pada generasi di desaAikperapa, Marwan terus gencar melawan stereotype pendidikan di mata masyarakat Aikperapa. 

 

Gelar ustaz yang disandang oleh Marwan dimanfaatkan dengan baik untuk mengubah stigma masyarakat Aikperapa tentang pendidikan formal yang dianggap tidak lebih penting dibandingkan pendidikan agama. Pada dasarnya,orangtua di Lombok Timur termasuk di desa Aikperapa lebih senang jika anak-anak mereka telah lulus dari SD. Dengan begitu, anak-anak ini pun akan lebih fokus untuk bertani atau berladang. Tak jarang, banyak anak perempuan di Lombok Timur juga dinikahkan selepas tamat dari SD.

 

Miris melihat fakta yang terjadi di sekitarnya, Marwan pun tak tinggal diam. Perlahan tapi pasti, Marwan terus melakukan pendekatan persuasif kepada para orangtua. Tak hanya kepada orangtua siswa, Marwan juga berusaha meyakinkan dan menyemangati anak-anak di desanya untuk mengenyam pendidikan tinggi. Di sela-sela kegiatan mengaji, Marwan selalu memotivasi anak-anak didiknya agar tak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga ilmu lainnya yang bisa didapatkan di bangku sekolah. Dengan sekolah setinggi-tingginya, orang akan menjadi pintar dan lebih sejahtera di masa depan.

 

Usaha Marwan membuahkan hasil yang tidak sia-sia. Banyak orangtua yang tergerak hatinya untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Segala keterbatasan yang dihadapi tidak menyurutkan semangat Marwan untuk mendirikan sekolah di Aikperapa. Tempat tinggal Marwan menjadi langkah awal untuk menopang pendidikan anak-anak di desanya. Rumah ini pula yang menjadi saksi berdirinya SMP pertama di Aikperapa. 

 

Marwan bahkan rela menjadi tukang ojek setiap harinya demi mengantar jemput siswanya. Hal ini dilakukan agar anak-anak tersebut tetap terus semangat bersekolah. Melihat kegigihan Marwan terhadap pendidikan di desanya, beberapa temannya pun ikut membantu sebagai tenaga pengajar meskipun hanya berstatus relawan. 

 

Saat itu, Marwan belum sanggup merekrut tenaga pengajar karena sadar betul dengan keterbatasan modal yang dimilikinya untuk menggaji para guru. Sekolah yang dibangun oleh Marwan benar-benar dilandasi oleh keikhlasan dan kesukarelaan. Marwan bahkan tidak pernah memaksa orangtua untuk membayar biaya administratif sekolah dengan uang. Sebagai gantinya, orangtua bisa menukar uang tunai tersebut dengan tanaman pisang saja. 

 

Hasil perjuangan Marwan dan relawan pendidikan di desa Aikperapa berbuah manis. Di tahun 2004, mereka berhasil menamatkan 200 siswa SMP dan 50 siswa SMA.


SATU Indonesia Awards untuk Sang Penopang Pendidikan Aikperapa


Source: Kbr.id

Lewat kegigihannya memutus rantai putus sekolah di desa Aikperapa, Marwan Hakim mendapatkan apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards pada bidang pendidikan di tahun 2013. Semangat Marwan menumpas kesenjangan pendidikan di Aikperapa sejalan dengan visi dan misi Astra untuk menghadirkan perubahan sekaligus manfaat bagi masyarakat sekitar. 

 

Perjuangan Marwan belum selesai. Masih banyak masalah pendidikan lain yang harus dibenahi di desa Aikperapa. Sarana dan prasarana sekolah, kualitas guru, hingga gaji yang layak untuk guru pun masih perlu diperjuangkan. 

 

Semoga akan terus ada sosok Marwan Hakim lainnya di tanah air yang dengan gigih memperjuangkan kualitas pendidikan di seluruh pelosok negeri. 

No comments