Review Buku: Welcome to The Hyunam-dong Bookshop (Selamat Datang di Toko Buku Hyunam-dong)

Review Selamat Datang di Toko Buku Hyunam-dong



Judul Buku: Welcome to The Hyunam-dong Bookshop (Selamat datang di Toko Buku Hyunam-dong)

Penulis: Hwang Bo-reum

Penerbit: Grasindo

Tahun Terbit: 2024

ISBN: 9786020530444

Jumlah Halaman: 400


Hello Readers! Welcome back to the review book session again. Berbeda dengan ulasan novel sebelum-sebelumnya yang sangat dominan dengan buku-buku karya Tere Liye, kali ini saya kembali menghadirkan sebuah ulasan novel terjemahan dari Korea Selatan karya Hwang Bo-reum dengan judul Welcome to The Hyunam-dong Bookshop (Selamat Datang di Toko Buku Hyunam-dong).

 

Saat melihat cover bukunya pertama kali, vibes hangat dan tenangnya novel ini benar-benar langsung terasa. Kalau kalian suka jenis film dengan genre slice of life sepertinya kalian akan sangat suka dengan buku ini. Ulasan singkat tentang novel ini mungkin bisa memberikan kalian sedikit gambaran tentang cerita di dalamnya. Happy reading!

 

Blurb


Kisah orang-orang yang berjuang untuk menjalin hubungan baru dan menyembuhkan diri melalui buku dan toko buku terungkap secara mendalam.

 

Toko buku di lingkungan biasa, yang berdiri di antara rumah-rumah di mana tidak banyak orang datang dan pergi. Inilah toko buku di Hyunam-dong! Selama beberapa bulan pertama, pemilik toko buku, Yeong-ju, yang wajahnya tidak menunjukkan antusiasme, seperti seseorang yang selalu larut dalam kesedihan, duduk diam dan membaca buku seolah-olah dia adalah seorang pelanggan. Dia menghabiskan setiap hari di toko buku dengan perasaan seperti mendapatkan kembali hal-hal yang hilang satu per satu. Perasaan lelah dan hampa dalam batin perlahan menghilang. Sejak saat itu, toko buku di Hyunam-dong menjadi tempat yang benar-benar baru. Ruang tempat orang berkumpul, berbagai emosi berkumpul, dan cerita tiap individu.

 

Review


Sesuai judulnya, novel ini memang menceritakan tentang toko buku Hyunam-dong dan sosok-sosok yang selalu ada di dalamnya. Toko buku ini hadir dari inisiatif Yeong-ju, yang tak lain dan tak bukan adalah pemilik sekaligus pendiri toko buku Hyunam dong.

 

Awalnya, Yeong-ju begitu bersemangat dengan impiannya untuk memiliki toko buku. Berbagai hal kecil dan detail pun ia pertimbangkan. Mulai dari pemilihan lokasi toko buku, jenis bangunan, desain interior, ketersediaan buku, hingga nama toko buku dan lisensi barista pun menjadi poin-poin penting yang sangat Yeong-ju perhatikan.

 

Namun, saat perlahan merangkak untuk mewujudkan toko buku impiannya, Yeong-ju hampir tidak melakukan apapun untuk toko bukunya. Bagaikan binatang yang sedang sekarat, toko buku itu seolah mati dan kehilangan energinya. Suasana toko buku yang samar-samar sempat menarik penduduk setempat, tetapi tak lama kemudian, jumlah langkah kaki yang menuju toko buku pun berkurang. Hal itu disebabkan oleh Yeong-ju, yang tak berdaya seolah tidak ada satu tetes pun darah yang tersisa di tubuhnya. Saat membuka pintu dan memasuki toko buku, orang-orang merasa seperti sedang menyerbu ruang pribadinya. Meskipun Yeong-ju tersenyum, tetapi tidak ada seorang pun yang membalas senyumannya.

 

Meski begitu, tetap saja ada orang-orang yang menyadari bahwa senyuman Yeong-ju bukanlah senyuman palsu. Salah satunya adalah Ibu Min-cheol.

 

Kalau pemilik tokonya hanya duduk seperti itu, kau pikir orang-orang akan berkunjung ke sini? Menjual buku kan kegiatan berdagang, tapi kenapa kau malah duduk saja? Mencari uang itu tidak gampang, lho!

 

Siapa yang menduga jika ucapan Ibu Min-cheol menjadi ucapan pembuka pertemanan mereka sebagai pemilik dan pelanggan toko buku Hyunam-dong. Karena Ibu Min-cheol pula, Yeong-ju akhirnya menyadari jika selama ini ia begitu mengabaikan toko bukunya. Kenangan pahit di masa lalu tak seharusnya menghantui Yeong-ju bersama impiannya di masa depan.

 

Masa lalu Yeong-ju yang menyakitkan pada dasarnya menjadi alasan ia mendirikan toko buku Hyunam-dong. Yeong-ju ingin kembali menjadi dirinya yang bahagia bersama buku seperti di masa lalu. Sayangnya, saat toko buku baru berjalan, perlahan masa lalu Yeong-ju muncul kembali. Tak jarang ia menghabiskan banyak waktu menangis di dalam toko buku. Matanya yang sembap dan memerah tentu menarik perhatian para pengunjung toko buku. Hal ini menjadi salah satu penyebab mengapa toko buku Hyunam-dong yang baru dijalankannya seolah menjadi tempat yang mati rasa.

 

Perlahan, Yeong-ju kembali bertekad menghidupkan toko buku miliknya. Ibu Min-cheol menjadi orang pertama yang merasakan perubahan positif pada Yeong-ju dan toko bukunya. Salah satu langkah kecil tapi sangat berpengaruh yang Yeong-ju lakukan ialah dengan rutin mengunggah banyak hal lewat Instagram.


Unggahan Yeong-ju yang jujur dan apa adanya ternyata membuat banyak pelanggan tertarik dengan toko buku Hyunam-dong. Jumlah pengunjung yang terus meningkat membuat Yeong-ju mulai kewalahan mengelola toko bukunya. Situasi ini membuat Yeong-ju memutuskan untuk membuka lowongan kerja untuk barista. Tak berselang lama, penghuni baru (barista) yang akan mewarnai hidup toko buku Hyunam-dong pun tiba.

 

Barista itu bernama Min-joon. Min-joon menjadi sosok pertama yang berhasil menarik sosok-sosok unik lainnya untuk masuk ke dalam toko buku. Selain Yeong-ju, (Hee-ju) Ibu Min-cheol, dan Min-joon, toko buku Hyunam-dong juga diisi oleh karakter manusia beragam lain di dalamnya. Beberapa di antaranya adalah Jimmy, Jung-seo, Min-cheol, dan juga Seung-woo.

 

Para pengunjung tetap di dalam toko buku ini memiliki prinsip-prinsip dan kisah hidup yang sangat menarik. Toko buku Hyunam-dong menjadi semacam saksi bisu pergulatan prinsip dan jalan hidup orang-orang di dalamnya. Ibu Min-cheol (Hee-ju) sendiri rutin mengunjungi toko buku saat mengalami fase depresi dalam hidupnya karena lelah menghadapi karakter Min-cheol. Min-cheol merasa hidupnya tidak menyenangkan. Anak laki-laki yang berusia 18 tahun tersebut tak menjalani hari seperti anak seusia lainnya. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan bermain internet lalu tidur. Oleh sebab itu, Hee-ju pun secara terpaksa menyuruhnya untuk selalu berkunjung ke toko buku sembari membaca buku yang direkomendasikan oleh Yeong-ju.

 

Adapun sang barista, Min-joon menghadapi pilihan hidup yang cukup dilematis sebelumnya. Namun, semenjak bergabung menjadi bagian dari toko buku, ia memutuskan untuk tak mengejar lagi karir impiannya sebagai karyawan di perusahaan besar. Min-joon lebih fokus menikmati hari-harinya bersama biji kopi favoritnya setiap hari. Kehidupan di toko buku Hyunam-dong membuat hidupnya berjalan dengan lebih menyenangkan.

 

Saya juga tidak memimpikan sesuatu yang tidak menyenangkan. Jika disuruh memilih hanya satu di antara impian dan kesenangan, saya pasti akan memilih kesenangan. Namun, terkadang perasaan saya berdebar setiap kali mendengar kata impian. Hidup tanpa impian tampaknya sama gersangnya dengan hidup tanpa air mata. Tapi Herman Hesse dalam bukunya Demian, pernah mengungkapkan, tidak ada impian yang bertahan selamanya. Impian pun akan diganti dengan yang baru. Jadi, Anda tidak boleh bergantung pada satu impian pun.

 

Berbeda dengan Min-joon, Jung-seo justru mendapatkan pekerjaan impiannya di perusahaan. Namun, setelah 8 tahun bekerja ia memutuskan untuk resign. Jung-seo berhenti karena marah pada orang-orang di lingkungan perusahaan. Jung-seo berpikir bahwa masyarakat ini memperlakukan orang dengan kasar satu sama lain. Ada banyak orang yang munafik di luar dan mencoba memanfaatkan lawan mereka di dalam.

 

Jung-seo begitu menderita khususnya ketika dia jadi membenci orang lain. Ketika mendengar manajer yang pura-pura baik, darahnya seperti meluap, dan ketika dia melihat wajah asisten manajer yang tidak kompeten, dia merasa jijik. Ketika dia melihat mereka tersenyum dan berjalan menyusuri lorong, dia berpikir,

 

para bedebah yang bahkan tidak lebih baik dariku ini, kini justru menduduki posisi yang bagus dan takut posisinya akan segera tergantikan.”

 

Jung-seo begitu sedih karena dia sangat membenci orang-orang di tempat kerjanya hingga meremehkan mereka. Hal inilah yang membuat Jung-seo lebih marah dan pada akhirnya tidak fokus pada pekerjaannya. Pekerjaan impiannya menjadi membosankan dan ia semakin benci untuk bekerja.    

 

Dalam kisah tiga sekawan antara Yeong-ju, Jung-seo dan Jimmy, Jung-seo menghadapi kerumitan dalam dunia pekerjaan, sedangkan Yeong-ju dan Jimmy memiliki kisah pahit dalam hubungan pernikahan. Sejak dulu Jimmy tidak menginginkan sebuah pernikahan. Menurutnya menikah hanyalah ajang untuk berbicara buruk tentang para suami saat para istri telah berkumpul. Saat kecil Jimmy selalu melihat dan menyimak pembicaraan ibu-ibu tentang suami mereka di mana para istri harus mengikuti mood dan memanjakan suaminya. Namun, Jimmy menarik semua ucapannya tersebut saat bertemu sosok pria yang kini menjadi mantan suaminya.

 

Tapi kemudian, aku bertemu dengan orang itu dan jatuh cinta padanya. Aku pernah bilang, kan? Aku yang memintanya untuk menikahiku. Tapi malam hari itu aku sadar, rupanya aku menikahi anak laki-laki yang yang kukira suamiku. Rupanya aku hidup bersama anak kecil.

 

Aku salah karena mencoba merangkul sesuatu yang tidak bisa kubawa pergi. Kini aku menyadari bahwa hidup yang baik adalah hidup ketika kita bisa menyelesaikan sesuatu dengan baik. Ada banyak kasus ketika hanya membiarkan semua masalah terjadi karena merasa takut, tidak enak dipandang orang lain dan takut menyesal. Begitu juga denganku. Tapi kini aku merasa nyaman.

 

Jimmy menganggap akhir dari kisah pernikahannya telah berakhir dengan damai. Ia lega telah bercerai. Jimmy pun telah menjalani hidupnya dengan lebik baik saat ini. Berbeda dengan Jimmy, Jung-seo sepertinya belum benar-benar pulih dari ending pernikahannya. Kehadiran toko buku Hyunam-dong pun masih belum sepenuhnya membuat dirinya sembuh dari trauma masa lalu. Namun, sosok Seung-woo memberikan titik terang untuk lebih berani membuka diri pada sebuah hubungan baru.

 

Sajangnim. Saya sedang tidak mengajak Anda untuk menikah. Hanya saja, mari saling menyukai satu sama lain.

 

Setelah Seung-woo menyelesaikan kata-katanya, dia memberi salam sambil menundukkan kepalanya, lalu membuka pintu dan keluar. Sebuah lampu yang dinyalakan di luar toko buku menerangi jalan yang dilalui Seong-woo. Setelah Seong-woo pergi, Yeong-ju berdiri cukup lama di depan pintu.

 

My Impression


Novel Welcome to The Hyunam-dong Bookshop menjadi salah satu buku yang cukup lama untuk saya selesaikan. Selain karena kesempatan membaca yang agak susah saya dapatkan di beberapa bulan ini, membaca sebuah novel terjemahan juga membutuhkan effort tersendiri bagi saya yang agak kesulitan mengingat setiap nama tokoh, karakter, dan latar belakang hidup mereka. Terlebih, ada banyak sekali karakter di dalam novel ini. Berhubung saya juga sudah lama tak membaca novel terjemahan dan fokus berkutat pada satu atau dua genre novel dari satu penulis saja beberapa tahun belakangan, alhasil membaca novel dengan vibes baru ternyata membutuhkan adaptasi yang cukup lama bagi memori saya.

 

Di minggu pertama saya membaca novel saya mengalami reading slump. Saya bahkan hanya mampu menyelesaikan belasan lembar saja. Transisi ke sebuah gaya tulisan baru benar-benar sebuah tantangan rupanya. Setelah melanjutkan bacaan, saya akhirnya menyadari jika plot di dalam novel ini ternyata cukup lambat. Oleh sebab itu, saya mencoba untuk beradaptasi dan menikmati setiap alur di dalamnya.

 

Setelah mendapatkan ritme dan plotnya, akhirnya saya benar-benar terhanyut membaca novel karya Hwang Bo-reum ini. Tiap lembar di buku memberikan kesan yang sangat heartwarming. Dialog-dialog dari setiap karakternya seakan-akan membuat saya juga tinggal dan hidup bersama mereka. Kalau mau mengutip setiap quotes keren dan punya makna yang dalam, sepertinya ulasan saya di blog ini akan menghasilkan banyak part. Lihat saja, saya nyaris kehabisan stiker selama membaca novelnya 😁




 

Kehidupan setiap tokoh yang relate dengan keseharian semakin membuat saya terasa akrab dengan karakternya. Saat bingung dan pusing dengan dunia yang sedang kalian lakukan, beberapa kutipan dalam novel ini mungkin ada benarnya.

 

Ketika kau hanya sekedar mencoba suatu pekerjaan, bisa saja kau menemukan daya tarik dari pekerjaan itu. Pekerjaan yang tidak sengaja kau lakukan itu bisa jadi pekerjaan yang ingin kau lakukan sepanjang hidupmu. Kau tidak akan pernah tahu apa pun sampai kau mencobanya. Jadi, daripada mengkhawatirkan apa yang harus dilakukan terlebih dahulu, yang terpenting lakukan dulu pekerjaan itu dengan sungguh-sungguh.  Memupuk pengalaman kecil dengan sungguh-sungguh itu lebih penting. (Seung-Woo)

 

Aku pikir hidup dengan dikelilingi banyak orang baik di sekitar kita adalah kehidupan yang sukses. Bahkan jika aku tidak berhasil di masyarakat, aku bisa menjalani hari yang sukses setiap hari berkat mereka. (Min-joon)

 

Saya akan mencari kedamaian dalam diri saya sendiri. Saya ingin mencoba menaklukkan dunia yang kacau ini sambil terus menjalani hobi favorit saya dan bertemu orang-orang baik seperti kalian. (Jung-seo)

 

Novel Welcome to The Hyunam-dong Bookshop (Selamat datang di Toko Buku Hyunam-dong) memberikan banyak pelajaran dan makna hidup. Emosi-emosi dari setiap karakter di dalamnya rasanya benar-benar nampol dan bikin saya auto ngangguk-ngangguk selama membacanya. Cita-cita dan juga cinta, semuanya berkumpul dalam kisah di novel ini. 

2 comments

  1. Kita sama mba, ntah kenapa kalo membaca novel Korea dan jepang, aku tuh lamaaaa bacanya, salah satunya krn mengingat nama tokoh. Susaaah.

    Beda dengan novel barat. Aku lbh mudah dan cepat.

    Trus novel Korea itu lamaaaa memang. Dan sebagai pecinta novel yg alurnya cepat, itu juga bikin aku bacanya ga bisa cepet. Krn feel ga akan dapat. Harus pelan2 banget 😅. Makanya aku jarang baca buku Korea sih. Lbh suka baca spoiler atau review dr teman2

    ReplyDelete
  2. Sama mbak 😂 ini baru mulai adaptasi sama novel2 terjemahan lagi. Novel2 korea jepang banyak yg mindfulness soalnya. Bikin jadi tenang dan kalem aja gitu hidup klw hbs baca novel terjemahan

    ReplyDelete