Monday, 31 July 2017

Suicide! Is it a new trend today?



The Thirtieth of July of 2017. 10.38 (PM). 


Selamat malam para readers sekalian dan selamat bertemu kembali dengan tulisan terbaru saya malam ini.  Well, sisa 24 jam lebih lagi kita sudah akan berpindah ke tempat baru di tahun 2017 ini. Saya sendiri juga baru sadar kalau ternyata saya sudah menghabiskan hidup saya selama hampir tujuh bulan di tahun 2017 ini padahal rasanya baru kemarin saya memulai ngeblog lagi. I feel it too fast for welcoming August this year! Kalau mereview kejadian-kejadian apa saja yang booming beberapa bulan terakhir ini tulisan saya masih butuh tambahan chapter gara-gara terlalu banyak hal-hal yang aneh, unik, horor, misterius, hingga hal yang menegangkan menghiasi tahun 2017 ini. Timeline sosmed saya juga tiba-tiba penuh dengan beraneka ragam berita yang membuat saya speechless. Di penghujung bulan Juli ini saja saya sudah shock dengan berbagai macam kasus bunuh diri. Saya sendiri kadang deg-degan buka timeline sosmed saya. Hampir tiap hari ada saja kasus bunuh diri terbaru dengan berbagai macam sebab. Anyway is it a trend today?

Beberapa hari ini sejak berbagai kasus bunuh diri jadi heboh di dunia maya, saya sempat berpikir kalau bunuh diri itu memang sedang naik daun sekarang. Yah sebut saja trend bulan Juli 2017.  Dipikiran saya kadang juga terlintas tentang kasus-kasus narkoba yang sempat heboh yang menurut para pemujanya "Gak make narkoba berarti gak gaul". Gara-gara motto yang mereka eluh-eluhkan ini saya tiba-tiba jadi takut sendiri, jangan sampai motto tandingan juga muncul, "Gak bunuh diri berarti bukan anak gaul". It is so tragic dude! 

Dari beberapa kasus bunuh diri yang sempat gempar, kasus bunuh diri karena persoalan asmara adalah kasus yang paling menyentil menurut saya. Dari berita yang saya baca menerangkan seorang anak laki-laki yang masih duduk di bangku SMA memutuskan bunuh diri lantaran cemburu pada pacarnya yang ia curigai selingkuh. Wow! Parah sekali kisah asmara anak muda hari ini! Sesulit inikah memadu jalinan asmara pada balutan putih abu-abu hari ini? Dan otak saya tiba-tiba mengajak saya berkelana pada masa itu. Saat itu, saya sering melihat perilaku anarkis antara dua sejoli  gara-gara persoalan perasaan sakral ini. Sejak dulu si "cinta" ini memang sering berbuat ulah dikalangan kaula muda. Tapi kadang si "cinta" ini juga berperilaku jinak meskipun ujung-ujungnya berakhir dengan kata putus. Mereka bangga menyebutnya "Kami putus secara baik-baik" (?). Well, we back to the suicide case again. Faktor ekonomi,  masalah keluarga, ataupun bully adalah beberapa penyebab kasus bunuh diri ini terjadi.  Beberapa bulan yang lalu saya masih ingat dengan sangat jelas seorang pria yang ditinggal pergi oleh istrinya bunuh diri dengan cara yang cukup kekinian menurut saya. Bapak ini memadukan teknologi dalam proses mengakhiri hidupnya however, it was not cool anymore sir.  Pria yang terlihat sudah berusia baya tersebut memutuskan untuk gantung diri secara live dengan memakai akun facebooknya.  Tentu saja kasus ini heboh, jutaan pasang mata menyaksikan prosesi pria itu bertemu malaikat maut lewat sosial media.  Saya tidak menganggap kasus pria ini masih lebih baik dari pada anak SMA yang saya ceritakan sebelumnya hanya karena beliau sudah berkeluarga dan memang beban hidupnya lebih berat dari pada sekedar kisah roman picisan anak SMA, karena yang namanya bunuh diri tetap saja merupakan hal buruk. 

Belum lama ini saya juga melihat beberapa orang anak perempuan yang masih berusia belia melakukan aksi percobaan bunuh diri. Ada yang nangis-nangis sambil guling-guling,  minum sampo, sampai menyayat tangannya sendiri hanya karna persoalan asmara. What happened with our juveniles today? Saya setengah miris dan setengah kagum juga sih sama kelakuan mereka. Mirisnya yah karena mereka masih muda. Yeah, they are still young, many dreams are waiting for them in the future. Banyak hal yang seharusnya bisa mereka lakukan dari pada hal konyol seperti bunuh diri. Saya pernah berpikir, kalau bunuh jadi trend di Indonesia itu sebenarnya bagus juga untuk membantu pemerintah mengurangi jumlah penduduk dan angka kemiskinan. I think that I am going too far by thinking those stupid ideas. Sebagai seorang pendidik saya sebenarnya sangat miris melihat kasus-kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri yang bisa saja makin menjamur dikalangan remaja hari ini. Beberapa kasus tersebut sebenarnya bisa jadi tamparan untuk saya dan guru-guru lainnya. Apa benar kita tidak mampu melahirkan generasi penerus bangsa yang membanggakan? Do the teachers fail in teaching their students? 

Fakta juga yang cukup mengejutkan bagi saya adalah para pelaku bunuh diri ini berasal dari keluarga yang mampu dalam masalah ekonomi dan juga sangat mapan dalam bidang pendidikan. Saya semakin sadar jika ekonomi dan pendidikan yang bagus ternyata tak menjamin seorang anak untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang sangat tragis. So, do the parents fail in guiding their children?

Ok, I admit if  environment is the strongest factor in building the students character. I also cannot blame if the teachers and the parents have failed in educating the children today because many teachers and parents outside have been successful in creating a quality character to their children. Something miss in our situation today is about our attention to more care with the children . I believe if Our attitude to our children will reflect how the students will be growing up since sometime, our children do not  need our material they just need our attention in their daily life. Observe them!

Yukk Jadi orang tua dan guru yang lebih peka lagi terhadap anak-anak kita!  


Monday, 17 July 2017

Have you ever felt?

The seventeenth of July of 2017. 07.44 (PM).

It has been a month I am vacuum to post my recent thought in this blog.  I realize that I cannot deny a bunch of routines attack my head nowadays especially my activity in front of my papers. Some deadlines in front of me have scared me continuously. Sometime I am envy with my friends who enjoy their life without any burdens. In another side, I really hate my flat days from Sunday to Sunday again. Moreover I ever call my self as an unlucky girl. Anyway have you ever felt this situation? 


My life is too boring to be shared in the public whereas I really want to be one of influential people in the universe unfortunately I am not included in the list, yeah so poor wkwkwk. However, in this boring activities I more become an observer around me actually. I look many things around me then realize that I should not be pessimistic women who are doubt with the future. Some people outside are more unlucky than me but they never complain their luck like me. I understand that they are not a superhero who are strong in facing many days. In reality they also complain the plot of their life but different with the others lame guy included me, they always try to go ahead. I can say if they have a brave heart in supporting their hard world. Here are some pictures that I took by my camera phone and show you if you are lucky then you think.    


I captured this picture in front of a mini market in Makassar city. At the time this women was felt a sleep while doing her job as a parking officer. 


This old man is my favorite somai seller in Makassar. Almost every night I wait for his somai. He always stays in front of a mini market which is located in Abdesir from afternoon till night.


I found this scene in one of stores area in Bantaeng regency. It was a hot day when he was walking while carrying his goods along the way.


If you see this picture please do not judge him as a lunatic or a psycho. He was only a pedicab driver who was waiting for passengers in front of a hospital in Bantaeng. 


I captured this view after pouring rain in a book store in Makassar. I saw an old man still used his rain coat while selling balloons. 


In my way to home, I met with a father with his two daughters in a pedicab. I guessed if the sacks that they brought contained of garbage plastic bottles.   


If you are in Makassar this picture will be a common view that you will find a long the traffic area. From kids till old man and old women will sell some boxes of tissue to you.

   
Some pictures above are only a half of situation and condition of the people who are fighting to stay alive in a big city like Makassar. Those scenes that I find directly with my eyes teach me that I should say thanks to God, Allah SWT who has given me a better life then the others. I should be ashamed to people in the frames above who remain strong and steadfast in the midst of difficulties and risks that they face. Salute for the wage workers in this universe. Hats off to you!

Regard me,



A life observer


Tuesday, 13 June 2017

PA’JUKUKANG CUSTOM FESTIVAL


Hereditary custom related to the tradition. It has become a culture which is difficult to be changed. For instance in Bantaeng regency, there are one of routine festivals for every year, that is custom festival of Pa’jukukang. This event is a hereditary tradition from the people of Gantarang Keke kingdom since XIV century. This tradition was celebrated again by Bantaeng society in Sunday, 07 May 2017. It coincided with 10 Syaban 1438 H. People were so crowded around Pa’jukukang beach. The functionary of the custom used passapu (head cover) or they called it Puang Juku.




In celebration of Pa’jukukang custom festival, nobles, custom components and citizens gathered to do meeting relationship then enjoyed the event each other. In the meeting, they ate fishes together. This tradition began from the king of Gantarang Keke who used to fishing around Pa’jukukang beach. It was called Ma’juku but now, people refer to call it as Attunu-tunu Juku. The kind of fish that they use is milkfish.




It would not be perfect if the ritual was not presenting the variety of traditional food. In festival custom of Pa’jukukang, lammang and ketupat daun pandan were the traditional snacks of this event.




During this event, people did some ancestor legacy activities.  One of them was visiting entombment. In the opposite path, approximately 10 meters from Pa’jukukang beach there is a wide building about 2x3 meter. Inside of this building there is a grave. The purpose of this grave is to allow the visitors to pray in front of the grave then they will ask some willing such as livelihood, health, and so on. Safaruddin daeng Mayo as the committee of this festival said that “People come to this place without an invitation to join. They will come by their selves, because this celebration is a culture and a tradition for them”. He explained that nobody know about who was the occupant of the grave. According to history, the person in the grave is a person who can fly and the grave has been there since colonial era.



Market populace was conducted also around Pa’jukukang beach during 4 days and three nights. The aim of this market populace was to support a merrymaking festival at the time.       



NOTE; The source of the pictures were taken by Mirnawati Amir, one of the students in BLK Bantaeng (Work of Training House Bantaeng)



Sunday, 14 May 2017

Pesta Literasi Bersama Najwa Shihab



Selamat malam para readers sekalian!!! Welcome back to my recent post, fthhh finally saya bisa ngepost tulisan lagi uyeeeee!!! kayaknya saya memang sudah sekitar satu bulanan vakum dari blog ini. Yah dikarenakan banyaknya schedule nikah di keluarga saya akhir-akhir ini ditambah lagi schedule mengurus si BAB 4 sama BAB 5 mengharuskan saya untuk tidak menjamah dunia blog dulu padahal tangan saya sudah gatal minta ampun ngorek-ngorek si keyboard. Hmmmm ok I will straight to the point right now. Malam minggu kemarin merupakan salah satu malam minggu yang paling berkesan menurut saya selama berada di Bantaeng. Setiap pulang ke kampung halaman rasanya memang tidak pas kalau tidak mengunjungi Pantai Seruni yang merupakan salah tempat wisata keren di kota Bantaeng tapi bedanya malam minggu kemarin selain bisa berkumpul bersama teman dan sanak saudara, para pengunjung juga dihibur dengan kedatangan Najwa Shihab salah satu presenter favorite saya. Sebenarnya kemarin merupakan kali kedua Najwa untuk datang di Bantaeng malahan katanya dia lebih sering ke kota Bantaeng dari pada kampung halamannya sendiri di Sidrap. Yah Bantaeng mungkin memiliki kesan tersendiri bagi Najwa Shihab dimana di setiap kedatangannya Bantaeng selalu memberikan pengalaman unik tersendiri. 

Tahun 2013 merupakan tahun pertama Najwa Shihab menginjakkan kaki di tanah Bantaeng. Sebenarnya saya juga kurang tahu tujuan kedatangan Najwa Shihab ke Bantaeng saat itu dalam rangka apa yang jelas saat itu beliau diundang oleh Prof. Nurdin Abdullah untuk menikmati kota Bantaeng. Beberapa berita saat itu juga mengabarkan bahwa beliau juga diajak oleh Bapak Bupati Bantaeng berkunjung ke kebun duriannya sambil menyantapnya langsung. Semalam beliau juga sempat menceritakan sedikit pengalamannya beberapa tahun lalu itu tentang legit dan nikmatnya durian yang beliau santap waktu itu. Yang durian lovers silahkan ngiler yang kontra silahkan geleng-geleng hihihihi. 

Acara yang bertajuk Pesta Literasi di Pantai Seruni semalam merupakan hasil kerja sama antara pemerintah Kabupaten Bantaeng dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bantaeng. Acara semalam diisi dengan tari dan musik tradisional dari siswa sekolah dasar, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi yang dibawakan pula oleh seorang siswi sekolah dasar. Pada acara semalam juga dimeriahkan oleh hadirnya pendongeng cilik yang membuat saya dan semua penonton melongo gara- gara melihat skill mendongengnya yang super keren. Keahlian mendongengnya bikin saya jatuh cinta sama bocah itu. Sudah lucu, pandai bercerita lagi. This kid was really cute! Sampai-sampai Najwa Shihab saja minta foto dan membawa anak tersebut ke atas panggung kemudian memeluknya. Wah proud of you nak! Setelah dihibur oleh beberapa penampilan seru dari para siswa-siswi Bantaeng tibalah saatnya acara inti yang paling ditunggu. Acara talkshow bersama duta baca Indonesia dan Bupati Bantaeng pun dimulai. Berikut adalah beberapa kumpulan foto selama acara berlangsung yang saya ambil dari Syahrir Nawir Nur






Kalau biasanya dalam acara Mata Najwa, Najwa Shihab menjadi presenter kali ini Prof Nurdin Abdullah mengambil alih acara literasi yang berlangsung seru tadi malam. Pada awal acara Najwa Shihab juga sempat mengerjai Bupati Bantaeng tersebut. Berkali-kali Prof Nurdin harus mengulang-ulang kalimat pembuka acara yang diarahkan oleh Najwa Shihab. Penontonpun jadi riuh melihat tingkah Bupatinya tersebut. Sebagai Duta Baca, dalam acara semalam Najwa Shihab memberikan banyak sekali inspirasi sekaligus motivasi kepada para pengunjung Pantai Seruni. Saya sangat kagum dengan lingkungan keluarga beliau yang dikelilingi oleh buku-buku sejak kecil hingga dewasa. Najwa Shihab mengungkapkan bila sang Ayah yang biasa beliau panggil Abi yang tak lain adalah Bapak Quraish Shihab adalah orang yang mengajarkan beliau untuk mencintai buku sejak kecil. Sejak kecil beliau selalu menyaksikan ayahnya membaca berbagai jenis bacaan mulai dari buku hingga surat kabar. Najwa Shihab mengakui bila lingkungan yang seperti itulah yang telah membentuk dirinya untuk terus mencintai buku.

Dipenghujung acara, Najwa Shihab dan Bapak Bupati Bantaeng juga meluncurkan program terbaru dari kabupaten Bantaeng yaitu Smart Library Kabupaten Bantaeng. Dengan adanya smart library ini diharapkan mampu untuk membantu meningkatkan minat baca di Bantaeng. Sekitar ribuan buku telah tersedia dan bisa diakses langsung melalui ponsel pintar masyarakat saat ini. Hanya dengan mengunduh aplikasinya lewat handphone, kita sudah bisa menikmati ribuan buku yang telah tersedia. Setelah proses launching selesai maka tibalah dengan acara yang paling dinanti-nantikan oleh banyak orang. Semalam Bapak Bupati menyediakan beberapa jenis hadiah mulai dari aneka macam bingkisan hingga sepeda. Wahhh saya langsung ingat pak Jokowi yang hobby kasih kuis berhadiah sepeda. Beberapa guru hingga siswa-siswi berhasil memborong semua jenis hadiah semalam. Hmmm sebuah kebanggan tersendiri tentunya terpilih sebagai pemenang di acara yang dipandu langsung oleh Najwa Shihab dan Prof. Nurdin Abdullah semalam. 

Semoga acara-acara seperti ini bisa terus dikembangkan. Semoga dengan banyaknya pula kegiatan-kegiatan literasi yang dilakukan oleh berbagai pihak di Indonesia termasuk Sulawesi Selatan dapat mewujudkan Indonesia yang cinta Baca. Seperti yang diungkapkan oleh Najwa Shihab bila data dari UNESCO yang menyatakan anak Indonesia itu malas baca sebenarnya bisa dibantahkan. Sudah saatnya kita menebar virus literasi.

Salam literasi readers ^^           

Monday, 17 April 2017

Memberdayakan dan Menyejahterahkan Tanah Papua

Bila menyebut nama Papua, kira-kira apa yang  akan terlintas di benak kalian? Beberapa orang mungkin akan menggambarkan keindahan alamnya hingga kekayaan alam yang terkandung di dalam perut bumi Papua. Keindahan alam dan kekayaan alam yang disajikan tanah Papua memang tidak akan pernah mengecewakan untuk dijelajahi maka tidak heran bila turis-turis dari luar juga turut berbondong-bondong untuk mencicipi salah satu surga nusantara ini. 

Pulau paling timur di Indonesia ini memang menyimpan banyak tempat-tempat wisata yang siap memanjakan mata para pelancong. Raja Ampat, Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Danau Sentani, Taman Nasional Lorentz dan Lembah Baliem merupakan beberapa tempat wisata andalan di provinsi Papua. Selain itu, sumber daya alam yang melimpah seperti emas, batu bara, nikel serta hasil tambang lainnya juga merupakan komoditas-komoditas unggulan yang dimiliki oleh tanah Papua. Tidak sedikit perusahaan yang berlomba-lomba untuk berinvestasi di tanah yang kaya akan hasil tambangnya ini. Terlepas dari semua kelebihan yang dimiliki oleh Papua, di sisi lain Data Statistik menunjukkan bila Papua masih menjadi provinsi termiskin di Indonesia. Ironis memang, pada saat yang bersamaan Papua dikenal sebagai provinsi yang terkaya sekaligus provinsi termiskin di negeri ini.

Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, kemiskinan menjadi salah faktor terlambatnya pertumbuhan ekonomi. Dalam halaman Kompas, Bank Dunia juga menyatakan bila perlambatan ekonomi yang masih terjadi di sejumlah negara berkembang diprediksikan akan menghambat upaya-upaya dalam pemberantasan kemiskinan dan pemerataan kemakmuran. Kemiskinan memang masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan hingga saat ini. Namun, terlepas dari fakta tersebut pemerintah tentu tidak tinggal diam menghadapi masalah ini. Presiden Jokowi di bawah kepemerintahannya tetap serius bekerja menangani salah satu isu penting di negeri ini. Berbagai upaya terus dilakukan pemerintah guna menekan angka kemiskinan terutama di wilayah Papua yang dinyatakan sebagai daerah termiskin di Indonesia.  

Percepatan Pembangunan dan Infrastruktur di Tanah Papua

Pemerintah pada tahun 2017 terus memaksimalkan upaya percepatan pembangunan di daerah Papua. Dikutip dari halaman Kementerian Keuangan Republik Indonesia, pemerintah pada tahun ini mengalokasikan dana sebanyak Rp. 4,96 triliun dimana untuk sumber daya air sebesar Rp. 411 miliar, jalan dan jembatan berjumlah Rp. 3,72 triliun, permukiman Rp. 132 miliar dan perumahan sebanyak Rp. 85,7 miliar. Selain itu, dana juga dialokasikan untuk provinsi Papua Barat sebesar Rp. 2,64 triliun yang terbagi atas alokasi infrastruktur sumber daya air Rp. 342 miliar, jalan dan jembatan sebesar Rp. 1,51 triliun serta untuk pemukiman berjumlah Rp. 129 miliar.  Salah satu program percepatan infrastruktur dari pemerintah yang sudah mulai terlihat perkembangannya adalah proyek pembangunan jalan trans-Papua. Program trans-Papua ini sendiri berfungsi untuk menghubungkan daerah Sorong yang terletak di Papua Barat dengan daerah Merauke.

Menurut Basuki Hadimuljono selaku Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dalam website Kementerian PUPR Republik Indonesia, “Pembangunan infrastruktur tidak hanya untuk mendorong perkembangan ekonomi di perkotaan tetapi membangun infrastruktur di perbatasan juga untuk mengurangi disparitas, sosial, ekonomi dan wilayah. Pembangunan jalan itu prinsipnya agar bisa lebih cepat, aman dan murah”. Langkah yang diambil pemerintah ini merupakan upaya untuk menekan tingginya biaya hidup yang masih terjadi di Papua dikarenakan akses lintas daerah yang sangat sulit dijangkau oleh masyarakat Papua. Pembangunan jalan trans-Papua yang rencananya akan rampung pada tahun 2019 mendatang merupakan jembatan yang akan menghubungkan perekonomian baru masyarakat di wilayah Sorong dan Merauke. Komitmen pemerintah terhadap peningkatan infrastruktur dan pembangunan di daerah Papua bisa menjadi solusi terhadap ketimpangan yang terjadi di kawasan barat Indonesia dan kawasan timur Indonesia. 

Memperkenalkan Papua Pada Dunia

Salah satu langkah pemerintah Indonesia dalam rangka memperkenalkan Papua ke dunia internasional adalah melalui pariwisata. Pada tahun 2016 kemarin, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia gencar melakukan promosi wisata Raja Ampat yang ditampilkan melalui Times Square di New York. Promosi yang dilakukan pemerintah tersebut merupakan cara untuk menarik wisatawan Amerika Serikat untuk berkunjung ke Papua.  Dalam halaman Travel KompasElizabet Hutagao yang menjabat sebagai Kepala Bidang Komunikasi Media Ruang Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata menyebutkan bila wisatawan asal Amerika Serikat merupakan pasar yang potensial untuk digarap karena mereka merupakan tipe wisatawan yang suka untuk menghabiskan masa liburan dengan waktu yang lama. Kemudian, terpilihnya Raja Ampat sebagai pemenang dalam festival film yang bertajuk The International Tourism Film Festival of Bulgaria on the East Coast of Europe ke-12 di Bulgaria tahun lalu merupakan bukti bila Papua bisa menjadi program wisata unggulan yang tak kalah dari provinsi lainnya di Indonesia.  Sangat disayangkan bila indahnya panorama alam dan uniknya kehidupan masyarakat Papua  tidak terekspos oleh turis mancanegara. 


Menjamurnya para pengguna sosial media juga semakin memudahkan pemerintah serta masyarakat dalam mempromosikan wisata di tanah Papua. Youtube sebagai tempat berbagi video oleh orang-orang di seluruh dunia dimanfaatkan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dengan memasukkan berbagai macam video pariwisata dari seluruh daerah di Indonesia termasuk Papua. Instagram yang makin digandrungi oleh banyak kalangan juga menjadi salah satu media sosial paling popular untuk mempromosikan pariwisata Papua hari ini. Semakin dikenalnya Papua oleh masyarakat Indonesia hingga para turis mancanegara diharapkan mampu mendongkrak dan memperbaiki daya saing ekonomi sekaligus pariwisata masyarakat Papua dengan daerah lainnya


Pendidikan Berkualitas untuk Masyarakat Papua

Pendidikan untuk anak-anak Papua juga merupakan tonggak lahirnya generasi cerdas penerus bangsa. Sangat minimnya sarana dan prasarana menjadi faktor sulitnya anak-anak Papua menikmati bangku sekolah layaknya anak-anak di daerah lain. Statistik Indonesia mengungkapkan bahwa pada tahun 2015, sekitar 52 persen penduduk miskin pada usia 15 tahun ke atas hanya mampu menyelesaikan pendidikan hingga ke jejang SD/SMP. Bahkan, sebanyak 31 persen lainnya sama sekali tidak dapat menempuh jenjang SD. 


Fakta yang lebih mencengangkan lagi adalah data dari United Nations Development Program yang dikutip dari Dunia News Viva. UNDP mengungkapkan bila Papua memiliki jumlah anak putus sekolah terbanyak di Indonesia. United Nations Development Program atau Badan Program Pembangunan yang dinaungi oleh PBB ini juga menambahkan bila unsur sosial budaya maupun ekonomi menjadi penyebab ketertinggalan bidang pendapatan, kesehatan hingga pendidikan di beberapa daerah seperti Papua. Fakta ini kembali mempertegas bila masalah ekonomi masih menjadi salah satu penghambat bagi anak-anak di Indonesia untuk mengenyam pendidikan. 

Pada masa kepemimpinan presiden Jokowi, pemerintah terus menaruh perhatian besar terhadap dunia pendidikan di tanah Papua. Program beasiswa pendidikan untuk anak Papua menjadi prioritas utama bagi pemerintah. Salah satu penyedia beasiswa yang memberikan kesempatan besar bagi anak Papua untuk merasakan bangku universitas adalah  LPDP. Beasiswa ini dikelola langsung oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Beasiswa Afirmasi serta Beasiswa Indonesia Timur merupakan beasiswa yang dikhususkan untuk daerah tertinggal seperti Papua. Tidak hanya itu, pemerintah melalui program Afirmasi Pendidikan Menengah atau yang disingkat ADEM sejak 2013 hingga 2015 telah memberangkatkan 1047 pelajar untuk merasakan jenjang pendidikan SMA di luar Papua. Program pengiriman ratusan hingga ribuan guru-guru ke tempat-tempat terpencil melalui program Guru Garis Depan (GGD) ataupun program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) merupakan langkah serius yang diambil pemerintah untuk pemerataan pendidikan. Target utama pemerintah melalui kegiatan-kegiatan ini adalah untuk membangun dan memberdayakan pelayanan pendidikan yang berkualitas untuk anak-anak di daerah-daerah terpencil termasuk Papua sehingga tidak ada lagi sekolah yang kekuarangan guru serta anak putus sekolah. Saat ini pemerintah telah dan akan terus berusaha mengurus permasalahan pendidikan di Papua namun, bantuan serta dukungan dari masyarakat luas tetap dibutuhkan untuk mencapai cita-cita pendidikan di tanah Papua.  

KEMISKINAN memang masih menghantui pulau paling timur di bumi pertiwi ini tapi usaha dan kerja keras adalah jawaban tepat untuk menghadapi permasalahan klasik ini. Sebuah kutipan dari Bapak B.J Habibie pada acara Habibie Festival beberapa waktu lalu menjadi penutup pada tulisan saya kali ini "We are at war with ignorance and poverty but we WILL win this war".