Tuesday, 4 June 2019

Tradisi Menyambut Lebaran di Tanah Air


Hei readers! Lebaran sudah di depan mata, tentu kalian sudah mempersiapkan banyak hal demi menyambut hari yang fitri ini. Tradisi menyambut hari raya idul fitri ini tidak hanya persoalan memakai baju baru saja tetapi juga tentang kebiasaan-kebiasaan lainnya yang sering kita lakukan menjelang hari lebaran. Kira-kira apa saja yah tradisi dalam menyambut hari raya idul fitri di Indonesia. Kuy disimak tulisan saya berikut ini.

Tradisi turun-temurun yang sangat sulit dipisahkan dengan yang namanya hari lebaran di tanah air adalah mudik. Anak rantau tentu akrab dengan tradisi yang satu ini. Rindu kampung halaman dan kumpul keluarga adalah alasan mengapa mudik selalu menjadi tradisi yang sulit untuk tidak dilaksanakan. Kemudian, kegiatan takbir keliling yang sering dilaksanakan pada malam hari menjelang hari raya juga sudah menjadi tradisi tahunan di tanah air. Masyarakat pada umumnya hanya berjalan kaki melaksanakan takbir keliling tapi saat ini kebanyakan orang lebih memilih menggunakan kendaraan. Hari ini kegiatan takbir keliling tak sekedar menjadi tradisi tetapi juga sudah dijadikan sebagai lomba tahunan tiap menyambut lebaran. Kegiatan seperti ini makin menambah seru dan meriahnya malam lebaran di berbagai tempat di tanah air.

Ciri khas dari lebaran juga tidak bisa dipisahkan dengan yang namanya ketupat dan opor ayam. Bisa dibilang setiap rumah wajib menyediakan makanan-makanan ini di meja makan mereka. Di kampung saya sendiri orang yang tidak membuat ketupat di rumahnya pun bisa langsung mempunyai ketupat di rumahnya. Kenapa? Karena the power of bagi-bagi makanan yang selalu ada tiap menyambut lebaran. Momen-momen seperti ini memang selalu memberikan kesan yang dalam bagi setiap warga yang kurang mampu.

Selain makanan, petasan juga selalu muncul sebagai icon datangnya hari raya idul fitri. Saya sendiri sebenarnya juga agak heran melihat larangan maupun himbauan yang terus sliweran tentang penggunaan petasan ini. ujung-ujungnya petasan ini juga tetap eksis dimainkan anak-anak di kampung-kampung. Malam lebaran tanpa suara petasan memang kurang seru tapi bagi kalian yang memiliki adik, ponakan dan juga anak tetap harus berhati-hati menggunakannya.

Well readers, itulah rangkaian tradisi dalam menyambut hari lebaran di tanah air. Dan dengan berakhirnya tulisan ini maka berakhir pulalah rangkaian tulisan saya bulan ini. Semoga Allah tetap memberikan saya kesehatan dan kesempatan untuk tetap menulis di blog ini. See you in the next post!


Monday, 3 June 2019

Doa di Penghujung Ramadan


Selamat datang di tausyiah Ramadan ke 29 blog saya wahai readers sekalian! Lebaran semakin dekat pertanda hari kemenangan pun segera tiba dan bulan penuh rahmat ini juga akan segera berpisah dengan kita. Masih ada rasa rindu dengan awal-awal Ramadan tapi ada rasa tidak sabar juga untuk segera menyambut hari kemenangan yang sudah di depan mata.  

Dua hari menjelang ditinggalkan oleh sang bulan suci Ramadan ada banyak doa dan harapan yang menggebu-gebu di batin saya. Ada banyak untaian semoga, semoga, dan semoga yang terus saya panjatkan di hari-hari terakhir Ramadan ini. Ya, doa dan harapan yang paling kencang saya panjatkan kepada Allah SWT adalah doa dan harapan agar saya dan ibu saya tetap diberi kesehatan. Saya masih ingin bertemu Ramadan-ramadan lainnya. Saya masih ingin bersama Ibu saya di Ramadan-ramadan lainnya dan saya juga masih sangat-sangat ingin menemukan kebahagiaan-kebahagiaan Ramadan di tempat lainnya. I know it sounds too over but yeah I want to feel Ramadan atmosphere in Mekkah and Madina with my mother next year. Saya memang belum memiliki persiapan apa-apa untuk mimpi saya ini but I hope it will come true soon. Saya percaya pada kekuatan doa.

Tentang doa dan harapan, saya juga memiliki banyak kata semoga untuk mimpi-mimpi yang sedang saya perjuangkan. Semoga, semoga, dan semoga di Ramadan berikutnya saya juga sudah bisa menggapai mimpi-mimpi saya yang lainnya. Memiliki pekerjaan tetap, bisa travelling dan volunteering lagi, tulisan untuk buku kedua saya cepat selesai dan segera terbit. Wish me luck readers!      

Tentang doa dan harapan, saya juga menaruh banyak harapan pada diri saya pribadi setelah Ramadan meninggalkan kita. Saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Menjadi seorang yang lebih dekat dengan Allah SWT, yang tidak hanya produktif beribadah di bulan suci Ramadan saja melainkan di hari-hari lainnya pula. Yang terakhir dan tidak kalah pentingnya adalah semoga saya bisa menjadi pribadi yang lebih ikhlas dalam menjalani hidup saya di kehidupan selanjutnya.


Best Moment in Ramadan



Hello readers! Selamat datang kembali di konten tausyiah penghujung Ramadan ini. Pada tulisan kali ini saya akan membagikan momen-momen terbaik yang saya alami selama bulan puasa ini. Seperti kebanyakan orang tentu setiap dari mereka memiliki kesan-kesan tersendiri dalam menjalani puasa di bulan suci ini. Ada yang merasa semakin dekat dengan Allah SWT karena lebih produktif beribadah ataupun membaca Al-quran di bulan Ramadan dibandingkan hari-hari biasanya, ada pula yang merasa menjadi pribadi yang lebih baik dan peduli terhadap sesama dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Seperti orang-orang tersebut saya juga memiliki momen-momen yang menurut saya sangat berkesan dibandingkan Ramadan tahun-tahun sebelumnya. Ya salah satu momen terbaik Ramadan tahun ini adalah saya bisa aktif dan produktif lagi untuk menulis. Kalau kalian melihat tulisan-tulisan lawas saya di blog ini maka kalian tidak akan menemukan banyak tulisan selama Ramadan pada tahun-tahun sebelumnya. Kalau tidak salah saya cuma punya satu tulisan di awal Ramadan tahun lalu, kemudian setelah itu saya kembali menjadi seorang blogger yang mager lagi.

Challenge dari Blogger Perempuan Network membuat saya benar-benar tertantang untuk menjadi produktif dan aktif lagi dalam dunia tulis-menulis. Melihat antusias teman-teman blogger di sosial media juga makin membuat saya bersemangat. Yeah, when finding their comment about this challenge saya merasa memiliki teman yang sama dalam menuntaskan rasa malas dalam menulis di blog. I am not alone anymore, saya punya banyak teman yang juga tetap bersemangat dalam menulis di blog.

Challenge menulis selama satu bulan penuh di bulan Ramadan ternyata juga berimbas pada rutinitas harian saya yang lainnya selama puasa ini. Jadwal harian saya di rumah menjadi lebih teatur dan terjadwal juga. Jadwal masak saya menjadi ontime, kegiatan beres-beres rumah menjadi teratur bahkan pakaian kotor saya tidak numpuk lagi seperti hari-hari biasanya. Mungkin terdengar agak lebay but that is the fact. Memiliki hobi menulis dengan deadline yang harus segera dituntaskan ternyata seru dan mengasyikkan. Sampai-sampai urusan lainnya juga harus memiliki deadline untuk segera diselesaikan demi menuntaskan deadline menulis di blog. I really enjoy this Ramadan moment.       


Jajanan Incaran di Hari Lebaran



Selamat memasuki hawa-hawa lebaran para readers sekalian! Well readers, menjelang hari lebaran ini selain makan ketupat, opor ayam, dan memakai baju baru tentu ada banyak hal lain yang paling kalian nantikan. Bagi saya pribadi di hari pembalasan nanti, maksud saya di hari lebaran nanti ada banyak list jajanan atau makanan yang wajib saya santap. Mau tahu daftar jajanan incaran saya di lebaran nanti? Kuy langsung disimak tulisan saya sapa tahu kalian juga tertarik buat list jajanan hari lebaran kayak saya hehe.

Yang pertama ada bakso bakar, somai goreng, dan sejenisnya itu lah. Makanan jenis somai-somaian dan bakso ini masuk dalam daftar makanan yang paling saya incar pas lebaran nanti readers. Biasanya kalau bulan puasa saya agak kurang menikmati makanan jenis ini soalnya sudah keburu kenyang duluan setelah makan nasi dan minum-minuman lainnya. Kalau di hari-hari lain tentu saja makanan ini paling enak disantap pas lagi ngiler-ngilernya. Apalagi kalau musim hujan, fthhhh masyaallah nikmatnya. Kemudian, urutan kedua makanan yang paling saya incar jatuh kepada mie pangsit. Ya, I am a pangsit lover. Entah mantra apa yang ada pada kandungan pangsit ini yang membuat saya terus mengincar kuah dan daging ayamnya. Seminggu tak bertemu pangsit rasanya hambar sekali hidup saya. Lanjut, daftar jajanan saya selanjutnya adalah Indomie. Tak berbeda jauh dengan yang namanya mie pangsit, Indomie ini juga memiliki semacam mantra yang mampu menghipnotis seluruh panca indra saya selama menjadi manusia apalagi sejak menjadi anak kos-kosan. Sejak saat itu, kamar kos saya tidak pernah sepi dengan yang namanya Indomie. Ya, Indomie memang sudah jadi semacam jimat bagi kebanyakan anak kosan. Maka wajar juga kalau ucapan thanks to di skripsi juga didedikasikan untuk Indomie. Selain sebagai pemadam kelaparan perut mahasiswa, Indomie juga penyelamat dompet mahasiswa rantau di akhir bulan. Mungkin karena kebersamaan dan kedekatan saya bersama Indomie sudah sangat intens selama bertahun-tahun maka terjalinlah perasaan saling memiliki antara kami. LEBAY!!!  Ya intinya Indomie adalah makanan wajib yang harus saya cicipi saat hari raya tiba. Dan terakhir yang tidak kalah menggiurkannya bagi indra pengecap saya adalah es krim. Kalau di bulan puasa nanti pas magrib baru bisa ngemil es krim, nah kalau lebaran saya bisa hantam pas tengah hari hehe.      

Well, readers itulah beberapa list jajanan yang paling saya incar di hari raya nanti. Semoga kita semua diberi umur dan rezeki yang panjang demi menyambut datangnya hari raya ya readers. Aamiin ya rabbal alamiin.


Sunday, 2 June 2019

Rutinitas Ramadan; Menonton, Membaca dan Menulis



Selamat datang kembali di blog saya wahai readers sekalian! Tak terasa bulan puasa ternyata akan segera meninggalkan kita lagi. Padahal rasanya baru kemarin bangun sahur pertama kali hehe. Selama Ramadan ini apakah kalian benar-benar memanfaatkan momen suci bulan puasa dengan kegiatan-kegiatan yang mensucikan diri kalian pula? Kegiatan suci yang saya maksud tidak melulu soal mengaji, berpuasa, bersedekah, taraweh, ataupun rutin mengerjakan sholat malam. Kegiatan yang bisa mengupgrade diri kalian selama puasa ini bisa berupa membantu orang tua di rumah, rajin membersihkan rumah, membantu tetangga, atau mengikuti kegiatan-kegiatan positif lainnya. Nah, pada tausyiah kali ini, saya lagi-lagi akan membagikan aktifitas yang sering saya lakukan selama Ramadan ini. Semoga para readers sekalian tercerahkan dengan tulisan saya ini kwkwkwk.

Seperti isi postingan blog awal Ramadan saya yang menceritakan tentang ngabuburit ala anak rumahan, kali ini saya kembali membahas rutinitas saya sebagai anak rumahan selama mengisi waktu di bulan Ramadan ini. Ya, sambil mengisi waktu luang dan menanti datangnya bedug maghrib saya biasanya menonton drama Korea dan reality show Korea. Mungkin beberapa orang menganggap ini unfaedah but daripada nonton sinetron atau acara TV di rumah tentu nonton drama Korea sama reality shownya lebih bermanfaat. Selain ceritanya bagus, drama Korea memang lebih punya banyak pesan moral dibandingkan nonton sinetron (peace emmak). Tentunya selain mencari hiburan seperti nonton produk luar saya juga suka nonton produk dalam negeri alias nonton Youtube para Youtuber favorit saya seperti Raditya Dika, Arif Muhammad, Nessie Judge, dan lain-lainnya. Tak hanya menghibur diri lewat nonton selama Ramadan ini saya mengisi banyak waktu saya dengan membaca buku yang belum sempat saya selesaikan beberapa waktu yang lalu. Jadi ya selain baca kitab Al-quran, waktu luang saya selama Ramadan saya juga habiskan dengan membaca kitab dari penulis-penulis Indonesia. Dan yang terakhir, kegiatan rutin yang baru pertama kali saya lakukan selama Ramadan adalah produktif menulis di blog. Karena melihat antusias teman-teman di Blogger Perempuan saya akhirnya semangat juga untuk menulis selama Ramadan ini. A bunch of thanks lah untuk Blogger Perempuan Network yang menghadirkan challenge selama Ramadan ini.     


Ammaca dan Tradisi Lebaran


Hai readers! Selamat berjumpa kembali dengan konten Ramadan ke 25 saya hari ini. Well, di beberapa menjelang lebaran hari raya lebaran ini saya akan sedikit berbagi cerita tentang tradisi lebaran yang sering saya lakukan bersama keluarga besar saya di kampung.

Biasanya di momen-momen akhir Ramadan seperti ini saya dan keluarga biasanya sudah sibuk atur jadwal untuk membuat kue-kue lebaran. Kenapa atur jadwal soalnya kami biasanya bergiliran membuat kue lebaran. Hari ini di rumah tante A, besoknya di rumah tante B dan begitu seterusnya. Dan momen-momen seperti inilah yang sering saya rindukan kalau Ramadan dan aura-aura lebaran sudah berakhir. Rindu keliling rumah keluarga di kampung untuk mencicipi kue-kue yang sudah dibuat sekaligus silaturahmi dan maaf-maafan pastinya. Selain icip-icip kue tradisi yang sering saya lakukan habis sholat ied adalah nyekar ke makam almarhum bapak saya. Setiba di rumah saya biasanya langsung hunting bunga dan daun pandan di sekitaran rumah. Berhubung tanaman di halaman rumah kebanyakan bunga jadi ya saya tidak repot-repot beli bunga. Begitu juga sama daun pandan yang tumbuh subur hampir di setiap rumah orang-orang di kampung. Nah habis nyekar dari makam bapak biasanya setiba di rumah satu persatu keluarga besar yang kebetulan tinggal berdekatan sama saya pun datang bersilaturahmi sambil maaf-maafan dan juga makan-makan pastinya. Selain itu, memasuki pukul Sembilan sampai sepuluh pagi giliran saya dan keluarga di rumah biasanya dapat panggilan makan-makan di rumah om yang kebetulan jadi tetangga juga. Tak seperti di rumah yang biasanya bikin kegiatan ammaca di hari terakhir puasa, di rumah om saya, beliau memilih ammaca pas seusai shalat idul fitri. Adapun ammaca bagi kebanyakan masyarakat Makassar ini adalah semacam syukuran atau rasa terima kasih kepada Allah yang masih memberikan rezeki kepada kami untuk dipertemukan pada lebaran tahun ini. Ya saya sih mengartikan kegiatan ammaca ini seperti itu, walaupun sebenarnya ada berbagai bentuk atau cara untuk mensyukuri karunia dan rahmat Allah SWT, tapi bagi keluarga kami, ammaca adalah salah satu tradisi sekaligus cara untuk mengucap rasa syukur tersebut.

Well readers, kurang lebih seperti itulah siklus tahunan di tiap hari raya di keluarga saya. Semoga siklus ini tetap terjaga seterusnya.


Baju Lebaran Ala Saya



Selamat datang kembali di blog saya para readers sekalian! Beberapa hari menuju hari lebaran apa saja yang telah kalian siapkan untuk memeriahkannya? Kue-kue lebaran, ketupat, opor ayam, THR untuk ponakan, atau baju lebaran? Kalau baju lebaran kayaknya sudah jadi semacam kewajiban yah tiap menyambut hari raya ini. Baik anak-anak sampai orang tua semua kayaknya sangat perlu dengan yang namanya baju lebaran. Selain ketupat, opor ayam, kue lebaran dan THR, baju lebaran memang sudah menjadi semacam icon utama tiap hari lebaran tiba. Baju lebaran sudah identik dengan yang namanya hari raya, semua serba diperbaharui demi menyambut hari yang fitri ini.

Berbicara soal baju lebaran, saya pribadi sebenarnya agak kurang peduli untuk membeli baju lebaran  setiap hari raya tiba. Kalau dibelikan baju sama orang tua Alhamdulillah, dapat THR baju lebaran Alhamdulillah, dan kalau tidak dapat baju lebaran juga Alhamdulillah soalnya saya adalah tipe orang yang jarang sekali memiliki niat untuk membeli baju baru tiap hari raya tiba tapi ya seperti yang saya bilang sebelumnya kalau dibelikan atau dikasih baju baru tentu saya pakai dong kwkwkw.  Sebenarnya, saya jarang atau bahkan tidak pernah membeli baju lebaran bukan karena saya berhemat atau pelit sama diri sendiri (Tapi kalau dipikir-pikir bisa masuk kategori hemat sama pelit sih wkkwk) melainkan saya punya stok baju yang jarang saya pakai so, mending pakai mereka saja. Terus alasan yang kedua adalah Ibu saya punya banyak koleksi baju yang jarang dipakai. Ya, beliau adalah seorang fashionista pada masanya. Karena sekarang beliau sudah berumur dan juga sudah jarang bepergian alias kebanyakan di rumah saja maka dari itu tanpa perlu repot-repot beli baju ya saya utak-atik saja lemari ibu saya hehe. FYI para readers sekalian sejak zaman kuliah sampai sekarang hampir semua baju saya itu juga hasil permak dari koleksi baju-baju ibu saya. Mungkin saya memang dilahirkan sebagai seorang perempuan yang tidak hobby belanja pakaian dari rahim seorang ibu fashionista. I can call it destiny. Allah blesses me!

Kemudian, alasan yang terakhir kenapa saya malas pakai baju baru pas lebaran adalah karena saya lebih suka dasteran ke tempat shalat ied. I do not why but I find a homey feeling in daster. Pokoknya memakai daster itu semacam kepuasan dan kenyamanan tersendiri untuk saya. Kalau pun punya baju baru biasanya habis shalat ied baru dipakai, kalau sudah mulai gerah barulah saya kembali memakai daster. Ya, my family sometime laughs at me when looking my dress di hari raya but I know I am not alone, saya juga punya sepupu yang memiliki kepribadian seperti saya ini pas hari raya hehe. So, kalau baju lebaran ala kalian bagaimana readers?