Even when I have to write this first paragraph, I never thought that I would be in mourning. A piece of my heart left this world forever on the night of Thursday, October 8.
Selama ini sering mendengar frasa losing spark. Awalnya, kukira sekedar kehilangan semangat yang bisa dipush lewat hobi, jalan-jalan, atau mungkin lewat jatuh cinta. Setelah mengalami yang namanya "kehilangan", saya akhirnya paham betul tentang makna losing spark yang benar-benar hilang hingga seakar-akarnya.
Duka terakhir yang bisa saya ingat di memoar memori ini adalah saat kehilangan ayah di tahun 2012 silam. Ya, saya berduka. Saya paham arti kehilangan dan sakitnya ditinggalkan sosok yang membersamai saya dan ibu. Namun, saat kehilangan seorang ibu di malam Jumat yang penuh khidmat pada 8 Oktober lalu, ternyata rasanya lebih kejam. Serasa dada disayat belati berkali-kali. Kehilangan ayah sudah menyakitkan, lalu dilanjutkan episode ketiadaan seorang ibu semakin menambah parah luka yang sudah menganga sebelumnya.
Ya, saya sedih. Saya berduka. Tapi, saya masih sulit mengeja tentang semua hal yang terjadi sejak ibu terkapar lemah hingga dihantar ke liang kubur. Sesulit memahami, kenapa air mata saya terus mengalir bahkan saat mencicipi makanan dan minuman favorit saya sekalipun. Sesulit memahami, kenapa musim panas kali ini rasanya serba dingin dan hambar, dan sesulit memahami, kenapa tiap sudut rumah rasanya semakin kosong. Semuanya memang terlihat normal, tapi duka ini menjadi semacam anomali hingga hari ini.
Rasanya aneh, tidak melihat ibu di tempat tidurnya lagi. Rasanya janggal, tidak bisa mengendus aroma khas ibu lagi, dan rasanya menyedihkan sekali, saat suara ibu tak bisa terdengar lagi. Dan yang paling mengenaskan adalah karena semua memori itu tidak akan bisa terulang kembali.
Mungkin ini yang namanya losing spark yang selalu berkeliaran di telinga dan lini masa saya. Tidak pernah menduga jika rasanya memang sehilang ini. Semuanya memudar, bahkan arah yang sudah tegas sekalipun menjadi bias ke segala penjuru.
Katanya, setiap yang hilang akan digantikan oleh sesuatu yang lainnya. Sayangnya, jika harus memilih saya lebih ingin untuk digantikan oleh hal lainnya itu. Terdengar klise, tapi untuk apa mendapatkan pengganti yang mungkin dianggap "takdir terbaik" jika harus merasakan lebih banyak duka daripada suka.
Kabar baiknya, Tuhan Maha membolak-balikkan hati. Semoga, ketiadaan yang tidak pernah saya harapkan datang ini benar-benar tergantikan dengan banyak kehadiran dan harapan yang turut membahagiakan ibu dan ayah di dimensi lain.
Kata Pak Faiz, semuanya pasti akan berlalu. Pernyataan ini bukan sekedar teori, saya sudah khatam betul dengan perkataan pak Faiz ini. Hampir semua lini kehidupan sudah saya cover dengan manifestasi jika semuanya akan baik-baik saja. Tapi, saat kehilangan ibu, entah bagaimana saya harus mengaplikasikan kekuatan narasi ini. Saya percaya, jika semuanya akan berlalu. Hidup saya akan kembali membaur dengan rutinitas dan kehectican lainnya, tapi proses melewati badai kehilangan ibu rasanya berbeda. Hari terasa kian melambat, bahkan tiap tarikan nafas terasa berat. Saat jiwa ibu berpamitan dengan jasadnya, tubuh saya serasa ingin langsung terlempar ke satu tahun ke depan. Rasanya ingin cepat-cepat melerai sepi dan pedih yang selalu bersemayam sepanjang malam.
Terlahir dan hidup menjadi seorang anak tunggal memang sedikit ambigu untuk saya yang menjalaninya hingga hari ini. Banyak suara-suara yang mengaguminya, tak sedikit yang juga menginginkannya. Di sisi lain, banyak yang menyayangkannya. Kenapa harus sendirian katanya. Saat resmi menjadi yatim-piatu pun status tunggal ini semakin membingungkan untuk diri saya yang seharusnya sudah paham tentang menjadi anak tunggal di usia yang matang ini. Banyak letupan-letupan isi kepala orang-orang yang silih berganti di telinga saya "Untung ada satu", "Kasihan sendirian", "Wah, anak tunggal", saya tak tahu harus merespon seperti apa semua bunyi-bunyian itu. Apakah ditujukan untuk diri saya secara personal atau untuk status seorang anak tunggal. Stigma anak tunggal di mata masyarakat saat ini memangnya seperti apa? Menyedihkan atau menyenangkan?
Perjalanan menjadi yatim sudah berlangsung sekitar 14 tahun lamanya. Saya sudah cukup kebal dengan resiko menjadi anak yatim. Namun, menjadi piatu baru berlangsung dalam hitungan hari. Saya masih mencari formula terbaik untuk beradaptasi dengan situasi piatu ini. Kadang saya pun harus belajar mencerna dengan baik bahwa sejak 8 Oktober 2026, saya sudah resmi menghadapi double risk dan bukan lagi single risk. I am officially Yatim Piatu. Status anak yang sebenarnya cukup pasaran di negeri ini, tapi stigma yang melekat membuatnya semakin menyedihkan. Secara personal, ya saya mengakuinya, status ini memang menyedihkan. Orang-orang mengasihini saya dan saya menerima itu. Namun, rasanya semakin sesak saat julukan yatim piatu ini semakin bertengger di kepala saya dan orang-orang pun semakin mengamini kehidupan saya yang semakin menyedihkan. Seolah-olah hidup saya akan berjalan semakin suram sejalan status kehilangan ayah dan ibu.
Saya tidak mengelak, kehilangan dua sosok penyangga utama di kehidupan saya memang menyedihkan. Orang-orang melampiaskan kesedihannya lewat pelukan, air mata, dan untaian kata agar terus menjalani hidup dengan tegar. Semua itu adalah bentuk empati berduka sekaligus doa untuk saya. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Hanya saja, separuh jiwa ini ingin berteriak untuk segera menghentikan semuanya. Saya hanya tidak ingin semakin larut dalam kesedihan. Adalah hal yang manusiawi untuk berduka, tapi tidak untuk selama-lamanya.
Ditinggal untuk menjadi benar-benar tunggal selama-lamanya ternyata rasanya memang sejanggal ini. First experience yang sangat tidak recommended. Good luck for me!



No comments