Thursday, 2 August 2018

Apakah Kita Memanfaatkan Teknologi atau Dimanfaatkan Teknologi?

Pendidikan


Banyak yang menganggap bila wajah pendidikan Indonesia saat ini adalah hasil dari perkembangan zaman. Teknologi, lingkungan serta pola pikir cenderung ikut berubah mengikuti laju era globalisasi. Tidak bisa dipungkiri bila kecanggihan teknologi memegang peranan yang cukup besar dalam mengubah tatanan dunia pendidikan di zaman ini. Perubahan itu pun bisa dilihat dan dirasakan di beberapa sekolah di Indonesia. Sebut saja pemanfaatan teknologi digital yang dirasa lebih memudahkan siswa dalam proses belajar dan mengajar. Teknologi dianggap mampu menjawab beragam permasalahan yang terjadi di sekitar lingkungan pendidikan. Salah satu contohnya adalah kehadiran internet yang telah membuka jalan bagi jutaan anak untuk mengakses beragam informasi. Namun, terlepas dari pandangan-pandangan tersebut, yang menjadi persoalan adalah tentang seberapa efektif peran teknologi terhadap pendidikan anak-anak di Indonesia saat ini.

Mendapatkan informasi secara cepat dan up to date adalah salah satu alasan mengapa para guru, siswa hingga orang tua percaya pada keberadaan teknologi dalam membantu memenuhi kebutuhan anak-anak mereka di dunia pendidikan. Teknologi pun sudah dianggap menjadi kebutuhan primer bagi anak sekolah zaman sekarang. Saat ini anak-anak lebih panik saat lupa membawa smartphone daripada membawa buku ke sekolah. Bahkan, para siswa lebih memilih untuk bertanya pada google dibandingkan dengan guru atau orang tua mereka di rumah. Satu pertanyaan yang akan melahirkan puluhan hingga ratusan jawaban dari berbagai situs penyedia informasi di dunia daring. Tentu para siswa mendapatkannya tanpa harus menunggu dan mendengar penjelasan panjang kali lebar lagi dari guru di kelas atau dari orang tua mereka di rumah. Teknologi hari ini memang telah menawarkan banyak kemudahan bagi para penggunanya. Saking mudahnya para siswa tidak perlu repot-repot lagi untuk mencatat seluruh isi papan tulis di kelas. Keberadaan kamera di setiap telepon genggam anak-anak saat ini telah membantu mereka untuk menghemat kertas di buku mereka. Tak ada lagi sistem meminjam buku catatan. Cukup mengaktifkan bluetooth atau berbagi lewat akun sosial media masing-masing maka catatan pun akan terkirim.  

Namun, di balik kemudahan-kemudahan tersebut tanpa kita sadari teknologi secara perlahan mengubah anak-anak di negeri ini menjadi mahluk yang pasif.  Fenomena-fenomena hari ini lebih banyak bercerita tentang anak-anak yang hobi berselancar di dunia maya mencari tugas sekolah dibandingkan membaca referensi-referensi di perpustakaan. Lebih hemat waktu dan tenaga katanya. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu bersama komputer lipat dan telepon pintar mereka di kamar untuk menyelesaikan tugas-tugasnya tanpa perlu ke luar rumah lagi mencari buku di toko buku atau sekedar ke perpustakaan. Tentu tak ada yang salah dengan dengan hal tersebut. Akan lebih baik bila anak-anak memang memanfaatkan kemajuan teknologi daripada menyalahgunakannya. Namun, tidak bisa dipungkiri bila para mesin seakan telah menggantikan posisi utama manusia untuk saling bersosialisasi di mana orang tua hingga teman belajar kelompok bukan lagi sumber utama untuk menemukan jawaban dari permasalahan yang mereka temukan di bangku sekolah.  Saat ini, anak-anak lebih memilih fitur grup dalam setiap aplikasi untuk berkumpul dan berdiskusi walaupun kebanyakan ujung-ujungnya hanya saling lempar sticker atau emoticon dan berakhir pada kiriman lampiran tugas yang diselesaikan oleh separuh jumlah penghuni grup. Selebihnya adalah orang-orang yang masih tetap mengandalkan teknologi dengan fitur download, copy dan paste-nya. 

Saya membayangkan bila di masa mendatang perpustakaan akan beralih fungsi menjadi museum. Para generasi di masa depan hanya mengenal perpustakaan sebagai tempat bersejarah untuk mencari ilmu sebelum datangnya ebook dan situs-situs mengunduh buku lainnya. Menulis hanya akan menjadi kegiatan yang dianggap kuno dan belajar kelompok sudah dipandang ketinggalan zaman bagi anak-anak. Tak ada lagi mahluk sosial yang gemar berinteraksi dengan keadaan sekitarnya sehingga pada akhirnya rasa saling berempati terhadap guru, siswa dan orang tua akan menghilang ditelan oleh kemajuan zaman. 

Sebagai seseorang yang beruntung merasakan dua masa yaitu era kejayaan teknologi dan zaman minimnya teknologi, saya sama sekali tidak menyalahkan keberadaan teknologi hari ini. Bagaimanapun teknologi adalah bagian dari perkembangan zaman yang juga memiliki andil besar terhadap pendidikan di tanah air. Melarang anak untuk tidak menggunakan teknologi bukanlah pilihan yang tepat di di era serba canggih ini. Menanamkan kebijakan anti gawai pada anak-anak hanya akan melahirkan anak-anak yang gagap akan teknologi. Sudah seharusnya orang tua mengambil langkah yang lebih bijaksana agar anak tidak terjebak dalam pilihan antara buku atau gawai. Untuk itulah orang tua memegang peranan penting dalam menanamkan budaya literasi sejak dini kepada anak-anaknya. 

Ada banyak cara untuk membuat anak tetap mencintai buku di tengah menjamurnya pengguna gawai hari ini seperti memperkenalkan buku kepada anak sejak kecil lewat bercerita. Mengajak anak-anak ke toko buku atau menjadikan buku sebagai hadiah untuk anak-anak. Membacakan dongeng sebelum tidur atau sekedar menceritakan kisah-kisah inspiratif kepada anak mungkin sudah terkesan kuno untuk orang tua zaman sekarang. Banyak orang tua yang tidak memiliki waktu hingga ada pula yang memang tak ingin meluangkan waktu sama sekali untuk sekedar berbagi cerita kepada anak-anaknya karena menganggap teknologi hari ini sudah menggantikan kegiatan berdongeng tersebut. Kebanyakan orang tua bahkan lebih memilih mainan hingga ponsel pintar sebagai hadiah untuk anak-anak mereka dibandingkan sebuah buku bacaan. Begitu pun saat bepergian bersama anak-anak mereka. Para orang tua lebih mengingat untuk berbelanja bersama anak-anak mereka di sebuah toko baju dibandingkan toko buku. Hal-hal yang terlihat sederhana tapi sering kali luput dari perhatian orang tua di zaman serba modern ini. 

Untuk mencegah anak-anak agar tidak kecanduan bermain gawai seharusnya orang tua juga tak boleh ragu dalam menerapkan peraturan menggunakan gawai selama di rumah. Orang tua harus konsisten terhadap aturan waktu yang diberikan kepada anak mereka di rumah. Misalnya memberikan kesempatan kepada anak untuk bermain gawai di jam-jam yang telah disepakati bersama anak dan orang tua bukan atas kesepakatan pribadi orang tua itu sendiri. Menuntut anak untuk mengikuti kemauan orang tua sama saja memberikan tekanan emosi berlebihan kepada anak yang pada akhirnya bisa menyebabkan anak stress dan takut kepada orang tuanya sendiri. Ada baiknya orang tua juga harus rajin memeriksa isi gallery maupun history ponsel anak-anak mereka. Terus menjalin komunikasi dan menggali informasi secara tegas tapi santun dengan anak juga merupakan cara jitu menghindarkan anak dari konten negatif gawai. 

Budaya adalah tentang sebuah kebiasaan termasuk budaya membaca pada anak yang tumbuh karena kebiasaan orang tua memperkenalkan buku sejak dini kepada anak-anaknya.  Wajah pendidikan Indonesia di masa depan adalah hasil dari pendidikan Indonesia hari ini. Kita adalah cerminan dari wajah pendidikan di masa yang akan datang. Sudah saatnya orang tua sebagai madrasah pertama bagi anak-anak harus sadar akan arus teknologi yang mampu menyeret dunia pendidikan kita ke pusaran dunia digital yang makin tidak terkendali.  #Sahabatkeluarga