Thursday, 31 December 2020

Covid-19 Rewind 2020

 


Pandemi covid-19 saat ini sudah seperti kehidupan dunia lain yang sering ada di film-film dan juga buku-buku fiksi. Dulu saya pernah berandai-andai bagaimana jika kehidupan macam itu benar-benar terjadi. Bagaimana jika dunia benar-benar kacau dari segala sisi dan bagaimana pula orang-orang akan bertahan hidup demi menyelamatkan diri mereka bak pemeran utama dalam cerita. Dan benar saja, kisah fiksi itu mendadak menjadi nonfiksi di tahun ini. Lucu, aneh sekaligus menyedihkan memang melihat kehidupan di sekitar kita sekarang. Orang-orang mulai bermasker di sana sini. Gerakan rajin cuci tangan yang baik dan benar ternyata baru membumi di tahun 2020. Berbagai jenis salam atau greeting yang tak pernah terlihat sebelumnya mulai diperkenalkan oleh para pejabat dan tokoh penting. Jalan dan tempat-tempat yang biasanya ramai pun kini mendadak sepi.

Perubahan pola hidup di tengah pandemi ini ternyata juga ikut mengubah pola setiap konten orang-orang di berbagai sosial media. Orang-orang mulai memposting story menu makanan sehat ala mereka. Isi Instagram mulai penuh dengan aktifitas olahraga. Penghuni Twitter beramai-ramai memamerkan sekaligus mempromosikan karya mereka selama stay at home lewat intro andalan Twitter do your magic! Para influencer dan Youtuber pun juga turut meramaikan kanal mereka dengan konten bertema pandemi covid-19. Tak sampai di situ, lini masa Facebook yang biasanya terpantau sepi alias tidak “ramai-ramai amat” oleh barang dagangan kini menjadi padat merayap dipenuhi lapak makanan hingga pakaian. Aneka sandang, pangan, hingga papan pun nampaknya semakin eksis di sosial media. Mungkin memang benar, corona membuat banyak orang semakin aktif dan kreatif untuk  mencari cara bertahan hidup. Jualan online, rapat online, sekolah online, kursus online, kuliah online, seminar online bahkan konser pun sudah bergeser menjadi konser online. Mungkin tidak lama lagi nikah online juga akan segera menyusul di era pandemi ini. Mungkin saja.

Demi mencegah lahirnya kekacauan-kekacauan baru di tengah semrawutnya negeri ini, pemerintah pun melahirkan sistem baru yang disebut The New Normal. Ekonomi memang harus tetap berjalan demi menghidupi rakyat dan negara. Pendidikan juga harus tetap diadakan demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Begitu halnya rutinitas harian kita yang tetap harus berjalan beriringan demi keberlangsungan hubungan sosial antar manusia. Rasanya memang tidak seru untuk bersilaturahmi lewat “ngumpul dan nongkrong” di grup WA saja. Pada akhirnya, masyarakat pun diarahkan untuk menjadi warga yang mampu beradaptasi dengan kondisi pandemi saat ini. Membatasi jumlah orang, menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, membawa hand sanitizer hingga membawa alat makan pribadi saat keluar rumah sudah menjadi starter pack utama dalam The New Normal. Tapi bukan aturan namanya kalau tidak dilanggar. Maka jangan heran kalau kasus penderita Covid-19 hingga angka kematian akibat Covid-19 terus melambung tinggi. Sayangnya, di tengah tingginya kasus kematian tersebut justru tidak berbanding lurus dengan kekhawatiran banyak orang.

Persoalan angka kematian covid-19 juga menjadi semacam dongeng semata bagi kebanyakan orang. Hoax, konspirasi, dan propaganda selalu menjadi embel-embel ketika membahas tentang pandemi saat ini. Entah itu diskusi di dunia maya atau hanya sekedar pembahasan di area tongkronan bapak-bapak dan anak muda, isu tersebut pasti akan selalu muncul. Tentu tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Pendapat tetaplah pendapat yang perlu diutarakan dan juga didengarkan. Namun, dibandingkan dengan ribut-ribut mengurus kebenaran isu tersebut bukankah lebih baik untuk mencegah semakin tingginya kasus covid-19 ini. Bukankah lebih baik pula memanfaatkan momen yang sangat jarang terjadi ini untuk lebih akrab dengan lingkungan sekitar dan diri kita sendiri. Sebut saja bersih-bersih rumah atau kamar tidur misalnya. Toh siapa yang tahu jika selama ini kita hanya sekedar menyapu tapi tidak benar-benar membersihkan sekaligus merawat tempat tinggal kita sendiri.

Berdiam diri di rumah bukan berarti pula tak produktif. Tak ada salahnya mengasah kembali kemampuan masak yang sudah lama tak terpakai akibat kesibukan dalam bekerja ataupun kuliah. Selain hemat, makanan yang dibuat sendiri juga tentu lebih terjamin kebersihannya. Pandemi ini juga bisa menjadi momen yang tepat untuk menyelesaikan daftar bacaan yang sudah terlalu lama menganggur di rak buku. Daripada membaca berita yang penuh clickbait dan tak jelas asal usulnya alangkah lebih baik  jika menyibukkan diri dengan bacaan yang lebih bermanfaat. Nah, teruntuk para pecinta film atau penggemar drama Korea yang episodenya sampai berlapis-lapis itu, mungkin ini saat yang paling tepat juga untuk segera melunasi cicilan tontonan kalian.  

Pada akhirnya, kita memang harus terpaksa hidup berdampingan dengan suasana pandemi seperti ini hingga pada waktu yang tak bisa ditentukan. Suka atau tidak suka, pola rutinitas memang telah banyak berubah. Ada yang merasa baik-baik saja dan tak sedikit yang tidak sedang baik-baik saja seperti para pekerja yang dirumahkan dan terkena PHK hingga para petugas kesehatan yang gugur dalam menjalankan tugasnya. Hormatku setinggi-tingginya kepada pejuang stay at home dan kepada para tenaga kesehatan yang telah banyak mengorbankan waktu dan tenaganya untuk kami dan orang-orang bebal di luar sana. Dan teruntuk kalian yang memang menganggap pandemi ini hanyalah hoax atau konspirasi belaka, berhentilah mencekoki orang lain untuk terus percaya dengan pendapat kalian. Berhentilah untuk merasa yang paling benar dan paling ahli. Tak ada salahnya pula untuk  berdiam diri di rumah dan mengikuti protokol The New Normal ketika berada di luar rumah. Toh rajin cuci tangan, memakai masker dan jaga jarak juga tidak akan membuat hidup kalian “rugi-rugi amat”. 


Sunday, 27 December 2020

Sweet Home (Review)

 


Hello readers! Welcome back to my review board again! Kali ini saya akan membagikan ulasan tentang serial dari Netflix yang berjudul Sweet Home. Buat kalian-kalian yang selalu nanya tentang kelanjutan drama VOICE 4 serta nasib detective Do Kang Woo di ending VOICE 3 mending marathon serial ini dulu lah. Nuansa thrillernya juga gak jauh beda kok, karakternya Lee Jin Wook di serial ini juga misterius, sama kayak di drama VOICE. Pokoknya, lumayan mengobati rasa kangen kalian lah dengan serial VOICE yang belum jelas kelanjutannya itu.

Serial Sweet Home yang mulai tayang pada tanggal 18 Desember 2020 ini sendiri bercerita tentang manusia yang secara tiba-tiba berubah menjadi monster. Pas nonton episode 1 Sweet Home, saya kira monsternya itu cuma semacam zombie eh tau-taunya monsternya punya banyak varian cuy. Ada yang kayak Hulk, Titan abnormal di anime Attack on Titan, ada yang mirip Dooby di Harry Potter, terus ada juga yang kayak monster di anime Parasite. Setelah menghabiskan 10 episode serial Sweet Home ini, alur ceritanya dan karakter tokoh-tokohnya memang mau mirip-mirip sama cerita di anime-anime sih. Kayak gabungan Attack on Titan sama Parasite gitu, bisa dibilang versi live action lah.

Salah satu alasan kenapa saya langsung marathon nonton serial Sweet Home ini ya karena pemain-pemainnya memang keren-keren sih. Kalau mau ditanya siapa yang paling favorit tentu saya akan memilih Lee Jin Wook dong. Karakter dingin dan misteriusnya sejak di drama VOICE masih tetap ngangenin sampai sekarang. Sutradara Sweet Home gak salah sih pilih Lee Jin Wook yang memainkan peran sebagai Pyeong Sang Wook. Mau muka dan badannya penuh luka dan darah habis hajar-hajaran sama monster, karakter classy dan coolnya Lee Jin Wook tetap keren parah sih. Selain doi, aktingnya Song Kang yang memainkan karakter Cha Hyun Soo juga the best sih di serial ini. Kadang bikin ngeri pas berubah jadi monster tapi lebih sering bikin saya mewek juga kalau liat kisah kehidupan masa lalunya Cha Hyun Soo yang jadi korban bully di sekolah.

Meskipun punya nuansa thriller, horor dan misteri ala-ala Hollywood, serial Sweet Home ini tetap seperti drama Korea pada umumnya yang memiliki unsur menyayat hati dan bikin penonton jadi mewek. Dibalik ceritanya yang menegangkan dan menyeramkan, kisah hangat di tiap episode Sweet Home ini bakal bikin kalian nangis juga, serius! Episode 8 Sweet Home termasuk episode yang paling menguras emosi saya. Adegan pas Jung Jae Heon mengorbankan tubuhnya dibakar hidup-hidup demi menyelamatkan teman-temannya bikin saya nangis sesegukan. Belum lagi pas Pak Han juga mengorbankan tubuhnya untuk dibunuh oleh Cha Hyun Soo demi menghindarkan dirinya berubah jadi monster. Wah! asli sih nih serial selain bikin tegang juga bikin berlinang air mata.

Selain karena ceritanya yang memang beda dengan serial drama Korea pada umumnya, Sweet Home juga memiliki fakta menarik lainnya. Salah satunya ialah karena termasuk sebagai serial Netflix dengan bujet produksi yang sangat mahal. Menurut kabar yang sliweran di media, Sweet Home menginvestasikan sekitar 34, 2 milliar untuk setiap episodenya. Katanya sih bujetnya ini sampai-sampai mengalahkan serial mahal Netflix lainnya kayak Arthdal Chronicles, Kingdom dan juga Mr. Sunshine. Wajar juga sih mahal, selain pemerannya juga pemain berkelas, efek visualnya juga keren pake banget. Apalagi untuk proses pembuatan animasi dan CGI dalam menampilkan karakter monster yang senyata mungkin.

Pada akhirnya serial Sweet Home ini tamat dengan jumlah 10 episode. Memang sih ending Sweet Home masih menggantung dan bikin penasaran. Saya sendiri masih penasaran, sebenarnya monster-monster ini muncul karena eksperimen atau karena wabah penyakit? Atau memang benar dalam setiap diri manusia itu terdapat monster yang sedang terlelap dan hanya menunggu waktu untuk membangkitkannya? Oh iya, banyak juga yang nanya tentang adegan di akhir episode Sweet Home, apa iya Pyeong Sang Wook itu juga monster yang jahat? Menurut hasil pengamatan dan kesotoyan saya yang jadi Pyeong Sang Wook itu yah sih Jung Wooi Myung. Iya yang punya karakter tubuh monster mirip sama Cha Hyun Soo itu. Kayaknya si Jung Wooi Myung ini mengambil alih tubuhnya Pyeong Sang Wook untuk mengelabui Cha Hyun Soo.

Ya pokoknya, kita tunggu season 2 Sweet Home sajalah. Semoga Netflix gak bikin PHP lagi macam serial Arthdal Chronicles, Vagabond, sama Hospital Playlist yang masih belum jelas kelanjutannya. Dear Netflix, kurang-kurangin dong ngegantungin jadwal season 2. Cukup perasaan kita-kita ajalah yang digantungin dan gak diberi kepastian sama doi, lah malah curhat wkkwkwk. Anyway, kalau kalian bingung mau nonton drama Korea apaan lagi mending langsung marathon nonton Sweet Home saja lah. Action ada, horror ada, meweknya juga ada. Paket komplit lah pokoknya.


Wednesday, 23 December 2020

Review Skincare: Lacoco En Nature Intensive Treatment Eye Serum

 


Hai! Selamat datang kembali di review board saya para readers sekalian! Rasanya sudah lama tidak mereview produk skincare lagi di blog ini. Well, berhubung beberapa waktu belakangan ini saya lagi aktif-aktifnya begadang menuntaskan berbagai beban hidup deadline maka mata panda saya pun juga semakin aktif untuk menghitamkan diri. Untuk mengatasi permasalahan mata panda ini saya pun mencoba produk dari Lacoco En Nature Intensive Treatment Eye Serum. Lalu, seperti apa hasilnya? Here we go!

Packaging

Lacooco En Nature Intensive Treatment Eye Serum ini termasuk produk yang memiliki packaging yang sangat mungil. Produk ini dikemas dengan warna silver elegant dan berisikan eye serum sebanyak 15 ml. Meskipun penampilan produk ini seperti terbuat dari besi karena warna silvernya, pada dasarnya produk ini terbuat dari plastik. Bentuknya yang tidak neko-neko alias simple dan ringan sangat cocok untuk dibawa kemanapun. Serum ini juga menggunakan botol pump pada bagian atasnya jadi tidak akan mudah tumpah di dalam tas meskipun dibawa bepergian. Pada bagian depan botolnya kalian akan menemukan informasi mengenai nama brand serta jumlah kandungan eye serum dari produk ini. Untuk informasi lengkap mengenai kandungan dan cara pakainya, bisa kalian temukan pada box eye serum ini. Overall, packaging dari produk Lacoco yang satu ini memang terlihat lebih cantik dan elegant sih saat digenggam.  





Claim

Lacoco En Nature Intensive Treatment Eye Serum dengan berat 15 ml ini diklaim memiliki konsentrasi yang tinggi khusus kulit sekitar mata. Eye serum ini juga mudah menyerap masuk ke dalam kulit tanpa meninggalkan rasa lengket di area mata. Eye serum ini mengandung bahan utama berupa apel yang kaya akan vitamin A, C serta antioksidan. Tak hanya itu, produk ini juga mengandung lidah buaya yang akan menjadikan kulit tetap lembap serta terdapat pula bahan aktif peptide yang terbukti ampuh untuk menghilangkan garis halus pada sekitar mata. Untuk pemakaian maksimal dari eye serum ini kalian akan mendapatkan hasil berikut ini:

·      Menghilangkan garis halus dan mencegah penuaan

·      Mengencangkan kulit sekitar mata

·      Meredakan kulit yang tampak lelah

·      Memberikan kelembapan yang bertahan lama

Tekstur, Warna dan Bau

Meskipun bertekstur gel bening, Lacoco En Nature Intensive Treatment Eye Serum ini termasuk eye serum yang sangat mudah menyerap ke dalam kulit. Eye serum yang satu ini tidak mengandung bau apapun sehingga sangat cocok untuk kalian yang kurang suka dengan aroma yang menganggu.  

Cara Pakai

Setelah membersihkan wajah kalian, gunakan dua hingga tiga pump eye serum untuk setiap area mata. Aplikasikan eye serum menggunakan jari manis kemudian ratakan secara perlahan pada kulit bawah mata dan bagian kelopak mata. Tepuk-tepuklah secara perlahan dengan jari manis selama kurang lebih tiga puluh detik untuk mempercepat penyerapan serum. Gunakanlah pada pagi dan malam hari untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

My Impression

Dikarenakan jadwal begadang saya semakin tidak terkendali beberapa waktu belakangan ini maka saya pun memutuskan untuk mencari produk untuk mengatasi mata panda saya. Awalnya mau nyoba pakai eye cream tapi setelah baca-baca review orang akhirnya pilihan saya jatuh kepada produk eye serum dari Lacoco ini. Pas pertama kali lihat, produk ini memang agak nipu sih. Saya kira botolnya bakal berat gitu karena bentukannya kayak botol besi eh ternyata aslinya ringan. Kesan pertama kali menggunakan eye serum ini memang cukup menyegarkan banget sih. Ada sensasi dingin pas kena area kulit mata gitu.

Saya menggunakan produk eye serum ini kurang lebih sudah 3 bulanan, so far memang cukup melembapkan area mata panda saya. Untuk urusan mencerahkan bagian mata panda sebenarnya belum terlihat terlalu significant sih, mungkin karena saya sering ketiduran dan skip skincare routine tiap malam juga jadi hasilnya kurang maksimal. Untuk masalah menghilangkan garis halus dan mencegah penuaan mungkin efeknya akan terasa kalau udah umur 30 atau 40an kali yah, so let’s see later!

Overall, Lacoco En Nature Intensive Treatment Eye Serum ini cukup membantu menangani mata panda saya selama dua bulanan ini. Oh iya, meskipun ukurannya cuma 15 ml tapi sangat affordable untuk penggunaan sebulan sampai dua bulanan loh. Nah, untuk masalah harga, produk eye serum dari Lacoco ini dibandrol dengan harga Rp. 180.000. Mahal? Ada harga ada kualitas dong! Apalagi eye serumnya bisa dipakai berbulan-bulan so, it’s worthy lah. Untuk mendapatkan produk ini silahkan mengecek skincare online store langganan kalian atau bisa langsung mengunjungi official websitenya Lacoco di alamat https://www.lacoco.co.id/ 


Tuesday, 8 December 2020

Kuliah Satu Semester Berapa Bulan dan Berapa Biayanya?


Menempuh pendidikan hingga ke level perguruan tinggi merupakan kesempatan yang tidak bisa dinikmati oleh semua orang. Tidak semua anak lulusan SMA/SMK bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Kamu, yang punya kesempatan ini, hendaknya benar-benar menggunakan kesempatan dengan baik.

Peralihan dari masa sekolah ke masa kuliah seringkali tidak mudah. Terdapat perbedaan sangat mencolok antara kehidupan saat masih menjadi siswa dengan kehidupan sebagai mahasiswa. Mau tidak mau perubahan status ini menuntut seseorang untuk menyesuaikan diri.

Model pembelajaran di sekolah dan di kampus sangat berbeda. Ketika memasuki awal perkuliahan kamu akan merasakan perbedaan-perbedaan tersebut. Dikutip dari idntimes.com, inilah yang kamu rasakan:

a. Harus lebih mandiri dan aktif

Perbedaan paling dirasakan saat menjadi mahasiswa adalah harus lebih mandiri dan aktif. Apabila di sekolah dulu kamu lebih banyak dibantu oleh guru atau staf untuk mengurus administrasi, maka jangan membayangkan hal tersebut di bangku kuliah. Kamu harus aktif mencari informasi berhubungan dengan urusan akademik. 

Kamu harus mengatur jadwal kuliah sendiri, menentukan mata kuliah yang diambil, menentukan kelas mana yang akan diikuti, dan masih banyak lagi, Kamu harus merencanakannya seorang diri dan belajar untuk mempertanggungjawabkan semua keputusan yang diambil nantinya. Tidak ada yang akan memberitahumu, kamu harus berperan aktif untuk kelancaran kuliahmu selama ini. 

b. Jadwal yang fleksibel

Waktu belajar di sekolah tentunya lebih terjadwal dan teratur. Saat masih siswa, kamu dari pagi hingga siang di sekolah dalam lima hari. Nah, ketika sudah kuliah jadwal kelas lebih fleksibel. Misalnya dalam sehari kamu hanya memiliki satu jadwal kelas dengan durasi pembelajaran sekitar 2 jam. Di hari lainnya, bisa jadi kamu punya jadwal 2 kelas dalam sehari yakni di pagi atau sore hari. 

Jadwal kuliah tidak sepadat jadwal sekolah. Bahkan bisa jadi kamu punya jadwal kuliah selama tiga hari dalam seminggu. Fleksibilitas ini menguntungkan karena mahasiswa mempunyai waktu luang untuk melakukan aktivitas lainnya. Namun di lain sisi, fleksibilitas ini akan merugikan bila mahasiswa tidak mampu mengatur dan menggunakan waktu dengan baik. Bisa-bisa mahasiswa kerepotan bila tidak punya disiplin diri yang tinggi.

c. Banyak tugas

Dalam perkuliahan ada macam-macam tugas; tugas individu, tugas kelompok, tugas praktikum, Selain pembelajaran di kelas, kamu juga akan mendapatkan tugas-tugas tersebut dalam setiap mata kuliah. Jadi meskipun waktu belajar fleksibel, kamu harus bisa mengatur waktu agar tugas-tugas mata kuliah tidak menumpuk. Jangan sampai fleksibilitas tersebut membuatmu bersantai-santai sampai lupa tanggung jawab, ya.

d. Harus mampu belajar mandiri

Gaya mengajar dosen dan guru sangat berbeda. Mahasiswa sudah dianggap sebagai seseorang yang dewasa. Sehingga dosen tidak akan memberikan materi secara penuh dan lengkap. Tak jarang dosen hanya memposisikan diri sebagai pembimbing yang mengarahkan mahasiswa belajar. Mahasiswa justru berperan aktif  di dalam kelas seperti aktif bertanya dan aktif dalam diskusi.

Poinnya, mahasiswa harus mampu belajar secara mandiri. Tidak mengandalkan materi dari dosen. Bisa jadi materi dari dosen hanyalah garis besarnya saja. Untuk informasi lain yang jauh lebih detail, mahasiswa yang harus mencari tahu sendiri. Entah dengan membaca buku, jurnal, media cetak, atau media online.

e. Masa liburan yang panjang

Satu lagi yang membedakan antara kuliah dan sekolah. Waktu liburan kuliah lebih panjang. Pada masa liburan semester ganjil biasanya satu bulan. Sementara itu, masa liburan semester genap bisa mencapai tiga bulan. 

Kuliah Satu Semester Berapa Bulan?

Masa kuliah juga berbeda dengan masa sekolah. Namun, ada beberapa poin yang masih sama. Lama masa kuliah tergantung pada jenjang pendidikan yang ditempuh. Tingkat Diploma atau Strata 0 yang terdiri dari Diploma 1, Diploma 2, Diploma 3, dan Diploma 4. Masing-masing tingkat memiliki masa kuliah 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, dan 4 tahun. Sementara itu untuk tingkat sarjana mempunyai masa kuliah selama 4 tahun. 

Bagaimana dengan tingkat Master (Strata 2) dan Doktor (Strata 3)? Lama masa kuliahnya pun berbeda. Tingkat Master mempunyai masa kuliah 2 tahun. Sedangkan tingkat Doktor mempunyai masa kuliah 3 tahun. Namun bisa juga membutuhkan waktu yang lebih lama.

Nah, yang sama antara masa kuliah dan masa sekolah adalah hitungan semesternya. Jadi, istilah semester juga dipakai dalam kuliah. Contohnya, masa kuliah sarjana adalah 4 tahun dengan 8 semester di dalamnya. Lalu, kuliah satu semester berapa bulan? Hitungannya satu semester adalah enam bulan. Jadi dalam satu semester, kamu mempunyai enam bulan masa pembelajaran hingga UAS (Ujian Akhir Semester).

Selama satu semester kamu akan belajar di kelas bersama dosen. Menerima materi sesuai dengan mata kuliah dan SKS yang kamu ambil saat KRS-an. Selain itu kamu harus menyelesaikan tugas-tugas kuliah, mengikuti Ujian Tengah Semester (UTS), dan UAS. Bila menjalani serangkaian kegiatan perkuliahan selama satu semester dengan baik, hasil studimu akan aman. 

Biaya Kuliah Satu Semester

Setelah membahas kuliah satu semester berapa bulan, kita beralih ke pembahasan biaya kuliah. Selama menjalani pendidikan di perguruan tinggi, kamu akan membayar uang kuliah tiap semester. Besaran biayanya tergantung Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang kamu dapatkan.

Setiap perguruan tinggi mempunyai standar UKT masing-masing. Bahkan setiap program studi di sebuah perguruan tinggi juga berbeda-beda. Setiap mahasiswa dalam satu program studi pun berbeda biaya kuliahnya. UKT yang didapatkan mahasiswa ditentukan berdasarkan kemampuan atau kondisi ekonomi keluarga mahasiswa. Sehingga setiap mahasiswa bisa mendapatkan UKT yang berbeda-beda.

Selain itu, biaya kuliah antara perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta. Umumnya biaya kuliah di perguruan tinggi swasta disamaratakan. Tidak seperti di perguruan tinggi negeri yang disesuaikan dengan kemampuan orang tua mahasiswa. 

Dikutip dari 99.co, berikut ini besaran UKT di beberapa perguruan tinggi negeri. Data diambil pada tahun 2019. Tidak menutup kemungkinan bahwa terdapat perubahan standar UKT tiap perguruan tinggi.

Biaya kuliah Universitas Indonesia

Rumpun Sains Teknologi dan Kesehatan (IPA)

Kelas 1: Rp 0 – Rp 500 ribu

Kelas 2: > Rp500 ribu – Rp1 juta

Kelas 3: > Rp1 juta – Rp2 juta

Kelas 4: > Rp2 juta – Rp4 juta

Kelas 5: > Rp4 juta – Rp6 juta

Kelas 6: > Rp6 juta – Rp7,5 juta

Rumpun Sosial Humaniora (IPS)

Kelas 1: Rp 0 – Rp 500 ribu

Kelas 2: > Rp 500 ribu – Rp 1 juta

Kelas 3: > Rp 1 juta – Rp 4 juta

Kelas 4: > Rp 2 juta – Rp 5 juta

Kelas 5: > Rp 3 juta – Rp 5 juta

Kelas 6: > Rp 4 juta – Rp 5 juta

Biaya Kuliah Universitas  Gadjah Mada

UKT 0: Peserta Bidikmisi

UKT 1: Penghasilan wali ≤ Rp500 ribu, biaya kuliah Rp500 ribu

UKT 2: Penghasilan wali Rp500 ribu – ≤ Rp2 juta, biaya kuliah Rp1 juta

UKT 3: Penghasilan wali Rp2 juta – ≤ Rp 3,5 juta, biaya kuliah Rp2,4 juta – Rp7,35 juta

UKT 4: Penghasilan wali Rp3,5 juta – ≤ Rp 5 juta, biaya kuliah Rp 3,5 juta – Rp10,9 juta

UKT 5: Penghasilan wali Rp5 juta – ≤ Rp 10 juta, biaya kuliah Rp4,8 juta – Rp14,5 juta

UKT 6: Penghasilan wali > Rp10 juta, biaya kuliah Rp5,5 juta – Rp22,5 juta

Biasanya kita membutuhkan buku untuk dapat mempelajari berbagai mata kuliah. Anda bisa mendapatkan buku pegangan kuliah untauk mendukung tiap semester Anda di Toko Buku Kuliah Deepublish.