Friday, 28 August 2020

Review Skincare: Pixy White-Aqua Hydra Moist Essence




Hai hai, welcome back to my review board again para readers sekalian! Well, pada kesempatan ini saya tidak akan bahas soal buku, drama ataupun film lagi melainkan sebuah produk skincare dari Pixy yaitu Pixy White-Aqua Hydra Moist Essence. Berhubung essence yang saya gunakan ini sudah menuju titik darah essence penghabisan maka alangkah eloknya jikalau saya memberikan review tentang produk ini kepada kalian. So, here we go!

Packaging

Kalau bahas kemasan atau packaging, Pixy White-Aqua Hydra Moist Essence ini memiliki desain yang cukup sederhana. Produk ini sendiri dikemas dengan menggunakan botol plastik bening berwarna biru dan tutup botol ulir berwarna silver. Jadi, karena botolnya transparant kalian bisa lihat langsung isi essence di dalam botolnya. Karena bahannya juga terbuat dari plastik jadi cukup ringan untuk dibawa kemana-mana. Di bagian depan botolnya sendiri kalian akan lihat informasi singkat tentang produk ini seperti kandungannya, manfaatnya dan keterangan 0% alcohol clinically tested. Kemudian, di bagian belakang produk kalian juga akan melihat informasi yang lebih lengkap lagi mulai dari kandungan, manfaat, cara pakai, berat produk dan juga logo halal. Overall, tampilan botol biru bening dari Pixy ini kelihatan seger banget sih buat mata.       




Claim

Pixy White-Aqua Hydra Moist Essence dengan berat 125 ml ini mengandung Moisture Lock Agent yang diklaim mampu menjaga kelembapan kulit. Kandungan Intensive Hydra Activenya juga diklaim mampu menghidrasi dan melembapkan kulit secara intensif. Kandungan vitamin C dan Mulberry Extract di dalam essence ini juga akan membantu kalian untuk mendapatkan kulit yang lebih cerah dan sehat. Sesuai namanya, Pixy White-Aqua Hydra Moist, essence ini memang memiliki fomula berbahan dasar air sehingga teksturnya sangat ringan dan cepat meresap masuk ke dalam kulit. Produk ini juga sama sekali tidak mengandung alkohol sehingga cocok buat kulit yang sensitive terhadap alkohol.

Tekstur, Warna dan Bau

Karena memiliki formula berbahan dasar air jadi tekstur dari Pixy White-Aqua Hydra Moist Essence ini sangat cair dan ringan. Tidak mengandung warna apapun dan memiliki aroma yang sangat wangi seperti peppermint.

Cara Pakai

  • Tuangkan essence secukupnya pada telapak tangan kemudian tepukkan secara merata    pada wajah dan leher yang sudah dibersihkan sebelumnya
  • Bisa digunakan pada pagi dan malam hari

My Impression

Pertama kali menggunakan produk ini itu sekitar akhir Desember tahun lalu atau Awal Januari tahun ini kalau saya tidak salah ingat. Awalnya, saya kira kalau essence ini tidak memiliki bau sama sekali, pas saya coba tap tap di wajah ternyata barulah aroma wangi nan semerbak itu muncul. Untuk wanginya sendiri cukup tajam tapi bikin seger gitu. Ya pokoknya bau essencenya itu agak nyengat tapi punya efek yang menyegarkan. Kayak ada sensasi dinginnya gitu pas kena muka. Terus, dari segi teksturnya yang cair, essence ini memang sangat cepat meresap ke kulit. Kalau dibilang mencerahkan wajah sih iya memang cukup mencerahkan tapi untuk mendapatkan efek mencerahkannya ini sendiri baru saya dapatkan sekitar pemakaian 2 bulanan. Selama kurang lebih 8 bulan bersama saya, essence ini memang menjadikan wajah saya lebih lembab dari sebelumnya. Sejauh ini essencenya juga tidak menimbulkan efek samping sama sekali di wajah saya.    

Overall, produk Pixy White-Aqua Hydra Moist Essence ini cukup membantu kulit saya yang punya tipe kulit kombinasi alias kadang minyakan, kadang juga kering kerontang kayak kanebo. Efek mencerahkannya memang tidak terlalu significant sih di wajah saya, kayaknya karena sering skip essence juga kali yah di skincare routine saya makanya produk ini betah 8 bulan tidak habis-habis. Mungkin kalau saya rutin memakainya tiap hari hasilnya akan lebih cerah dan lembab lagi di wajah saya  tapi lumayanlah, sering diskip juga sudah bisa menutupi sebagian dosa di wajah saya wkwkw.

Nah, untuk masalah harga sendiri, produk Pixy White-Aqua Hydra Moist Essence ini dibandrol dengan harga sekitar Rp. 80.000. Lumayan murah lah yah untuk pemakaian berbulan-bulan dan dengan hasil yang cukup memuaskan di kulit saya. Kalau kalian mau beli silahkan kunjungi official online maupun offline dari Pixy atau bisa juga di website Sociolla dan skincare online store yang menjual produk Pixy lainnya.  


Thursday, 27 August 2020

Review buku: Gadis Minimarket (Convenience Store Woman)





Penulis: Sayaka Murata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Cetakan Pertama di Jepang, 2016. Cetakan Terjemahan di Indonesia, 2020.
Bahasa: Indonesia
ISBN:  9786020644394
Jumlah halaman: 160 halaman

Hello! Selamat datang kembali di review board saya para readers sekalian. Berbeda dengan postingan saya sebelum-sebelumnya yang bahas soal review drama maupun film, kali ini saya mencoba untuk mereview sebuah novel terjemahan Jepang yang berjudul Convenience Store Woman atau Gadis Minimarket. Novel karya Sayaka Murata ini sebenarnya baru rilis sekitar awal Agustus ini makanya masih hangat-hangatnya untuk dibahas sama banyak orang terutama netizen di Twitter. Berkat racun yang mereka tebar di timeline Twitter, pada akhirnya saya pun teracuni untuk segera memiliki novel dengan cover yang sangat eye catching ini. Bisa dibilang desain sampul dari novel Gadis Minimarket (Convenience Store Woman) adalah salah satu alasan kenapa saya merasa wajib punya buku ini. Alasan yang kedua tentu karena isinya yang sangat meaningful dan thoughtful bagi saya.  

Dan berhubung saya tidak mau teracuni sendirian maka saya akan mencoba meracuni kalian juga lewat ulasan saya tentang novel ini.

Blurb

Dunia menuntut Keiko untuk menjadi normal, Walau ia tidak tahu “normal” itu seperti apa. Namun di minimarket, Keiko dilahirkan dengan identitas baru sebagai “pegawai minimarket”. Kini Keiko terancam dipisahkan dari dunia minimarket yang dicintainya selama ini.

Review

Novel yang berjudul Gadis Minimarket (Convenience Store) Woman ini merupakan karya ke-10 dari Sayaka Murata sekaligus karya pertamanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Di dalamnya bercerita tentang sosok perempuan bernama Keiko Furukura yang sejak kecil memiliki pribadi yang dianggap tidak normal oleh orang-orang sekitarnya termasuk keluarganya sendiri. Orang-orang di lingkungannya menganggap Keiko butuh untuk disembuhkan lewat konseling. Di tengah kondisi itu, Keiko terus berusaha meyakinkan orang-orang di sekelilingnya jika mereka telah salah menilai Keiko. Sayangnya, sekeras apapun usaha Keiko, ia tetap menjadi anak yang tidak normal bagi orang tuanya.  Karena sudah lelah, Keiko pun memutuskan untuk menutup diri dan terus berusaha menjauh dari orang-orang di sekitarnya.  

Setelah itu, orang-orang dewasa sepertinya lega melihatku tidak berbicara lebih daripada   yang diperlukan dan berhenti mengambil tindakan sendiri. Namun selama SMA, hal itu menjadi masalah karena aku terlalu pendiam. Bagiku diam adalah cara terbaik, seni hidup yang paling rasional untuk menjalani hidup. Meski di buku laporanku tertulis ”Bertemanlah dan perbanyak main di luar”, aku bersikukuh dan tidak pernah berbicara lebih daripada yang diperlukan.
Selepas SMA dan kuliah, Keiko berhasil melalui masa-masa itu. Dia tidak berubah sama sekali dan masih tetap setia dengan prinsipnya untuk menjadi seorang perempuan yang akan berbicara seperlunya serta berteman dengan diri sendiri. Hingga pada suatu hari, Keiko menemukan dunia lain dari sebuah minimarket yang merupakan tempatnya bekerja sebagai pekerja paruh waktu. Minimarket secara perlahan mengajaknya masuk pada kehidupan yang dianggap normal bagi kebanyakan orang.  

Rasanya menarik melihat bermacam-macam orang, mulai dari mahasiswa, laki-laki pemain band, pegawai paruh waktu permanen, ibu rumah tangga, sampai pelajar yang ikut kelas malam untuk mengejar ijazah SMA menggunakan seragam yang sama dan dibentuk menjadi mahluk hidup homogeny bernama “pegawai toko”.
Seiring berjalannya waktu, Keiko tetap betah menjadi seorang pegawai toko meskipun dengan status pekerja paruh waktu. Keiko sudah menganggap minimarket sebagai tempat berteduhnya untuk hidup sebagai manusia. Hingga di usianya yang menginjak 36 tahun, Keiko tetap memilih untuk bekerja sebagai pegawai toko. Ia sudah seakan-akan memberikan sisa hidupnya hanya untuk minimarket itu. Warna-warni makanan pada rak cemilan, suara kantong kresek, bunyi mesin kasir hingga suara sepatu orang yang berlalu lalang di dalam minimarket adalah sumber kebahagiaan dan kepuasan tersendiri bagi Keiko.
Mungkin karena bekerja setiap hari, terkadang aku bermimpi sedang mengoperasikan mesin kasir. Pikiran awal yang terlintas di otakku sesaat setelah bangun adalah: Oh! Keripik kentang merek baru itu belum diberi label harga, atau stok teh hangat harus ditambah karena banyak terjual. Pernah juga aku terbangun tengah malam karena mendengar suaraku sendiri mengucapkan irrsshaimase! Dan saat tak bisa tidur, pikiranku melayang pada kotak kaca transparan yang terus menggeliat itu. Toko di dalam kotak akuarium bening yang terus beroperasi seperti mesin jam. Ketika membayangkan pemandangan itu, suara toko menggema di gendang telingaku, menenangkanku hingga akhirnya aku tertidur. Ketika pagi datang, aku kembali menjadi pegawai minimarket, bagian dari masyarakat. Inilah satu-satunya cara agar aku bisa menjadi manusia normal.
Minimarket seakan menjadi tempat ternyaman bagi Keiko. Ia menikmati semua rutinitas itu setiap harinya. Sayangnya, teman-teman sekolahnya dan keluarganya kembali menganggapnya tidak normal lantaran masih melajang di usianya yang telah menginjak 36 tahun. Keiko sebenarnya baik-baik saja dengan kehidupannya itu. Ia tidak pernah gusar perihal usia maupun status pekerjaannya yang masih tetap sebagai pekerja paruh waktu meski telah berusia 36 tahun. Dunia seakan menghakiminya lagi untuk mengikuti aturan yang ada.

Aku belum punya pengalaman seksual dan aku tak punya kesadaran soal seksualitasku. Aku hanya tak peduli dan tak pernah merisaukannya. Tapi, mereka membicarakan semua itu dengan asumsi aku menderita. Kalaupun yang mereka katakan benar, belum tentu penderitaan itu seperti yang mereka duga.
Ketika dunia menganggapnya tidak normal, yang terbesit di pikiran Keiko saat itu juga hanyalah untuk kembali ke minimarket sesegara mungkin. Di situlah tempatnya ia harus berada. Namun, secara perlahan sosok minimarket yang menenangkan di kepala Keiko pun mulai berubah semenjak ia menyembunyikan seorang laki-laki bernama Shiraha di rumahnya. Ketika Keiko tetap berusaha menjadi manusia normal dengan bekerja di minimarket maka Shiraha adalah kebalikannya.  Shiraha lebih memilih berhenti bekerja dan menjadi pengangguran yang sangat idealis dan kritis terhadap isu sosial di sekitarnya.

Dengar, manusia yang tak punya manfaat bagi desa tak akan punya privasi. Bagaimanapun semua orang akan ikut campur. Pilihannya melahirkan anak, atau pergi berburu dan menghasilkan uang. Dan kalau kalau kau tak bisa berkontribusi pada desa maka akan dianggap sesat.
Kalau aku keluar, hidupku akan diperkosa lagi. Sebagai laki-laki, semua orang akan mendesak ‘bekerjalah!’, ‘menikahlah!’ dan kalau sudah menikah: ‘cari uang lebih banyak!’ atau ‘bikin keturunan!’ Aku akan jadi budak desa dan masyarakat akan memaksaku bekerja seumur hidup.
Hadirnya Shiraha di dalam kehidupan Keiko benar-benar membuatnya terus berpikir tentang kondisi hidupnya yang kembali diobrak-abrik oleh orang-orang di sekitarnya. Ia semakin terusik oleh semua ucapan Shiraha yang memang ada benarnya. Keiko menjadi dilema apakah ia harus mengikuti suara hatinya untuk tetap bertahan di minimarket atau mencoba lepas dari tempatnya berteduh itu selama ini.

My Impression

Membaca  novel Gadis Minimarket (Convenience Store Woman) ini membuat saya berpikir tentang apa defenisi menjadi manusia normal itu sebenarnya dan bagaimana menjadi manusia waras di tengah masyarakat yang selalu bebas berpendapat tanpa mengingat batasan-batasannya. Ada sangat banyak kritik sosial yang dihadirkan oleh Sayaka Murata di dalam novel ini. Bagaimana realita yang memang menghadapkan kita untuk harus selalu siap dikomentari dan dikritik terhadap jalan hidup yang kita pilih. Meskipun pilihan yang kita pilih itu benar, tapi tetap saja akan ada banyak orang yang tidak mau menerima perbedaan pilihan itu. Selain berisi muatan kritik sosial dan pesan moral, rangkaian kata yang dipilih di dalam novel ini juga terasa sangat pas. Penulis mampu memberikan gambaran yang sangat detail tentang kehidupan minimarket. Saat membaca novel ini saya seolah-olah berada di dalam minimarket sambil menyaksikan langsung rutinitas yang dijalani oleh Keiko setiap harinya. Mungkin karena pengaruh dari pengalaman Sayaka Murata sendiri yang pernah bekerja di minimarket sehingga alur di dalam novel ini terasa benar-benar hidup lewat rangkaian tulisannya. Saya pribadi merasakan makna yang sangat mendalam dari setiap perkataan Keiko maupun Shiraha dalam novel ini. Seakan-akan, Sayaka Murata memang ingin mengeluarkan semua uneg-unegnya tentang ketimpangan sosial yang dilihatnya selama ini lewat novel.

Jika kalian sedang berencana membeli buku tapi bingung mau beli buku apa, mungkin novel Gadis Minimarket (Convenience Store Woman) ini bisa menjadi pilihan yang tepat untuk kalian. Silahkan mengunjungi toko buku online Gramedia ataupun toko buku online maupun offline langganan kalian untuk segera mendapatkannya.

Wednesday, 12 August 2020

It's Okay to Not Be Okay (Review)




Hellooo! selamat datang kembali di review board saya para readers sekalian! Berhubung minggu ini salah satu drama langganan on going saya yaitu It’s Okay to Not Be Okay sudah tamat maka tibalah waktunya saya untuk mereviewnya. Teruntuk bala fans mas Kim So Hyun dan mbak Seo Ye Ji, yukkk mari nongkrong di blog saya.

Well, sejujurnya, drama yang diperankan oleh Kim So Hyun dan Seo Ye Ji ini tidak masuk dalam list tontonan on going saya. Awalnya sih cuma coba-coba (Biar kayak iklan wkwkw) tapi karena episode awalnya memang sudah seru jadinya saya keterusan deh sampai It’s Okay to Not Be Okay akhirnya tamat. Ternyata drama ini memang worthy to be watched. Selain banyak lawaknya, drama ini juga penuh dengan pesan moral dan juga kisah tentang perjalanan hidup seorang pasien pengidap autis bersama seorang kakaknya yang selalu merawatnya. Nah, untuk kalian yang masih belum nonton dan penasaran sama ceritanya kayak gimana, mungkin review saya berikut ini bisa sedikit membantu kalian dalam menggambarkan keselurahan drama ini.

Banyak scene yang skrinsutable dan storyable


Scene yang skrinsutable dan storyable pada awal-awal episode drama ini memang sangat menghipnotis untuk terus ditonton. Pokoknya tiap adegan itu kayak pengen saya skrinsut terus. Pengambilan gambarnya juga keren sekali yereobun! It’s like movie in a drama. Adegan perpindahan antara scene satu sama yang lainnya itu juga epic sih, terutama di episode 4 di mana pada episode tersebut diceritakan tentang seorang pasien bernama Kwon yang mengidap sindrom maniak dan sering berhalusinasi. Nah, halusinasi dari Kwon ini itu digambarkan sangat-sangat detail dan benar-benar dihidupkan lewat setiap adegan di drama ini. Pokoknya kayak adegan-adegan film begitu lah. Adegan saat melakukan perjalanan jauh menggunakan mobil kemah pada Ending It’s Okay to Not  Be Okay semalam menjadi scene favorit saya sih di antara semua episode di dalam drama ini. Cinematographynya keren sekali, saya serasa nonton MV ala-ala vintage gitu. Pas liat Ko Moon Young, Gang Tae, sama Sang Tae menikmati liburan impian mereka pake mobil kemah rasanya pengen cepet-cepet corona ini berakhir. I do miss travelling and talking with my friends from dusk till dawn.   

Konsep cerita yang menarik


Alasan lain mengapa saya sampai lanjut terus nonton drama ini itu ya karena konsep cerita dari awal episodenya memang sudah menarik menurut saya. Rasanya saya jarang atau kayaknya memang belum pernah ketemu drama yang menggabungkan unsur animasi di dalam drama. Menariknya lagi, kesan dunia dongeng dan dunia penyihir kayak di film-film Barbie sama Harry Potter itu benar-benar dihidupkan di dalam drama ini. Mulai dari wardrobe, musik, rumah tempat syuting sampai lightingnya itu benar-benar mendukung untuk menunjukkan kesan vintage sekaligus misteri. Saya yang suka sama hal-hal yang berbau wizarding world dan dongeng klasik-klasik gitu jadi tambah greget dong sama cerita dalam drama It’s Okay to Not Be Okay. Bukan cuma itu, kesan creepy dan horror dari castel tempat tinggal Ko Moon Young juga bikin cerita di drama ini makin dapat feelnya. Belum lagi tentang adanya sosok penyihir jahat yang sejak episode pertama sudah bikin saya penasaran. Nonton drama ini itu sudah kayak nonton dongeng versi drama. Rasanya dunia masa kanak-kanak saya muncul lagi pas nonton drama ini. I need more fairy tales in my age right now by the way.  

Karakter setiap pemainnya kuat dan unik


Para pemain di dalam drama ini memang punya karakter yang unik dan kuat. Mulai dari ektingnya Lee Sang In dan para penghuni Rumah Sakit Jiwa OK lainnya yang saling melengkapi sampai Kim So Hyun yang kualitas ektingnya memang sebanding sama bayarannya. Satu kali main drama, mas Kim So Hyun kayaknya sudah bisa lah yah beli rumah impian secara cash tanpa perlu repot-repot lagi merasakan yang namanya urus berkas KPR rumah.

Tetapi, kalau bahas karakter yang keren, saya jelas mau sungkem sama ektingnya Oh Jung Se yang memerankan Sang Tae di drama ini.  Wajar sih kalau Oh Jung Se menang sebagai aktor pendukung terbaik di Baeksang Awards kemarin. Ektingnya di When The Camellia Blooms sebagai ahjussi nyeleneh dan sok ganteng dan kaya memang keren. Anyway, sebelum It’s Okay to Not Be Okay tayang, saya juga sempat baca artikel kalau Oh Jung Se akan bermain di drama ini. Awalnya sih saya B aja, ekting beliau memang sudah tidak usah diragukan lagi lah yah tapi pas saya tahu kalau Oh Jung Se akan memerankan karakter seorang penderita autis saya malah kaget soalnya saya belum mempunyai gambaran bagaimana dia akan memainkan peran itu. Cara ngomongnya gimana, cara jalannya, ekspresinya pokoknya saya penasaran berat dengan terobosan ektingnya yang jauh berbeda dari sebelumnya. Bisa dibilang karakter Sang Tae di drama It’s Okay to Not Be Okay ini sangat kuat dan tentu saja karakternya tersebut akan terus membekas di ingatan para penonton setia drama ini sampai kapan pun.

Bukan cuma Oh Jung Se, ektingnya Seo Yo Ji sebagai Ko Moon Young yang memerankan sosok misterius dan berjiwa bar-bar memang layak dapat pujian netizen. Kesan putri cantik yang terkurung di dalam istana bak cerita di dongeng-dongeng memang pas sama karakter mbak Seo Yo Ji di drama ini. Belum lagi karakter elegantnya itu didukung sama pakaian-pakaiannya yang ala-ala Disney Princess. Pas mau cari di Shopee ternyata semua produk yang dipakai doi aslinya dari merek internesyenel yang harganya bisa seharga sama ginjal itu cuy. Kayaknya saya mesti serius jadi penulis dongeng dulu deh biar bisa semakmur hidupnya Ko Moon Young.

Sekian dulu review drama saya kali ini. Buat kalian yang punya uneg-uneg tentang drama It’s Okay to  Not Be Okay ini silahkan share di kolom komentar.  


Sunday, 9 August 2020

Backstreet Rookie (Review)






Hello para readers sekalian! Selamat datang kembali di review board saya. Kali ini saya akan membagikan beberapa ulasan mengenai drama Backstreet Rookie yang baru saja tamat semalam. Jadi teruntuk para bucin mas Ji Chang Wook dan juga mbak Kim Yoo Jung mari silahkan merapat di blog saya ini. Anyway, saya sebenarnya tidak terlalu menaruh ekspektasi yang tinggi dengan drama ini ketika melihat promosi poster dan trailernya di mana-mana. Saat melihat episode pertama pun rasanya juga biasa saja menurut mata perdrakoran saya. Tapi yang namanya drama Korea itu memang susah ditebak dan tidak bisa langsung disimpulkan apakah drama ini bagus atau tidak apalagi kalau cuma ngikutin episode awal-awalnya saja. Ini bukan sinetron yang dari judulnya saja sudah ketebak isi sama endingnya yereobun! Dan memang benar sih, saya sudah suudzon sama drama ini. Ternyata ada banyak hal tak tertebak dan plot yang seru di dalam drama ini pemirsahh. Ya sudah, tanpa perlu intro yang panjang kali lebar, yuk langsung saja kita review drama Backstreet Rookie ini.  

Penuh Komedi dan Parodi


Pada episode-episode awal dari drama Backstreet Rookie ini memang mengundang kontroversi dari para k-netz. Sampai-sampai mereka ngirim petisi ke komisi Penyiaran Korea untuk segera menghentikan penayangan drama karena adanya adegan vulgar di dalamnya. Menurut netizen negara sana, usianya Ji Chang Wook sama Kim Yoo Jung juga terpaut cukup jauh makanya gak pantas untuk berpasangan di drama ini. Tapi itu dari netizen Koreanya, kalau netizen di negeri berflower ini mah kayaknya enjoy-enjoy saja dengan drama ini. Kalau menurut saya pribadi sih adegan yang dimainkan oleh para artis dan aktor di drama ini cukup aman. Not too much I think. Namun, dibalik kontroversi tersebut, saya sih cukup terhibur dengan adanya komedi dan parodi di dalam drama ini. Ini penulisnya kocak juga sampe pikirin scene parodi drama sama film-film hits yah. Episode perdana dari drama ini saja langsung dibuka dengan parodi dari film Sunny yang popular itu. Menariknya, scene berantem anak sekolahan itu juga diperankan langsung oleh Park Jin Joo yang merupakan tokoh dalam film Sunny.  Kemudian ada lagi scene waktu Yeon Joo dan Saet Byul melakukan parodi dalam drama The World of The Married. Mereka itu ceritanya lagi main adu mulut gara-gara memperebutkan Dae Hyun. Nah terus Yeon Joo marah tuh sama Saet Byul dan langsung membanting sebuah guci di depan Saet Byul. Wah adegan ini pasti iconic sekalee bagi yang ngikutin dramanya TWOTM wkwkwk. Parodinya gak sampe di situ,  ada lagi nih parodi dari film Parasite yang dilakukan oleh ayahnya si Dae Hyun. Saat itu ayahnya Dae Hyun ceritanya lagi ngelamar jadi supir. Adegan pas menghafal identitas palsunya itu persis sama dengan scenenya Ki Jung di Parasite. Pokoknya kumpulan parodi di dalam drama Backstreet Rookie emang bener-bener ngakak sih. Saya bahkan sampe ngulang-ngulang adegannya pas nonton.

Bukan Sekedar Drama Komedi Tetapi Juga Drama Keluarga


Backstreet Rookie memang memiliki unsur komedi romantis yang cukup kental. Karakter para pemainnya yang lucu sampai alur cerita yang absurd memang sangat mendukung untuk membuat kita ngakak berjamaah saat nonton. Namun, drama ini tidak berkutat pada genre drama komedi romantis saja tetapi pada slice of life juga loh. Pada awal-awal episode para penonton memang disuguhkan dengan adegan konyol dan lucu dari para pemainnya yang bikin kita ngakak akan tetapi ketika menuju pertengahan episode nuansa drama keluarga mulai cukup kental. Saya sampai mau nangis pas lihat episode di mana ibu sama bapaknya Dae Hyun direndahkan sama keluarganya Yeon Joo. Kisah Saet Byul di drama ini juga gak melulu soal kebucinannya sama mas Dae Hyun. Peran Saet Byul sebagai seorang kakak sekaligus tulang punggung keluarga juga benar-benar diceritakan cukup kental untuk menggambarkan kehidupan penuh perjuangan yang sering dihadapi oleh seorang kakak dalam membesarkan adiknya. So, untuk para netizen yang kemarin-kemarin kritik drama ini karena gak family friendly silahkan dilanjutkan dulu nontonnya. Maybe it can change your perspective.

Kisah Cinta Aphrodite dan Fire Volcano yang Menggemaskan


Sejujurnya, saya sebenarnya lebih tertarik sama kisah cintanya si mbak Aphrodite sama mas Fire Volcano dibandingkan kisah bucinnya Saet Byul dengan Dae Hyun. Kisah Geumbi yang merupakan fans garis keras dari Dalshik sang pembuat webtoon di drama ini tuh memang terngakak sih. Apalagi pas adegan mereka mau meet up pas pertama kalinya. Saya malah lebih deg-degan nungguin mereka jadian dibandingkan Dae Hyun sama Saet Byul wkwkwk. Pas nonton episode terakhir semalam ternyata penonton dikasih surprise sama Dalshik. Dalshik yang punya muka sama gaya berantakan begitu ternyata aslinya anak sultan woy, kebun sama tanahnya berhektar-hektar ternyata. Ayahnya Geumbi pasti ikhlas lah yah anaknya berjodoh sama Dalshik wkwkwk.

Well, untuk kalian yang sudah nonton drama atau masih on going nontonnya silahkan share review drama Backstreet Rookie versi kalian di sini yah :)