Thursday, 31 December 2020

Covid-19 Rewind 2020

 


Pandemi covid-19 saat ini sudah seperti kehidupan dunia lain yang sering ada di film-film dan juga buku-buku fiksi. Dulu saya pernah berandai-andai bagaimana jika kehidupan macam itu benar-benar terjadi. Bagaimana jika dunia benar-benar kacau dari segala sisi dan bagaimana pula orang-orang akan bertahan hidup demi menyelamatkan diri mereka bak pemeran utama dalam cerita. Dan benar saja, kisah fiksi itu mendadak menjadi nonfiksi di tahun ini. Lucu, aneh sekaligus menyedihkan memang melihat kehidupan di sekitar kita sekarang. Orang-orang mulai bermasker di sana sini. Gerakan rajin cuci tangan yang baik dan benar ternyata baru membumi di tahun 2020. Berbagai jenis salam atau greeting yang tak pernah terlihat sebelumnya mulai diperkenalkan oleh para pejabat dan tokoh penting. Jalan dan tempat-tempat yang biasanya ramai pun kini mendadak sepi.

Perubahan pola hidup di tengah pandemi ini ternyata juga ikut mengubah pola setiap konten orang-orang di berbagai sosial media. Orang-orang mulai memposting story menu makanan sehat ala mereka. Isi Instagram mulai penuh dengan aktifitas olahraga. Penghuni Twitter beramai-ramai memamerkan sekaligus mempromosikan karya mereka selama stay at home lewat intro andalan Twitter do your magic! Para influencer dan Youtuber pun juga turut meramaikan kanal mereka dengan konten bertema pandemi covid-19. Tak sampai di situ, lini masa Facebook yang biasanya terpantau sepi alias tidak “ramai-ramai amat” oleh barang dagangan kini menjadi padat merayap dipenuhi lapak makanan hingga pakaian. Aneka sandang, pangan, hingga papan pun nampaknya semakin eksis di sosial media. Mungkin memang benar, corona membuat banyak orang semakin aktif dan kreatif untuk  mencari cara bertahan hidup. Jualan online, rapat online, sekolah online, kursus online, kuliah online, seminar online bahkan konser pun sudah bergeser menjadi konser online. Mungkin tidak lama lagi nikah online juga akan segera menyusul di era pandemi ini. Mungkin saja.

Demi mencegah lahirnya kekacauan-kekacauan baru di tengah semrawutnya negeri ini, pemerintah pun melahirkan sistem baru yang disebut The New Normal. Ekonomi memang harus tetap berjalan demi menghidupi rakyat dan negara. Pendidikan juga harus tetap diadakan demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Begitu halnya rutinitas harian kita yang tetap harus berjalan beriringan demi keberlangsungan hubungan sosial antar manusia. Rasanya memang tidak seru untuk bersilaturahmi lewat “ngumpul dan nongkrong” di grup WA saja. Pada akhirnya, masyarakat pun diarahkan untuk menjadi warga yang mampu beradaptasi dengan kondisi pandemi saat ini. Membatasi jumlah orang, menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, membawa hand sanitizer hingga membawa alat makan pribadi saat keluar rumah sudah menjadi starter pack utama dalam The New Normal. Tapi bukan aturan namanya kalau tidak dilanggar. Maka jangan heran kalau kasus penderita Covid-19 hingga angka kematian akibat Covid-19 terus melambung tinggi. Sayangnya, di tengah tingginya kasus kematian tersebut justru tidak berbanding lurus dengan kekhawatiran banyak orang.

Persoalan angka kematian covid-19 juga menjadi semacam dongeng semata bagi kebanyakan orang. Hoax, konspirasi, dan propaganda selalu menjadi embel-embel ketika membahas tentang pandemi saat ini. Entah itu diskusi di dunia maya atau hanya sekedar pembahasan di area tongkronan bapak-bapak dan anak muda, isu tersebut pasti akan selalu muncul. Tentu tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Pendapat tetaplah pendapat yang perlu diutarakan dan juga didengarkan. Namun, dibandingkan dengan ribut-ribut mengurus kebenaran isu tersebut bukankah lebih baik untuk mencegah semakin tingginya kasus covid-19 ini. Bukankah lebih baik pula memanfaatkan momen yang sangat jarang terjadi ini untuk lebih akrab dengan lingkungan sekitar dan diri kita sendiri. Sebut saja bersih-bersih rumah atau kamar tidur misalnya. Toh siapa yang tahu jika selama ini kita hanya sekedar menyapu tapi tidak benar-benar membersihkan sekaligus merawat tempat tinggal kita sendiri.

Berdiam diri di rumah bukan berarti pula tak produktif. Tak ada salahnya mengasah kembali kemampuan masak yang sudah lama tak terpakai akibat kesibukan dalam bekerja ataupun kuliah. Selain hemat, makanan yang dibuat sendiri juga tentu lebih terjamin kebersihannya. Pandemi ini juga bisa menjadi momen yang tepat untuk menyelesaikan daftar bacaan yang sudah terlalu lama menganggur di rak buku. Daripada membaca berita yang penuh clickbait dan tak jelas asal usulnya alangkah lebih baik  jika menyibukkan diri dengan bacaan yang lebih bermanfaat. Nah, teruntuk para pecinta film atau penggemar drama Korea yang episodenya sampai berlapis-lapis itu, mungkin ini saat yang paling tepat juga untuk segera melunasi cicilan tontonan kalian.  

Pada akhirnya, kita memang harus terpaksa hidup berdampingan dengan suasana pandemi seperti ini hingga pada waktu yang tak bisa ditentukan. Suka atau tidak suka, pola rutinitas memang telah banyak berubah. Ada yang merasa baik-baik saja dan tak sedikit yang tidak sedang baik-baik saja seperti para pekerja yang dirumahkan dan terkena PHK hingga para petugas kesehatan yang gugur dalam menjalankan tugasnya. Hormatku setinggi-tingginya kepada pejuang stay at home dan kepada para tenaga kesehatan yang telah banyak mengorbankan waktu dan tenaganya untuk kami dan orang-orang bebal di luar sana. Dan teruntuk kalian yang memang menganggap pandemi ini hanyalah hoax atau konspirasi belaka, berhentilah mencekoki orang lain untuk terus percaya dengan pendapat kalian. Berhentilah untuk merasa yang paling benar dan paling ahli. Tak ada salahnya pula untuk  berdiam diri di rumah dan mengikuti protokol The New Normal ketika berada di luar rumah. Toh rajin cuci tangan, memakai masker dan jaga jarak juga tidak akan membuat hidup kalian “rugi-rugi amat”. 


Sunday, 27 December 2020

Sweet Home (Review)

 


Hello readers! Welcome back to my review board again! Kali ini saya akan membagikan ulasan tentang serial dari Netflix yang berjudul Sweet Home. Buat kalian-kalian yang selalu nanya tentang kelanjutan drama VOICE 4 serta nasib detective Do Kang Woo di ending VOICE 3 mending marathon serial ini dulu lah. Nuansa thrillernya juga gak jauh beda kok, karakternya Lee Jin Wook di serial ini juga misterius, sama kayak di drama VOICE. Pokoknya, lumayan mengobati rasa kangen kalian lah dengan serial VOICE yang belum jelas kelanjutannya itu.

Serial Sweet Home yang mulai tayang pada tanggal 18 Desember 2020 ini sendiri bercerita tentang manusia yang secara tiba-tiba berubah menjadi monster. Pas nonton episode 1 Sweet Home, saya kira monsternya itu cuma semacam zombie eh tau-taunya monsternya punya banyak varian cuy. Ada yang kayak Hulk, Titan abnormal di anime Attack on Titan, ada yang mirip Dooby di Harry Potter, terus ada juga yang kayak monster di anime Parasite. Setelah menghabiskan 10 episode serial Sweet Home ini, alur ceritanya dan karakter tokoh-tokohnya memang mau mirip-mirip sama cerita di anime-anime sih. Kayak gabungan Attack on Titan sama Parasite gitu, bisa dibilang versi live action lah.

Salah satu alasan kenapa saya langsung marathon nonton serial Sweet Home ini ya karena pemain-pemainnya memang keren-keren sih. Kalau mau ditanya siapa yang paling favorit tentu saya akan memilih Lee Jin Wook dong. Karakter dingin dan misteriusnya sejak di drama VOICE masih tetap ngangenin sampai sekarang. Sutradara Sweet Home gak salah sih pilih Lee Jin Wook yang memainkan peran sebagai Pyeong Sang Wook. Mau muka dan badannya penuh luka dan darah habis hajar-hajaran sama monster, karakter classy dan coolnya Lee Jin Wook tetap keren parah sih. Selain doi, aktingnya Song Kang yang memainkan karakter Cha Hyun Soo juga the best sih di serial ini. Kadang bikin ngeri pas berubah jadi monster tapi lebih sering bikin saya mewek juga kalau liat kisah kehidupan masa lalunya Cha Hyun Soo yang jadi korban bully di sekolah.

Meskipun punya nuansa thriller, horor dan misteri ala-ala Hollywood, serial Sweet Home ini tetap seperti drama Korea pada umumnya yang memiliki unsur menyayat hati dan bikin penonton jadi mewek. Dibalik ceritanya yang menegangkan dan menyeramkan, kisah hangat di tiap episode Sweet Home ini bakal bikin kalian nangis juga, serius! Episode 8 Sweet Home termasuk episode yang paling menguras emosi saya. Adegan pas Jung Jae Heon mengorbankan tubuhnya dibakar hidup-hidup demi menyelamatkan teman-temannya bikin saya nangis sesegukan. Belum lagi pas Pak Han juga mengorbankan tubuhnya untuk dibunuh oleh Cha Hyun Soo demi menghindarkan dirinya berubah jadi monster. Wah! asli sih nih serial selain bikin tegang juga bikin berlinang air mata.

Selain karena ceritanya yang memang beda dengan serial drama Korea pada umumnya, Sweet Home juga memiliki fakta menarik lainnya. Salah satunya ialah karena termasuk sebagai serial Netflix dengan bujet produksi yang sangat mahal. Menurut kabar yang sliweran di media, Sweet Home menginvestasikan sekitar 34, 2 milliar untuk setiap episodenya. Katanya sih bujetnya ini sampai-sampai mengalahkan serial mahal Netflix lainnya kayak Arthdal Chronicles, Kingdom dan juga Mr. Sunshine. Wajar juga sih mahal, selain pemerannya juga pemain berkelas, efek visualnya juga keren pake banget. Apalagi untuk proses pembuatan animasi dan CGI dalam menampilkan karakter monster yang senyata mungkin.

Pada akhirnya serial Sweet Home ini tamat dengan jumlah 10 episode. Memang sih ending Sweet Home masih menggantung dan bikin penasaran. Saya sendiri masih penasaran, sebenarnya monster-monster ini muncul karena eksperimen atau karena wabah penyakit? Atau memang benar dalam setiap diri manusia itu terdapat monster yang sedang terlelap dan hanya menunggu waktu untuk membangkitkannya? Oh iya, banyak juga yang nanya tentang adegan di akhir episode Sweet Home, apa iya Pyeong Sang Wook itu juga monster yang jahat? Menurut hasil pengamatan dan kesotoyan saya yang jadi Pyeong Sang Wook itu yah sih Jung Wooi Myung. Iya yang punya karakter tubuh monster mirip sama Cha Hyun Soo itu. Kayaknya si Jung Wooi Myung ini mengambil alih tubuhnya Pyeong Sang Wook untuk mengelabui Cha Hyun Soo.

Ya pokoknya, kita tunggu season 2 Sweet Home sajalah. Semoga Netflix gak bikin PHP lagi macam serial Arthdal Chronicles, Vagabond, sama Hospital Playlist yang masih belum jelas kelanjutannya. Dear Netflix, kurang-kurangin dong ngegantungin jadwal season 2. Cukup perasaan kita-kita ajalah yang digantungin dan gak diberi kepastian sama doi, lah malah curhat wkkwkwk. Anyway, kalau kalian bingung mau nonton drama Korea apaan lagi mending langsung marathon nonton Sweet Home saja lah. Action ada, horror ada, meweknya juga ada. Paket komplit lah pokoknya.


Wednesday, 23 December 2020

Review Skincare: Lacoco En Nature Intensive Treatment Eye Serum

 


Hai! Selamat datang kembali di review board saya para readers sekalian! Rasanya sudah lama tidak mereview produk skincare lagi di blog ini. Well, berhubung beberapa waktu belakangan ini saya lagi aktif-aktifnya begadang menuntaskan berbagai beban hidup deadline maka mata panda saya pun juga semakin aktif untuk menghitamkan diri. Untuk mengatasi permasalahan mata panda ini saya pun mencoba produk dari Lacoco En Nature Intensive Treatment Eye Serum. Lalu, seperti apa hasilnya? Here we go!

Packaging

Lacooco En Nature Intensive Treatment Eye Serum ini termasuk produk yang memiliki packaging yang sangat mungil. Produk ini dikemas dengan warna silver elegant dan berisikan eye serum sebanyak 15 ml. Meskipun penampilan produk ini seperti terbuat dari besi karena warna silvernya, pada dasarnya produk ini terbuat dari plastik. Bentuknya yang tidak neko-neko alias simple dan ringan sangat cocok untuk dibawa kemanapun. Serum ini juga menggunakan botol pump pada bagian atasnya jadi tidak akan mudah tumpah di dalam tas meskipun dibawa bepergian. Pada bagian depan botolnya kalian akan menemukan informasi mengenai nama brand serta jumlah kandungan eye serum dari produk ini. Untuk informasi lengkap mengenai kandungan dan cara pakainya, bisa kalian temukan pada box eye serum ini. Overall, packaging dari produk Lacoco yang satu ini memang terlihat lebih cantik dan elegant sih saat digenggam.  





Claim

Lacoco En Nature Intensive Treatment Eye Serum dengan berat 15 ml ini diklaim memiliki konsentrasi yang tinggi khusus kulit sekitar mata. Eye serum ini juga mudah menyerap masuk ke dalam kulit tanpa meninggalkan rasa lengket di area mata. Eye serum ini mengandung bahan utama berupa apel yang kaya akan vitamin A, C serta antioksidan. Tak hanya itu, produk ini juga mengandung lidah buaya yang akan menjadikan kulit tetap lembap serta terdapat pula bahan aktif peptide yang terbukti ampuh untuk menghilangkan garis halus pada sekitar mata. Untuk pemakaian maksimal dari eye serum ini kalian akan mendapatkan hasil berikut ini:

·      Menghilangkan garis halus dan mencegah penuaan

·      Mengencangkan kulit sekitar mata

·      Meredakan kulit yang tampak lelah

·      Memberikan kelembapan yang bertahan lama

Tekstur, Warna dan Bau

Meskipun bertekstur gel bening, Lacoco En Nature Intensive Treatment Eye Serum ini termasuk eye serum yang sangat mudah menyerap ke dalam kulit. Eye serum yang satu ini tidak mengandung bau apapun sehingga sangat cocok untuk kalian yang kurang suka dengan aroma yang menganggu.  

Cara Pakai

Setelah membersihkan wajah kalian, gunakan dua hingga tiga pump eye serum untuk setiap area mata. Aplikasikan eye serum menggunakan jari manis kemudian ratakan secara perlahan pada kulit bawah mata dan bagian kelopak mata. Tepuk-tepuklah secara perlahan dengan jari manis selama kurang lebih tiga puluh detik untuk mempercepat penyerapan serum. Gunakanlah pada pagi dan malam hari untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

My Impression

Dikarenakan jadwal begadang saya semakin tidak terkendali beberapa waktu belakangan ini maka saya pun memutuskan untuk mencari produk untuk mengatasi mata panda saya. Awalnya mau nyoba pakai eye cream tapi setelah baca-baca review orang akhirnya pilihan saya jatuh kepada produk eye serum dari Lacoco ini. Pas pertama kali lihat, produk ini memang agak nipu sih. Saya kira botolnya bakal berat gitu karena bentukannya kayak botol besi eh ternyata aslinya ringan. Kesan pertama kali menggunakan eye serum ini memang cukup menyegarkan banget sih. Ada sensasi dingin pas kena area kulit mata gitu.

Saya menggunakan produk eye serum ini kurang lebih sudah 3 bulanan, so far memang cukup melembapkan area mata panda saya. Untuk urusan mencerahkan bagian mata panda sebenarnya belum terlihat terlalu significant sih, mungkin karena saya sering ketiduran dan skip skincare routine tiap malam juga jadi hasilnya kurang maksimal. Untuk masalah menghilangkan garis halus dan mencegah penuaan mungkin efeknya akan terasa kalau udah umur 30 atau 40an kali yah, so let’s see later!

Overall, Lacoco En Nature Intensive Treatment Eye Serum ini cukup membantu menangani mata panda saya selama dua bulanan ini. Oh iya, meskipun ukurannya cuma 15 ml tapi sangat affordable untuk penggunaan sebulan sampai dua bulanan loh. Nah, untuk masalah harga, produk eye serum dari Lacoco ini dibandrol dengan harga Rp. 180.000. Mahal? Ada harga ada kualitas dong! Apalagi eye serumnya bisa dipakai berbulan-bulan so, it’s worthy lah. Untuk mendapatkan produk ini silahkan mengecek skincare online store langganan kalian atau bisa langsung mengunjungi official websitenya Lacoco di alamat https://www.lacoco.co.id/ 


Tuesday, 8 December 2020

Kuliah Satu Semester Berapa Bulan dan Berapa Biayanya?


Menempuh pendidikan hingga ke level perguruan tinggi merupakan kesempatan yang tidak bisa dinikmati oleh semua orang. Tidak semua anak lulusan SMA/SMK bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Kamu, yang punya kesempatan ini, hendaknya benar-benar menggunakan kesempatan dengan baik.

Peralihan dari masa sekolah ke masa kuliah seringkali tidak mudah. Terdapat perbedaan sangat mencolok antara kehidupan saat masih menjadi siswa dengan kehidupan sebagai mahasiswa. Mau tidak mau perubahan status ini menuntut seseorang untuk menyesuaikan diri.

Model pembelajaran di sekolah dan di kampus sangat berbeda. Ketika memasuki awal perkuliahan kamu akan merasakan perbedaan-perbedaan tersebut. Dikutip dari idntimes.com, inilah yang kamu rasakan:

a. Harus lebih mandiri dan aktif

Perbedaan paling dirasakan saat menjadi mahasiswa adalah harus lebih mandiri dan aktif. Apabila di sekolah dulu kamu lebih banyak dibantu oleh guru atau staf untuk mengurus administrasi, maka jangan membayangkan hal tersebut di bangku kuliah. Kamu harus aktif mencari informasi berhubungan dengan urusan akademik. 

Kamu harus mengatur jadwal kuliah sendiri, menentukan mata kuliah yang diambil, menentukan kelas mana yang akan diikuti, dan masih banyak lagi, Kamu harus merencanakannya seorang diri dan belajar untuk mempertanggungjawabkan semua keputusan yang diambil nantinya. Tidak ada yang akan memberitahumu, kamu harus berperan aktif untuk kelancaran kuliahmu selama ini. 

b. Jadwal yang fleksibel

Waktu belajar di sekolah tentunya lebih terjadwal dan teratur. Saat masih siswa, kamu dari pagi hingga siang di sekolah dalam lima hari. Nah, ketika sudah kuliah jadwal kelas lebih fleksibel. Misalnya dalam sehari kamu hanya memiliki satu jadwal kelas dengan durasi pembelajaran sekitar 2 jam. Di hari lainnya, bisa jadi kamu punya jadwal 2 kelas dalam sehari yakni di pagi atau sore hari. 

Jadwal kuliah tidak sepadat jadwal sekolah. Bahkan bisa jadi kamu punya jadwal kuliah selama tiga hari dalam seminggu. Fleksibilitas ini menguntungkan karena mahasiswa mempunyai waktu luang untuk melakukan aktivitas lainnya. Namun di lain sisi, fleksibilitas ini akan merugikan bila mahasiswa tidak mampu mengatur dan menggunakan waktu dengan baik. Bisa-bisa mahasiswa kerepotan bila tidak punya disiplin diri yang tinggi.

c. Banyak tugas

Dalam perkuliahan ada macam-macam tugas; tugas individu, tugas kelompok, tugas praktikum, Selain pembelajaran di kelas, kamu juga akan mendapatkan tugas-tugas tersebut dalam setiap mata kuliah. Jadi meskipun waktu belajar fleksibel, kamu harus bisa mengatur waktu agar tugas-tugas mata kuliah tidak menumpuk. Jangan sampai fleksibilitas tersebut membuatmu bersantai-santai sampai lupa tanggung jawab, ya.

d. Harus mampu belajar mandiri

Gaya mengajar dosen dan guru sangat berbeda. Mahasiswa sudah dianggap sebagai seseorang yang dewasa. Sehingga dosen tidak akan memberikan materi secara penuh dan lengkap. Tak jarang dosen hanya memposisikan diri sebagai pembimbing yang mengarahkan mahasiswa belajar. Mahasiswa justru berperan aktif  di dalam kelas seperti aktif bertanya dan aktif dalam diskusi.

Poinnya, mahasiswa harus mampu belajar secara mandiri. Tidak mengandalkan materi dari dosen. Bisa jadi materi dari dosen hanyalah garis besarnya saja. Untuk informasi lain yang jauh lebih detail, mahasiswa yang harus mencari tahu sendiri. Entah dengan membaca buku, jurnal, media cetak, atau media online.

e. Masa liburan yang panjang

Satu lagi yang membedakan antara kuliah dan sekolah. Waktu liburan kuliah lebih panjang. Pada masa liburan semester ganjil biasanya satu bulan. Sementara itu, masa liburan semester genap bisa mencapai tiga bulan. 

Kuliah Satu Semester Berapa Bulan?

Masa kuliah juga berbeda dengan masa sekolah. Namun, ada beberapa poin yang masih sama. Lama masa kuliah tergantung pada jenjang pendidikan yang ditempuh. Tingkat Diploma atau Strata 0 yang terdiri dari Diploma 1, Diploma 2, Diploma 3, dan Diploma 4. Masing-masing tingkat memiliki masa kuliah 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, dan 4 tahun. Sementara itu untuk tingkat sarjana mempunyai masa kuliah selama 4 tahun. 

Bagaimana dengan tingkat Master (Strata 2) dan Doktor (Strata 3)? Lama masa kuliahnya pun berbeda. Tingkat Master mempunyai masa kuliah 2 tahun. Sedangkan tingkat Doktor mempunyai masa kuliah 3 tahun. Namun bisa juga membutuhkan waktu yang lebih lama.

Nah, yang sama antara masa kuliah dan masa sekolah adalah hitungan semesternya. Jadi, istilah semester juga dipakai dalam kuliah. Contohnya, masa kuliah sarjana adalah 4 tahun dengan 8 semester di dalamnya. Lalu, kuliah satu semester berapa bulan? Hitungannya satu semester adalah enam bulan. Jadi dalam satu semester, kamu mempunyai enam bulan masa pembelajaran hingga UAS (Ujian Akhir Semester).

Selama satu semester kamu akan belajar di kelas bersama dosen. Menerima materi sesuai dengan mata kuliah dan SKS yang kamu ambil saat KRS-an. Selain itu kamu harus menyelesaikan tugas-tugas kuliah, mengikuti Ujian Tengah Semester (UTS), dan UAS. Bila menjalani serangkaian kegiatan perkuliahan selama satu semester dengan baik, hasil studimu akan aman. 

Biaya Kuliah Satu Semester

Setelah membahas kuliah satu semester berapa bulan, kita beralih ke pembahasan biaya kuliah. Selama menjalani pendidikan di perguruan tinggi, kamu akan membayar uang kuliah tiap semester. Besaran biayanya tergantung Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang kamu dapatkan.

Setiap perguruan tinggi mempunyai standar UKT masing-masing. Bahkan setiap program studi di sebuah perguruan tinggi juga berbeda-beda. Setiap mahasiswa dalam satu program studi pun berbeda biaya kuliahnya. UKT yang didapatkan mahasiswa ditentukan berdasarkan kemampuan atau kondisi ekonomi keluarga mahasiswa. Sehingga setiap mahasiswa bisa mendapatkan UKT yang berbeda-beda.

Selain itu, biaya kuliah antara perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta. Umumnya biaya kuliah di perguruan tinggi swasta disamaratakan. Tidak seperti di perguruan tinggi negeri yang disesuaikan dengan kemampuan orang tua mahasiswa. 

Dikutip dari 99.co, berikut ini besaran UKT di beberapa perguruan tinggi negeri. Data diambil pada tahun 2019. Tidak menutup kemungkinan bahwa terdapat perubahan standar UKT tiap perguruan tinggi.

Biaya kuliah Universitas Indonesia

Rumpun Sains Teknologi dan Kesehatan (IPA)

Kelas 1: Rp 0 – Rp 500 ribu

Kelas 2: > Rp500 ribu – Rp1 juta

Kelas 3: > Rp1 juta – Rp2 juta

Kelas 4: > Rp2 juta – Rp4 juta

Kelas 5: > Rp4 juta – Rp6 juta

Kelas 6: > Rp6 juta – Rp7,5 juta

Rumpun Sosial Humaniora (IPS)

Kelas 1: Rp 0 – Rp 500 ribu

Kelas 2: > Rp 500 ribu – Rp 1 juta

Kelas 3: > Rp 1 juta – Rp 4 juta

Kelas 4: > Rp 2 juta – Rp 5 juta

Kelas 5: > Rp 3 juta – Rp 5 juta

Kelas 6: > Rp 4 juta – Rp 5 juta

Biaya Kuliah Universitas  Gadjah Mada

UKT 0: Peserta Bidikmisi

UKT 1: Penghasilan wali ≤ Rp500 ribu, biaya kuliah Rp500 ribu

UKT 2: Penghasilan wali Rp500 ribu – ≤ Rp2 juta, biaya kuliah Rp1 juta

UKT 3: Penghasilan wali Rp2 juta – ≤ Rp 3,5 juta, biaya kuliah Rp2,4 juta – Rp7,35 juta

UKT 4: Penghasilan wali Rp3,5 juta – ≤ Rp 5 juta, biaya kuliah Rp 3,5 juta – Rp10,9 juta

UKT 5: Penghasilan wali Rp5 juta – ≤ Rp 10 juta, biaya kuliah Rp4,8 juta – Rp14,5 juta

UKT 6: Penghasilan wali > Rp10 juta, biaya kuliah Rp5,5 juta – Rp22,5 juta

Biasanya kita membutuhkan buku untuk dapat mempelajari berbagai mata kuliah. Anda bisa mendapatkan buku pegangan kuliah untauk mendukung tiap semester Anda di Toko Buku Kuliah Deepublish. 


Saturday, 31 October 2020

Alice (Review)


Hai-hai! Welcome back to my review board again readers! Well, pada kesempatan kali ini saya akan kembali memberikan sebuah review drama Korea yang berjudul Alice. Drama Alice ini sendiri telah tayang di SBS sejak tanggal 28 Agustus dan tamat pada tanggal 24 Oktober lalu. Kalian juga bisa menyaksikan drama yang berjumlah 16 episode ini melalui aplikasi VIU. Adapun pemeran utama di dalam drama ini di antaranya ialah Joo Won yang berperan sebagai Park Jin Gyeom serta Kim Hee-Sun yang berperan sebagai Yoon Tae Yi. FYI readers, drama Alice menjadi drama pertama Joo Won usai melaksanakan wajib militernya pada 5 Februari tahun 2019 kemarin. Jadi, buat yang rindu sama aktingnya mas Joo Won silahkan merapat di mari yeorobon!

Nonton Drama Alice Memang Wajib Pusing

Kalau dramanya sudah bergenre science fiction terus ditambah embel-embel time traveler maka sebagai penonton kita memang mesti siap dengan alur yang bikin mummet. Paling tidak siapkan Bodrexlah terlebih dahulu kwkwkw. Bagaimana hamba tidak tambah puyeng kalau saya mesti liat ibunya Park Jin Gyeom mati selama empat kali berturut-turut di drama ini. Ini park Jin Gyeom sama ibunya apa  tidak capek bolak balik dari tahun 2020 ke 2010 melulu. Yang bikin tambah pusing lagi ya karena di drama Alice ini memang membahas dunia parallel di mana setiap orang memiliki doppelganger atau kembaran dari dimensi yang berbeda. Jadi ceritanya si Park Jin Gyeom ini ada 3 jenis, ada yang versi tua yang berasal dari masa depan, ada yang versi remaja, sama ada yang versi tahun 2020. Ibunya Jin Gyeom juga bikin otak saya rada muter banget nih nonton drama ini. Yoon Tae Yi juga punya kembaran dari dimensi yang berbeda-beda. Yang pertama sebagai staff dari Alice, terus pas pindah ke dimensi lain jadi ibu rumah tangga alias ibunya Park Jin Gyeom dan yang terakhir jadi Professor dan dosen di kampus.  Nah, satu lagi nih yang bikin saya penasaran, itu kitab Nubuat yang bikin siapa sih? Kok niat banget bikinnya. Kalau gak ada kitab Nubuat kayaknya gak bakal ada tuh peran lawan kembaran dari dimensi lain. Doppelganger lintas dimensi bisa akur dan damai malahan.   

Drama Alice Melatih Diri Untuk Sering Suudzon

Selain bikin pusing, drama Alice juga bikin tambah dosa tiap episodenya. Bagaimana gak tambah dosa kalau saya suudzon melulu sama orang yang salah wkwkkw. Semua bermula gara-gara kapten Go Hyun Seok tiba-tiba berlaku aneh. Keberadaannya yang terekam CCTV di lokasi kejadian meninggalnya seorang penjelajah waktu bikin saya makin curigesyen sama ahjussi ini. Belum lagi pas beliau ternyata memiliki misi untuk membunuh Park Jin Gyeom. Usut punya usut ternyata kapten Go Hyun Seok termasuk salah satu penjelajah waktu yang ingin menyelamatkan istrinya di masa lalu. Tapi ternyata tebakan saya salah, beliau ternyata adalah penyelamat dan pelindung Park Jin Gyeom hingga kapten Go Hyun Seok menghembuskan nafas terakhirnya. Setelah muter-muter mencurigai banyak pemain di drama ini sebagai pelaku pembunuh ibunya Park Jin Gyeom, ternyata plotnya twist abis yereoubun! Ternyata pelakunya adalah sih Park Jin Gyeom versi tua yang berasal dari masa depan. Ya, kalian bisa bayangin sendirilah gimana ribetnya alur di drama Alice ini. Pokoknya kalau mau latih otak buat kebanyakan mikir silahkan nonton drama ini. Drama ini juga cocok kok buat melatih emosi kalian.   

Drama Science Fiction Yang Mengandung Unsur Baper

Jangan pernah mengharapkan ada banyak adegan romance di dalam drama Alice ini. Namanya juga drama science fiction, jadi penonton memang mesti lebih kebanyakan pusing dibandingkan falling in love kwkwkwk. Tapi to be honest, dibandingkan beberapa drama dengan genre serupa, drama Alice ini termasuk drama science fiction yang memiliki kadar bapper yang cukup tinggi loh. Kalau mau bandingin sama drama 365 Repeat TheYear, jelas drama yang satu ini masih lebih bikin bapper. Tapi to be honest lagi, saya sebenarnya masih lebih milih Park Jin Gyeom happy ending sama Kim Do Yeon dibandingkan sama Yoon Tae Yi. Meskipun di versi tahun 2020 Yoon Tae Yi memang bukan lagi ibunya Jin Gyeom tapi kesannya si Park Jin Gyeom ini malah kayak Sangkurian. Bener gak? Ya walaupun beberapa orang tetap suka sama endingnya, tapi kalau drama ini mau direset saya lebih ikhlas kalau Kim Do Yeon jodoh sama Park Jin Gyeom. Ciyusannn! Feel mereka itu lebih dapat loh. Saya malah lebih bapper nonton tiap ada adegan antara Park Jin Gyeom sama Kim Do Yeon. Apalagi pas scene yang ini :(







Pesan Moralnya Relatable Indeed

Setelah berpusing-pusing ria dari episode 1 sampai episode 16, drama Alice ini memiliki ending yang dalem banget ternyata. Pesan moralnya sungguh bikin saya ngangguk-ngangguk paham gitu. Saya kira saya beneran bakal minum Bodrex setelah drama ini tamat, apalagi kalau endingnya akan tidak jelas alias ngegantung. Tapi ternyata quotes di ending drama Alice ini jadi semacam angin segar yang bikin pening di kepala saya langsung hilang yereoubun!


Ya, sudah seharusnya kita memang fokus untuk melakukan apapun yang membuat kita bahagia saat ini. Masa lalu biarlah masa lalu kata mbak Inulnya mas Adam. Masa sekarang yang kita jalani ini adalah moment tepat untuk menyambut masa depan kita yang lebih baik. Anyway, saya nggak nyangka kalau drama Alice yang punya genre science fiction campur misteri bakalan sebijak ini di akhir episodenya kwkwkwkw. Nah, buat kalian yang sudah nonton, yuk sharing kesan-kesan kalian selama nonton drama ini di kolom komentar. See you in the next review!  


Sunday, 25 October 2020

7 Film Kerajaan Terbaik Sepanjang Masa


Kamu bosan menghabiskan waktu di rumah seharian cuma rebahan aja? Atau mau nonton tapi bingung mau nonton apa?

Selama social distancing, kebanyakan orang memang lagi sibuk-sibuknya mencari berbagai genre dan judul film.  Kalau kamu sudah capek menonton film dengan tema cinta-cintaan, lucu-lucuan atau mungkin setan-setanan, coba deh nonton film yang bertema kerajaan. Film kerajaan juga gak kalah serunya dengan genre film yang lain. Selain karena kisahnya yang berlatar belakang sejarah, karakter-karakter yang diperankan dalam film kerajaan juga unik dan khas.

Supaya kamu gak bingung, kali ini saya sudah menyiapkan beberapa rekomendasi film kerajaan terbaik sepanjang masa yang bisa menemami kalian selama social distancing.

7 Film Kerajaan Terbaik Sepanjang Masa Yang Cocok Ditonton Selama Social Distancing

Karena banyak negara yang memproduksi film bertema kerajaan, maka saya akan mencoba merangkum 7 film kerajaan terbaik di dunia yang berasal dari Korea, Inggris dan juga China. Penasaran? Yuk, simak informasinya berikut ini.    

The Great Battle (2018)


Film bertema kerajaan pertama yang wajib kamu nonton selama social distancing adalah The Great Battle. Film ini bercerita tentang peperangan yang terjadi antara Goguryeo dengan dinasti Tang yang berlangsung selama 88 hari.

Cinematography yang menakjubkan serta dikemas dengan aksi peperangan yang seru menjadikan film ini diburu oleh jutaan penonton di Korea Selatan. Maka tak heran jika The Great Battle selalu meraih puncak Box Office Korea Selatan sejak hari pertama pemutarannya.

Film ini juga dibintangi oleh banyak aktor keren seperti Jo In Sung, Nam Joo Hyuk, dan juga Seolhyun AOA. Daripada penasaran, yuk segera nonton geng!

The Admiral: Roaring Currents (2014)



Film ini disebut-sebut sebagai film Korea Selatan yang paling laris di Amerika. Tak hanya itu,
The Admiral: Roaring Currents ini juga berhasil memenangkan kategori Best Film pada Daejong Film Awards.

Film ini bercerita tentang pertempuran Myeongryang yang terjadi di tahun 1597. Laksamana Yi Shun Sin diceritakan mampu meraih kemenangan melawan armada Jepang hanya dengan menggunakan 12 kapal yang tersisa. Sementara saat itu, pasukan Jepang memiliki lebih dari 300 kapal. Wow! 

Bumbu-bumbu patriotisme dan optimisme sangat kental di dalam film ini. Pengambilan gambar yang super keren dengan latar belakang lautan juga makin membuat banyak penonton yang terkagum-kagum.

Film yang disutradarai oleh Han Min Kim ini dibintangi oleh sederet aktor papan atas Korea seperti Min Shik Choi, Seung Ryong Ryu dan Jin Woong Cho. Film ini sangat sayang untuk kamu lewatkan geng!

The King’s Speech (2010)


The King’s Speech merupakan film bertema kerajaan yang berasal dari Inggris. Film ini berkisah tentang perjalanan raja George ke VI meraih tahta tertinggi di kerajaan Inggris. Film ini juga memiliki alur yang sangat indah dengan karakter pemainnya yang sangat kuat. 

Banyak kritikus film yang memberikan review positif dari cerita hingga tokoh dalam film ini. Kerja keras tim produksi serta para pemain The King’s Speech ini pun diganjar dengan 12 nomine Oscar di tahun 2010. Mereka berhasil mendapatkan 4 penghargaan lewat kategori film terbaik, sutradara terbaik, skenario terbaik, dan aktor terbaik.

Film yang rilis di tahun 2010 ini, membawa sejumlah aktor yang tak perlu diragukan lagi. Mereka adalah Colin Firth, Helena Bonham Carter, Geoffrey Rush dan masih banyak lagi.

The Young Victoria (2009)


The Young Victoria menceritakan tentang masa muda Ratu Victoria yang telah mewarisi tahta kerajaan Inggris di usia 18 tahun. Jika sosok Ratu Victoria yang selalu kamu bayangkan hanyalah seorang wanita tua, maka di film ini kamu akan melihat masa muda sang Ratu. Kisah percintaan antara Ratu Victoria dan Pangeran Albert juga dapat kamu lihat di dalam film ini.

Alur dan suasana dalam film ini juga mengajak penonton untuk bernostalgia menikmati kehidupan kerajaan Inggris di masa lalu. Berkat pengambilan gambar yang terbilang akurat tersebut, The Young Victoria berhasil memenangkan Oscar dalam kategori Custom Design serta BAFTA untuk Best Makeup and Hair.   

Red Cliff (2008)


Red Cliff dianggap sebagai film kolosal Mandarin terbaik sepanjang masa. Film ini menggambarkan bagaimana keadaan Cina di zaman kekaisaran yang pada akhirnya menjadikan Cina terbagi dalam tiga bagian.

Di dalam film ini kamu akan dimanjakan dengan aksi peperangan besar-besaran yang sangat seru. Efek visual yang diberikan juga terasa benar-benar hidup. Sayangnya, saat proses pembuatan film yang penuh totalitas ini juga menyebabkan banyaknya kecelakaan di lokasi syuting. Seorang stuntmant dikabarkan meninggal tewas pada sebuah kebakaran. 

Fakta menarik lainnya dari film ini adalah tentang proses pengambilan gambar yang ternyata berada di atas dua bendungan yang masih aktif di Provinsi Hebei. Tak hanya itu, untuk menonton film ini kamu juga membutuhkan waktu sekitar 4 jam 48 menit loh geng! 

Shadow (2018)


Film yang dirilis pada tahun 2018 ini bercerita tentang petualangan ahli bela diri pada zaman Cina kuno. Shadow juga menggambarkan kisah perebutan kerajaan antara kerajaan Pei dan kerajaan Nan.

Konsep yang diusung oleh sutradara Zhang Yimou tentang feminisme dan maskulinitas sangat menarik minat para penonton dan kritikus film. Uniknya lagi, film ini menonjolkan warna monokrom yang mendominasi dalam setiap adegannya. Karakter dari Zhang Yimou di dalam film ini juga layak mendapat pujian setinggi-tingginya berkat perannya yang menguras emosi.  

Pengambilan gambar yang menakjubkan serta drama yang sangat kental menjadikan Shadow sebagai salah satu film yang layak untuk segera kamu nonton.

The Great Wall (2017)


Film terakhir yang tidak kalah serunya dengan film kerajaan yang lainnya adalah The Great Wall. Tokoh utama di dalam film ini tidak hanya diperankan oleh manusia tetapi juga oleh sosok monster.

Seperti judulnya, film ini menceritakan tentang sejarah Tembok Besar Cina yang konon diserang oleh monster buas setiap 60 tahun sekali. Meskipun cerita ini sangat berbeda dengan sejarah Tembok Besar Cina yang sebenarnya, akan tetapi cerita di dalam film ini tetap menarik untuk ditonton.  

Film kolaborasi Hollywood dan Cina ini juga diperankan oleh aktor terkenal Hollywood yaitu Matt Damon, Pedro Pascal dan juga William Dafoe. Beberapa aktor kenamaan Cina seperti Andy Lau, Tian Jing dan Han Lu juga turut berperan dalam film The Great Wall. 

Nah, itulah tujuh film kerajaan terbaik sepanjang masa yang bisa kamu nikmati selama social distancing. Selamat menonton!


Friday, 16 October 2020

Review Haircare: Loreal Paris Fall Resist 3X One-Minute Treatment Mask

Hello! Selamat datang kembali di review board saya wahai para readers sekalian! Well, sesuai judulnya saya memang akan mereview produk dari Loreal Paris yaitu Loreal Paris Fall Resist 3x One-Minute Treatment Mask. Berhubung rambut saya sudah lelah memakai beberapa jenis hair mask yang diklaim mampu mengatasi rambut rontok tapi hasilnya kurang memuaskan hati rambut saya, maka saya pun mencoba untuk mencari produk lainnya. Dan, pilihan saya kali ini jatuh kepada produk hair mask dari Loreal Paris. Lalu, seperti apa hasilnya di rambut saya ini? Let’s read my review in the following article!

Packaging

Packaging dari Loreal Paris Fall Resist 3X One-Minute Treatment Mask memang cukup besar karena isi dari hair masknya sendiri ialah sebanyak 200 ml. Dengan berat seperti itu tentu akan sedikit menyusahkan kalian jika ingin membawanya bepergian atau travelling. Jar dari hair mask ini sendiri dikemas dengan bahan plastik jadi tetap lebih aman dari resiko pecah. Kemudian, penutup jar dari hair mask ini didesain dengan warna pink ngejreng nyaris ungu di pengelihatan saya sedangkan jarnya sendiri berwarna hitam pekat. Pada bagian depannya kalian akan melihat nama brand dari hair mask ini dan tidak ketinggalan pula informasi singkat tentang manfaat menggunakannya. Terus untuk bagian belakang produk ini kalian akan menemukan informasi yang lebih banyak lagi tentang manfaat dari hair mask serta kandungan-kandungan di dalamnya. Bisa dibilang penampakan dari hair mask yang satu ini memang lebih kelihatan ngejreng dengan warna pink keungu-unguannya jika dibandingkan produk hair mask lainnya  dari Loreal Paris.






Claim

Produk Loreal Paris Fall Resist 3X One-Minute Treatment Mask ini diklaim mampu mengurangi rambut rontok hingga 97%. Kandungan arginine protein yang merupakan salah satu asam amino yang berperan dalam pertumbuhan rambut ini dipercaya mampu merawat dan menjaga rambut agar tetap kuat. Kemudian, produk hair mask ini juga mengandung formula yang disebut dengan fall resist 3X yang mampu memberikan 3 aksi perlindungan melawan rambut rontok. Jadi 3X yang dimaksud pada produk hair mask ini antara lain:

  • Menutrisi kulit kepala
  • Mengurangi rambut yang patah
  • Memperkuat batang dan ujung rambut.

Tekstur, Warna dan Bau

Tekstur dari hari mask ini sendiri sedikit agak kental tapi tetap terasa ringan saat diaplikasikan di rambut. Memiliki warna putih seperti susu serta memiliki aroma yang sangat wangi.



Cara Pakai

Setelah menggunakan shampoo, silahkan mengaplikasikan hair mask pada batang rambut basah secara merata dan hindari mengenai kulit kepala. Setelah itu pijat kepala kalian lalu diamkan hair mask selama satu menit kemudian bilas dengan air bersih.  

My Impression

Awal mula mengenal Paris Fall Resist 3X One-Minute Treatment Mask ini karena saya merasa seperti diracuni oleh beberapa review hair mask di sosmed. Setelah baca banyak review dari netizen akhirnya saya pun memutuskan mencoba membeli produk ini. Sejauh ini saya belum merasakan perubahan yang significant dengan menggunakan hair mask ini tapi lumayan membantu lah dalam mengurangi rambut rontok saya. Yang biasanya pas bangun tidur bantal saya dipenuhi rambut, beberapa minggu ini penampakan itu sudah mulai berkurang. Mungkin hasilnya akan jauh lebih maksimal lagi untuk pemakaian selanjutnya kali yah. So, mari berjuang bersama produk ini guys!

Selanjutnya, untuk urusan bau produk hair mask ini sendiri memang memiliki wangi yang cukup menyengat di hidung saya tapi tidak sampai bikin sakit kepala kayak shampoo atau beberapa produk hair mask sebelumnya yang saya gunakan. Pokoknya baunya itu bau cewek banget lah, kayak bau-bau permen manis gitu. Untuk yang suka wewangian yang cukup manis dan kuat kalian pasti suka dengan bau dari produk hair mask ini.

Overall, produk hair mask dari Loreal Paris ini memang sangat membantu dalam mengurangi salah satu beban dalam hidup saya. Bukan cuma soal rambut rontok tetapi produk ini juga membantu merawat dan melembutkan rambut saya yang pada dasarnya memang agak kaku kayak sapu ijuk. Dan mungkin hal itu disebabkan karena sebelum-sebelumnya saya memang tipe orang yang malas untuk keramas. Berkat kehadiran produk ini akhirnya rambut saya pun bisa terbebas dari musibah yang lebih parah di kemudian hari.

Kemudian, untuk masalah harganya sendiri, produk Loreal Paris Fall Resist 3X One-Minute Treatment Mask ini dibandrol dengan harga 70 hingga 80an ribu di pasaran. Berhubung kemarin https://www.sociolla.com/ lagi diskon, Alhamdulillah saya dapat dengan harga 50 ribu saja. Untuk mendapatkan produk ini kalian juga bisa cek di skincare online store lainnya atau mengunjungi langsung official online store dari Loreal Paris.


Thursday, 8 October 2020

The Sound of Your Heart (Review)

 


Hai! Welcome back to my review board again readers! Berhubung masa pandemi ini belum memiliki titik terang kapan akan berakhir dan malah makin bikin mumet, maka perkenankanlah saya memberikan sebuah rekomendasi drama Korea komedi berjudul The Sound of Your Heart yang bisa menenami kalian melewati masa-masa overthinking ini. Teruntuk kalian yang sudah mulai capek nonton drama Korea dengan cerita berat dan penuh teka-teki atau drama Korea yang isinya cinta-cintaan melulu maka saya sangat-sangat menyarankan kalian untuk segera menonton drama ini. Dijamin bikin ngakak dan mampu mengurangi beban pikiran kalian di tengah situasi negara yang makin bikin banyak orang pengen pindah kewarganegaraan.  

The Sound of Your Heart ini sendiri merupakan drama komedi yang diadaptasi dari sebuah webtoon populer dengan judul The Sound of Heart. Drama ini sebenarnya juga sudah lama tayang di Netflix sejak tahun 2016 silam tapi sampai sekarang masih sering saya nonton ulang soalnya mau diulang berapa kali pun tetep biking ngakak guling-guling. Iya, drama komedi ini tingkat ngakaknya sebelas-duabelas lah dengan Waikiki season I, bedanya cuma di durasi setiap episodenya doang. Jumlah episode dan durasi di drama ini juga cukup sedikit menurut saya yaitu sekitar 20 episode di mana tiap episode cuma sekitar 15 menitan. Kalau kalian nonton semalaman kayaknya juga bakal langsung habis deh. Tapi hati-hati, jangan sampai bikin isi rumah sama tetangga kalian kebangun tengah malam gara-gara suara ngakak kalian nonton drama ini kwkwkw.

Yang menjadi daya tarik kenapa orang-orang suka sama cerita di The Sound of Your heart ini, ya karena pemainnya memang sangat mendukung isi ceritanya yang konyol. Ada Lee Kwang Soo sang pangeran Asia yang selalu bikin ngakak di tiap episodenya Running Man, kemudian ada Jung So Min, artis yang ektingnya gak usah diragukan lagi. Terus ada Kim Dae Myung yang berperan sebagai Dr. Yang Seok Hyung yang terkenal di kalangan ibu-ibu hamil di Hospital Playlist. Pokoknya karakternya yang cerdas, baik hati dan hangat itu langsung ambyar di drama ini. Kemudian gak ketinggalan ada Kim Byeong Ok dan Kim Mi Kyung yang merupakan pemain senior dan berperan sebagai orang tuanya Lee Kwang Soo sama Kim Dae Myung di drama ini.

Nah, selain kualitas pemain The Sound of Your Heart yang sudah sangat bergaransi untuk layak ditonton, berikut ini adalah beberapa alasan lain kenapa kalian wajib nonton drama The Sound of Your Heart di tengah pandemi kayak gini.

Keluarga yang Penuh Dengan Kekonyolan

Cerita di dalam The Sound of Your Heart ini memang penuh dengan kisah konyol sebuah keluarga. Jadi ceritanya si Lee Kwang Soo yang memerankan karakter Joo Suk ini itu adalah seorang pengangguran yang kerjanya cuma gambar komik terus di rumah. Setelah berkali-kali ditolak karena ceritanya gak layak untuk terbit menurut perusahaan komik tersebut, akhirnya Joo Suk mengubah kisah di dalam komiknya menjadi kisah kehidupan keluarganya yang absurd itu. Meskipun awalnya cuma coba-coba buat ajuin komiknya, eh editornya malah suka sama karyanya wkkwkw. Joo Suk ini juga punya kakak laki-laki namanya Cho Jun. Meskipun sudah lama kerja di perusahaan, tapi tingkahnya gak ada dewasa dewasanya sama sekali. Di drama ini, Cho Jun hobinya diutus sama perusahaan buat dinas di China tapi setiap dinas di luar negeri si Cho Jun ini sering bikin repot negaranya sendiri. Bayangkan, karena cuma rindu sama Korea, Cho Jun mesti video call-an terus sama orang-orang di rumahnya. Ketika ibunya mau belanja, Cho Jun gak ketinggalan tuh ikutan belanja bareng ibunya via VC di tablet ibunya. Bapaknya lagi nongkrong sama teman-temannya di tempat karokean, si Cho Jun juga ikutan karokean via VC. Yang paling parah sih pas Joo Suk gantiin temannya jadi dosen di sebuah kampus, saat Joo Suk lagi keluar kelas, si Cho Jun malah sibuk VC di depan mahasiwa. Karena dikira dikerjain sama Joo Suk,  si Cho Jun ini malah main buka baju sama celana pas VC. Sialnya lagi, laptopnya Joo Suk itu terhubung sama LCD di kelas maka jadilah adegan tak senonoh itu jadi tontonan sekelas mahasiswa. Yang paling apes yah si Joo Suk soalnya mahasiswa sudah berpikiran aneh sama dosen tamu yang masuk ke kelas mereka hari itu kwkwkw.

Di episode The Sound of Your Heart lainnya Cho Jun bikin ulah lagi pas dinas di China gara-gara sok pintar bahasa Inggris. Ketika hotel yang ia tempati nginap sedang mengadakan simulasi kebakaran eh dia malah ngira ada kebakaran beneran. Jadilah satu hotel dibikin repot dan penuh drama sama si Cho Jun. Gara-gara kasus ini, Cho Jun jadi headline di berita-berita China dan Korea. Cho Jun makin dikira gak waras sama pihak kepolisian China karena telepon dari pihak kepolisian dianggap telepon spamming sama ibunya. Ketika kepolisian menghubungi bapaknya, si bapaknya Cho Jun malah main ekting jadi mafia yang ditelpon musuh. Kisahnya Cho Jun kalau dinas ke China memang paling rusak parah sih wkkwkw.

Kemudian ada pula ibunya Joo Suk dan Cho Jun yang ciri khasnya sama lah dengan ibu-ibu kompleks pada umumnya. Kerjaannya kalau bukan urus dapur ya urus suami sama anak. Ibunya Joo Suk sama Cho Jun kalau gak di rumah yang nongkrong sama teman-temannya yang didominasi sama ibu-ibu sosialita. Terus ada juga bapaknya Joo Suk sama Cho Jun yang punya bisnis kedai ayam goreng tapi lebih sering kerja serabutan dari jadi kuli, satpam, tukang pasang mata boneka sampai jadi pemain figuran. Iya, kedai ayamnya cuma jadi tempat nongkrong doang sama teman-teman karokenya karena gak ada pelanggannya kwkwkkw.

Penuh Cameo dan Parody

Cerita dari The Sound of Your Heart ini memang isinya asli konyol dan absurd semua. Cameo di setiap episodenya juga bukan kaleng-kaleng ternyata. Dari episode satu sampai dua puluh kalian akan diseguhi oleh berbagai artis dan aktor yang keren-keren. Mulai dari Kim Sae Jong yang di episode dua yang kerjanya berantem sama keluarganya Kwang Soo pake lomba nyanyi. Terus ada Kim Jong Kook yang jadi anak kembar yang kerjaanya main cabut name tag keliling apartment bareng Kwang Soo. Dan di episode terakhir The Sound of Your Heart juga ada penampilan Song Joong Ki yang lagi sibuk belanja di super market terus ngasih kembaliannya buat Kwang Soo.

Selain itu, jalan cerita di The Sound of Your Heart juga makin absurd karena banyaknya parody-parody di tiap episodenya. Bahkan ada episode khusus dengan judul Reply 2016 di mana Joo Suk di tahun 2066 certain dirinya pas ketemuan sama si Ae Bong di pesta temannya saat tahun 2016. Lucunya, petunjuk satu-satunya yang Joo Suk tahu tentang si Ae Bong adalah model rambutnya yang bob. Sialnya, semua tamu undangan bahkan pengantin sampai tukang catering dan fotografer di pesta itu rambutnya bob semua. Wkkwkw asli ini episodenya ngakak abis!

Punya Pesan Moral

Selain bikin ngakak guling-guling, drama komedi ini juga penuh pesan moral juga ternyata. Jadi, di episode terakhir The Sound of Your Heart, Joo Suk sekeluarga berencana melakukan liburan tapi Joo Suk ceritanya gak bisa ikut soalnya dia punya deadline komik yang mesti diselesaikan. Tapi, sialnya si Cho Jun malah udah pesan tiket pesawat sama hotel pake kartu kreditnya Joo Suk. Si Joo Suk merasa rugi dong kalau ga ikut. Berbagai cara pun dilakukan biar Joo Suk dapat ijin cuti liburan. Mulai dari pura-pura sakit, bersikap arrogant sama fansnya di jalan, sampai spamming komentar negative di komiknya sudah dilakukan. Tapi tetap saja, komiknya masih disukai banyak orang. Joo Suk juga akhirnya gagal meyakinkan editornya. Hingga pada akhirnya, Joo Suk meliburkan dirinya sendiri tanpa perlu ijin dari editornya lagi. Dia main kabur aja gitu dari tanggung jawab demi liburan.

Kemudian, sebelum berangkat Joo Suk ketemu sama teman lamanya yang juga suka menggambar komik di sebuah minimarket bandara. Mereka ngobrol basa-basi sampai Joo Suk pun mengeluarkan uneg-unegnya kalau dia jenuh dan capek dikejar deadline terus. Setelah pamit, diam-diam Joo Suk mendegar ocehan temannya, kira-kira bunyinya kayak gini “Tidak bersyukur, dasar arrogant, dia bahkan tidak menghargai para pembacanya.” Mendengar ucapan temannya itu, si Joo Suk langsung flash back beberapa tahun silam saat ketemu Soon Jong Ki yang saat itu sudah menjadi seorang komikus sukses. Ucapan yang didengarnya barusan sama persis dengan kata-katanya pas ngatain Soon Jong Ki yang juga ngeluh sama dunia komik. It’s so deep bro!

Sejujurnya, pesan yang ada di episode terakhir The Sound of Your Heart ini asli nampar banget sih buat saya pribadi. Saya kadang ngeluh dan malas banget ngerjain deadline tulisan, baik job tulisan artikel di luar blog maupun job tulisan di blog ini sendiri.  Sampai saya lupa kalau saya juga punya client yang terus percaya dengan tulisan-tulisan yang saya buat dan saya juga punya pembaca yang tetap setia di blog ini. Ya, meskipun gak banyak-banyak amat kayak blog tetangga tapi sudah sepatutnya saya memang tetap harus menghargai pembaca-pembaca saya. Saya dapat job menulis di blog ini ataupun di luar blog ini juga karena berkat pembaca-pembaca saya.

Wah, setelah ngakak nonton sampai dua puluh episode ternyata ending The Sound of Your Heart ini malah bikin saya curhat kwkkwwk. Well, anyway cukup sekian dulu curhatan dan reviewnya. Sampai jumpa di postingan selanjutnya yah my lovely readers!   

 


Tuesday, 6 October 2020

Rekomendasi Buku Filsafat Pendidikan untuk Mahasiswa

 


Rekomendasi buku filsafat pendidikan - Ilmu filsafat pendidikan menjadi dasar yang wajib dikuasai oleh mahasiswa pendidikan di semester awal. Mengapa demikian? Sebab membahas mengenai filsafat pendidikan tidak akan terlepas dari pokok bahasan tentang pendidikan itu sendiri.

Pendidikan di dunia modern saat ini cenderung dilakukan melalui interaksi antara guru dan muridnya. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang terjadi pada beberapa abad silam di mana pendidikan cenderung dipelajari tanpa panduan guru. Di masa lalu, pendidikan didapatkan melalui kejadian-kejadian yang terjadi di alam sekitar manusia. Ketika pendidikan didapatkan melalui alam, maka filsafat pendidikan belum berjalan di sana, sedangkan ketika pendidikan didapatkan melalui ajaran guru, maka timbulah apa yang disebut dengan filsafat pendidikan.

Filsafat pendidikan berasal dari dua kata yaitu kata filsafat dan kata pendidikan. Filsafat sendiri berasal dari bahasa yunani “Philos” yang memiliki arti kecintaan dan “sophia yang memiliki arti kebijaksanaan. Jika diterjemahkan dari dua kata ini, maka filsafat dapat diartikan sebagai kecintaan akan kebijaksanaan. Jika diartikan secara lengkap maka filsafat dapat diartikan sebagai kajian mendalam yang dilakukan terhadap ilmu pengetahuan serta didasarkan atas kecintaan seseorang terhadap ilmu pengetahuan tersebut.

Jika diterapkan dalam pendidikan, maka lahirlah apa yang disebut dengan filsafat pendidikan yang artinya adalah sebuah ilmu filsafat yang terfokus pada bidang pendidikan. Dalam hal ini, filsafat benar-benar difokuskan di setiap bagian dari bidang pendidikan mulai dari kulit hingga akar-akarnya. Filsafat pendidikan akan membahas ilmu mengenai pendidikan itu sendiri secara mendalam dan meluas di setiap bagian dari ilmu pendidikan.

Pentingnya ilmu filsafat pendidikan, disadari oleh Deepublish untuk menerbitkan rekomendasi buku filsafat pendidikan yang berkualitas. Berikut ini adalah beberapa rekomendasi buku filsafat pendidikan untuk para mahasiswa di Indonesia.


1. Buku Filsafat Ilmu


Rekomendasi buku filsafat pendidikan yang pertama adalah Filsafat Ilmu karya dari Iman Jauhari dan rekan-rekannya. Isi dalam dalam buku ini membahas apa (ontologi), bagaimana (epistemologi), dan untuk apa (aksiologi) sebagai wujud kegiatan keilmuan.

Selanjutnya, di dalam buku ini juga dikaji mengenai hakikat sarana berpikir ilmiah yang patut dikuasai, seperti bahasa, logika, matematika, dan statistika. Teknologi sebagai bentuk konkrit penerapan pengetahuan ilmiah dalam memecahkan masalah juga mempunyai implikasi-implikasi moral dan sosial dalam pelaksanaannya.

Buku ini terdiri dari enam materi. Bab I tentang pendekatan dan beberapa pengertian filsafat. Bab II mengenai pengertian, manfaat, dan ruang lingkup filsafat ilmu. Bab III tentang metode dan sistem berpikir ilmiah dalam perkembangan ilmu. Bab IV tentang bangunan teori dalam filsafat ilmu dan pengetahuan.

Bab V menjelaskan sarana berpikir ilmiah dan perilaku ilmiah. Sedangkan, bab VI tentang rangkuman pengetahuan, metode ilmiah, struktur pengetahuan ilmiah dan ilmu dalam perspektif moral dan politik. Dengan demikian, titik berat pembahasan diletakkan pada kesamaan yang terdapat dalam berbagai aliran dan bukan pada pembahasannya. Pembahasan filsafat ilmu di dalam buku ini menggunakan pendekatan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Keutamaan kajian filsafat ilmu dalam buku ini bukanlah pendalaman yang bersifat teknis, melainkan pengkajian secara menyeluruh. Salah satu tujuan yang ingin dicapai dalam kajian buku ini ialah untuk senang belajar filsafat ilmu sehingga pengkajian filsafat ilmu (das sein) tidak pernah bisa dilepaskan dari moral (das sollen). Sebab, ilmu tanpa moral seperti kapal tanpa kompas. Kaitan antara kebenaran (berkonotasi ilmiah) dan keadilan (berkonotasi moral) merupakan asas dalam menegakkan hukum.

 

2. Buku Ajar Filsafat Ilmu

Rekomendasi buku filsafat pendidikan selanjutnya adalah Buku Ajar Filsafat Ilmu. Buku karya Agus Thoha ini merupakan salah satu buku ajar terbaik yang bisa kamu jadikan pegangan dalam pembelajaran di kelas. Latar belakang ditulisnya  buku ini ialah untuk menjelaskan bahwa memajukan umat dan pendidikan Islam telah lama dilakukan oleh para filsuf, ulama, dan tokoh muslim terdahulu.

Mereka telah merumuskan suatu konsepsi pendidikan dan menuangkannya ke dalam sebuah karya tulis. Hanya saja, ide pemikiran mereka seakan tenggelam karena disikapi dalam konteks “back to basic” dan tidak diaktualisasikan dalam konteks kekinian. Secara sekilas, penyikapan itu benar karena suatu pemikiran sebagai produk masyarakat ratusan tahun lalu tentu akan sangat jauh berbeda dengan situasi sosial di mana pendidikan harus berperan di dalamnya, seperti dalam konteks pendidikan sekarang.

Filsafat ilmu merupakan pondasi awal bagi terbentuknya suatu ilmu dan bagaimana menyikapi ilmu pengetahuan yang semakin tahun semakin berubah dengan cepat. Apabila fondasi awal tidak kuat maka lambat laun ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah seketika akan runtuh dengan perubahan zaman teknologi saat ini.

Kelebihan buku ini, antara lain perpaduan antara filsafat ilmu dengan ilmu sosial yang sedang trend saat ini. Dalam hal ini, pembahasannya meliputi Filsafat Ilmu, Mengkaji Ilmu, Ilmu Sebagai Proses, Prosedur dan Produk, Ilmu Sosial, dan Ilmu-Ilmu Sosial Membentuk Metodologi Baru.

 

3. Buku Filsafat Pendidikan Operasional


Rekomendasi buku filsafat pendidikan berikutnya berjudul Filsafat Pendidikan Operasional karya Aswasulasikin. Buku ini terdiri dari beberapa bab. Bab pertama membahas tentang dasar–dasar filsafat, bab dua tentang pendidikan, bab tiga tentang dasar-dasar filosofis Pendidikan, bab empat tentang hakikat manusia, bab lima tentang filsafat pendidikan pragmatisme (John Dewey). Selanjutnya bab enam membahas tentang filsafat pendidikan perenialisme, bab tujuh tentang filsafat pendidikan dan rekonstruktivisme budaya, bab delapan tentang filsafat pendidikan behaviorisme

Filsafat dimulai dengan rasa heran, ingin tahu, bertanya tentang apa saja, dan berspekulasi tentang jawaban atas semua pertanyaan dan keheranan tersebut. Sumantri (2003) berpendapat bahwa orang yang berfilsafat  diumpamakan orang yang kakinya berpijak di bumi sedangkan mukanya tengadah ke atas melihat bintang-bintang di langit.

Karakteristik berfikir filsafat merupakan berpikir secara menyeluruh dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti ‘apa’, ‘mengapa’, ‘bagaimana’, ‘dimana’, ‘bilamana’, sehingga orang yang  berfilsafat melakukan spekulasi.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan semakin meluas jawabannya  bilamana akan mempertanyakan hakikat manusia. Setiap orang dapat berspekulasi dalam  kehidupan sehari-hari, karena spekulasi merupakan kegiatan yang paling mudah dilakukan dalam berfilsafat, sebab setiap orang memerlukan imajinasi dan ingin mempertanyakan banyak hal.

Akan tetapi dari berbagai  pertanyaan yang diajukan orang, hanya sebagian saja yang termasuk dalam kategori pertanyaan filosofis. Semua hal tersebut diulas dalam buku Filsafat Pendidikan Operasional.


4. Buku Filsafat Pendidikan Vokasi



Rekomendasi buku filsafat pendidikan tidak hanya diperuntukan mahasiswa jenjang sarjana atau pendidikan secara umum. Namun, rekomendasi buku filsafat pendidikan vokasi karya Soetyono Iskandar dan Mardi Syahir juga mengulas perihal filsafat pendidikan vokasi.

Dalam mengembangkan proses pendidikan butuh pola pikir yang menunjang dengan baik. Manusia memiliki akal dan pikiran untuk memecahkan problem-problem dalam mengembang proses pendidikan yaitu proses mencerdaskan manusia dari kebodohan. Dari tidak tahu menjadi tahu, dari memiliki sifat primitif dalam berpikir sekarang sudah terpikir ke arah yang modern serta manusia yang juga butuh filsafat dalam proses pendidikan.

Buku ini terdiri dari 9 bab, bab pertama membahas tentang pengertian filsafat, bab kedua tentang perkembangan moral, bab ketiga tentang filsafat pendidikan vokasi dan konstruksi karakter menurut Benyamin S. Bloom, bab keempat tentang filsafat pendidikan tawuran, bab kelima tentang filsafat vokasi pancasila, bab keenam tentang filsafat pendidikan vokasi “hak dan kewajiban”, bab ketujuh tentang filsafat dalam kehidupan sehari-hari, bab kedelapan tentang harapan untuk fakultas teknik dan bab terakhir tentang opini gula.

Ingin mendapatkan buku yang lain? Silahkan kunjungi www.penerbitbukudeepublish.com dan pilih kategori BUKU FILSAFAT. Selain kategori tersebut, Penerbit Deepublish juga memiliki beragam kategori lainnya yang sesuai dengan bidang dan minat Anda. Selamat membaca!