Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Friday, 29 May 2020

Hospital Playlist (Review)


Hai Hai selamat datang kembali di review board saya para readers sekalian!

Well, berhubung salah satu drama slice of life garapan sutradara dan penulis andalan kita yaitu Shin Won Ho dan Lee Woo Jung yang berjudul Hospital Playlist telah tamat dengan ending yang penuh nano-nano itu, maka tibalah saatnya bagi saya untuk mereview drama ini. Anyway, bagi yang sudah nonton ending Hospital Playlist, bagaimana perasaan kalian saat ini? Apakah semua kapal kalian berlayar, atau kalian malah salah kapal sejak dari episode pertama wkwkw? Bagi yang menumpangi kapal winter garden saya mengucapkan selamat doa kalian terkabul tadi malam. Tentu, hal ini tidak lepas dari kekuatan doa nyonya Rosa beserta sanak saudara Andrea lainnya yang sudah pasti terbukti ampuh menembus lapisan langit ketujuh. Tuhan mungkin merasa malu ketika orang-orang beriman memohon kepada-Nya lantas tidak mengabulkannya. 



Bisa dibilang tahun 2020 adalah tahun yang penuh dengan kumpulan drama-drama keren di setiap stasiun televisi. Pokoknya, tiap stasiun TV Korea tahun ini benar-benar berlomba memberikan drama dengan genre yang unik dan berbeda. Anyway, kepada bala pasukan The Word of The Married, CLOY, Itaweon Class, dan The King Eternal Monarchy, saya harapkan minggir dulu. Sorry to say but for me, Favorite Drama of The Year masih dipegang sama Hospital Playlist. Yah, Hospital Playlist deserves to be the greatest drama in 2020. Kenapa, why and wae? Ya sudah, silahkan disimak saja review saya berikut ini.

A.   Drama Medis Yang Beda Dari Drama Medis Biasanya

Sebelumnya saya mau sungkem dulu sama penulis Hospital Playlist yang memberikan warna baru dalam drama medis. Saya tidak pernah mengira kalau bakal ada drama medis macam beginian. Kalau sebelum-sebelumnya kalian nonton drama medis yang kebanyakan scene darah, peralatan medis yang seram-seram, ruang operasi dengan suasana menegangkan serta para dokter dan tenaga medis yang lebih menonjolkan skill mereka masing-masing, maka di Hospital Playlist kalian tidak akan disuguhi adegan-adegan macam begituan lagi. Hospital Playlist adalah jenis drama medis yang sangat ringan untuk kalian nikmati. Pokoknya gak ada tuh konflik sama plot yang bikin pusing kayak TWOFTM atau 365: Repeat The Year. Sebenarnya ada kasus pelakor juga sih tapi gak seribet drama sebelah lah.

Hospital Playlist menjadi drama slice of life karena isinya memang lebih menggambarkan rutinitas sama kehidupan para tenaga medis dan dokter pada umumnya di setiap rumah sakit. Bagaimana kehidupan dokter dan perawat lainnya kalau pas jam istirahat, bagaimana kehidupan mereka kalau lagi di luar rumah sakit, bagaimana kelakuan mereka di kantin pas ngumpul, apakah mereka makan dengan santuy atau buru-buru, belum lagi cara mereka menghadapi pasien yang beda-beda karakter. Hubungan antara pasien dan setiap dokter di drama ini juga benar-benar sangat-sangat intens. Selain banyak scene lawak dan absurd dari penghuni RS Yulje, drama ini juga banyak yang mengandung bawang. Beberapa di antaranya kayak kisah seorang pasien yang harus rela menggugurkan kandungannya, kisah Ayah yang rela diet demi menyumbangkan levernya kepada anaknya, dan masih banyak lagi.  Pokoknya, drama ini tuh kayak dibalik layarnya kehidupan rumah sakit di sekitar kita. Dibalik baju yang mereka kenakan dokter pun hanyalah manusia biasa yang punya kisah tersendiri di luar rumah sakit tempat mereka bekerja.

B.    Kisah Persahabatan geng 99

Kalau bahas persahabatan Song Hwa, Joon Woon, Ik Jun, Jung Won, sama Seok Hyung itu rasanya bikin iri deh. Meskipun fiktif tapi rasanya pengen gitu punya circle kayak mereka. Kalau kalian masih sekolah dan sudah nonton drama ini pasti punya cita-cita pengen punya teman-teman dan kehidupan kayak mereka berlima. Mau jadi pintar terus bisa dihormati juga sama orang-orang sekitar. Mau jadi kaya juga biar bisa belanja online sepuasnya kayak Song Hwa, bisa sering traktir teman-teman juga kaya Seok Hyung. Pengen kayak Ik Jun juga yang punya cemilan banyak, kalau Joon Won? Kayaknya doi cuma punya banyak pulsa buat nelpon Ik Sun kwwkwkwk. Bukan cuma kaya ilmu, dan harta tetapi juga kaya hati kayak Andrea a.k.a Jung Won yang suka bantu pasien yang kekurangan biaya pengobatan. Kalau cewek-cewek pasti banyak yang mau jadi Song Hwa, selain pintar, baik, suka belanja barang-barang aneh doi juga punya empat teman cowok yang peduli dan sayang sama dia. Oh indahnya hidup kalau realita seperti di dalam drama kwkwkkw. Kisah lima sekawan ini itu hangat sekali di drama ini, kadang bikin senyum-senyum sendiri sampai ngakak yang tak terkontrol. Apalagi pas scene mundurnya ke masa-masa mereka kuliah. Belum lagi kalau adegan berantem rebutan makanan di tempat makan wkkwkw.

Adegan paling ditunggu kalau mereka berlima ngumpul adalah saat makan bareng di luar atau ngemil di ruangannya Song Hwa, Joon Woon sama Jung Won. Kalau Seok Hyung ruangannya memang gak pantas buat jadi tempat ngumpul. Ruangannya terlalu ramai sama dokumen yang antah berantah itu. Kalau Ik Jun sudah jelas, doi lebih suka berpetualang di setiap ruangan di rumah sakit wkwkwk. Ik Jun memang lebih cocok jadi Duta Persahabatan Rumah Sakit Yulje. Jangankan duta persahabatan, jadi duta asmara antar dokter juga bisa. Selain adegan makan-makan, di tiap episodenya kalian juga akan melihat para dokter ini ngeband bareng. Lagu-lagunya juga enak-enak dan bikin baper tiap episodenya. They are really talented doctors who can sing and play instrumental musics. 



C.    Drama Yang Mengajarkan Penonton Untuk Lebih Banyak Bersabar

Harus saya akui kalau drama Hospital Playlist memang banyak mengajarkan kesabaran kepada penonton setianya. Durasi dramanya saja satu jam lebih tapi tau-tau abis kayak nonton MV doang. Habis itu, kita harus nunggu lagi seminggu lamanya buat nonton. Pas nonton eh gak berasa udah selesai, pokoknya begitu terus tiap minggunya sampai Hospital Playlist season 1 tamat di episode 12. Episode Hospital Playlist juga cuma 12 beda sama drama lainnya yang kebanyakan 16 episode. Past tamat semalam, kita malah disuruh nunggu lagi selama setahun untuk season 2. Seminggu aja sudah gregetan nungguin lanjutannya, gimana nunggu setahun T_T. Ini tuh memang jenis drama yang bikin penontonnya keseret arus cerita kayak lagi main di pantai. Tanpa sadar tau-tau sudah main di tengah laut aja. Tapi ya sudahlah, paling tidak satu kapal telah berlayar di Hospital Playlist season 1. Biarkan writer nim berkarya untuk Hospital Playlist season 2 dan 3.


Friday, 15 May 2020

Find Me in Your Memory (Review)


Hello para readers sekalian! Welcome back to my review board again. Kali ini saya akan mereview sebuah drama dari MBC lagi tetapi dengan genre yang berbeda dari review saya sebelumnya. Kalau sebelumnya kalian pusing tujuh keliling akibat plot dari 365: Repeat The Year yang sangat menguras mental dan emosi itu, maka kali ini MBC memberikan sebuah penawar untuk otak kalian yang sangat butuh keuwu-uwuan yang tak kalian dapatkan di drama-drama sebelumnya. So, adapun drama yang akan saya bahas kali ini adalah drama yang berjudul Find Me In Your Memory.

Ok, tanpa perlu berlama-lama lagi langsung saja kita review drama bergenre fantasi, misteri dengan taburan bumbu romancenya yang kental ini. Untuk kalian yang butuh drama ringan serta romantis dengan konfik yang gak berat-berat amat kayak jenis drama yang lagi ramai saat ini maka saya sangat merekomendasikan drama Find Me In Your Memory Ini. Daripada kalian tersiksa batin terus tiap minggu liat kisah hidupnya Ibu Dok di The World of The Married, mending nonton drama ini deh untuk menstabilkan mood kalian. Atau mungkin kalian capek nangis sesegukan gara-gara ngikutin drama Hi, Bye Mama, maka drama ini bisa jadi obat penenang untuk menceriakan kembali hati kalian. Lebih-lebih kalau kalian puyeng ikutin alur dramanya 365: Repeat The Year sama Memorist, mending nonton drama ini saja lah guys.  

Ada beberapa alasan mengapa drama ini menjadi salah satu drama yang seharusnya tidak Anda lewatkan tahun ini. Pertama,  karena jalan ceritanya itu kayak vibe drama-drama tahun 2010an 2011an, jadi kalian bisa nostalgia ke eranya drama-drama bucin yang ceritanya benci jadi cinta gitu lewat nonton drama ini. 

Kemudian, inti dari drama ini itu menceritakan tentang sosok Lee Jung Hoon yang merupakan seorang pembawa acara atau berita pada stasiun TV nomor satu di Korea bersama Yeo Ha Jin yang merupakan artis popular di Korea. Yang menarik ialah, karakter Lee Jung Hon atau yang sering disebut Anchor Nim ini sangatlah dingin. Karakter Anchor nim ini sudah kayak perwakilan sosok cowok drama Korea pada umumnya lah yang ala-ala cool, tamvan, smart dan karismatik begitu. Pokoknya karakter cowok macam begini itu udah mulai langkah lah di drama Korea jaman jigeum. Anchor Nim ini itu macam cowok dalam drama-drama angkatan BBF gitu lah. Bisa dibilang sosok dari Anchor Nim ini tuh ibarat Mbak Najwa Shihab versi cowok kalau lagi wawancara sama tamunya di Mata Najwa. Kalau ada tamu di program TV-nya Anchor Nim pasti langsung kena K.O gara-gara pertanyaan dan pernyataannya yang jinja pedas kayak Siwon makan Mie Sedaap.

Dannn, karakter Anchor Nim ini sangatlah jauhhh berbeda dengan sosok Yeo Ha Jin yang asli pecicilan dan super cerewet. Kalian pasti sudah ngebayangin kan kayak gimana lucu dan mengemaskannya couple ini lewat perbedaan karakternya itu.  Saya memastikan jika kalian akan senyum-senyum sendiri kalau nonton drama ini. Ada banyak scene uwu-uwu yang membuat kalian tambah bucin sama Anchor Nim dan mbak Ha Jin ini. Sosok super cuek dan dinginnya Anchor nim yang tiba-tiba jadi bucin sejatinya mbak Ha Jin bakal bikin kalian makin gemas sendiri selama nonton tiap episodenya. Sampai-sampai netizen di twitter sudah pada halu pengen cowok idaman kayak Anchor Nim wkkwkw. Ya, bagaimana penonton gak bucin juga sama Anchor Nim kalau doi sudah diputusin berulang kali pun masih tetap setia sama mbak Ha Jin. Bahkan ditinggal pergi dua kali puasa dua kali lebaran sama Mbak Ha Jin di Amerika saja, Anchor Nim tetap setia nunggu loh. Kalau di drama The Guest Anchor Nim sibuk ngejar-ngejar Park Il Do, di drama Find Me in Your Memory ini doi malah sibuk ngejar-ngejar mbak Ha Jin. Jadi, pacar kamu Ganteng? Kaya? Tapi bisa kayak Anchor nim gak? Wkkwkw

Oh iya, selain bucin sama drama ini, kalian juga akan bucin sama soundtracknya. Ost-nya Find Me In Your Memory memang bagus-bagus. Pokoknya cocok buat kalian yang lagi bucin atau dilanda asmara macam Anchor Nim.  Nahhhh, tidak lupa juga saya menambahkan sebuah saran untuk kalian. Bagi anda-anda yang sedang rindu sama ektingnya mas Park Yoochun bisa liat mukanya Anchor Nim di drama ini. Hitung-hitung sebagai obat rindu sama Park Yoochun. Mukanya Anchor Nim mirip banget woii sama Park Yoochun.    


Wednesday, 29 April 2020

365: Repeat the year (Review)




Halo, halo! Welcome back to my review board again para readers sekalian! Well, pada kesempatan kali ini izinkanlah saya untuk membahas sebuah drama dari MBC yang bikin pusing tujuh keliling para penontonnya. Kalau kalian mengikuti drama ini pasti juga merasakan hal yang sama dengan saya. Yup, drama tersebut tak lain dan tak bukan adalah drama Korea yang berjudul 356: Repeat the year. 


Dannnn pada akhirnya, drama yang bergenre misteri, fantasi, thriller, kriminal yang bikin pusing tiap episodenya ini telah menemukan endingnya dengan total 24 episode. Nah, karena dramanya sudah tamat maka tibalah saatnya saya untuk memberikan ulasan mengenai drama yang katanya underrated ini but actually really worthy for me.  

A.   Drama Kriminal yang Kurang Menegangkan tapi Malah Bikin Pusing

Sekedar saran untuk kalian yang sedang berencana untuk menonton drama ini. Jangan pernah mengharapkan banyak adegan sadis dan plot yang bikin dag dig dug macam drama misteri thriller lainnya. Saya sendiri memiliki ekspektasi yang sangat tinggi dengan akan banyaknya adegan-adegan yang menegangkan dan penuh pertumpahan darah di episode satu drama 356: Repeat the year ini. Sayang seribu sayang, tegang kagak, pusing iya kwkwkw. Bagaimana saya tidak pusing kalau setiap episode saya harus mikir keras tentang siapa dalang dari semua kasus pembunuhan di dalam drama ini. Intinya drama ini bikin otak saya bekerja keras untuk menebak apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang akan terjadi selanjutnya. Trust me, it's really unpredictable drama.  

B.    Drama Misteri yang Bikin Suudzon Sama Semua Pemainnya

Setiap episode memang benar-benar menguras pikiran tentang siapa dan apa tujuan sebenarnya dari kesepuluh orang yang ikut melakukan “reset” atau perjalanan waktu ke masa lalu tersebut. Semuanya gak ada yang bisa dipercaya. Di awal-awal episode, saya mencurigai kalau nyonya Lee Shin lah yang menjadi dalang utama dari semua kasus pembunuhan. Di antara mereka bersepuluh ya memang beliau yang paling mencurigakan di mata saya. Salah satu alasannya ya karena beliau adalah satu-satunya orang yang memimpin sekaligus mengatur semua proses reset tersebut di rumah sekaligus tempat prakteknya itu. Ya wajar juga doi difitnah jadi pelaku, klinik tempat prakteknya saja sudah bikin suudzon, soalnya besar dan luasss sekaleeee. Kalau saya masuk buat konsultasi ke klinik Zian, kayaknya saya butuh guide deh. Takut kesasar soalnya, banyak labirinnya dan terlalu misterius. Baru kali ini juga saya liat tempat praktek model istana kepresidenan begitu. Namun,  dibalik pribadi nyonya Lee Shin yang mencurigakan dan misterius itu, ternyata beliau bukanlah pelaku utama di drama ini.  Gara-gara main tunjuk-tunjuk pelaku dan saling mencurigai di antara kesepuluh orang ini, penonton pun jadi ikut-ikuttan main tuduh-tuduh juga. Lalu, pada akhirnya, acara tebak-tebakkan pembunuh pun berlanjut terus di setiap episodenya. Bukannya malah menebak siapa pelaku sebenarnya, saya malah curiga kalau cerita di drama ini hanyalah kisah yang ditulis oleh Shin Ga Hyun di webtoonnya. Netizen di twitter juga banyak yang beranggapan kalau Detektif Hyung Joo adalah pelaku dari semua kasus pembunuhan yang terjadi karena terinspirasi dari webtoonnya Shin Ga Hyun. Tapi, ternyata asumsi tersebut salah lagi. Ya gimana drama kriminal ini mau menegangkan kalau setiap episode saya malah kebanyakan emosi plus garuk-garuk kepala. Tiap episode saya cuma malah tambah dosa karena suudzon dan memfitnah semua pemeran dan pemain drama 365: Repeat the year. Kayaknya saya lebih banyak dosa nonton drama ini deh dibandingkan nonton drama The World of The Married wkwkwk.  

C.    Jangan Pernah Mengharapkan Romance di Dalam Drama ini

Pas nonton episode terakhir, saya kira saya akan menemukan sedikit scene romance antara Hyung Joo dengan Ga Hyun. Kenyataannya, secuil pun tak ada harapan akan terwujudnya pasangan kekasih dalam drama ini. Kalau tidak ada scene romance antara mereka berdua, paling tidak adalah yah dialog dari mereka yang menjurus ke persoalan hubungan asmara. Sayangnya, sampai episode terakhir pun writer nim tak memberikan tanda-tanda akan kemunculan api asmara itu. Sepertinya, mereka memang hanya ditakdirkan untuk menjadi sepasang sahabat di dalam drama ini, bukan sebagai sepasang kekasih. Meskipun happy ending tapi entah kenapa saya malah nyessek liat ending drama 365: Repeat the year ini. Ternyata, Hyung Joo lebih memilih untuk memutar waktu demi menyelamatkan Ga Hyun tetapi dengan resiko mbak Ga Hyun tidak akan mengingat semua kenangan yang mereka pernah lewati sebelumnya. Lihat ending scene yang satu ini kok bikin saya bapper dan sedih yah. Sudah macam scene-nya Kimi No Nawa T_T


It will be great if 365: Repeat the year will have season two or special episodes for Hyung Joo and Ga Hyun.
 The fact that they ended without being a couple is make me sad but the lovely thing from Hyung Joo and Ga Hyun relationship is about their friendship, yah the eternal friend even they have to reset the time again. I also will be glad if in another reset they can be more than friends again.  

Something that you should make a bold is this drama also proved that having one friend is better than having many friends around you. Don’t trust too much to anyone!    


Thursday, 9 April 2020

Itaewon Class (Review)




 Itaewon Class


Hello readers and welcome back to my review board again. Kali ini saya akan membahas salah satu drama yang sudah tamat pada tanggal 21 Maret lalu tapi masih saja hangat untuk dibahas hingga hari ini. Ya, drama tersebut tak lain dan tak bukan adalah drama Itaweon Class yang merupakan drama yang diangkat dari webtoon dengan judul yang sama.

Kebetulan saya nontonnya telat jadi saya juga baru bisa ikut nimbrung sama euphoria Park Seo Ri baru-baru ini. Kehebohan dan keseruan dari drama ini ternyata tidak hanya dirasakan oleh rakyat jelata kayak saya dan kalian-kalian yang lagi baca blog saya ini. Ternyata demam Park Seo Ri juga sudah melanda beberapa artis dan influencer di tanah air sebut saja Jerome Polin, Vidi Aldiano, Prilly Latuconsina hingga Pangeran Siahaan. Karena timeline di berbagai sosial media saya sudah heboh membahas drama baru dari Park Seo Joon ini, akhirnya saya pun memutuskan untuk marathon 2 malam menghabiskan drama ini. Pokoknya saya tidak mau ketinggalan sama demam Itaewon Class.

Well, dalam drama ini ada beberapa hal yang sangat menarik sehingga saya betah marathon ngehabisin drama ini cuma 2 malam. Yang pertama ialah karena style rambut kastanye dari Park Seo Joon yang menurut saya aneh tapi entah kenapa doi tetap tamvan dan karismatik di dalam drama ini.  Dan yang paling membuat saya betah nonton drama ini adalah karakter Jo Yi Seo yang diperankan oleh Kim Da Mi. Sejujurnya, saya kurang greget sama 2 episode awal dari drama ini. Terlalu membosankan menurut saya. I mean the plot is too classic. Kisah bullying anak SMA, cinta pertama anak SMA, terus konfliknya juga sudah bisa ditebak tentang kisah balas dendam si Park Seo Ri ini. Namun, setelah melihat ekting Kim Da Mi sebagai sosok Jo Yi Seo saya langsung ngefans sama doi. 

Karakter sebagai anak cerdas tapi berpenampilan suweg dengan gaya rambutnya yang super stylish itu membuat sosok Jo Yi Seo ini menjadi topik pembicaraan di kalangan pecinta drakor. Tak hanya itu, hal menarik lainnya dari Jo Yi Seo di dalam drama ini adalah karena sosoknya yang merupakan bucin sejati dari Park Seo Ri. Wah, kira-kira ada ndak yah model cewek kayak si Jo Yi Seo di dunia nyata yang rela mati-matian melakukan apapun demi menunjukkan dan membuktikan cintanya. Sudah ndak lanjut kuliah, berantem sama Ibunya, kerja mati-matian dari pagi sampai malam di kedai DanBam eh masih belum dinotice pula cintanya sama si Park Seo Ri. Parahnya lagi, Jo Yi Seo pernah ditolak secara langsung di hadapan teman-temannya sama di depan cinta pertamanya Park Seo Ri. Asliiii, si Park Seo Ri ini memang cowok ndak peka. Terlalu sibuk ngejar si Soo-ah dengan berusaha menjadi pebisnis kaya raya  sampai lupa kalau yang bantuin doi sampai bisa kaya itu yah si Jo Yie Seo. Saya hampir mau stop nonton gara-gara gemmes sendiri sama kelakuan Park Seo Ri. Untung cintanya Jo Yie Seo tidak bertepuk sebelah tangan meskipun sudah ditolak berkali-kali. Bayangkan pemirsahh, dari 16 episode, cintamu baru dinotice di episode terakhir. Writernya memang kebangetttan, untung Itaewon Class happy ending.  

Bukan cuma soal karakter sama style para cast Itaweon Class yang membuat drama ini digemari oleh banyak orang, tetapi juga  tentang kisah perjuangan mereka dalam membangun sebuah usaha dan bisnis.  Drama ini benar-benar menggambarkan bagaimana kesuksesan sebuah usaha itu memang memiliki proses yang panjang dan tidak instant. Mesti berdarah-darah dulu, harus punya konflik antar rekan kerja dulu, dan juga mesti merasakan yang namanya gagal dan kecewa dulu. Namun, pada akhirnya usaha dan tujuan yang jelas tidak akan pernah mengkhianati hasil. Bagi kalian anak-anak start up atau yang lagi niat buat buka usaha, coba deh nonton Itaewon Class. Anggap saja ambil kelas bisnis 16 SKS lewat jalur drakor.      


Well, saya rasa cukup sekian keluh kesah saya setelah marathon Itaewon Class. Kalau kalian punya kesan apa setelah nonton drama ini?  


Saturday, 4 April 2020

Onward (Review)




Hei Readers welcome back to my blog again. Sudah lama rasanya tidak menyapa kalian lewat tulisan saya di blog. Hmmmm anyway how are you guys?  I know it is hard to say that I am okay but yeah we have to face the hard life right now. Saya sangat tahu jika kalian memang sedang tidak baik-baik saja but I do hope you are getting better than yesterday.

Well Readers, di tengah riwehnya kehidupan dunia beserta penghuninya ini karena wabah covid-19, saya berharap kalian masih tetap semangat menjalani dunia ini. Jika kalian adalah bagian dari #Stayathome and #Workfromhome club, I really really respect you guys. Bekerja dan tetap menetap di dalam rumah untuk batas waktu yang belum ditentukan bukanlah hal yang mudah. Bosan, jenuh dan malah tambah stress karena terbiasa dengan rutinitas di kantor mungkin akan menghantui hari-hari kalian para pejuang stay at home. Dan untuk kalian yang tetap harus bekerja di luar sana untuk mencari nafkah, tetap semangat, jaga diri dan tetaplah dalam keadaan sehat. Semoga keadaan ini dapat berlalu sesegera mungkin. Anggap saja ini adalah giliran bumi untuk menyembuhkan dirinya yang sudah lama sakit karena ulah kita sendiri.

Dannnn karena saat ini kita masih berada dalam tema stay at home, maka ada baiknya bagi kalian yang tinggal di rumah untuk memanfaatkan moment yang jarang terjadi ini. Kalian bisa baca buku yang sudah lama numpuk di rak, bantu-bantu orang tua di rumah, atau mungkin menghabiskan drama Korea yang episodenya berlapis-lapis itu.

Dannnn jika kalian memang pecinta nonton, maka izinkanlah saya merekomendasikan sebuah film animasi  terbaru dari Pixar-Disney di tahun 2020 ini yang berjudul Onward.  Kalau nyebut-nyebut film animasi besutan Pixar, saya sendiri sudah percaya kalau hasilnya pasti akan mind blowing. Karya-karya Pixar ini memang selalu bikin hangat kalau ditonton.

Bisa dibilang film dari Pixar yang terakhir saya nonton itu cuma Inside Out, kalau Finding Nemo sama Cars kan sudah sering sliweran di TV. Kalau Coco, Brave dan kawan-kawannya itu belum sempat saya nonton. Karena kebetulan Onward ini adalah film baru dari Pixar di tahun ini dan temanya juga tentang wizarding world maka saya pun penasaran untuk segera menontonnya. Yeah, I am definitely a devotee of a wizarding world story.

Film ini berkisah tentang dunia sihir yang sudah mulai punah karena kemajuan zaman yang tidak lagi membutuhkan keajaiban sihir. Tokoh-tokoh di dalam film ini juga cukup unik seperti elf, naga, unicorn, dan karakter dunia khayalan anak-anak lah pokoknya. Singkat cerita, dunia yang penuh keajaiban itu pun berubah ketika dua saudara laki-laki yang bernama Ian dan Barley telah menginjak usia 16 tahun dan mendapatkan hadiah tak terduga dari ayahnya yang telah lama meninggal. Mereka diwariskan sebuah tongkat sihir dengan sebuah permata phoenix. Demi menghidupkan ayahnya kembali, kedua saudara ini rela berpetualang mencari permata phoenix. Dannn kemudian, petualangan pun dimulai. Berbagai halangan dan konflik harus mereka lalui demi menemukan sang permata phoenix. Karakter-karakter yang ada di dalam film ini juga lucu-lucu dan absurd, hal ini yang menjadikan plotnya juga tambah seru.

Overall, I just want to tell you guys that cerita petualangannya memang sangattt seruuuuu! Sudah lama rasanya tidak nonton animasi yang penuh petualangan. Pas nonton ini saya jadi ingat jaman-jaman SD dulu yang selalu setia nungguin serial Barbie sama pangerannya yang juga suka berpetualang sama mahluk-mahluk ajaib. Onward yang keluar di tahun 2020 ini jadi kayak semacam obat nostalgia bagi saya yang rindu film animasi jaman SD kayak Disney dan juga animasi Nickelodeon lainnya. Jadi, buat kalian yang suka film animasi silahkan segera meluangkan waktunya untuk nonton Onward, apalagi di keadaan stay at home kayak begini, atmosfirnya benar-benar sudah berasa kayak hari libur jaman SD. Holiday vibenya kayak natal atau tahun barulah rasanya, apalagi kalau kalian nonton bareng keluarga. I am not lebay but it’s true, cerita di dalam film Onward really really emotional. Yeah you know lah Pixar, animasinya selalu menguras emosi dan bikin mata berkaca-kaca. Pokoknya Onward ini film keluarga yang layak untuk ditonton deh di saat-saat seperti ini. Kisah dari Ian dan Barley ini benar-benar menyentuh lah istilahnya. I mean they have a good connection one another in this movie. 

Anyway, di film ini Ian memang terlihat sebagai the main character of Onward karena memang Ian yang memegang kendali kekuatan dari tongkat sihir tersebut but for me Barley is still the main character in Onward (For me yah, dunno about you). Barley benar-benar menggambarkan “Onward” itu sendiri lewat perannya sebagai kakak yang ugal-ugalan tetapi tetap selalu berani, yakin dan bertanggung jawab dalam setiap hal yang ia lakukan. By the way I also have favorite quotes in this movie, bunyinya kira-kira kayak begini,

“Long ago, the world was full of wonder. It was adventurous. There was magic. But it wasn’t easy to master. So the world found a simpler way to get by. But I hope there’s a little magic left in you."

“Dahulu kala, dunia penuh dengan keajaiban. Itu penuh dengan petualangan. Ada keajaiban. Tapi itu tidak mudah untuk dikuasai. Sehingga dunia menemukan cara yang lebih sederhana untuk bertahan. Namun, saya berharap masih ada sedikit keajaiban yang tersisa pada dirimu.”

Like the last sentence of the quotes I also want to say to you Readers. Di tengah keadaan dunia yang seperti ini saya juga berharap masih ada keajaiban yang tersisa di dalam diri kalian. Actually, saya kadang tidak mempercayai sebuah keajaiban, akan tetapi keajaiban kadang datang meyakinkan diri saya sendiri lewat orang-orang di sekitar saya. So, if you are sick please get well very very soon karena banyak orang yang menantikan kepulihanmu. If you are disappointed with something please be patient karena tidak semua hal terjadi harus sesuai dengan apa yang kamu inginkan, you just need to face it. Then, if you are sad please stay stronger cause I know you can.   


Well, I think cukup sekian bacotan saya yang sangat random ini. Do hope I can post another review again soon. Thank you and stay safe guys!  

Monday, 24 February 2020

Romantic Doctor Season I (Review)


 Romantic Doctor Season I


Hello para readers sekalian! Welcome back to my review board again. Wahhh, rasanya sudah lama juga yah saya melakukan hibernasi di bagian review film dan juga drama. Berhubung beberapa waktu belakangan ini saya sok sibuk urus kewajiban negara, akhirnya saya pun tidak punya waktu banyak untuk menonton film dan juga drama-drama yang sliweran di mana-mana. Padahal beberapa judul film dan drama sudah saya masukkan di wishlist untuk saya nonton secepatnya. Namun, apa mau dikata ketika takdir berkata lain (Ceilehhh). Ho’oh, iya beneran, saya bener-bener sudah siap lahir batin bahkan tissue sama cemilan juga saya sudah persiapkan untuk fokus nonton drama but like what I have said, I need to skip those dramas and movies for doing other important, crucial, essential things. Ya pokoknya saya wajib hibernasi nonton dulu demi keberlangsungan hidup saya yang aman, adil, makmur dan sentosa di masa depan.

Thennnn, karena masa-masa itu telah berakhir dan saat ini pun saya sudah berada di posisi gabut untuk beberapa minggu kedepannya (Maybe), maka perkenangkanlah saya untuk mereview salah satu drama yang baru saja saya nonton. Setelah hibernasi yang panjang itu akhirnya saya memutuskan untuk memilih menonton drama dengan tema medis kembali wahai para readers sekalian. Kenapa bergenre medis? Kenapa bukan yang romantis atau komedi? Alasannya tak lain dan tak bukan karena mood saya lagi demen-demennya sama yang genre serius macam voice, partners for justice dan kawan-kawannya itu.

Adapun pilihan drama yang akan saya review kali ini jatuh kepada Romantic Doctor season I. Awalnya sih saya pikir drama ini tuh judulnya doang yang ada romantis-romantisnya, daku mengira drama ini isinya akan seirama dengan drama voice, duel atau pun partner for justice yang sama sekali tidak menyajikan banyak scene romantis yang sebenarnya sangat amat dibutuhkan oleh para pecinta oppa-oppa di seluruh tanah air. Beruntunglah, di drama Romantic Doctor ini, writer nim memenuhi asupan gizi kepada kita semua dengan hadirnya pasangan yang benar-benar pasangan yang menjadi pasangan kekasih di drama ini (Ngomong apaan sih!).

Well, drama Romantic Doctor ini sendiri berkisah tentang seorang ahli bedah terkenal yang bernama Dr. Bong Yong Joo. Namun, karena adanya kasus yang merusak namanya akhirnya beliau pun menghilang dari rumah sakit yang telah membesarkan namanya itu. Dr. Bong Yong Joo memutuskan menghilang dari kehidupan kota Seoul dan pindah ke sebuah tempat terpencil. Di tempat terpencil inilah beliau melanjutkan karirnya sebagai seorang dokter bedah pada sebuah rumah sakit kecil dengan peralatan yang sangat minim serta tenaga medis yang sangat kurang. Di rumah sakit kecil ini pulalah Dr. Bong Yong Joo kemudian bertemu dengan orang-orang luar biasa dalam dunia medis.

Singkat cerita, meskipun rumah sakit tersebut terbilang kecil akan tetapi para dokter dan tenaga medis yang bekerja di tempat tersebut sangat luar biasa dalam melakoni pekerjaannya sebagai orang-orang yang merawat dan menyelamatkan pasien. I mean they really work as a doctor and nurse, they use their status and position pure to help the patients. Yah you know lah, banyak dokter yang masih sangat-sangat “komersil” dengan pekerjaannya. Terlepas dari kisah antar pemain maupun peran yang dimainkan oleh setiap aktor dan aktris di dalam drama ini, jujur hal yang bikin saya selalu tertarik untuk menonton tiap episode drama ini hingga selesai adalah tentang bagaimana para dokter dan tenaga medisnya memperlakukan pasiennya. Banyak pesan moral di tiap episode yang menohok bagi saya pribadi.  Walaupun profesi dan latar belakang saya bukanlah seorang ahli medis however, every quotes or conversations in this drama are so related with my daily life. Yah, banyak adegan yang membuat saya melihat kembali kehidupan yang sedang saya jalani ini. Intinya saya kebanyakan ngangguk-ngangguk gitu habis nonton tiap episode drama ini.

Sebut saja sebuah adegan yang cukup menohok saya yang terjadi di awal cerita di mana pada episode tersebut seorang pasien VIP yang memiliki status serta nama yang besar lebih didahulukan oleh pihak rumah sakit dibandingkan pasien-pasien yang lebih dulu datang. Kejamnnya diskriminasi terlihat jelas sekali di dalam drama ini. Ya sama dengan kejadian sehari-hari di sekitar kita, kalau kamu punya orang dalam dan punya nama besar ya secara otomatis biasanya kamu akan didahulukan. Intinya urusan kalian akan dipermudahlah. Bagi saya pribadi sih, punya orang dalam dan nama besar itu bonus dari hasil kerja keras kita yang membuat kita menjadi sukses atau mungkin karena memang percik-percik kekayaan yang keluarga kita miliki dari sononya. Sayangnya, banyak orang yang semena-mena dengan kelebihan yang dimilikinya itu. I mean if you have a power please use it wisely and please don’t too much over in using it. Dannn secara kebetulan beberapa waktu yang lalu saat saya berkunjung ke rumah sakit untuk melakukan sebuah perawatan, seorang pejabat malah dengan bangganya minta dilayanin duluan, untung-untung kalau bayar pake BPJS eh ini malah main gratis-gratis segala. Yeah, this is a life, willy nilly we will face this kind of case like this. On the contrary, dari drama ini saya juga belajar banyak jika urusan menangani pasien tidaklah dilihat dari urutan kedatangannya melainkan juga dari segi daruratnya keadaan pasien tersebut. Saya sangat suka dengan karakter Dr. Bong Yong Joo a.k.a Kim Sabu di drama ini di mana beliau benar-benar menunjukkan ketulusannya sebagai seorang dokter untuk merawat pasiennya tanpa pandang bulu. Mau kaya, mau miskin, anak-anak, orang tua, pokoknya pasien yang paling membutuhkan perawatan harus tetap diutamakan.  

Ada quotes yang saya sangat suka dalam drama ini, bunyinya kira-kira kayak begini “Hidup adalah tentang beralih ke jalan yang berbeda. Kau harus menghadapi kenyataan yang ada di depanmu. Jangan menyerah untuk terus bertanya tentang mengapa kita hidup dan apa tujuan kita hidup”. Habis dengar pernyataan Kim Sabu ini saya auto ngelamun mengingat-ngingat eksistensi saya di muka bumi. Apa iya saya harus ikut alur kehidupan yang sebenarnya saya tidak suka? Apa iya saya tidak bisa melawan ketidakadilan di depan mata saya karena status atau keadaan saya yang memang tidak mengharuskan saya untuk melakukan itu? Dan apa iya saya ada di dunia ini cuma numpang makan, minum, tidur terus mati? 

Nonton drama ini memang membuat saya lebih banyak untuk introspeksi diri sambil ngangguk-ngangguk. Drama ini juga membuat saya semakin bercermin jika saya hidup memang tidak hanya sekedar untuk menghidupi diri dan emosi saya sendiri tetapi juga untuk membantu dan menolong orang lain. Satu hal yang saya sukai pula dalam drama Romantic Doctor season satu ini, saya sangat suka dengan kerja sama tim para dokter dan tenaga medisnya. It’s such my big dream to have a dream team to work like them. Tentu sangat keren sekali  jika saya memiliki rekan kerja yang sefrekuensi serta sevisi dengan saya. It sounds dope right? Do hope it will come true soon!   

Well, cukup sekian dulu review drama Romantic Doctor season satu, just wait for the next review board for Romantic Doctor season two. Ijinkan saya marathon nonton season duanya dulu. Bye!  




Tuesday, 2 July 2019

VOICE SEASON 3 (Review)





Hello para readers sekalian. Welcome to my review board again. Well, kali ini saya akan membahas drama bergenre thriller dari OCN, sang channel kesayangan para pecinta drama-drama creepy dan menegangkan di seluruh dunia ini. Kalau kalian pecinta drama Voice season satu sampai season tiga, saya bisa pastikan saat ini mata anda masih berkaca-kaca, di kepala anda muncul sangat banyak tanda tanya dan tentu saja ada rasa sakit yang mendalam setelah menyaksikan ending VOICE 3 ini. Tenang, kalian tak sendirian, ada saya juga yang masih speechless liat ending VOICE 3 barusan.

Berbeda dengan season-season sebelumnya yang memiliki ending sangat-sangat mengesankan, khusus season ini saya melihat ada banyak varian rasa yang muncul dari kepala penonton setelah menyaksikan akhir dari drama VOICE 3. Ya, bagi saya ending drama ini juga cukup mengesankan sekaligus sangat-sangat menyesakkan. Bagaimana tidak menyesakkan, wong aktor andalan saya di serial ini harus di tembak mati secara tragis di akhir cerita T_T. Tentunya, bukan saya saja yang ingin sambat ending VOICE 3 ini. Ada banyak penikmat drama ini yang telah meluapkan emosi dan tangisannya kepada sang writer nim di Twitter. Mereka tidak rela melihat Lee Jin Wook meninggal dengan cara seperti itu. Bayangkan saja dari season dua sampai season tiga tamat doi tersiksa terus. Pokoknya Do Kang Woo nasibnya malang sekali di drama ini. Sudah di fitnah dua season, tersiksa batin dan mental eh ujung-ujungnya ditembak mati. Gimana hati ini kagak potek writer nim T_T

Selain ending tragis season 3, para netizen juga heboh dengan munculnya banyak teori mengenai drama ini. Setelah melihat epilog season 3 yang tiba-tiba memunculkan Bang Jee Soo membawa senapan super besar, banyak yang beranggapan bila Do Kang Woo sebenarnya tidak ditembak oleh pihak SWAT kepolisian Korea melainkan oleh Bang Jee Soo. Kehadiran Bang Jee Soo ini juga ramai dibahas oleh netizen di Twitter karena mengira Bang Jee Soo sudah tewas terbunuh. Saya termasuk yang tidak percaya kalau Bang Jee Soo meninggal saat itu soalnya waktu lompat ke sungai mayatnya tidak ditemukan dan memang tidak ada pemberitahuan dari pihak kepolisian kalau doi tewas. Dan ternyata memang betul doi muncul di epilog bersama seorang perempuan yang sedang bermain piano. Lagi dan lagi banyak teori tentang perempuan yang menemani kemunculan Bang Jee Soo di epilog ini. Ada yang bilang perempuan itu adalah Ibu dari Kaneki dan Do kang Woo. Ada pula yang menanggap bila sosok perempuan ini akan menjadi psikopat baru di season 4. Fuhhhhhhh kayaknya tiga psikopat ganteng harus dilengkapi dengan seorang psikopat wanita juga di season 4 nanti. Dan teori terakhir dari saya sendiri adalah akan hadirnya kembali sosok Moo Tae Go di season 4 nanti sebagai otak dari semua kasus pembunuhan keji ini. Loh bukannya Moo Tae Go sudah mati? Saya sendiri ndak yakin beliau mati waktu di Rumah Sakit soalnya tak ada kabar juga kalau beliau mati. Kalau teori saya ini betul, berarti season 4 nanti bakal hot sekali dengan kumpulan psikopat-psikopat kecenya. Kalau bisa jangan psikopat-psikopatnya saja yang reunian, saya juga mau Yesung kembali menjadi bagian dari Golden Time Team. Kenapa? Soalnya, kehadiran-kehadiran para sosok tak terduga ini akan membuat season 4 makin seru, selain itu writer nim nya juga aman lah dari cacian pemirsa yang tak ikhlas kapten Do meninggal dan tak muncul lagi di season 4. Saya sih berharapnya, Do Kang Woo cuma ngeprank di ending season 3 kemarin terus masih muncul di season 4 hehe. 

Well, saya rasa cukup demikian uneg-uneg saya tentang drama VOICE SEASON 3 ini. Bagaimana dengan kalian? Any other theories? 


Sunday, 24 March 2019

The Light in Your Eyes (Review)


https://filmsinopsisid.blogspot.com/2019/01/sinopsis-drama-korea-light-in-your-eyes.html


Di tahun 2019 ini ada banyak sekali drama Korea baru yang bermunculan. Saya sampai bingung mau nonton yang mana. Padahal sejak Januari kemarin TL saya sudah penuh sama spoiler-spoiler drama-drama seru dari netizen. Setelah cek per cek semua drama on going a.k.a baca synopsis, liat teaser, plus kepoin pemainnya eh saya malah tambah bingung lagi mau nonton yang mana duluan. Ujung-ujungnya sampai drama-drama tersebut the end pun saya belum ada niatan sama sekali untuk nonton. To be honest, semua drama Korea itu seru. Drama Korea bagi saya itu EXTREMELY kece, mungkin karena saking bagusnya banyak pecinta drama maupun film Korea jadi pusing mau nonton yang mana kayak saya sendiri. Dan berhubung sudah sampai Maret dan saya sama sekali belum nonton drama Korea tahun ini, akhirnya saya pun memutuskan untuk mencari sebuah drama yang berkesan sebagai drakor opening 2019 saya. Ada banyak genre drakor yang berkeliaran, mulai fantasy, romance, crime dan lain sebagainya. Bisa dibilang tahun 2018 kemarin saya kebanyakan nonton drama romance plus crime yang berat-berat itu so, untuk mengawali tahun ini saya mencoba untuk mencari drama genre yang berbeda dari sebelumnya.

Setelah lelah ubek-ubek drama di berbagai web drama, saya kembali ke twitter buat baca-baca koment netizen tentang drama seru tahun ini. SKY Castle dan The light in Your Eyes memang paling trending topic menurut mata pertwitteran saya. Dua drama rekomendasi bacotan netizen di twitter ini akhirnya menjadi bahan pertimbangan saya. Dan kemudian setelah menimbang-nimbang beban cerita, pemain, dan tentunya review netizen, pilihan saya pun jatuh kepada The Light In Your Eyes. Kenapa bukan SKY CASTLE? Karena Nam Jon Hyuk sama Ha Ji Min maennya di The Light in Your Eyes. Hehe, iya saya penasaran sama ekting mereka di sini. Apalagi setelah baca komen-komen orang yang katanya drama ini anprediktibel dan bikin mewek. Hmmm, sejujurnya saya sudah lama nggak nangis tengah malam gara-gara drakor. Saya juga sudah lupa drama apa yang terakhir kali membuat saya kehabisan tissue. Because of those reasons, I prefer to watch The Light in Your Eyes. Saya mau penyegaran jiwa lewat nangis-nangis dulu kayak orang habis pengakuan dosa.

Sebenarnya drama ini sudah tayang sejak Februari awal dan habis waktu tanggal 19 Maret kemarin. Saya pun nontonnya pas drama ini sudah the end, jadinya cuma marathon dua malam. Ok, well, yang membuat saya tertarik buat nonton drama ini itu sebenarnya bukan hanya soal pemain-pemainnya tapi juga soal ceritanya yang bikin saya penasaran. Drama ini sendiri berkisah tentang seorang wanita yang berusia 25 tahun yang tiba-tiba mendapati dirinya menjadi wanita berusia 70 tahun karena sebuah arloji. Yup, Han Ji Min yang berperan sebagai Kim Hye Ja versi muda di drama ini mampu mengubah waktu lewat sebuah arloji. Awalnya saya mengira kalau drama ini itu tentang fantasy semacam Secret Garden, Gomiho dan sejenisnya itu, eh ternyata drama ini benar-benar jahannam dengan beraneka plot twitsnya itu pemirsahh. Banyak yang bilang episode 10 sampai 12 dari drama ini bikin nangis sesegukan but—BIG NO for me. For your information, saya sejak episode 1 sampai 12 nangis terus malahan. Atau mungkin saya yang terlalu mellow dan cengeng kali yah. Intinya selama nonton drama ini itu benar-benar penyegaran untuk mata dan batin saya. Dialog-dialog dalam drama ini benar-benar deep dope untuk saya. It was really touching me sooo much! Tidak hanya itu, drama ini juga komplit sekali dengan scene lucu absurd-nya. Bayangkan saja kalau kamu seorang perempuan yang berusia 25 tahun lalu harus menjalani kehidupan bersama keluarga dan teman-teman seusiamu dengan tubuh yang tiba-tiba menua. Kim Hye Ja ini benar-benar nenek-nenek millennial di drama ini and that’s the most interesting part I think.

Awalnya saya menganggap drama ini itu memang biasa saja, cuma kisah seorang wanita yang menjadi tua karena memutar waktu dan kemudian menjalani kehidupan sehari-harinya. Nam Jon Hyuk jatuh cinta sama Kim Hye Ja muda,  Kim Hye Ja jadi tua terus Nam Jon Hyuk tidak mengenalinya, lalu Kim Hye Ja berhasil memutar waktu kembali dan akhirnya hidup bahagia selamanya bersama Nam Jon Hyuk.  Happy ending. Ya, sebenarnya ini plot amatiran versi saya.  Writer nim langsung ngomong “tidak semudah itu, Ferguso,” Dannn faktanya memang demikian sodarahh, saya totally speechless nonton drama ini. Writer nim-nya kece badai lah mengoyak-ngoyak perasaan. Harus saya akui kalau ekting Nam Jon Hyuk di sini adalah ekting terbaik, termelting, dan tergagahnya sejauh ini di mata saya. Karakter doi di sini juga yang bikin saya makin kehabisan tissue nonton drama ini. Belum lagi alur anprediktibelnya yang bikin susah tidur.  Yakinlah saat memasuki episode 10, akan ada banyak kalimat, “Loh kok?”, “Ini kenapa begini”, “Dia siapa?”, dan Boommm, kalian akan mulai berspekulasi sendiri terhadap endingnya.

Saya sarankan sedia tissue banyak-banyak lah sebelum nonton drama ini. Ceritanya terlalu menusuk-nusuk hati soalnya. Tak lupa, ada banyak pelajaran hidup yang saya pribadi ambil dari kisah nenek Hye Ja di drama ini. I am serious! Bagi seseorang yang diberi rezeki untuk berumur panjang, menjadi tua adalah sebuah keniscayaan. Ada banyak hal yang harus kita hadapi saat menemui masa itu. Menjadi pikun, beruban, lelah, sakit-sakitan, hingga yang paling menyakitkan adalah diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang sekeliling kita. Untuk kalian yang masih muda apalagi sedang menghadapi beban kehidupan kayak saya. Dilema, terombang-ambing tak karuan di dunia ini, please watch this drama. It’s a superb worthy drama in 2019. Trust me! Kisah nenek Kim Hye Ja akan menampar masa muda kalian. 


Tuesday, 14 March 2017

Voice Korean Drama (Review)



Hello para readers sekalian! Welcome to my review board again. Well, berbeda dengan review pertama saya tentang sebuah film, Great Wall Movie (Review).  Kali ini saya akan share pengalaman saya selama menonton salah satu drama korea yang rilis Januari kemarin dengan judul VOICE. Kalau kalian pecinta drama Korea saya sangat merekomendasikan drama ini untuk kalian tonton. Seriously, this is so unpredictable drama. Then, for your information drama ini merupakan drama bergenre thriller dan detective. Jadi buat kalian yang ingin bapper-bapperan atau mau cari wajah oppa-oppa, I do apologize guys kayaknya yang kalian cari ada di channel sebelah hehehe. Tapi tidak salahnya buat nonton drama yang satu ini. Aktingnya Lee Ha Na sama Jang Hyuk itu bikin greget tiap episodenya. Jang Hyuk disini memaninkan karakter sebagai seorang detective dari kepolisian Korea yang bernama Moon Ji Hyuk. Lee Ha Na sendiri memainkan peran sebagai Kang Kwon Jo, seorang ketua 112 center's Golden Time Team. Yang belum tahu team 112 ini apa well, I will tell you now, Kalian pernah dengar layanan tanggap 24 jam? yah tugas team ini tidak jauh beda lah dengan layanan cepat tanggap. Drama ini menceritakan tentang Kang Kwon Jo sebagai ketua Call Center Korea yang ingin membentuk Golden Time Team dengan mengajak beberapa orang di dalam kepolisian yang dia percaya mampu membantunya untuk menyelesaikan beberapa kasus yang ia terima di Call Center. Kang Kwon Jo merupakan alumni Voice Profiler di Amerika Serikat. Dia banyak belajar mengenai jenis-jenis suara selama di Amerika. Sebenarnya point penting dari drama ini adalah peran penting Kang Kwon Jo dalam mengenali setiap detail-detail suara yang ia dengarkan. Sejak kecil dia memang memiliki kelebihan mengenali suara-suara bahkan suara halus dan kecil sedikitpun makanya dia merasa tepat untuk bekerja di Call Center. Jadi sudah tahukan maksud dari judul VOICE itu sendiri kemana? 

Kisah ini bermula ketika istri dari Jang Hyuk ditemukan tewas mengenaskan dengan luka yang sangat menyeramkan. Di saat yang bersamaan ayah dari Kang Kwon Jo yang juga berprofesi sebagai seorang polisi menemukan pembunuh tersebut kemudian mengejarnya. Saat melakukan pengejaran, para polisi dan Call Center terus bekerja sama. Hingga peristiwa naas terjadi pada ayah Ketua Kang. Dia tewas dibunuh oleh sang pembunuh misterius. Hal yang paling menyakitkan bagi Kang Kwon Jo adalah saat mendengar sendiri bagaimana ayahnya tewas dibantai oleh pembunuh tersebut. Keahlian mendengarnya tersebut menjadi sebuah luka tersendiri saat mendengar semua detail-detail suara peristiwa pembunuhan ayahnya. Hingga pada suatu hari seorang yang mengaku sebagai pembunuh tersebut tertangkap. Saat persidangan berlangsung  Kang Kwon Jo yang bertindak sebagai saksi menolak semua bukti pembunuhan yang dikeluarkan oleh polisi. Ia menyanggah bahwa bukti rekaman yang diputar saat persidangan tidak valid. Dia juga tidak mempercayai tersangka pembunuhan tersebut sebagai pelaku utamanya. Kang Kwong Jo yang memiliki kelebihan dalam mendengar sangat mengenal suara dari pembunuh tersebut namun bukti yang ia keluarkan ditolak dipersidangan termasuk oleh detective Moon ji Hyuk. Singkat cerita, pelaku di dalam persidanganpun divonis sebagai terdakwa.

Setelah dua tahun berlalu, pelaku sebenarnya masih belum ditemukan meskipun secara hukum pembunuhnya telah tertangkap namun tidak untuk Ketua Kang. Pada akhirnya Ketua Kang memutuskan untuk membentuk Golden Team dengan mengajak beberapa orang untuk bekerja sama. Detective Moon yang pada awalnya telah menolak mentah-mentah untuk ikut bergabung akhirnya percaya pada kemampuan pendengaran Ketua Kang setelah sebuah kasus penculikan yang ia tangani bersama ketua Kang yang pada saat itu menceritakan kelebihan yang ia miliki. Setelah Detective Moon bergabung, Shim Dae Shik yang juga anggota dari Detective Moon ikut bergabung. Setelah mereka bergabung Ketua Kang kembali mencari dua orang yang ia andalkan untuk bergabung. Yeah, dia membutuhkan seorang hacker. Well, I was so excited to see this hacker did as an IT expert in this drama wkkwkwk. Yeah lelaki itu adalah Yesung, salah satu member Super Junior yang imutnya kebangetan.  Ok sebelum saya offside membahas ketampanannya saya lanjut ke seorang ahli bahasa yang juga menjadi partner setia Yesung di drama ini saat melakukan penyelidikan sebuah kasus. Singkat cerita mereka bersama-sama menemukan kasus-kasus yang bikin jantung saya nyaris copot tiap episodenya. Rentetan kasus-kasus yang mereka terima di Call Center membawa mereka ke sebuah kasus misterius beberapa tahun sebelumnya.  Sebua kasus pembunuhan sadis oleh seorang pembunuh misterius. 

VOICE sendiri tayang mulai tanggal 14 Januari dan berakhir 12 Maret kemarin. Nonton 16 episode drama ini memacu adrenalin dan otak saya juga sebenarnya. But, it was really amazing plot. Pas nonton episode terakhir kemarin kayak ada perasaan lega tersendiri juga buat saya. Lega karena endingnya berakhir dengan sangat epic. Biasanya tiap minggu saya sibuk penasaran menunggu episode selanjutnya sayangnya it has ended. Anyway I need this kind of drama in spite of Romance or colossal. Dan buat Yesung, you were so cool man. Saya sangat tidak menyangka kalau kamu bisa acting seperti itu. I wait your another charater anyway hehehe. Dan untuk kalian yang ingin download drama ini silahkan kunjungi salah satu web langganan saya yang satu ini VOICE.

Happy watching and be careful to your heartbeat for every curious scenes.  


Tuesday, 17 January 2017

Great Wall Movie (Review)


The seventeenth of January of 2017. 08.51 PM (WITA). 

Good evening para readers! Well, di kesempatan kali ini saya ingin sedikit berbagi cerita tentang salah satu film bergenre fantasy yang baru saja saya nonton kemarin. Jadi pada hari senin kemarin saya sedang berencana untuk menonton film sama sepupu saya tapi bingung mau nonton apa. Awalnya sih pengen nonton filmnya koko Ernest yang Cek Toko Sebelah tapi setelah search jadwal film tiba-tiba saya tertarik sama sebuah film yang berjudul Great Wall. Habis itu saya langsung cari lagi trailernya di Youtube dan ternyata keren juga. Trailernya juga berhasil menghipnotis sepupu saya yang awalnya mau nonton komedi. Next, we made a deal to watch it! Yoshh!!!. Karena nonton tanpa fotoin tiket bioskop itu adalah sebuah hal yang tidak wajar untuk anak kekinian saat ini, maka sayapun merasa wajib untuk melakukannya. Setelah cekrek sana sini dan cari view yang pas menurut saya then tada........This is It!!!





Tepat pukul 14.10 PM kamipun memasuki ruang bioskop. Sekitar 10 menit menunggu akhirnya Great Wall  mulai juga. Ok sekedar info film ini merupakan film 3D petualangan monster fantasi yang diperankan oleh beberapa aktor kece Hollywood seperti Matt Damon dan Pedro Pascal. Selain itu, film ini juga dibintangi oleh-oleh aktor dan artis ternama asal Tiongkok sebut saja Andy Lau, Jing Tian, dan Lu Han yang merupakan mantan anggota boyband EXO (Kpopers pas nonton pasti langsung teriak oppa!!! oppa!!!). Teriaknya udahan yah saya langsung bahas isi ceritanya dulu. Karena judulnya Great Wall pasti sudah ketebak dong lokasi pengambilan ceritanya dimana, yup di negeri China. Jadi awalnya pas liat trailernya (Nontonnya dipercepat soalnya) saya belum tau kalau ternyata film ini juga diperankan oleh ratusan atau   jutaan sosok monster, yang pastinya dalam bentuk animasi yang awesome menurut saya. Saya kira film ini cuma sekedar film perang yang terjadi disekitaran tembok Cina saja. Setelah beberapa menit filmnya dimulai ada adegan si Matt sama si Pedro ini memotong tangan monster. Akhirnya, saya semakin penasaran sama cerita Great Wall ini. Dalam cerita ini dua aktor Hollywood ini dikisahkan sebagai dua orang yang menyamar sebagai pedagang kemudian ditangkap oleh para Jendral yang bertugas menjaga tembok besar China. Salah satu Jendral yang keren itu ternyata diperankan oleh Jing Tian. You know what? she is so cool and beautiful. Akting dari Jing Tian ini yang bikin mata saya terkagum-kagum sendiri. Sudah cantik, jago pula main film action. I do love her way to wear the blue harness. Singkat cerita, Matt sama Pedro yang ditangkap tersebut ternyata membawa potongan tangan monster yang waktu itu mereka kalahkan. Para pasukan tembok China tidak mempercayai begitu saja cerita mereka. Mereka dianggap sebagai mata-mata. Ternyata Matt dan juga pedro juga tidak tahu menahu tentang monster macam apa yang mereka temui. Setelah diskusi yang panjang dan menegangkan karena nyaris dibunuh para Jendral pun sepakat untuk mengurung mereka. Pada akhirnya Matt dan Pedro mengetahui bahwa monster tersebut merupakan musuh paling berbahaya bagi kerajaan China. Para pasukan tembok China menyebut monster tersebut sebagai Tao Tei. Karena keahlian memanah dan bela diri dari Matt dan Pedro yang benar-benar memukau saat menghadapi monster tersebut akhirnya mereka dipercaya untuk bergabung bersama para Jendral dalam melawan monster tersebut.

Oh iya, selama nonton film ini tiba-tiba saja saya mengingat bacaan yang pernah saya baca waktu jaman saya SMP. Walaupun buku saya itu sudah menghilang entah dipinjam atau memang sudah menghilang sejak beberapa tahun lalu tapi, saya masih ingat jelas tentang cerita dalam bacaan tersebut. Saya sendiri sudah lupa judul bukunya yang jelas buku tersebut memuat tentang tanda-tanda akhir zaman. Yang saya ingat buku itu saya beli pas bulan Romadhan di Masjid besar Al-Markaz. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa ada sosok yang disebut Yajuj dan Majuj yang kemudian digambarkan sebagai orang-orang yang akan muncul sebagai tanda akhir zaman. Ada pula yang menuliskan bahwa Yajuj Majuj ini adalah sejenis binatang. Walaupun lebih banyak pendapat yang mengatakan bahwa Yajuj Majuj bukanlah binatang melainkan sosok manusia. Sosok mahluk akhir zaman ini juga dikabarkan akan muncul di China. Setelah kepingan-kepingan ingatan saya dan bagian-bagian film Great Wall ini makin mengarahkan saya kepada sosok Yajuj dan Majuj saya pun langsung explore ke mbah Google. Saya takut salah ingat tentang bacaan yang saya baca. Setelah searching ternyata benar ada banyak artikel yang membahas kemunculan Yajuj dan Majuj di China. Dalam film ini memang menceritakan tentang kisah lain dibalik pembangunan tembok China ini, yang ang tak lain adalah sebagai penghalang bagi Tao Tei memasuki wilayah China. Dalam hasil pencarian saya, saya juga menemukan di laman Kaskus sebuah artikel yang membahas tentang Raja Zulkarnaen yang pada jamannya membangun tembok besar China sebagai penghalang Yajuj dan Majuj. Terlepas dari beberapa bagian penting cerita yang entah mengapa saya berpikir sang penulis cerita memang terinspirasi dari kisah mahluk akhir zaman itu, ada pesan moral yang saya sangat suka dalam film ini. Kata Xie ren terus terngiang-ngiang di kepala saya hingga sekarang. Para pasukan penjaga tembok China memiliki prinsip xie ren dalam kehidupan mereka. Xie ren di sini diartikan sebagai kepercayaan atau keyakinan. Para pasukan penjaga tembok China mengutamakan saling percaya satu sama lain dalam visi misi mereka untuk melindungi tembok China. Mereka selalu berpegang teguh bila tak ada teman seperjuangan mereka yang akan saling menyakiti dan mengkhianati demi menjaga tembok China. Ada sebuah scene dimana Matt diajak oleh Jing Tian untuk melompat ke luar tembok China dengan menggunakan tali dan alat lainnya yang sering digunakan oleh para pasukan penjaga tembok China saat bertempur melawan Tao Tei tapi Matt tak ingin melompat begitu saja, dia tidak percaya pada pasukan penjaga tembok China yang saat itu memegang dan menjaga tali yang dikenakannya itu untuk melompat. Saat itulah Jendral wanita anggun dan perkasa itu memperkenalkan Xie ren kepada Matt. Sebaliknya, Matt tidak pernah memiliki prinsip itu dalam hidupnya. Dia lebih mempercayai dirinya sendiri daripada orang lain. Pada penghujung film ini diceritakan adanya pengkhianatan yang dilakukan Pedro dan seorang warga asing di dalam tembok China. Mereka ingin mencuri bubuk hitam yang mereka percaya sebagai harta yang sangat berharga. Pada akhirnya Pedro juga kembali dikhianati oleh rekan setimnya tersebut. Diapun menyadari bahwa ia tak seharusnya berkhianat pada Matt, sahabatnya dan juga kepada pasukan penjaga tembok China. Walaupun pada akhirnya Pedro kembali  kepada sahabatnya dan pasukan penjaga tembok China, ia tetap merasa bersalah dan merasa pantas untuk dihukum. 

Pada akhir cerita, pasukan tembok China akhirnya berhasil mengalahkan dan menghancurkan para monster dengan kisah yang benar-benar klimaks maksimal tentunya. Satu hal yang keren menurut saya adalah bagian dimana Matt dan Jiang Tian benar-benar menggambarkan Xie ren itu dalam perjuangan habis-habisan mereka menghadapi Tao Tei. Adegan Lu Han yang meledakkan dirinya untuk menghalau para monster dan adegan Andy Lau menjadikan dirinya tumbal untuk para monster demi memberikan jalan kepada Matt dan Jiang Tian untuk membidik ratu dari monster tersebut adalah beberapa adegan yang mengharukan dan mengesankan menurut saya. Lu Han dan Andy Lau percaya bila Matt dan Jiang Tian mampu menyelamatkan kerajaan China dari Tao Tei. (It was a Xie ren!). Honestly, saya menangis waktu Lu han dengan pasrahnya menyalahkan bubuk hitam sebelum diledakkan dihadapan teman-teman seperjuangannya (Oppa!!! andwaeeee!!!!). 


Terakhir, saya cuma mau bilang kalau film ini so awesome! Film awal tahun yang menegangkan, menyenangkan sekaligus menginspirasi buat saya pribadi tentunya. Selain memberikan pelajaran moral tentang sebuah kepercayaan dalam menjalin kerja sama ataupun hubungan yang lainnya (Hati-hati bapper!) di sisi lain film ini juga menyadarkan saya kalau kiamat memang sudah dekat. Buat para readers yang penasaran silahkan search trailernya di Youtube atau ingin lebih mengenal tentang film ini dan para pemainnya silahkan ubek-ubek om Google mengenai film Great Wall atau langsung saja kunjungi laman berikut Great Wall MovieI suggest you to watch it or maybe download it later.