Monday, 6 May 2019

Ngabuburit Ala Anak Rumahan


Marhaban Ya Ramadan, Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan saya nikmat kesehatan, kesempatan dan umur yang panjang sehingga saya masih bisa meet up sekaligus keep in touch kembali dengan bulan yang maha suci di tahun ini.

Readers sekalian yang saya cintai, yang saya hormati dan yang dirahmati oleh Allah SWT, berhubung tahun-tahun kemarin isi blog saya selama Ramadan ya cuma itu-itu saja, maka kali ini ijinkanlah saya berbagi cerita, kisah, peristiwa, tulisan random unfaedah bersama kalian selama 30 hari penuh selama bulan puasa ini.

Adapun tausyiah hari pertama di blog saya kali ini akan membahas tentang ngabuburit ala anak rumahan yang malas kemana-mana alias cuma stay di rumah saja. Well, it can’t be denied that beberapa orang selama bulan puasa memang tidak begitu menyukai hingar bingar dunia ngabuburit seperti anak muda lainnya di luar sana. Beberapa orang menganggap bila anak yang lebih suka di rumah cenderung introvert dan anti sosial. Penjelasannya bisa iya bisa tidak. Iya karena mereka mungkin memang lebih suka quality time dengan mereka sendiri dibandingkan menjadi orang lain saat bertemu orang banyak. Dan bisa tidak karena mereka mungkin lagi kere a.k.a tidak punya modal untuk ngabuburit. Apalagi ngabuburit jaman sekarang sudah terupgrade. Dulu saya biasanya ngabuburit cuma jalan-jalan sore sekitaran rumah, pas mau bedug barulah pulang ke rumah atau malahan saya biasanya numpang ikut buka di rumah teman karena diajak. Tapi itu dulu, ngabuburit versi 4.0 saat ini serba butuh modal, seperti ongkos bensin plus uang makan untuk buka puasa kalau ngabuburitnya dirangkaikan sama acara bukber, belum lagi ongkos parkirnya. Ya, introvert sama tidak punya uang sekarang memang terlihat beda-beda tipis.

Para readers sekalian yang saya muliakan, terlepas dari persoalan tersebut, ngabuburit di rumah sendiri atau di kostan saja bukanlah sebuah dosa. Ada banyak kegiatan yang kalian bisa lakukan sambil menunggu bedug magrib saat di rumah.  Beberapa aktivitas yang saya lakukan selama menjadi seorang introvert kere mungkin bisa kalian ikuti (Kalau mau sih).

1.    Nonton Drama Korea


Para readers sekalian yang berbahagia, saya sarankan untuk tidak menonton drama Korea 17+ di bulan suci ini, saya peringatkan kembali drama Korea tidak cuma persoalan cinta-cintaan. Ada banyak rekomendasi genre drama seru lainnya yang kalian bisa nikmati sambil menunggu waktu berbuka. Saya sangat merekomendasikan drama serial Voice, Duel, Squad 38, The Fiery Priest, God’s Quiz, Circle, The Guest, Waikiki, dan The Light in YourEyes sebagai teman ngabuburit kalian. Voice, Duel, The Guest, dan The Fiery Priest  menjadi salah satu atau salah dua drama yang saya sarankan untuk segera kalian nonton di bulan suci ini. Why onnie? Karena selain ceritanya seru, drama ini juga membantu kalian untuk makin mendekatkan diri kepada Tuhan di bulan Ramadan ini. Trust me!


2.    Nonton Konten Youtube Favorite


Kehadiran Youtube menjadi sebuah cobaan bagi para pengirit kuota. Namun, tidak bagi pemilik kuota unlimited Youtube. Keberadaan kuota bebas akses Youtube ini menjadi angin segar untuk saya yang suka menikmati beberapa channel favorite di Youtube, terlebih saat bulan puasa seperti ini. Bisa dibilang kanalnya Raditya Dika menjadi channel youtube terfavorite saya akhir-akhir ini. Selain kanalnya berisikan hal-hal yang saya sukai seperti misteri dan juga komedi, di channel ini saya juga bisa mendapatkan banyak pengetahuan dan hal-hal baru yang mungkin tidak akan saya temukan di channel mahasiswa yang belum wisuda-wisuda itu (IYKWIM). Saat ini saya memang lagi senang-senangnya mendengarkan konten Podcast dari Raditya Dika lewat Youtube. Selain narasumber dan pembahasannya seru dibandingkan channel yang lain, durasinya juga puanjanggggg sekaleeee. Mungkin beberapa orang akan bosan dengan konten berdurasi lama tapi tidak bagi saya! Selama yang ngaplod itu Raditya Dika dan pembahasannya juga seru dan informative maka saya akan betah mendengarkannya. Jadi teruntuk para readers sekalian yang lebih suka ngabuburit di rumah, silahkan menghabiskan waktu ngabuburit kalian bersama channel favorit kalian selama bulan puasa ini. Kuota unlimited kalian akan lebih berfaedah bila dihabiskan dengan menonton konten-konten positif dibandingkan nonton video-video prank tak jelas yang sering sliweran di youtube itu. Sekedar mengingatkan :)


3.   Baca Buku



Bulan puasa bisa menjadi momen untuk menyerap ilmu dan informasi sebanyak-banyaknya yang tidak hanya berasal dari sosial media tetapi juga dari buku-buku. Ramadan kali ini menjadi waktu yang tepat untuk saya dalam menuntaskan bacaan saya yang tak kelar-kelar di hari kemarin. Jika kalian anak yang betah di rumah dan malas ngabuburit di luar, silahkan ubek-ubek rak bukumu, siapa tahu ada beberapa buku yang sudah kamu beli tapi belum sempat kamu selesaikan selama ini. Buku paket dari SD sampai SMA atau buku-buku perkuliahan kamu misalnya (Kalau niat).

Para readers sekalian yang dirahmati dan diridhoi oleh Allah SWT, saya kira demikianlah tausyiah hari pertama di blog saya ini. Semoga membawa manfaat dan berkah bagi kita semua. Sambil ngabuburit dengan melakukan aktifitas favorit kalian jangan lupa juga untuk membaca Alquran serta memperbanyak sholawat dan zikir di bulan Ramadan ini.

See you in the next post!  


Sunday, 24 March 2019

The Light in Your Eyes (Review)


https://filmsinopsisid.blogspot.com/2019/01/sinopsis-drama-korea-light-in-your-eyes.html


Di tahun 2019 ini ada banyak sekali drama Korea baru yang bermunculan. Saya sampai bingung mau nonton yang mana. Padahal sejak Januari kemarin TL saya sudah penuh sama spoiler-spoiler drama-drama seru dari netizen. Setelah cek per cek semua drama on going a.k.a baca synopsis, liat teaser, plus kepoin pemainnya eh saya malah tambah bingung lagi mau nonton yang mana duluan. Ujung-ujungnya sampai drama-drama tersebut the end pun saya belum ada niatan sama sekali untuk nonton. To be honest, semua drama Korea itu seru. Drama Korea bagi saya itu EXTREMELY kece, mungkin karena saking bagusnya banyak pecinta drama maupun film Korea jadi pusing mau nonton yang mana kayak saya sendiri. Dan berhubung sudah sampai Maret dan saya sama sekali belum nonton drama Korea tahun ini, akhirnya saya pun memutuskan untuk mencari sebuah drama yang berkesan sebagai drakor opening 2019 saya. Ada banyak genre drakor yang berkeliaran, mulai fantasy, romance, crime dan lain sebagainya. Bisa dibilang tahun 2018 kemarin saya kebanyakan nonton drama romance plus crime yang berat-berat itu so, untuk mengawali tahun ini saya mencoba untuk mencari drama genre yang berbeda dari sebelumnya.

Setelah lelah ubek-ubek drama di berbagai web drama, saya kembali ke twitter buat baca-baca koment netizen tentang drama seru tahun ini. SKY Castle dan The light in Your Eyes memang paling trending topic menurut mata pertwitteran saya. Dua drama rekomendasi bacotan netizen di twitter ini akhirnya menjadi bahan pertimbangan saya. Dan kemudian setelah menimbang-nimbang beban cerita, pemain, dan tentunya review netizen, pilihan saya pun jatuh kepada The Light In Your Eyes. Kenapa bukan SKY CASTLE? Karena Nam Jon Hyuk sama Ha Ji Min maennya di The Light in Your Eyes. Hehe, iya saya penasaran sama ekting mereka di sini. Apalagi setelah baca komen-komen orang yang katanya drama ini anprediktibel dan bikin mewek. Hmmm, sejujurnya saya sudah lama nggak nangis tengah malam gara-gara drakor. Saya juga sudah lupa drama apa yang terakhir kali membuat saya kehabisan tissue. Because of those reasons, I prefer to watch The Light in Your Eyes. Saya mau penyegaran jiwa lewat nangis-nangis dulu kayak orang habis pengakuan dosa.

Sebenarnya drama ini sudah tayang sejak Februari awal dan habis waktu tanggal 19 Maret kemarin. Saya pun nontonnya pas drama ini sudah the end, jadinya cuma marathon dua malam. Ok, well, yang membuat saya tertarik buat nonton drama ini itu sebenarnya bukan hanya soal pemain-pemainnya tapi juga soal ceritanya yang bikin saya penasaran. Drama ini sendiri berkisah tentang seorang wanita yang berusia 25 tahun yang tiba-tiba mendapati dirinya menjadi wanita berusia 70 tahun karena sebuah arloji. Yup, Han Ji Min yang berperan sebagai Kim Hye Ja versi muda di drama ini mampu mengubah waktu lewat sebuah arloji. Awalnya saya mengira kalau drama ini itu tentang fantasy semacam Secret Garden, Gomiho dan sejenisnya itu, eh ternyata drama ini benar-benar jahannam dengan beraneka plot twitsnya itu pemirsahh. Banyak yang bilang episode 10 sampai 12 dari drama ini bikin nangis sesegukan but—BIG NO for me. For your information, saya sejak episode 1 sampai 12 nangis terus malahan. Atau mungkin saya yang terlalu mellow dan cengeng kali yah. Intinya selama nonton drama ini itu benar-benar penyegaran untuk mata dan batin saya. Dialog-dialog dalam drama ini benar-benar deep dope untuk saya. It was really touching me sooo much! Tidak hanya itu, drama ini juga komplit sekali dengan scene lucu absurd-nya. Bayangkan saja kalau kamu seorang perempuan yang berusia 25 tahun lalu harus menjalani kehidupan bersama keluarga dan teman-teman seusiamu dengan tubuh yang tiba-tiba menua. Kim Hye Ja ini benar-benar nenek-nenek millennial di drama ini and that’s the most interesting part I think.

Awalnya saya menganggap drama ini itu memang biasa saja, cuma kisah seorang wanita yang menjadi tua karena memutar waktu dan kemudian menjalani kehidupan sehari-harinya. Nam Jon Hyuk jatuh cinta sama Kim Hye Ja muda,  Kim Hye Ja jadi tua terus Nam Jon Hyuk tidak mengenalinya, lalu Kim Hye Ja berhasil memutar waktu kembali dan akhirnya hidup bahagia selamanya bersama Nam Jon Hyuk.  Happy ending. Ya, sebenarnya ini plot amatiran versi saya.  Writer nim langsung ngomong “tidak semudah itu, Ferguso,” Dannn faktanya memang demikian sodarahh, saya totally speechless nonton drama ini. Writer nim-nya kece badai lah mengoyak-ngoyak perasaan. Harus saya akui kalau ekting Nam Jon Hyuk di sini adalah ekting terbaik, termelting, dan tergagahnya sejauh ini di mata saya. Karakter doi di sini juga yang bikin saya makin kehabisan tissue nonton drama ini. Belum lagi alur anprediktibelnya yang bikin susah tidur.  Yakinlah saat memasuki episode 10, akan ada banyak kalimat, “Loh kok?”, “Ini kenapa begini”, “Dia siapa?”, dan Boommm, kalian akan mulai berspekulasi sendiri terhadap endingnya.

Saya sarankan sedia tissue banyak-banyak lah sebelum nonton drama ini. Ceritanya terlalu menusuk-nusuk hati soalnya. Tak lupa, ada banyak pelajaran hidup yang saya pribadi ambil dari kisah nenek Hye Ja di drama ini. I am serious! Bagi seseorang yang diberi rezeki untuk berumur panjang, menjadi tua adalah sebuah keniscayaan. Ada banyak hal yang harus kita hadapi saat menemui masa itu. Menjadi pikun, beruban, lelah, sakit-sakitan, hingga yang paling menyakitkan adalah diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang sekeliling kita. Untuk kalian yang masih muda apalagi sedang menghadapi beban kehidupan kayak saya. Dilema, terombang-ambing tak karuan di dunia ini, please watch this drama. It’s a superb worthy drama in 2019. Trust me! Kisah nenek Kim Hye Ja akan menampar masa muda kalian. 


Friday, 8 February 2019

Kenapa kita harus punya hobi?



Hobby


Apakah judul di atas terlalu mengandung clickbait? Atau mungkin terdengar cukup familiar? Hmmm nampaknya tidak juga Ferguso. Baiklah, berbicara soal kenapa kita harus punya hobi sebenarnya, saya sudah pernah diberikan pertanyaan semacam judul di atas. Tepatnya tahun lalu saat saya masih on fire on fire-nya belajar IELTS demi mengejar target band score kampus impian di negeri nan jauh di sana. Kalau sekarang? Ehm, sepertinya kampusnya tidak pindah kemana-mana Ferguso hanya saja saya yang memang selalu kemana-mana sehingga tidak consistent lagi untuk belajar. Terus, mau sampai kapan? Ehm, coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang saja para readers sekalian.  Ok lanjut, jadi pertanyaan tentang kenapa kita harus punya hobi  tersebut saya dapatkan saat berada pada sesi speaking dalam IELTS. FYI, dalam speaking IELTS kita diberikan beberapa pertanyaan yang sebenarnya cukup sederhana tapi sangat sulit untuk menjawabnya. Yah pertanyaan-pertanyaan di speaking IELTS itu telah membuat saya menjadi orang yang sangat mudah bapper dan cukup sensitif. Bayangkan saja saya pernah mendapatkan pertanyaan tentang bagaimana hubungan yang seharusnya dijalani oleh pasangan. Yang punya pacar atau yang sudah menikah mungkin fine, nah yang jomblo bagaimana? Terus ada lagi nih pertanyaan kayak begini, saat kamu merindukan seseorang apa yang kamu lakukan? Sudah jomblo dikasih pertanyaan galau pula, double kill kan namanya.

Ehhh sebelum curhatan saya makin mendalam, sedalam palung Mariana. It’s be better to move. Baiklah kita kembali ke persoalan kenapa kita harus punya hobi ini lagi. Jujur, di antara banyaknya pertanyaan yang sering diajukan di IELTS entah mengapa pertanyaan soal hobi ini menjadi hal yang paling berkesan menurut saya. Saya terus-menerus memikirkannya, entah itu saat mandi, naik motor, sampai mengetik tulisan ini pertanyaan itu pun masih meneror saya. Buat apa sih hobi itu?

Sampai suatu ketika secara tidak sengaja saya menemukan jawabannya. Tepatnya di awal bulan Februari ini ketika kontrak mengajar saya pada sebuah lembaga pendidikan telah selesai saya laksanakan.  Yeah I am definitely a jobless again. Saya tidak punya pekerjaan lagi. Sudah beberapa hari ini saya bosan di kasur terus. Ya makanya keluar rumah! Anyway saya malas keluar rumah kecuali ada hal yang memang penting dan perlu. Kamar membuat saya lebih betah bersama laptop dan telpon pintar saya. So, are you an introvert? Sebenarnya saya juga tidak tahu pasti apakah jiwa saya ini mengandung kadar introvert, ekstrovert, ambivert, atau mungkin psikopat. Setelah melihat dan mengamati kehidupan saya selama kurang lebih 26 tahun hidup di planet yang bernama bumi ini saya memastikan bila saya bukanlah psikopat. Lihat wajah kucing saja saya sudah iba. Saya tidak mungkin tega untuk melukai sesama jenis mahluk hidup. Lalu apa dong? Hmmm, for some people maybe I am an introvert but I can be a super ultra extrovert for specific people. Ok, you are an ambivert. Hmmm perhaps. Are you doubt? Jangan-jangan kamu psikopat. Ok just call me an alien jika kalian masih pusing dengan kepribadian saya.  Saya memang agak aneh di mata beberapa kalangan mahluk hidup. I my self admit it dude.    

Karena sifat saya yang kebanyakan ingin menyendiri terlebih setelah menyandang status baru sebagai pengangguran yang masih segar akhirnya saya pun melakukan rutinitas untuk mengusir segala kejenuhan, kepenatan, kebosanan, Kesempurnaan cintaUsut punya usut saya baru sadar kalau rutinitas ini adalah kegiatan permanen yang selalu saya lakukan saat saya lagi galau-galaunya di masa lalu ketika sedang malas mengerjakan tugas kampus, capek mengejar band score IELTS, dan pusing dengan pekerjaan yang tak menentu jua. Yeah, I find the answer now! Ternyata saya juga baru sadar kalau menulis dan bercerita adalah jawaban dari kenapa saya  harus punya hobi. Ok, Maybe I can sleep well now.

Lalu kenapa harus menulis? Saya sendiri juga tidak tahu persis kenapa menulis menjadi semacam morphim tersendiri bagi saya saat melalui masa-masa tersulit saya dibandingkan bermain games atau curhat kepada orang lain. yang pastinya lewat menulis saya merasa lebih sembuh dan pulih dari keadaan yang memojokkan saya. menulis menjadi semacam sudut favorit saya bila diibaratkan sebuah ruangan di dalam sebuah rumah. Ya, menulis membuat saya merdeka untuk mengungkapkan semua rasa yang berkecamuk itu. Suka, duka, luka semua berbaur menjadi satu dalam aksara. Saya selalu menikmati setiap tulisan yang saya buat. Membacanya berulang-ulang membuat saya menjadi semacam pendengar setia untuk diri saya sendiri lewat tulisan. saya menyukai hal itu. And I do love it. Di mata saya, orang yang bekerja dari hobinya itu adalah orang-orang yang sangat beruntung di dunia ini. Sangat banyak orang yang memiliki hobi dan sangat banyak pula orang-orang yang ingin menjadikan hobinya sebagai pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan, including I my self absolutely. Sayangnya, tidak semua orang beruntung dan ditakdirkan untuk seperti itu. So, is my hobby useless? Selama kamu menikmati hobimu there is no useless thing in it. Useless belongs to the negative hobby yang tidak hanya merugikan orang lain tetapi diri kamu juga. So, let’s look for something that you really love to do right now. Mulailah menemukan passion yang membuatmu punya alasan untuk tidak terus jenuh menghadapi hidup yang masih gini-gini aja wkwkwkw.  

Well, I think that is a bunch of bacotans dari saya hari ini. Sekedar mengingatkan, jikalau pertanyaan kenapa kita harus punya hobi di IELTS ini tak akan mungkin saya jawab seperti panjang ceramah saya di dalam blog ini. Selain melewati batas waktu dan bikin ngantuk sang interviewer, mungkin interviewer-nya juga akan lebih menyarankan saya untuk ngevlog saja.    

Monday, 21 January 2019

NOTE, BLOG, AND BOOK


https://rostinaalimuddin.blogspot.com/2019/01/note-blog-and-book.html



Note.

            Sejak kecil saya sangat suka menulis, baik itu puisi, cerpen, atau pun novel. Saat masih SD, saya sudah mulai mengoleksi buku catatan-catatan kecil seperti note, diary dan sejenisnya. Pada zaman itu laptop dan handphone masih menjadi barang langka maka jadilah semua celotehan di kepala saya itu saya tuangkan ke dalam buku diary, binder, bahkan pada beberapa halaman terakhir buku tulis jaman saya sekolah dulu. Bisa dibilang tangan saya memang selalu gatal untuk mencatat setiap hal yang muncul di kepala saya. Tak jarang buku LKS dan buku paket saya juga turut menjadi pelampiasan coretan-coretan saya waktu itu.



Blogger


Saya masih ingat betul, seorang teman di masa SMP saya pernah mengatakan jika di masa depan saya akan menjadi seorang penulis hebat. Entah mengapa ucapan teman saya itu terus membekas di pikiran saya. Semenjak hari itu saya pun terus-menerus menulis sambil mengaminkan doa teman saya. Hingga pada suatu hari di tahun 2010, saat saya resmi menyandang status sebagai seorang mahasiswa, rutinitas kampus secara perlahan tapi pasti mulai menyerang hobi saya ini. Saya nyaris tidak punya waktu lagi untuk mengembangkan skill menulis saya. Otak saya sudah kehilangan nafsu untuk merangkai kata, tangan saya pun sudah tak segatal dulu lagi untuk bermain corat-coret. Tugas kampus dan lingkungan organisasi mulai menyita banyak waktu saya. Namun, pada sebuah kebetulan yang mungkin sudah ditakdirkan, saya dipertemukan oleh beberapa orang teman yang memiliki hobi yang sama dengan saya di kampus. Mereka membuat saya bersemangat lagi untuk menulis meskipun tugas kuliah sedang padat merayapnya saat itu. Teman-teman saya ini jugalah yang pada akhirnya mempertemukan saya kembali dengan dunia blog. Ya, saya pernah mempunyai sebuah blog sebelumnya tapi itu pun hanya karena tugas mata pelajaran komputer waktu saya SMA kemudian, setelah lulus blog itu pun saya lupakan.


Blog.

Berkat bertemu para blogger kampus pada tahun 2011 silam, saya akhirnya kembali aktif menjadi seorang blogger. Saat itu, blog benar-benar telah menjadi tempat baru untuk menyalurkan isi kepala saya sekaligus menemukan teman-teman baru untuk saling berbagi cerita tentang dunia blog dan website lainnya seperti Bubblews dan Postanyarticle. Tak seperti Blogspot dan Wordpress yang masih tetap eksis digunakan oleh banyak orang saat ini, Bubblews dan Postanyarticle ternyata hanya mampu bertahan beberapa tahun saja dan kemudian menghilang dari dunia maya. Blog pada akhirnya menjadi rumah terakhir dan satu-satunya bagi saya untuk aktif dalam menulis. Waktu luang selalu saya habiskan untuk berkutat dengan blog, baik itu di kost atau saat jam istirahat di kampus. Blog ternyata mampu melepaskan saya dari kejenuhan menghadapi rutinitas perkuliahan yang kian membandel setiap harinya waktu itu.

Singkat cerita, pada bulan Januari tahun 2017, saya kembali membuat sebuat akun blog baru. Bisa dibilang ini kali ketiga saya membuat blog dengan tiga akun yang berbeda. Blog kedua saya hampir memiliki riwayat yang sama dengan blog pertama saya. Ya, saya sama-sama lupa sandi dan alamat email-nya tapi sejujurnya saya tidak memiliki niat sama sekali untuk berhenti menulis seperti kasus blog pertama saya. Awalnya saya hanya ingin vakum sementara agar bisa lebih fokus menyelesaikan tugas akhir yang maha sakral di kampus waktu itu. Namun, semakin lama ternyata saya memang semakin tidak mempunyai waktu untuk sekedar menulis satu atau dua tulisan saja di blog. Pada akhirnya blog kedua saya ini pun terbengkalai seperti blog sebelumnya. Karena hal inilah maka saya memutuskan untuk membuat blog baru yang saat ini masih terus saya gunakan. 

Seiring berjalannya waktu saya mencoba untuk tidak menulis hanya untuk keperluan blog saja tetapi juga menulis untuk meningkatkan kemampuan menulis saya lewat beberapa kompetisi menulis. Saya berkali-kali ikut lomba menulis baik itu puisi, cerpen, ataupun esai. Namun, sayangnya semua berujung pada kegagalan, kegagalan dan lagi-lagi kegagalan. Daripada hanya tersimpan di dalam laptop, saya pun berinisiatif untuk menaruh tulisan-tulisan gagal tersebut ke dalam blog pribadi saya dan kemudian membagikannya ke sosial media. Beberapa tulisan yang saya posting tersebut ternyata dibaca oleh beberapa teman saya. Saya sebenarnya tidak menyangka jika saya akan menerima banyak respon positif dari mereka. Seru, keren, bagus, mengharukan dan berbagai komentar dan pesan pribadi yang menguggah lainnya dari para pembaca saya ternyata semakin membuat saya bersemangat untuk terus menulis di blog.  

Sebenarnya, ini bukan hanya tentang sebuah tulisan di dunia maya. Menjadi seorang narablog juga telah mengubah banyak hal dalam kehidupan nyata saya. Membaca tulisan-tulisan dari para narablog lainnya juga membuat saya belajar untuk memandang hidup yang tak sekedar itu-itu saja. Tak melulu soal asmara, pekerjaan, atau bahkan politik. Ada banyak hal yang terlihat sederhana tapi sebenarnya begitu penting untuk kita perhatikan. Tulisan para narablog inilah yang pada akhirnya menyadarkan saya tentang berbagai sudut pandang yang tak biasa tersebut. Menemukan passion yang mungkin remeh bagi sebagian orang tapi sangat berharga bagi kita  adalah hal yang layak untuk menjadi bagian dari rutinitas hidup kita juga. Tak hanya itu, saya pun banyak mendapatkan pengetahuan dan ilmu baru tentang dunia tulis-menulis karena tulisan para narablog yang terus berkeliaran di internet hingga hari ini. Membaca tulisan-tulisan mereka membuat sudut pandang saya tentang dunia tulis menulis pun ikut berubah.  Saya tidak takut dan tidak kaku lagi untuk menuliskan semua hal yang ingin saya sampaikan lewat gaya bahasa saya sendiri.  Hal-hal inilah yang membuat saya juga semakin berani untuk menulis apapun dan kapanpun itu. Beberapa hadiah dan juga buku yang saya dapatkan melalui giveaway menjadi semacam reward tersendiri bagi saya untuk semakin menggemari dan mencintai dunia menulis.


Gagas mediaRaditya Dika


Book.



Nulisbuku
Setelah bertahun-tahun menulis di blog dan juga ikut serta dalam beberapa kompetisi menulis akhirnya saya pun mencoba untuk mengumpulkan tulisan-tulisan saya yang lainnya ke dalam sebuah buku. Sebut saja buku kumpulan cerpen saya sebagai resolusi 2019 yang akhirnya terwujud di awal tahun ini. Saya berharap novel pertama yang sedang saya garap juga bisa saya terbitkan di tahun ini. Resolusi 2019 saya memang tidak jauh-jauh dari dunia menulis, salah satu mimpi yang sudah sejak dulu saya perjuangkan tapi selalu tidak kesampaian adalah ikut serta dalam Ubud Writers & Readers Festival (UWRF). Kenapa bukan Makassar International Writers Festival (MIWF) saja? Berhubung saya orang Makassar, jadi saya sudah lumayan sering ikut MIWF sedangkan UWRF masih terus menjadi wacana tiap tahun saya yang selalu gagal terwujud.  Semoga di bulan Oktober tahun 2019 ini cita-cita saya untuk ikut dan bertemu langsung dengan banyak penulis-penulis nasional dan internasional di UWRF tak sekedar menjadi wacana lagi. Semoga program menabung untuk ikut di UWRF juga tidak menjadi mitos belaka tahun ini. Saya akan sangat-sangat bersyukur lagi jika saya juga bisa masuk dalam daftar penulis yang terpilih untuk ikut serta di acara tersebut. Wish me luck!    

Hari ini blog sudah seperti rumah untuk mencurahkan segala isi pikiran saya. Terlebih di era digital sekarang ini, blog telah menjadi sudut favorit saya dalam bercerita, entah itu suka, duka dan juga luka. Karena telah menjadi rumah, secara perlahan blog saya pun mulai sering kedatangan tamunya alias pembacanya. Baik itu tamu baru atau pun tamu langganan. Harus saya akui juga bila sumber viewers saya memang kebanyakan berasal dari teman-teman terdekat saya. Jumlahnya pun masih jauh dari kata ratusan atau bahkan ribuan.  Meskipun begitu, saya tetap bangga untuk menjadi seorang narablog.  Saya senang berteman, berbagi, dan membaca tulisan-tulisan dari para blogger lainnya. Adalah kebahagiaan tersendiri juga bagi saya saat menemukan pesan dan komentar dari orang-orang yang merasa bahagia bahkan terinspirasi dari setiap tulisan yang saya buat. Mereka adalah kekuatan tersendiri bagi saya untuk terus berkarya dan menulis di blog. Saya masih akan terus mempercayai dan mengaminkan ucapan teman SMP saya di masa lalu, untuk itu saya harus terus menulis, apapun dan kapanpun itu.


Blog



Saturday, 17 November 2018

TIME


https://rostinaalimuddin.blogspot.com/

If I have chance to create a change, I really want to juggle this world with a life without a fear of time where people including I myself can enjoy every single day that we face without worrying about tomorrow.

People claim that time is money. Maybe it is the reason why my friends, family and neighbors are busy with their works everyday. Basically, I see time in this phenomenon as a bomb not money again inasmuch as a lot of people are stuck on fixed schedules which force them to be rush. Everything is in hurry like their daily activity is only to serve the given hours from their bosses. At the end, sooner or later the bomb will blow up and hurt them physically and mentally. Yes, deadline is like a terror today. It can explode anytime.    

Actually people are competing also to meet their goals based on their time targets. It is undeniable that age has become a measure of success in this present day. Most of them want to graduate in a college when their age has been 22 years old then have a job before 25 years old. The others also say that they should marry at the age of 25 years. Everyone has set their epoch to be realized on schedule that they have created. Unluckily, not all of the human in this universe can actualize their willing based on their timetables.

A group of people view the time as something that to be worried about therefore, they tend to control some moments in their lives. They assume that time is wild so, it should be tamed whereas, the time is still the time. It is not an enemy that should be defeated. It is also not about a competition where human should be a winner. Time is just series of event in a life. It will remain with everyone’s life even though people always say no more time again.  Yes, time will always be there for us.

Time actually never changes but people do it. I tend to argue that it is the people who have modified the era so they are trapped in time worries. They rely on technology so, they can make everything instant. Today, each person uses smartphone to connect quickly to the others. Different from  past time where they still entrust to postman for taking care of various purposes such as office affairs, school, business or just a letter to communicate each other. Everything has changed today. Most people choose to use social media or packet delivery service for instance, Gmail, Telegram or Feedex to send express documents. Absolutely, the fastest is the best. Nowadays, everything is about a speed. Shorten the time has become an important need for every individual.

As aforementioned, completing college, having a job, and getting married are important things that are always be the main purposes in everyone’s life. However, I think those matters are not ambitions anymore, people’s goals have transformed into a terror that continues to haunt them now.  At the end, excessive expectation pushes people to fall on disappointment and frustration since they fail to meet their targets. Actually, what is wrong with the goal that does not come on time. I think it is still good to graduate in 25 years old. It is ok to find a job in 30 years old. It is also fine for getting married in 35 years old. In fact, nothing wrong with those periods. The one that should be blamed is our perspective about the time. Indeed, time never makes a mistake however, many people always blame it. I do believe time will never be angry to always be criticized because time does not have time to do it. Time only cares about his duty to keep moving forward.

Time will always be on our side if we treat time as a friend. Vice versa, you can kill time if you commit time as a terror.