Friday, 8 February 2019

Kenapa kita harus punya hobi?



Hobby


        Apakah judul di atas terlalu mengandung clickbait? Atau mungkin terdengar cukup familiar? Hmmm nampaknya tidak juga Ferguso. Baiklah, berbicara soal kenapa kita harus punya hobi sebenarnya, saya sudah pernah diberikan pertanyaan semacam judul di atas. Tepatnya tahun lalu saat saya masih on fire on fire-nya belajar IELTS demi mengejar target band score kampus impian di negeri nan jauh di sana. Kalau sekarang? Ehm, sepertinya kampusnya tidak pindah kemana-mana Ferguso hanya saja saya yang memang selalu kemana-mana sehingga tidak consistent lagi untuk belajar. Terus, mau sampai kapan? Ehm, coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang saja para readers sekalian.  Ok lanjut, jadi pertanyaan tentang kenapa kita harus punya hobi  tersebut saya dapatkan saat berada pada sesi speaking dalam IELTS. FYI, dalam speaking IELTS kita diberikan beberapa pertanyaan yang sebenarnya cukup sederhana tapi sangat sulit untuk menjawabnya. Yah pertanyaan-pertanyaan di speaking IELTS itu telah membuat saya menjadi orang yang sangat mudah bapper dan cukup sensitif. Bayangkan saja saya pernah mendapatkan pertanyaan tentang bagaimana hubungan yang seharusnya dijalani oleh pasangan. Yang punya pacar atau yang sudah menikah mungkin fine, nah yang jomblo bagaimana? Terus ada lagi nih pertanyaan kayak begini, saat kamu merindukan seseorang apa yang kamu lakukan? Sudah jomblo dikasih pertanyaan galau pula, double kill kan namanya.

Ehhh sebelum curhatan saya makin mendalam, sedalam palung Mariana. It’s be better to move. Baiklah kita kembali ke persoalan kenapa kita harus punya hobi ini lagi. Jujur, di antara banyaknya pertanyaan yang sering diajukan di IELTS entah mengapa pertanyaan soal hobi ini menjadi hal yang paling berkesan menurut saya. Saya terus-menerus memikirkannya, entah itu saat mandi, naik motor, sampai mengetik tulisan ini pertanyaan itu pun masih meneror saya. Buat apa sih hobi itu?

          Sampai suatu ketika secara tidak sengaja saya menemukan jawabannya. Tepatnya di awal bulan Februari ini ketika kontrak mengajar saya pada sebuah lembaga pendidikan telah selesai saya laksanakan.  Yeah I am definitely a jobless again. Saya tidak punya pekerjaan lagi. Sudah beberapa hari ini saya bosan di kasur terus. Ya makanya keluar rumah! Anyway saya malas keluar rumah kecuali ada hal yang memang penting dan perlu. Kamar membuat saya lebih betah bersama laptop dan telpon pintar saya. So, are you an introvert? Sebenarnya saya juga tidak tahu pasti apakah jiwa saya ini mengandung kadar introvert, ekstrovert, ambivert, atau mungkin psikopat. Setelah melihat dan mengamati kehidupan saya selama kurang lebih 26 tahun hidup di planet yang bernama bumi ini saya memastikan bila saya bukanlah psikopat. Lihat wajah kucing saja saya sudah iba. Saya tidak mungkin tega untuk melukai sesama jenis mahluk hidup. Lalu apa dong? Hmmm, for some people maybe I am an introvert but I can be a super ultra extrovert for specific people. Ok, you are an ambivert. Hmmm perhaps. Are you doubt? Jangan-jangan kamu psikopat. Ok just call me an alien jika kalian masih pusing dengan kepribadian saya.  Saya memang agak aneh di mata beberapa kalangan mahluk hidup. I my self admit it dude.    

        Karena sifat saya yang kebanyakan ingin menyendiri terlebih setelah menyandang status baru sebagai pengangguran yang masih segar akhirnya saya pun melakukan rutinitas untuk mengusir segala kejenuhan, kepenatan, kebosanan, Kesempurnaan cintaUsut punya usut saya baru sadar kalau rutinitas ini adalah kegiatan permanen yang selalu saya lakukan saat saya lagi galau-galaunya di masa lalu ketika sedang malas mengerjakan tugas kampus, capek mengejar band score IELTS, dan pusing dengan pekerjaan yang tak menentu jua. Yeah, I find the answer now! Ternyata saya juga baru sadar kalau menulis dan bercerita adalah jawaban dari kenapa saya  harus punya hobi. Ok, Maybe I can sleep well now.

       Lalu kenapa harus menulis? Saya sendiri juga tidak tahu persis kenapa menulis menjadi semacam morphim tersendiri bagi saya saat melalui masa-masa tersulit saya dibandingkan bermain games atau curhat kepada orang lain. yang pastinya lewat menulis saya merasa lebih sembuh dan pulih dari keadaan yang memojokkan saya. menulis menjadi semacam sudut favorit saya bila diibaratkan sebuah ruangan di dalam sebuah rumah. Ya, menulis membuat saya merdeka untuk mengungkapkan semua rasa yang berkecamuk itu. Suka, duka, luka semua berbaur menjadi satu dalam aksara. Saya selalu menikmati setiap tulisan yang saya buat. Membacanya berulang-ulang membuat saya menjadi semacam pendengar setia untuk diri saya sendiri lewat tulisan. saya menyukai hal itu. And I do love it. Di mata saya, orang yang bekerja dari hobinya itu adalah orang-orang yang sangat beruntung di dunia ini. Sangat banyak orang yang memiliki hobi dan sangat banyak pula orang-orang yang ingin menjadikan hobinya sebagai pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan, including I my self absolutely. Sayangnya, tidak semua orang beruntung dan ditakdirkan untuk seperti itu. So, is my hobby useless? Selama kamu menikmati hobimu there is no useless thing in it. Useless belongs to the negative hobby yang tidak hanya merugikan orang lain tetapi diri kamu juga. So, let’s look for something that you really love to do right now. Mulailah menemukan passion yang membuatmu punya alasan untuk tidak terus jenuh menghadapi hidup yang masih gini-gini aja wkwkwkw.  

         Well, I think that is a bunch of bacotans dari saya hari ini. Sekedar mengingatkan, jikalau  pertanyaan kenapa kita harus punya hobi di IELTS ini tak akan mungkin saya jawab seperti panjang ceramah saya di dalam blog ini. Selain melewati batas waktu dan bikin ngantuk sang interviewer, mungkin interviewer-nya juga akan lebih menyarankan saya untuk ngevlog saja.    

Monday, 21 January 2019

NOTE, BLOG, AND BOOK


https://rostinaalimuddin.blogspot.com/2019/01/note-blog-and-book.html



Note.

            Sejak kecil saya sangat suka menulis, baik itu puisi, cerpen, atau pun novel. Saat masih SD, saya sudah mulai mengoleksi buku catatan-catatan kecil seperti note, diary dan sejenisnya. Pada zaman itu laptop dan handphone masih menjadi barang langka maka jadilah semua celotehan di kepala saya itu saya tuangkan ke dalam buku diary, binder, bahkan pada beberapa halaman terakhir buku tulis jaman saya sekolah dulu. Bisa dibilang tangan saya memang selalu gatal untuk mencatat setiap hal yang muncul di kepala saya. Tak jarang buku LKS dan buku paket saya juga turut menjadi pelampiasan coretan-coretan saya waktu itu.



Blogger


Saya masih ingat betul, seorang teman di masa SMP saya pernah mengatakan jika di masa depan saya akan menjadi seorang penulis hebat. Entah mengapa ucapan teman saya itu terus membekas di pikiran saya. Semenjak hari itu saya pun terus-menerus menulis sambil mengaminkan doa teman saya. Hingga pada suatu hari di tahun 2010, saat saya resmi menyandang status sebagai seorang mahasiswa, rutinitas kampus secara perlahan tapi pasti mulai menyerang hobi saya ini. Saya nyaris tidak punya waktu lagi untuk mengembangkan skill menulis saya. Otak saya sudah kehilangan nafsu untuk merangkai kata, tangan saya pun sudah tak segatal dulu lagi untuk bermain corat-coret. Tugas kampus dan lingkungan organisasi mulai menyita banyak waktu saya. Namun, pada sebuah kebetulan yang mungkin sudah ditakdirkan, saya dipertemukan oleh beberapa orang teman yang memiliki hobi yang sama dengan saya di kampus. Mereka membuat saya bersemangat lagi untuk menulis meskipun tugas kuliah sedang padat merayapnya saat itu. Teman-teman saya ini jugalah yang pada akhirnya mempertemukan saya kembali dengan dunia blog. Ya, saya pernah mempunyai sebuah blog sebelumnya tapi itu pun hanya karena tugas mata pelajaran komputer waktu saya SMA kemudian, setelah lulus blog itu pun saya lupakan.


Blog.

Berkat bertemu para blogger kampus pada tahun 2011 silam, saya akhirnya kembali aktif menjadi seorang blogger. Saat itu, blog benar-benar telah menjadi tempat baru untuk menyalurkan isi kepala saya sekaligus menemukan teman-teman baru untuk saling berbagi cerita tentang dunia blog dan website lainnya seperti Bubblews dan Postanyarticle. Tak seperti Blogspot dan Wordpress yang masih tetap eksis digunakan oleh banyak orang saat ini, Bubblews dan Postanyarticle ternyata hanya mampu bertahan beberapa tahun saja dan kemudian menghilang dari dunia maya. Blog pada akhirnya menjadi rumah terakhir dan satu-satunya bagi saya untuk aktif dalam menulis. Waktu luang selalu saya habiskan untuk berkutat dengan blog, baik itu di kost atau saat jam istirahat di kampus. Blog ternyata mampu melepaskan saya dari kejenuhan menghadapi rutinitas perkuliahan yang kian membandel setiap harinya waktu itu.

Singkat cerita, pada bulan Januari tahun 2017, saya kembali membuat sebuat akun blog baru. Bisa dibilang ini kali ketiga saya membuat blog dengan tiga akun yang berbeda. Blog kedua saya hampir memiliki riwayat yang sama dengan blog pertama saya. Ya, saya sama-sama lupa sandi dan alamat email-nya tapi sejujurnya saya tidak memiliki niat sama sekali untuk berhenti menulis seperti kasus blog pertama saya. Awalnya saya hanya ingin vakum sementara agar bisa lebih fokus menyelesaikan tugas akhir yang maha sakral di kampus waktu itu. Namun, semakin lama ternyata saya memang semakin tidak mempunyai waktu untuk sekedar menulis satu atau dua tulisan saja di blog. Pada akhirnya blog kedua saya ini pun terbengkalai seperti blog sebelumnya. Karena hal inilah maka saya memutuskan untuk membuat blog baru yang saat ini masih terus saya gunakan. 

Seiring berjalannya waktu saya mencoba untuk tidak menulis hanya untuk keperluan blog saja tetapi juga menulis untuk meningkatkan kemampuan menulis saya lewat beberapa kompetisi menulis. Saya berkali-kali ikut lomba menulis baik itu puisi, cerpen, ataupun esai. Namun, sayangnya semua berujung pada kegagalan, kegagalan dan lagi-lagi kegagalan. Daripada hanya tersimpan di dalam laptop, saya pun berinisiatif untuk menaruh tulisan-tulisan gagal tersebut ke dalam blog pribadi saya dan kemudian membagikannya ke sosial media. Beberapa tulisan yang saya posting tersebut ternyata dibaca oleh beberapa teman saya. Saya sebenarnya tidak menyangka jika saya akan menerima banyak respon positif dari mereka. Seru, keren, bagus, mengharukan dan berbagai komentar dan pesan pribadi yang menguggah lainnya dari para pembaca saya ternyata semakin membuat saya bersemangat untuk terus menulis di blog.  

Sebenarnya, ini bukan hanya tentang sebuah tulisan di dunia maya. Menjadi seorang narablog juga telah mengubah banyak hal dalam kehidupan nyata saya. Membaca tulisan-tulisan dari para narablog lainnya juga membuat saya belajar untuk memandang hidup yang tak sekedar itu-itu saja. Tak melulu soal asmara, pekerjaan, atau bahkan politik. Ada banyak hal yang terlihat sederhana tapi sebenarnya begitu penting untuk kita perhatikan. Tulisan para narablog inilah yang pada akhirnya menyadarkan saya tentang berbagai sudut pandang yang tak biasa tersebut. Menemukan passion yang mungkin remeh bagi sebagian orang tapi sangat berharga bagi kita  adalah hal yang layak untuk menjadi bagian dari rutinitas hidup kita juga. Tak hanya itu, saya pun banyak mendapatkan pengetahuan dan ilmu baru tentang dunia tulis-menulis karena tulisan para narablog yang terus berkeliaran di internet hingga hari ini. Membaca tulisan-tulisan mereka membuat sudut pandang saya tentang dunia tulis menulis pun ikut berubah.  Saya tidak takut dan tidak kaku lagi untuk menuliskan semua hal yang ingin saya sampaikan lewat gaya bahasa saya sendiri.  Hal-hal inilah yang membuat saya juga semakin berani untuk menulis apapun dan kapanpun itu. Beberapa hadiah dan juga buku yang saya dapatkan melalui giveaway menjadi semacam reward tersendiri bagi saya untuk semakin menggemari dan mencintai dunia menulis.


Gagas mediaRaditya Dika


Book.



Nulisbuku
Setelah bertahun-tahun menulis di blog dan juga ikut serta dalam beberapa kompetisi menulis akhirnya saya pun mencoba untuk mengumpulkan tulisan-tulisan saya yang lainnya ke dalam sebuah buku. Sebut saja buku kumpulan cerpen saya sebagai resolusi 2019 yang akhirnya terwujud di awal tahun ini. Saya berharap novel pertama yang sedang saya garap juga bisa saya terbitkan di tahun ini. Resolusi 2019 saya memang tidak jauh-jauh dari dunia menulis, salah satu mimpi yang sudah sejak dulu saya perjuangkan tapi selalu tidak kesampaian adalah ikut serta dalam Ubud Writers & Readers Festival (UWRF). Kenapa bukan Makassar International Writers Festival (MIWF) saja? Berhubung saya orang Makassar, jadi saya sudah lumayan sering ikut MIWF sedangkan UWRF masih terus menjadi wacana tiap tahun saya yang selalu gagal terwujud.  Semoga di bulan Oktober tahun 2019 ini cita-cita saya untuk ikut dan bertemu langsung dengan banyak penulis-penulis nasional dan internasional di UWRF tak sekedar menjadi wacana lagi. Semoga program menabung untuk ikut di UWRF juga tidak menjadi mitos belaka tahun ini. Saya akan sangat-sangat bersyukur lagi jika saya juga bisa masuk dalam daftar penulis yang terpilih untuk ikut serta di acara tersebut. Wish me luck!    

Hari ini blog sudah seperti rumah untuk mencurahkan segala isi pikiran saya. Terlebih di era digital sekarang ini, blog telah menjadi sudut favorit saya dalam bercerita, entah itu suka, duka dan juga luka. Karena telah menjadi rumah, secara perlahan blog saya pun mulai sering kedatangan tamunya alias pembacanya. Baik itu tamu baru atau pun tamu langganan. Harus saya akui juga bila sumber viewers saya memang kebanyakan berasal dari teman-teman terdekat saya. Jumlahnya pun masih jauh dari kata ratusan atau bahkan ribuan.  Meskipun begitu, saya tetap bangga untuk menjadi seorang narablog.  Saya senang berteman, berbagi, dan membaca tulisan-tulisan dari para blogger lainnya. Adalah kebahagiaan tersendiri juga bagi saya saat menemukan pesan dan komentar dari orang-orang yang merasa bahagia bahkan terinspirasi dari setiap tulisan yang saya buat. Mereka adalah kekuatan tersendiri bagi saya untuk terus berkarya dan menulis di blog. Saya masih akan terus mempercayai dan mengaminkan ucapan teman SMP saya di masa lalu, untuk itu saya harus terus menulis, apapun dan kapanpun itu.


Blog