Monday, 24 February 2020

Romantic Doctor Season I (Review)


 Romantic Doctor Season I


Hello para readers sekalian! Welcome back to my review board again. Wahhh, rasanya sudah lama juga yah saya melakukan hibernasi di bagian review film dan juga drama. Berhubung beberapa waktu belakangan ini saya sok sibuk urus kewajiban negara, akhirnya saya pun tidak punya waktu banyak untuk menonton film dan juga drama-drama yang sliweran di mana-mana. Padahal beberapa judul film dan drama sudah saya masukkan di wishlist untuk saya nonton secepatnya. Namun, apa mau dikata ketika takdir berkata lain (Ceilehhh). Ho’oh, iya beneran, saya bener-bener sudah siap lahir batin bahkan tissue sama cemilan juga saya sudah persiapkan untuk fokus nonton drama but like what I have said, I need to skip those dramas and movies for doing other important, crucial, essential things. Ya pokoknya saya wajib hibernasi nonton dulu demi keberlangsungan hidup saya yang aman, adil, makmur dan sentosa di masa depan.

Thennnn, karena masa-masa itu telah berakhir dan saat ini pun saya sudah berada di posisi gabut untuk beberapa minggu kedepannya (Maybe), maka perkenangkanlah saya untuk mereview salah satu drama yang baru saja saya nonton. Setelah hibernasi yang panjang itu akhirnya saya memutuskan untuk memilih menonton drama dengan tema medis kembali wahai para readers sekalian. Kenapa bergenre medis? Kenapa bukan yang romantis atau komedi? Alasannya tak lain dan tak bukan karena mood saya lagi demen-demennya sama yang genre serius macam voice, partners for justice dan kawan-kawannya itu.

Adapun pilihan drama yang akan saya review kali ini jatuh kepada Romantic Doctor season I. Awalnya sih saya pikir drama ini tuh judulnya doang yang ada romantis-romantisnya, daku mengira drama ini isinya akan seirama dengan drama voice, duel atau pun partner for justice yang sama sekali tidak menyajikan banyak scene romantis yang sebenarnya sangat amat dibutuhkan oleh para pecinta oppa-oppa di seluruh tanah air. Beruntunglah, di drama Romantic Doctor ini, writer nim memenuhi asupan gizi kepada kita semua dengan hadirnya pasangan yang benar-benar pasangan yang menjadi pasangan kekasih di drama ini (Ngomong apaan sih!).

Well, drama Romantic Doctor ini sendiri berkisah tentang seorang ahli bedah terkenal yang bernama Dr. Bong Yong Joo. Namun, karena adanya kasus yang merusak namanya akhirnya beliau pun menghilang dari rumah sakit yang telah membesarkan namanya itu. Dr. Bong Yong Joo memutuskan menghilang dari kehidupan kota Seoul dan pindah ke sebuah tempat terpencil. Di tempat terpencil inilah beliau melanjutkan karirnya sebagai seorang dokter bedah pada sebuah rumah sakit kecil dengan peralatan yang sangat minim serta tenaga medis yang sangat kurang. Di rumah sakit kecil ini pulalah Dr. Bong Yong Joo kemudian bertemu dengan orang-orang luar biasa dalam dunia medis.

Singkat cerita, meskipun rumah sakit tersebut terbilang kecil akan tetapi para dokter dan tenaga medis yang bekerja di tempat tersebut sangat luar biasa dalam melakoni pekerjaannya sebagai orang-orang yang merawat dan menyelamatkan pasien. I mean they really work as a doctor and nurse, they use their status and position pure to help the patients. Yah you know lah, banyak dokter yang masih sangat-sangat “komersil” dengan pekerjaannya. Terlepas dari kisah antar pemain maupun peran yang dimainkan oleh setiap aktor dan aktris di dalam drama ini, jujur hal yang bikin saya selalu tertarik untuk menonton tiap episode drama ini hingga selesai adalah tentang bagaimana para dokter dan tenaga medisnya memperlakukan pasiennya. Banyak pesan moral di tiap episode yang menohok bagi saya pribadi.  Walaupun profesi dan latar belakang saya bukanlah seorang ahli medis however, every quotes or conversations in this drama are so related with my daily life. Yah, banyak adegan yang membuat saya melihat kembali kehidupan yang sedang saya jalani ini. Intinya saya kebanyakan ngangguk-ngangguk gitu habis nonton tiap episode drama ini.

Sebut saja sebuah adegan yang cukup menohok saya yang terjadi di awal cerita di mana pada episode tersebut seorang pasien VIP yang memiliki status serta nama yang besar lebih didahulukan oleh pihak rumah sakit dibandingkan pasien-pasien yang lebih dulu datang. Kejamnnya diskriminasi terlihat jelas sekali di dalam drama ini. Ya sama dengan kejadian sehari-hari di sekitar kita, kalau kamu punya orang dalam dan punya nama besar ya secara otomatis biasanya kamu akan didahulukan. Intinya urusan kalian akan dipermudahlah. Bagi saya pribadi sih, punya orang dalam dan nama besar itu bonus dari hasil kerja keras kita yang membuat kita menjadi sukses atau mungkin karena memang percik-percik kekayaan yang keluarga kita miliki dari sononya. Sayangnya, banyak orang yang semena-mena dengan kelebihan yang dimilikinya itu. I mean if you have a power please use it wisely and please don’t too much over in using it. Dannn secara kebetulan beberapa waktu yang lalu saat saya berkunjung ke rumah sakit untuk melakukan sebuah perawatan, seorang pejabat malah dengan bangganya minta dilayanin duluan, untung-untung kalau bayar pake BPJS eh ini malah main gratis-gratis segala. Yeah, this is a life, willy nilly we will face this kind of case like this. On the contrary, dari drama ini saya juga belajar banyak jika urusan menangani pasien tidaklah dilihat dari urutan kedatangannya melainkan juga dari segi daruratnya keadaan pasien tersebut. Saya sangat suka dengan karakter Dr. Bong Yong Joo a.k.a Kim Sabu di drama ini di mana beliau benar-benar menunjukkan ketulusannya sebagai seorang dokter untuk merawat pasiennya tanpa pandang bulu. Mau kaya, mau miskin, anak-anak, orang tua, pokoknya pasien yang paling membutuhkan perawatan harus tetap diutamakan.  

Ada quotes yang saya sangat suka dalam drama ini, bunyinya kira-kira kayak begini “Hidup adalah tentang beralih ke jalan yang berbeda. Kau harus menghadapi kenyataan yang ada di depanmu. Jangan menyerah untuk terus bertanya tentang mengapa kita hidup dan apa tujuan kita hidup”. Habis dengar pernyataan Kim Sabu ini saya auto ngelamun mengingat-ngingat eksistensi saya di muka bumi. Apa iya saya harus ikut alur kehidupan yang sebenarnya saya tidak suka? Apa iya saya tidak bisa melawan ketidakadilan di depan mata saya karena status atau keadaan saya yang memang tidak mengharuskan saya untuk melakukan itu? Dan apa iya saya ada di dunia ini cuma numpang makan, minum, tidur terus mati? 

Nonton drama ini memang membuat saya lebih banyak untuk introspeksi diri sambil ngangguk-ngangguk. Drama ini juga membuat saya semakin bercermin jika saya hidup memang tidak hanya sekedar untuk menghidupi diri dan emosi saya sendiri tetapi juga untuk membantu dan menolong orang lain. Satu hal yang saya sukai pula dalam drama Romantic Doctor season satu ini, saya sangat suka dengan kerja sama tim para dokter dan tenaga medisnya. It’s such my big dream to have a dream team to work like them. Tentu sangat keren sekali  jika saya memiliki rekan kerja yang sefrekuensi serta sevisi dengan saya. It sounds dope right? Do hope it will come true soon!   

Well, cukup sekian dulu review drama Romantic Doctor season satu, just wait for the next review board for Romantic Doctor season two. Ijinkan saya marathon nonton season duanya dulu. Bye!  




0 comments:

Post a comment